[I’RAB] بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

(بِسْمِ) جار ومجرور متعلقان بمحذوف والباء هنا للاستعانة أو للالصاق، وتقدير المحذوف : أبتديء , فالجار والمجرور في محل نصب مفعول به مقدم, أو ابتدائي , فالجار والمجرور متعلقان بمحذوف خبر لمبتدأ محذوف وكلاهما جيد

Jar wa majrur, keterkaitan dengan kata sebelumnya yang dihilangkan.

Syaikh Abdullah ‘Ulwaan dan lain-lain dalam Kitab I’rabul Quranil Kariim menuliskan :

متغلق بفعل محذوف

terkait dengan pekerjaan (fi’il) yang tidak disebutkan (di awal)

Huruf Ba disini berfungsi sebagai isti’anah (permintaan tolong) atau iltishooq (menempel).

  • Taqdirnya tersembunyi : “(Aku) Memulai”, maka Jar wal majrurnya dalam posisi manshub sebagai maful bih muqoddam atau didahulukan.
  • Atau bisa juga dikatakan Jar wal majrurnya keduanya terikat dengan khabar dan mubtada’ yang tidak ditampakkan –

Keduanya adalah susunan yang bagus

Syaikh Abdullah ‘Ulwaan dan lain-lain dalam Kitab I’rabul Quranil Kariim menuliskan :

أو أن شبه الجملة متعلق بمحذوف خبر, والمبتدأ محذوف تقدره : ابتدائي

Jar wa majrur syibhu Jumlah yang terikat dengan khabar mahdzuf (tidak ditampakkan), mubtada’nya mahdzuf (tidak ditampakkan) – Taqdirnya adalah : “(Aku) memulai”

Tambahan Materi dari Tafsir Ibnu Katsir

وهكذا تستحب عند الأكل لما في صحيح مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لربيبه عمر بن أبي سلمة : قل : باسم الله ، وكل بيمينك ، وكل مما يليك .

Disunnahkan membaca basmalah di saat hendak makan, seperti yang disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata kepada anak tirinya Umar ibn Abu Salamah :

قل : باسم الله ، وكل بيمينك ، وكل مما يليك

Ucapkanlah bismilah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat denganmu

ومن العلماء من أوجبها والحالة هذه ، وكذلك تستحب عند الجماع لما في الصحيحين ، عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

Sebagian ulama mewajibkan membaca basmalah dalam hal yang demikian itu.

Disunnahkan pula membaca basmalah saat hendak berjima’ sebagaimana dimuat dalam Shahihain dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda :

لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال : باسم الله ، اللهم جنبنا الشيطان ، وجنب الشيطان ما رزقتنا ، فإنه إن يقدر بينهما ولد لم يضره الشيطان أبدا .

Seandainya seeorang diantara kalian hendak datang kepada istrinya, kemudian dia berkata : Dengan Nama Allah, Ya Allah, jauhkan kami dari setan dan jauhkan setan dari anak yang engkau rezekikan kepada kami. Maka jika ditaqdirkan terlahir anak, maka syetan tidak dapat menimpakan mudharat terhadap anak itu selama-lamanya.

ومن هاهنا ينكشف لك أن القولين عند النحاة في تقدير المتعلق بالباء في قولك : باسم الله ، هل هو اسم أو فعل متقاربان وكل قد ورد به القرآن ؛ أما من قدره باسم ، تقديره :

Dari sinilah dapat dikatakan bahwa kedua pendapat di kalangan ahli nahwu dalam masalah lafazh dapat dijadikan ta’aluq (kaitan) oleh huruf ba dalam kalimat basmalah, yakni dapat berupa isim ataupun fi’il, kedua-duanya mendekati kebenaran. Masing-masing ada contohnya dalam Al Quran.

Yang berpendapat bahwa ta’liqnya berupa isim hingga kalimatnya menjadi :

باسم الله ابتدائي ،

Dengan nama Allah aku memulai, maka ada contohnya dalam Al Quran :

فلقوله تعالى : ( وقال اركبوا فيها بسم الله مجراها ومرساها إن ربي لغفور رحيم ) [ هود : 41 ]

Dan Nuh berkata,”Naiklah kalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  (Surah Hud ayat 11)

، ومن قدره بالفعل [ أمرا وخبرا نحو :

Sementara untuk mereka yang berpendapat bahwa ta’aluqnya dalam bentuk fi’il, baik fi’il amr maupun khabar sehingga kalimatnya menjadi :

أبدأ ببسم الله أو ابتدأت ببسم الله ]

Maka ada contohnya di dalam Al Quran

، فلقوله : ( اقرأ باسم ربك الذي خلق ) [ العلق : 1 ]

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (Surah Al Alaq ayat 1)

وكلاهما صحيح ، فإن الفعل لا بد له من مصدر ، فلك أن تقدر الفعل ومصدره ، وذلك بحسب الفعل الذي سميت قبله ، إن كان قياما أو قعودا أو أكلا أو شربا أو قراءة أو وضوءا أو صلاة ، فالمشروع ذكر [ اسم ] الله في الشروع في ذلك كله ، تبركا وتيمنا واستعانة على الإتمام والتقبل ، والله أعلم

Kedua pendapat itu benar, karena suatu fi’il pasti mempunyai mashdar. Maka anda dapat memperkirakan ta’aluq-nya dalam bentuk fi’il atau mashdarnya. Yang demikian itu disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dimulai dengan basmalah, misalnya berdiri, duduk atau makan, minum, atau membaca, wudhu dan sholat. Maka disyariatkan untuk menyebut nama Allah dalam hal yang seperti itu seluruhnya sehingga diberkahi dan mendatangkan pertolongan Allah dalam menyelesaikannya dan diterima pula oleh Allah.

Allahu ‘A’lam

— akhir kutipan Tafsir Ibnu Katsir —

و (اللَّهِ) مضاف اليه

Mudhof ilaihi

و (الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ) صفتان لله تعالى

Dua sifat Allah Ta’ala

Allahu ‘A’lam

rezaervani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *