Dampak Buruk Maksiat —Termasuk Menahan Zakat— Bagi Pelakunya



شؤم المعصية ـومنها منع الزكاة ـ يطال فاعلها وغيره

Dampak Buruk Maksiat —Termasuk Menahan Zakat— Bagi Pelakunya dan Orang Lain

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dampak Buruk Maksiat —Termasuk Menahan Zakat— Bagi Pelakunya dan Orang Lain ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

مشكلتي هي أنني مريضة منذ حوالي 7 أو 8 سنوات والحمد لله على كل شيء اللهم لا اعتراض، ولكني أخذت بكل الأسباب الممكنة والدعاء المستمر مني ومن كل الناس الذين يعرفونني ولكن أبي لا يدفع زكاة أمواله وقد تنبهت إلى أن هذا قد يكون سببا في تأخير شفائي وعدم استجابة الدعاء ونزول النقمة والبلاء على البيت وقد سألت بعض العلماء الأفاضل فأكدوا لي شكوكي وقالوا إنه قد يكون السبب الأكبر وقد حاولت إقناع أبي مرارا وتكرارا دون جدوى أرجو المشورة أكرمكم الله فهل هذا بالفعل يمكن أن يكون سببا وكيف تقترحون على إقناع أبي أرجو من حضراتكم الاهتمام لأني تعبانة جدا وطاقتي خلصت فعلا ولا اعرف ماذا أفعل وشكر لكم الله اهتمامكم.

Masalah saya adalah saya telah sakit selama sekitar 7 atau 8 tahun, walhamdulillah atas segala sesuatu, ya Allah tidak ada keberatan bagi saya atas takdir-Mu. Namun saya telah menempuh segala sebab yang memungkinkan dan doa yang terus-menerus dari saya serta dari orang-orang yang mengenal saya, akan tetapi ayah saya tidak membayar zakat hartanya. Saya menyadari bahwa hal ini mungkin menjadi penyebab tertundanya kesembuhan saya, tidak dikabulkannya doa, serta turunnya musibah dan bala ke dalam rumah. Saya telah bertanya kepada beberapa ulama dan mereka mengonfirmasi keraguan saya, mereka berkata bahwa itu bisa menjadi penyebab terbesarnya. Saya telah mencoba meyakinkan ayah berulang kali namun tanpa hasil. Saya mohon saran, semoga Allah memuliakan Anda, apakah hal ini memang benar bisa menjadi penyebab? Dan bagaimana Anda menyarankan saya untuk meyakinkan ayah saya? Saya mohon perhatiannya karena saya sangat lelah dan energi saya benar-benar habis, saya tidak tahu harus berbuat apa. Terima kasih atas perhatian Anda.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فنسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يمن عليك بالشفاء، واعلمي أن جزاء صبرك مدخر لك، قال تعالى:

Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung, agar memberikan kesembuhan kepada Anda. Ketahuilah bahwa pahala kesabaran Anda disimpan untuk Anda, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ [الزمر: ١٠]

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]

وتأملي قوله تعالى: {بِغَيْرِ حساب}، فأبشري بخير، فوالله لغمسة واحدة في الجنة تنسيك كل بلاء مّر بك في هذه الدنيا الدنيّة، قال صلى الله عليه وسلم:

Perhatikanlah firman-Nya: “tanpa batas”, maka berilah kabar gembira dengan kebaikan. Demi Allah, satu celupan saja di surga akan membuat Anda melupakan setiap cobaan yang pernah menimpa Anda di dunia yang rendah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Akan didatangkan orang yang paling menderita di dunia dari penghuni surga, lalu ia dicelupkan dengan satu celupan di surga, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat penderitaan sedikit pun? Pernahkah engkau mengalami kesukaran sedikit pun?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Tuhanku, tidak pernah satu pun penderitaan menghampiriku dan tidak pernah aku melihat kesukaran sedikit pun’.” (HR. Muslim)

وأما والدك فالواجب عليك نصحه وتخويفه من عقوبة منع الزكاة، وأن المال مال الله، وأنه مستخلف فيه، قال تعالى: (وَأَنفِقُوا مِن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ) [النور: ٣٣] وقال: (وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ) [الحديد: ٧]

Adapun ayah Anda, maka wajib bagi Anda untuk menasihatinya dan memperingatkannya akan hukuman menahan zakat, serta bahwa harta tersebut adalah harta milik Allah yang mana ia hanyalah pengelola (wakil) di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” [An-Nur: 33] dan Dia berfirman: “Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (sebagai wakil).” [Al-Hadid: 7]

وأعلميه أن هذا المال الذي يكنزه سيكون وبالا عليه يوم القيامة، حيث إنه سيعذب به، قال صلى الله عليه وسلم:

Beritahukanlah kepadanya bahwa harta yang ia timbun ini akan menjadi bencana baginya di hari kiamat, di mana ia akan diazab dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاتَهُ إِلَّا أُحْمِيَ عَلَيْهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُجْعَلُ صَفَائِحَ فَتُكْوَى بِهَا جَنْبَاهُ وَجَبِينُهُ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَ عِبَادِهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، ثُمَّ يَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Tidaklah seorang pemilik harta simpanan yang tidak menunaikan zakatnya melainkan harta itu akan dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dijadikan kepingan-kepingan logam yang kemudian disetrikakan ke lambung dan dahi mereka, hingga Allah memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya pada suatu hari yang lamanya setara dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia akan melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim)

ثم أعلميه أن أهل السنة والجماعة في حكم مانع الزكاة على قولين، القول الأول: أنه كافر كفراً أكبر مخرجاً من الملة، قال تعالى: (فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ) [التوبة: ١١]. والقول الثاني: أن مانع الزكاة الذي يعتقد وجوبها، وإنما منعها بخلاً بها أنه مؤمن ناقص الإيمان وأنه يستحق الوعيد الشديد، وهذا القول هو الراجح.

Kemudian beritahukan pula padanya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki dua pendapat mengenai hukum orang yang menahan zakat. Pendapat pertama: bahwa ia kafir dengan kekufuran besar yang mengeluarkan dari agama (millah), berdasarkan firman-Nya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” [At-Tawbah: 11]. Pendapat kedua: bahwa orang yang menahan zakat namun masih meyakini kewajibannya, dan ia menahannya hanya karena kikir (bukhl), maka ia adalah mukmin yang kurang imannya dan ia berhak mendapatkan ancaman yang keras, dan pendapat inilah yang rajih (kuat).

واعلمي رحمك الله أن المعاصي والاثام لا يحاسب عليها إلا فاعلها، قال تعالى: (مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ) [النساء: ١٢٣]، ولم يقل يجز غيره به، وقال سبحانه: (وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ) [الأنعام: ١٦٤]، فالله لن يحاسبك عن ما اقترفته يد أبيك من الآثام.

Ketahuilah —semoga Allah merahmati Anda— bahwa maksiat dan dosa tidak akan dimintai pertanggungjawaban kecuali kepada pelakunya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” [An-Nisa: 123], dan Dia tidak mengatakan orang lain yang akan dibalas. Dia juga berfirman: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [Al-An’am: 164]. Maka Allah tidak akan menghisab Anda atas dosa-dosa yang dilakukan oleh tangan ayah Anda.

ولا شك أن شؤم المعصية يطال فاعلها وغيره، فقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “وما منع قوم الزكاة إلا منعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يمطروا”.

Namun tidak diragukan lagi bahwa dampak buruk (syu’m) dari maksiat dapat mengenai pelakunya maupun orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan tidaklah suatu kaum menahan zakat melainkan akan ditahan tetesan air hujan dari langit, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.”

وأما كونك تدعين الله وقد تأخرت الإجابة هذه السنوات، فلذلك أسباب انظريها في الفتوى الأخرى هنا، 

Adapun mengenai doa Anda yang belum dikabulkan selama bertahun-tahun ini, hal tersebut memiliki sebab-sebab tertentu yang dapat Anda lihat pada fatwa lainnya di sini.

ولمعرفة شروط وموانع إجابة الدعاء انظري الفتوى الأخرى هنا

Untuk mengetahui syarat dan penghalang terkabulnya doa, silakan lihat fatwa lainnya di sini,

وننصحك ببعض العلاجات الربانية والنبوية، فعليك بالعسل، فقد قال تعالى: (فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ) [النحل: ٦٩]. وعليك بالحبة السوداء، فقد قال عنها رسول الله صلى عليه وسلم: “الحبة السوداء شفاء من كل داء إلا السام”. وعليك أيضاً بشرب ماء زمزم، والرقية الشرعية.

Kami menasihati Anda dengan beberapa pengobatan rabbani dan nabawi: hendaknya Anda mengonsumsi madu, karena Allah berfirman: “Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” [An-Nahl: 69]. Hendaknya Anda mengonsumsi jintan hitam (habbatussauda), karena Rasulullah bersabda: “Jintan hitam adalah obat dari segala penyakit kecuali as-sam (kematian).” Hendaknya Anda juga meminum air zamzam dan melakukan ruqyah syar’iyyah.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.