حكم اشتراط ضمان رأس المال في المضاربة
Hukum Mensyaratkan Jaminan Modal dalam Mudharabah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Mensyaratkan Jaminan Modal dalam Mudharabah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh
السؤال:
Pertanyaan:
لقد وضعت زوجتي مبلغاً من المال عند أحد التجار لكي تستثمر ذلك المبلغ في التجارة وهي قالت للتاجر إن مالي مثل مالك في الربح والخسارة ولكن على شرط واحد أن رأس المال من حقي أي أنها تستعيد رأس مالها مهما حصل من ربح أو خسارة فهل هذا الشرط جائز ؟ وجزاكم الله خيراً.
Istri saya menyerahkan sejumlah uang kepada seorang pedagang untuk diinvestasikan dalam perdagangan. Ia berkata kepada pedagang tersebut bahwa hartanya sama seperti harta si pedagang dalam hal keuntungan dan kerugian, namun dengan satu syarat: modal pokok adalah haknya, artinya ia harus menerima kembali modal pokoknya tersebut apa pun yang terjadi, baik untung maupun rugi. Apakah syarat ini diperbolehkan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن هذا الشرط الذي اشترطته زوجتك على هذا التاجر شرط باطل ، لأن الصيغة التي ذكرتَ أنها قالت للتاجر هي صيغة مضاربة ، والمضاربة لا يصح فيها اشتراط ضمان رأس المال ، لأنها شراكة بين رب المال والعامل المستثمر.
Sesungguhnya syarat yang diajukan istri Anda kepada pedagang tersebut adalah syarat yang batil (tidak sah). Hal ini dikarenakan formula yang Anda sebutkan istri Anda katakan kepada pedagang tersebut adalah formula mudharabah. Dalam mudharabah, tidak sah mensyaratkan adanya jaminan modal pokok (dhaman ra’sul maal), karena mudharabah adalah bentuk kemitraan antara pemilik modal (shohibul maal) dan pengelola (‘amil).
فرب المال مشارك برأس مال المضاربة ، والعامل مشارك بجهده وخبرته ، فإذا حصل ربح فهو بينهما على حسب ما اتفقا عليه مسبقاً ، وإن حصلت خسارة فهي من رأس المال.
Pemilik modal berpartisipasi dengan modal mudharabah, sedangkan pengelola berpartisipasi dengan tenaga dan keahliannya. Jika diperoleh keuntungan, maka keuntungan tersebut dibagi di antara keduanya sesuai dengan kesepakatan awal. Namun jika terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh modal pokok.
ولا يتحمل العامل منها شيئاً ، لأنه قد خسر جهده ووقته ، فلا معنى لأن يتحمل أيضاً خسارة مادية ، إضافة إلى أن يد العامل يد أمانة ، وليست يد ضمان ، إلا إذا تعدى ، أو فرط ، أو قصر في حفظ المال أو استثماره على الوجه المتعارف عليه بين التجار.
Pengelola tidak menanggung kerugian materiil sedikit pun, karena ia telah merugi secara tenaga dan waktu, sehingga tidak masuk akal jika ia harus menanggung kerugian finansial juga. Selain itu, status tangan pengelola adalah tangan amanah (yadul amanah) dan bukan tangan penanggung (yadudh dhaman), kecuali jika ia melampaui batas, lalai, atau teledor dalam menjaga harta atau menginvestasikannya sesuai dengan cara yang berlaku umum di kalangan pedagang.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply