Bagaimana Al Quran Sampai kepada Kita (1) : Dari Allah Ta’ala – Jibril alaihi salam hingga Rasulullah shalallahu alaihi wa salam



Allah Turunkan Al Quran Ke Dalam Hati Rasulullah saw

Telah dibahas bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an ke dalam hati nabi kita Muhammad saw. Perlu digarisbawahi bahwa Al-Qur’an diturunkan ke dalam hati, dan bukan ke dalam pendengaran. Nabi adalah manusia seperti kita, namun dalam hal menerima wahyu tidaklah seperti kita. Adapun kita talaqqi Al-Qur’an dari guru-guru yang mengucapkan dengan mulut mereka, selagi kita mendengar dengan telinga kita, kemudian kita mengulanginya dengan mulut kita selagi guru mendengar dengan telinganya. Akan tetapi, talaqqi Rasulullah kepada Jibril as tidak seperti itu. Allah berfirman,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ – عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

Diturunkan oleh Ruhul Amin ke dalam hatimu agar engkau menjadi pemberi peringatan.” (Asy-Syu`ara’: 193-194)

Tidak dikatakan “melalui pendengaranmu”. Allah juga berfirman,

قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Katakan, barangsiapa yang memusuhi Jibril, maka sesungguhnya dia menurunkan Al-Qur’an ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang membenarkan apa yang ada padamu, sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 97).

Sedangkan malaikat yang diutus oleh Allah bertalaqqi Al-Qur’an langsung dari Allah.

Turunnya wahyu itu terdiri dari berbagai cara seperti yang dibahas dalam sejumlah riwayat. Ketika Al-Qur’an diturunkan, jalur turunnya di langit dijaga. Allah berfirman dalam surat Al-Jin dengan perkataan Jin, “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 8-9).

Maka dimulailah penjagaan turunnya nash Al-Qur’an dari baitul aziz ke langit dunia pada lailatul qadr. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada lailatul qadr.” (Al-Qadr: 1)

Dan pula firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhan: 3).

Lalu Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad saw dalam jangka dua puluh tiga tahun menyesuaikan dengan kondisi dan keperluan.

Dua Macam Penurunan Al Quran

Dengan demikian Al-Qur’an mengalami dua macam penurunan: diturunkan dari lauhul mahfuz di baitul `izzah di langit ke-tujuh ke langit dunia, kemudian diturunkan berdasarkan kondisi selama dua puluh tiga tahun.

Yang pertama kali diturunkan adalah firman Allah, “Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan.” dari surat Al-`Alaq di Juz 30; dan yang terakhir diturunkan adalah firman Allah, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” dari surat Al-Baqarah ayat 281.

Apakah pernah ada seorang pengarang yang memulai karangan dari bab akhir, lalu bab awal, lalu bab enam, lalu bab dua puluh satu, dan seterusnya?! Penulis biasa (manusia) pastilah menyusun bukunya dengan runtut.

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah mukjizat dari setiap halnya, karena ia bukanlah perkataan manusia, melainkan firman Rabb semesta alam. Dan adalah firman Rabb berbeda dengan perkataan manusia dari semua segi.

Telah dibahas sebelumnya bahwa penjagaan Al-Qur’an dimulai sejak pertama kalinya diturunkan. Ketika diturunkan dari langit ke dalam hati Rasulullah saw, beliau menerimanya secara lafaz, makna, serta segala yang dikehendaki Allah dalam penurunannya, baik tersurat maupun tersirat. Beliau saw pun mengajarkan kepada kita apa-apa yang Allah perintahkan untuk diajarkan.

Allah berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (Al-Maidah: 67).

Maka serta merta Nabi saw menyampaikannya kepada para sahabat dengan cara tertentu, yaitu dengan melafalkannya melalui mulut Beliau saw dan para sahabat mendengarkan dengan telinga manusiawinya. Kemudian para sahabat melafalkannya kembali di hadapan Rasulullah saw yang menyimak dengan telinganya. Dalam pada itu, Nabi saw akan membenarkan dan/atau memperbaiki. Jika proses talaqqi sudah terkonfirmasi, bangkitlah para sahabat untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada yang lain.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.