Khabar Mutawatir

التواتر معناه أن يأتي الخبر من عدد من الإشخاص يستحيل عقلا أن يتَّفقوا جميعا على الكذب, وذلك من أول السند الى آخره

Khabar Mutawatir

Sebuah berita jika disampaikan oleh seseorang, mungkin saja tidak benar. Bisa jadi orang tersebut berbohong atau mengada-ada atau melupakan aspek-aspek tertentu. Nilainya bergantung kepada kejujuran dan kualitas si pembawa berita. Akan tetapi, jika sebuah berita datang dari sejumlah banyak sumber, kecil kemungkinan mereka semua bersepakat dalam kebohongan.

Contoh, mungkin di antara kita ada yang belum pernah pergi ke Beijing atau Tokyo, tapi kita yakin bahwa ada kota bernama Beijing di China atau ada kota bernama Tokyo di Jepang walaupun kita tidak melihatnya langsung. Kenapa yakin? Karena telah sampai berita kepada kita, misal dari sejumah orang tak terhitung yang pernah pergi ke sana, dari majalah, televisi, dan sebagainya. Semua itu sepakat bahwa ada kota di dunia yang bernama Beijing dan Tokyo. Dengan demikian, walaupun kita tidak pernah datang ke sana, namun kita yakin akan keberadaannya.

Itulah yang dimaksud khabar mutawatir, yaitu berita yang datang dari banyak pihak yang mustahil bagi logika bahwa semuanya sepakat dalam dusta. Dengan cara itu pulalah Al-Qur’an sampai kepada kita.

Dari generasi sahabat, Al-Qur’an ditransmisikan ke generasi setelahnya (tabi`in) dengan jumlah personel yang mana mustahil secara logika untuk bersepakat dalam mengubah nash Al-Qur’an. Kemudian tabi`ut tabi`in menerima Al-Qur’an dari tabi`in juga dengan jumlah personel yang mana mustahil secara logika untuk bersama-sama berdusta. Dan seperti itulah terus hingga sampai ke masa kita oleh bagian kaum muslimin yang disebut qurra’.

Mereka adalah sekelompok orang yang hadir di antara kita -umat Muhammad saw- yang menghabiskan sebagian umurnya untuk bertalaqqi Al-Qur’an dari generasi sebelumnya, huruf per huruf, dari awal hingga akhir, dengan pengucapan yang shahih dan jelas tanpa ada kesamaran maupun ambigu. Seperti halnya kamera yang menangkap dan mengkopi 100% citra diarahnya, maka begitulah talaqqi Al-Qur’an generasi qurra’ dari guru-guru mereka, huruf per huruf, ba’ menjadi ba’, ta’ ke ta’, jim selalu jim, yang fathah tetap fathah, dhommah kekal dhommah, kasrah pun kasrah, dari sejak hadirnya Rasulullah hingga masa kini.

Itulah para qari’. Dan bukanlah qari’ itu seperti anggapan kebanyakan berupa orang yang bersuara bagus dalam membaca Al-Qur’an, atau yang memperdengarkan bacaan Al-Qur’an di depan umum layaknya konser.

Yang dimaksud qari’ di sini adalah ulama, seperti fuqoha dan muhadditsin. Sebagaimana muhadditsin menjaga hadits Nabi; fuqoha menjaga hukum syariat Islam; qari’ adalah penjaga nash Al-Qur’an dari perubahan, sedikit atau banyak (selamanya tidak akan ada yang dapat melakukan perubahan semacam itu). Demikianlah maksud definisi Al-Qur’an: “Yang sampai kepada kita secara mutawatir.”

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.