Serial Huruf لو : Huruf لو di Al Quranul Karim (1) : Makna dan Kemunculannya di Al Quranul Karim

Serial Huruf لو : Huruf لو di Al Quranul Karim (1) : Makna dan Kemunculannya di Al Quranul Karim

Catatan Oleh : Reza Ervani bin Asmanu

w

ثمة باب في كتب النحو واللغة يسمونه باب (حروف المعاني)، يبحثون فيه من الكلام ما لم يكن اسماً، ولا فعلاً، بل حرفاً، ويقررون لكل حرف من هذه الحروف معاني أصلية، ومعاني فرعية. ومن هذه الحروف حرف (لو). فلنتحدث عن هذا الحرف ومورده في القرآن.

Terdapat Bab dalam kitab Nahwu dan Bahasa yang dinamakan dengan Bab “Huruf Al Ma’aani, dibahas didalamnya kalam yang bukan merupakan ism, bukan fi’il, akan tetapi huruf. Disampaikan untuk setiap huruf ini makna asalnya, dan makna cabangnya. Diantaranya adalah huruf لو. Mari kita bahas huruf ini dan penyebutannya di Al Quran

(لو) في القرآن

Huruf Law di Al Quranul Karim

ورد هذا الحرف في القرآن الكريم في سبعة وعشرين ومائة موضع، جاء في خمسة وستين منها مفرداً،

Huruf ini terulang di Al Quranul Karim sebanyak 127 kali. Dalam bentuk mufrod 65 kali, diantaranya firman Allah Ta’ala :

قُل لَّوْ أَنتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَّأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا

Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Surah Al Israa ayat 100)

وجاء مقترناً بـ (الواو) في ستين موضعاً، 

Disandingkan dengan huruf wawu sebanyak 60 kali, diantaranya firman Allah Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (Surah Al Baqarah ayat 103)

وجاء في موضعين فقط مقترناً بـ (الفاء)،

Hanya ada dua tempat dimana huruf ini disandingkan dengan huruf faa, salah satunya firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ ۖ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. (Surah Al An’aam ayat 149)

Yang lainnya adalah firman Allah Ta’ala :

طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَّعْرُوفٌ ۚ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ

Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Surah Muhammad ayat 21)

معاني (لو)

Makna Law

وحرف (لو) -كما قال ابن هشام- يقتضي في الماضي امتناع ما يليه، واستلزامه لتاليه. ويأتي هذا الحرف على أربعة معان، هي:

Huruf Law – sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam – rahimahullahu Ta’ala – jika dimasukkan di fi’il maadhi maka menunjukkan tertahannya sesuatu yang disebutkan didepan (setelahnya), karena membutuhkan apa yang disebutkan sebelumnya.

الأول: بمعنى الشرط، فيفيد عقد السببية والمسببية بين جملتين بعده. 

Yang pertama : Memiliki makna syarat, yang berfungsi mengikat sebab – musabab antara dua kalimat (jumlah)

Misalnya firman Allah Ta’ala :

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأَسْمَعَهُمْ

Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. (Surah Al Anfaal ayat 23)

Bisa kita lihat di ayat tersebut syaratnya adalah : Allah Mengetahui kebaikan ada pada mereka. Dan jawab syaratnya :  Allah akan Menjadikan mereka dapat mendengar.

الثاني: أن يكون حرف شرط في المستقبل، إلا أنه لا يجزم. 

Yang kedua : Merupakan huruf syarat untuk masa yang akan datang (Al Mustaqbal), hanya saja dia tidak di-jazm-kan. Contohnya firman Allah Ta’ala :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisaa ayat 9)

Kita lihat di ayat tersebut, bahwa syaratnya : Meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah – ini terjadi di masa yang akan datang. Jawab syarat : Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah

الثالث: أن يكون حرفاً مصدرياً، بمنزلة (أن) إلا أنه لا ينصب، وأكثر وقوعه في هذه الحال بعد الفعل (ودَّ)  

Yang ketiga : merupakan huruf mashdariyah, sebagaimana أن – hanya saja tidak menashabkan, kebanyakan ini terdapat pada kondisi setelah fi’il wadda ودَّ, seperti firman Allah Ta’ala :

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al Baqarah 109)

أو بعد الفعل (يود)،

Atau setelah fi’il yawaddu يَوَدُّ misalnya dalam Firman Allah Ta’ala :

رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Surah Al Hijr ayat 2)

الرابع: أن يكون للتمني، 

Keempat : Sebagai huruf At Tamanniy (mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi), semisal firman Allah Ta’ala :

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا 

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami” (Surah Al Baqarah ayat 167)

Bersambung in sya Allah

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.