حكم إخراج المال بدلا من الطعام في كفارة تأخير القضاء
Hukum Mengeluarkan Uang Sebagai Ganti Makanan pada Kaffarah Menunda Qadha
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Mengeluarkan Uang Sebagai Ganti Makanan pada Kaffarah Menunda Qadha ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
قد قرأت فى فتوى لكم بخصوص تأخر قضاء صيام أيام رمضان أن التأخير له كفارة وهو إطعام مسكين عن كل يوم وهو ما يقدر بجرامات من الطعام وأن إخراج الكفارة فى صورة أموال لا يجزئ عن إطعام المسكين، فالسؤال الآن هو: أنه تم بالفعل إخراج أموال عن تلك الأيام منذ فترة وأكثر من القدر المحدد عن إطعام مسكين فى اليوم إذ لم يكن لدينا علم بأن الأموال لا تجزئ عن الإطعام، فما حكم ذلك هل تسقط بتلك الأموال الكفارة أم ينبغى إطعام المساكين أيضا، وأرجو الرد وعدم التحويل لفتوى أخرى؟
Saya telah membaca dalam fatwa Anda mengenai keterlambatan meng-qadha puasa hari-hari Ramadhan bahwa keterlambatan tersebut memiliki kaffarah, yaitu memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya yang diukur dengan gram makanan, dan bahwa mengeluarkan kaffarah dalam bentuk uang tidaklah mencukupi sebagai ganti memberi makan orang miskin. Pertanyaannya sekarang adalah: sesungguhnya telah dilakukan pengeluaran uang untuk hari-hari tersebut sejak beberapa waktu lalu dengan jumlah yang lebih banyak dari kadar yang ditentukan untuk memberi makan miskin per hari, karena kami tidak memiliki ilmu bahwa uang tidak mencukupi untuk memberi makan. Lantas bagaimana hukumnya? Apakah kaffarah tersebut gugur dengan uang tersebut ataukah tetap harus memberi makan orang miskin juga? Saya memohon jawaban dan tidak dialihkan ke fatwa lainnya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن إخراج غير الطعام في هذه الكفارة غير مجزئ عند جمهور الفقهاء، وذهب الأحناف ومن وافقهم إلى جواز ذلك قائلين بأن المقصود هو سد خلة المسكين، وذلك حاصل بالطعام، وبقيمته على حد السواء.
Sesungguhnya mengeluarkan selain makanan dalam kaffarah ini tidaklah mencukupi menurut mayoritas (jumhur) fuqaha. Namun, madzhab Hanafi dan orang-orang yang sepaham dengan mereka berpendapat tentang bolehnya hal tersebut, dengan alasan bahwa tujuannya adalah untuk menutupi kebutuhan orang miskin, dan hal itu dapat tercapai baik dengan makanan maupun dengan nilainya (uang) secara setara.
وقد فصل في ذلك شيخ الإسلام ابن تيمية فأجاز إخراج القيمة للحاجة والمصلحة، ومنعها في حال عدم وجود ذلك، فقال: وأما إخراج القيمة في الزكاة والكفارة ونحو ذلك فالمعروف من مذهب مالك والشافعي أنه لا يجوز وعند أبي حنيفة يجوز وأحمد رحمه الله قد منع القيمة في مواضع وجوزها في مواضع فمن أصحابه من أقر النص ومنهم من جعلها على روايتين والأظهر في هذا أن إخراج القيمة لغير حاجة ولا مصلحة راجحة ممنوع منه.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah merinci masalah ini; beliau membolehkan pengeluaran nilai (uang) jika ada kebutuhan (hajah) dan kemaslahatan (maslahah), serta melarangnya jika hal tersebut tidak ada. Beliau berkata: “Adapun mengeluarkan nilai dalam zakat, kaffarah, dan sejenisnya, maka yang masyhur dari madzhab Maliki dan Syafi’i adalah tidak boleh, sedangkan menurut Abu Hanifah boleh. Ahmad rahimahullah melarang nilai di beberapa tempat dan membolehkannya di beberapa tempat lainnya. Di antara murid-muridnya ada yang menetapkan nash dan ada pula yang menjadikannya dua riwayat. Yang lebih kuat dalam hal ini adalah bahwa mengeluarkan nilai tanpa adanya kebutuhan maupun kemaslahatan yang kuat adalah dilarang.”
ولهذا قدر النبي صلى الله عليه وسلم الجبران بشاتين أو عشرين درهما ولم يعد إلى القيمة ولأنه متى جوز إخراج القيمة مطلقاً فقد يعدل المالك إلى أنواع رديئة.. وأما إخراج القيمة للحاجة أو المصلحة أو العدل فلا بأس به.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tebusan (al-jubran) dengan dua ekor kambing atau dua puluh dirham dan beliau tidak beralih kepada nilainya. Dan karena jika pengeluaran nilai dibolehkan secara mutlak, terkadang pemilik harta akan beralih kepada jenis-jenis yang buruk… Adapun mengeluarkan nilai karena kebutuhan, kemaslahatan, atau keadilan, maka tidak mengapa. Selesai kutipan.
هذا مجمل كلام الفقهاء في هذا الحكم، والذي ننصح به الأخت السائلة في هذه المسألة هو أن تنظر الحالة التي أخرجت فيها قيمة الكفارة فإن كان إخراج الفلوس أصلح للفقراء وأبلغ في سد خلتهم فالظاهر أن ذلك يجزئها بناء على قول شيخ الإسلام.
Ini adalah ringkasan perkataan para fuqaha dalam hukum ini. Yang kami nasihatkan kepada saudari penanya dalam masalah ini adalah agar ia melihat kondisi saat ia mengeluarkan nilai kaffarah tersebut. Jika mengeluarkan uang tersebut lebih maslahat bagi orang-orang fakir dan lebih efektif dalam menutupi kebutuhan mereka, maka nampaknya hal itu telah mencukupinya berdasarkan pendapat Syaikhul Islam.
وإن كان الأمر عكس ذلك، فالأحوط أن تعيد إخراج الكفارة طعاماً، فإن ذلك أبرأ للذمة، وتحتسب أجر الفلوس عند الله فلن يضيع أجرها إن شاء الله تعالى.
Namun jika kondisinya sebaliknya, maka yang lebih hati-hati (ahwath) adalah ia mengulangi pengeluaran kaffarah dalam bentuk makanan, karena hal itu lebih membebaskan tanggungannya (dzimmah). Hendaknya ia mengharap pahala atas uang yang telah dikeluarkan sebelumnya di sisi Allah, karena pahalanya tidak akan sia-sia insya Allah Ta’ala.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply