Zakat yang Dicuri Hendaknya Dikeluarkan Lagi



من سرقت زكاته يخرج مكانها احتياطاً

Zakat yang Dicuri Hendaknya Dikeluarkan Lagi Sebagai Bentuk Kehati-hatian

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Zakat yang Dicuri Hendaknya Dikeluarkan Lagi Sebagai Bentuk Kehati-hatian ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

إذا سرقت أموال صدقة الفطر وأموال الزكاة في الطريق إلى إخراجها، فهل يجزئ بحكم النية؟ أم يجب وصولها إلى مقصدها؟

Jika harta zakat fithr dan harta zakat mal dicuri di perjalanan saat hendak dikeluarkan (disalurkan), apakah hal itu sudah dianggap mencukupi (sah) berdasarkan niatnya? Ataukah harta tersebut wajib sampai ke tujuannya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فقد اختلف أهل العلم في المجزئ في إخراج الزكاة هل هو مجرد الإخراج أم وصولها للفقير، فذهب المالكية والشافعية إلى الأول، ففي المدونة: وقال مالك في الرجل يخرج زكاة ماله عند محلها ليفرقها فتضيع منه، إنه إن لم يفرط فلا شيء عليه…

Para ahli ilmu telah berselisih pendapat mengenai apa yang dianggap sah dalam pengeluaran zakat; apakah cukup dengan sekadar mengeluarkannya (dari tangan pemilik) ataukah harus sampai ke tangan orang fakir. Madzhab Maliki dan Syafi’i cenderung pada pendapat pertama. Di dalam kitab Al-Mudawwanah disebutkan: Imam Malik berkata mengenai seseorang yang mengeluarkan zakat hartanya pada saat jatuh temponya untuk dibagikan lalu harta itu hilang darinya, sesungguhnya jika ia tidak lalai, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.

وفيها أيضاً: قال ابن القاسم: من أخرج زكاة الفطر عند محلها فضاعت منه، رأيت أن لا شيء عليه، وزكاة الأموال وزكاة الفطر عندنا بهذه المنزلة، إذا أخرجها عند محلها فضاعت أنه لا شيء عليه.

Disebutkan juga di dalamnya: Ibnu Qasim berkata: Barangsiapa mengeluarkan zakat fithr pada waktunya lalu hilang darinya, saya berpendapat bahwa tidak ada kewajiban apa pun atasnya. Zakat harta dan zakat fithr menurut kami berada pada kedudukan yang sama dalam hal ini; jika seseorang telah mengeluarkannya pada waktunya lalu hilang, maka tidak ada kewajiban (mengulang) baginya.

وقال الحنابلة والأحناف إنها لا تجزئ ما لم تصل إلى يد الفقير، قال ابن مفلح في الفروع: ومن أخرج زكاة فتلفت قبل أن يقبضها الفقير لزمه بدلها…

Sedangkan Madzhab Hambali dan Hanafi berpendapat bahwa hal itu tidak sah selama belum sampai ke tangan orang fakir. Ibnu Muflih berkata dalam kitab Al-Furu’: Barangsiapa mengeluarkan zakat lalu rusak (atau hilang) sebelum diterima oleh orang fakir, maka ia wajib menggantinya.

وبناء على ما تقدم وعلى أننا لم يظهر لنا رجحان أي من المذهبين، فإن الأحوط لمن هذه حالته أن يخرج الزكاة مرة ثانية، مقلداً ما هو أشق، مع أنهم مجمعون على أن التلف إذا كان بتفريط من صاحب المال أنها لا تجزئ.

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan di atas dan karena belum tampak bagi kami kuatnya (rajih) salah satu dari kedua madzhab tersebut, maka yang lebih hati-hati (ahwath) bagi mereka yang mengalami kondisi ini adalah mengeluarkan zakat untuk kedua kalinya, dengan mengikuti pendapat yang lebih berat. Meskipun demikian, para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa apabila hilangnya harta tersebut karena kelalaian dari pemilik harta, maka zakat tersebut dianggap tidak sah.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.