Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin !!! (3)



شين بلال لم تكن سيناً قط!!!

Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin !!! (Bagian Ketiga)

Penulis: Dr. Haidar Aidarus Ali

Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin ini masuk dalam Kategori Hadits

<

وقد سَعِدَ بلالٌ رضي الله عنه في حبه هذا، فلما انتقل النبيُّ صلى الله عليه وسلم إلى الرفيق الأعلى، قلى بلالٌ رضي الله عنه القَرارَ في المدينة؛ إذ الناسُ إليها يزِفُّون؛ لأن وَجْده كان فيَّاضاً، ورحابُ المدينةِ تُذكِّرُهُ الحبيبَ، فلم يقدر على العيش فيها! بل لم يقدر حتى على الأذان! وهو مَن قد عُرف بحرصه على الخير، وعلى الأجرِ.

Dan Bilal radhiyallahu ‘anhu telah merasa bahagia dalam cintanya ini. Namun, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah ke *ar Rafiiqul A’laa*, Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak lagi merasa tenang tinggal di Madinah di saat orang-orang justru berdatangan ke sana; hal itu karena kesedihannya yang meluap-luap, dan setiap sudut kota Madinah selalu mengingatkannya pada sang kekasih (Rasulullah), sehingga ia tidak sanggup lagi tinggal di sana! Bahkan, ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan! Padahal ia adalah orang yang dikenal sangat semangat dalam mengejar kebaikan dan pahala.

وعن هذا الحب روى ابنُ سعدٍ، عن إبراهيم التيمي، قال: (لما تُوفِّيَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أذَّنَ بلالٌ، ورسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لم يُقبر، فكان إذا قال: أشهدُ أنَّ محمداً رسولُ الله، انتحبَ[4] الناسُ في المسجدِ، 

Mengenai cinta ini, Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Ibrahim at Taymi, ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Bilal mengumandangkan adzan sementara jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum dimakamkan. Maka setiap kali ia mengucapkan: *Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah*, orang-orang di dalam masjid menangis tersedu-sedu 1.

قال: فلما دُفِنَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال له أبو بكر: أذِّن! فقال: إن كنتَ إنما أعتقتني لأن أكونَ معكَ؛ فسبيلُ ذلك، وإن كنت أعتقتني لله؛ فَخَلِّني وَمَنْ أعتقتني له! 

Ia berkata: Maka setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan, Abu Bakr berkata kepadanya: ‘Adzanlah!’ Bilal menjawab: ‘Jika engkau memerdekakanku agar aku selalu bersamamu, maka biarlah demikian. Namun jika engkau memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bersama Dzat yang karenanya engkau memerdekakanku!’

فقال: ما أعتقتك إلا لله! قال: فإني لا أُؤَذِّنُ لأحدٍ بعدَ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم! قال: فذاك إليك، قال: فأقام حتى خرجتْ بعوثُ الشام، فسارَ معهم، حتى انتهى إليها)[5].

Abu Bakr berkata: ‘Aku tidak memerdekakanmu kecuali karena Allah!’ Bilal berkata: ‘Maka sesungguhnya aku tidak akan mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’ Abu Bakr berkata: ‘Itu terserah padamu.’ Ia berkata: Maka Bilal tetap tinggal hingga pasukan ke Syam berangkat, lalu ia pergi bersama mereka hingga sampai di sana.”2

ووقع في تاريخ دمشقَ للحافظ ابن عساكرَ في أخبار بلالٍ رضي الله عنه إتماماً لهذا السياق: (فلم يزلْ مجاهداً؛ حتى فتحَ اللهُ عليهمُ الشامَ، وقدمَ عمرُ بنُ الخطابِ رضي الله عنه الجابيةَ[6]، 

Dan tertera dalam *Taariikh Dimasyq* karya al Hafizh Ibnu ‘Asakir mengenai kisah Bilal radhiyallahu ‘anhu sebagai pelengkap konteks ini: “Ia terus menjadi mujahid hingga Allah membukakan Syam bagi mereka. Kemudian ‘Umar bin al Khaththab radhiyallahu ‘anhu datang ke al Jaabiyah3.

فسأل المسلمونُ عمرَ مسألةَ بلالٍ بالأذان لهم، ليسمعوا تأذينه، ففعل عمرُ، وأَذَّنَ بلالٌ يوماً واحداً، أو قالا[7]: أَذَّنَ لصلاةٍ واحدةٍ، فما رُئِيَ أكثر باكياً من بكاء المسلمين يومئذ بالجابية، أَذْكَرَهم رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وما كانوا يسمعون من تأذينه له، وعرفوا من صوتِهِ، فلم يزلِ المسلمونَ بالشامِ يقولون: إن تَأْذِينَهم هذا الذي هُم عليه مِن تأذينِ بلالٍ يومئذ)[8].

Kaum Muslimin pun memohon kepada ‘Umar agar meminta Bilal mengumandangkan adzan untuk mereka, supaya mereka dapat mendengar adzannya. Maka ‘Umar pun melakukannya, dan Bilal mengumandangkan adzan selama satu hari, atau kedua perawi berkata 4: ia adzan untuk satu kali shalat saja. Maka tidak pernah terlihat orang-orang menangis lebih banyak daripada tangisan kaum Muslimin di al Jaabiyah hari itu. Suara Bilal mengingatkan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dahulu mereka dengar dari adzannya untuk beliau, serta mereka mengenali suaranya. Maka kaum Muslimin di Syam senantiasa berkata: sesungguhnya adzan mereka yang sekarang mereka laksanakan ini berasal dari adzan Bilal pada hari itu.”5

وهذا دليل آخر على أن شين بلال ليست مهملة!

Dan ini adalah bukti lain bahwa huruf syin Bilal bukanlah sin (tidak diabaikan ketepatan makhrajnya)!

والأمر الثاني: أن الكاتبة اعتذرت عن اللُّكْنَةِ في القراءةِ وهي في واقع الأمر ليست مما يُعْتَذَرُ منه؛ لأنها عَرَضيةٌ، تزولُ بالتعلُّمِ، فإن هؤلاء الذين ذكرتهم سيصبر عليهم شيخُهم إلى أن يتقنوا القراءة الصحيحة،

Perkara kedua: Bahwasanya penulis tersebut memberikan uzur atas *lukanah* (aksen asing/ketidakfasihan) dalam membaca, padahal kenyataannya hal itu bukanlah sesuatu yang harus diberi uzur; karena hal tersebut bersifat sementara dan akan hilang dengan belajar. Sesungguhnya orang-orang yang ia sebutkan itu akan dibimbing dengan sabar oleh guru mereka hingga mereka menguasai bacaan yang benar.

والشواهد على ذلك كثيرة، ومسابقات القرآن الكريم العالمية التي تعقد في أنحاء العالم الإسلامي تؤكد ذلك، فكثير من حفظة كتاب الله من شتى بلاد المسلمين ممن لا يعرفون اللغة العربية؛ تجدُهم يقرؤون القرآن قراءةً صحيحةً لا لُكْنَةَ فيها، أما معانيه فتجدهم لا يعرفون منها إلا اليسير اليسير! 

Bukti akan hal ini sangat banyak; kompetisi Al Qur’an internasional yang diadakan di berbagai penjuru dunia Islam menegaskan hal tersebut. Banyak dari para penghafal Kalamullah dari berbagai negeri Muslim yang tidak mengerti bahasa Arab, namun engkau dapati mereka membaca Al Qur’an dengan bacaan yang benar tanpa ada lukanah sedikit pun. Adapun mengenai maknanya, engkau dapati mereka tidak mengetahuinya kecuali sedikit sekali!

بل لو طلبت من أحدهم التحدثَ باللغة العربية فربما تجده لا يتكلم بها إلا قليلاً، وبلُكنة ظاهرة، فإذا قرأ القرآن كان عجباً في الطلاقة.

Bahkan, jika engkau meminta salah satu dari mereka untuk berbicara dalam bahasa Arab, mungkin engkau akan mendapatinya tidak bisa berbicara kecuali sedikit dan dengan lukanah yang jelas, namun apabila ia membaca Al Qur’an, ia sangat mengagumkan kelancarannya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Intahaba: An Nahiib adalah mengangkat suara saat menangis. Dalam al Muhkam disebutkan: Tangisan yang paling keras. Lihat Lisanul ‘Arab (1/ 749 nahab).
  2. Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dalam ath Thabaqatul Kubra (3/ 236 – 237).
  3. Sebuah desa dari desa-desa di Dimasyq dari arah al Jaulan. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah singgah di sana. Di Dimasyq terdapat sebuah gerbang yang disebut “Baab al Jaabiyah” yang dinisbatkan kepada tempat ini. Mu’jamul Buldaan (2/ 91).
  4. Konteks ini diriwayatkan oleh dua perawi, karena itu lafaznya menggunakan bentuk ganda (tatsniyah).
  5. Taariikh Dimasyq (14/ 403 – 404).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.