Hukuman Bagi Orang yang Menahan Zakat di Dunia dan Akhirat



عقوبة مانع الزكاة الدنيوية والأخروية

Hukuman Bagi Orang yang Menahan Zakat di Dunia dan Akhirat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukuman Bagi Orang yang Menahan Zakat di Dunia dan Akhirat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم الممتنع عن الزكاة رغم استطاعته ونصاب زكاته بالغ من سنين ولم يخرج زكاة ماله علما بأنه إذا توفي ماذا يفعل الورثة؟ أفيدونا رحمكم الله

Apa hukum bagi orang yang menahan zakat padahal ia mampu melaksanakannya, dan hartanya telah mencapai nishab selama bertahun-tahun namun ia tidak mengeluarkan zakat hartanya tersebut? Perlu diketahui pula, jika ia meninggal dunia, apa yang harus dilakukan oleh para ahli warisnya? Berikanlah penjelasan kepada kami, semoga Allah merahmati Anda.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن منع الزكاة بخلاً بها وحرصاً وجشعاً من أكبر الكبائر وأقبح الجرائم، فقد روى البخاري عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Sesungguhnya menahan zakat karena kekikiran, ketamakan, dan keserakahan termasuk di antara dosa-dosa besar yang paling besar dan kejahatan yang paling buruk. Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ، لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوِّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ -يَعْنِي شِدْقَيْهِ- ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ

“Barangsiapa yang dikaruniai harta oleh Allah lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat hartanya itu akan diserupakan dengan ular jantan yang sangat berbisa dan kepalanya botak (karena saking banyaknya racun) yang memiliki dua titik hitam di atas matanya. Ular itu akan melilitnya pada hari kiamat, kemudian ular itu akan mematuk kedua rahangnya seraya berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu’.” (HR. Al-Bukhari)

ثم تلا النبي صلى الله عليه وسلم الآية:

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [آل عمران: ١٨٠]

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Ali ‘Imran: 180]

هذا بالنسبة لعقوبته الأخروية. أما بالنسبة للعقوبة الدنيوية فهي أصناف كثيرة ومتنوعة منها: ما يسلطه الله تعالى على العبد مما لا دخل لغيره فيه، يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: “ما منع قوم الزكاة إلا ابتلاهم الله بالسنين -المجاعة والقحط-” ومنها: “ولم يمنعوا زكاة أموالهم إلا منعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يمطروا”

Ini adalah hukuman di akhirat. Adapun mengenai hukuman di dunia, jenisnya sangat banyak dan beragam, di antaranya: apa yang Allah timpakan langsung kepada hamba tanpa campur tangan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum menahan zakat melainkan Allah akan menguji mereka dengan kekeringan (kelaparan dan paceklik).” Dalam hadits lain disebutkan: “Dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan tetesan air hujan dari langit, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.”

ومنها العقوبة الشرعية التي يتولاها الحاكم أو نائبه، يقول الرسول صلى الله عليه عليه وسلم: “من أعطاها مؤتجراً فله أجره، ومن منعها فإنا آخذوها وشطر ماله..” إلى آخر الحديث.

Di antaranya juga hukuman secara syariat yang ditangani oleh penguasa atau wakilnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengeluarkannya demi mengharap pahala maka ia mendapatkan pahalanya, dan barangsiapa yang menahannya maka kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya…” hingga akhir hadits.

فالحديث يتضمن أن من غلب عليه الشح وحب الدنيا ومنع الزكاة لم يترك وشأنه، بل تؤخذ منه قهراً بسلطان الشرع مع أخذ نصف ما له تعزيراً وتأديباً.

Maka hadits ini mengandung makna bahwa barangsiapa yang dikuasai oleh sifat kikir dan cinta dunia sehingga menahan zakat, ia tidak akan dibiarkan begitu saja. Sebaliknya, zakat tersebut akan diambil darinya secara paksa dengan kekuasaan syariat disertai pengambilan setengah hartanya sebagai hukuman (ta’zir) dan pelajaran.

بل أوجب سل السيوف وإعلان الحرب على كل فئة ذات شوكة تتمرد على أداء الزكاة، ولم يبال في سبيل ذلك بقتل الأنفس، وإراقة الدماء التي جاء لصيانتها والمحافظة عليها، الأمر الذي يدل دلالة واضحة على أهمية أداء الزكاة وخطورة الامتناع منه.

Bahkan diwajibkan menghunus pedang dan memaklumkan perang terhadap setiap kelompok yang memiliki kekuatan/senjata yang membangkang terhadap penunaian zakat. Dalam hal ini, Islam tidak berkeberatan meski harus mengorbankan jiwa dan menumpahkan darah yang asalnya dilindungi, hal mana menunjukkan dengan sangat jelas betapa pentingnya menunaikan zakat dan betapa bahayanya menolak untuk menunaikannya.

ولهذا فإنا نقول للسائل: على الدولة أن تأخذ من هذا الرجل حق الفقراء والمساكين جبراً عنه. وأما بالنسبة لما يفعله ورثة هذا المال الذي لم تؤد زكاته، فإنهم يخرجون منه ما ترتب فيه من الحقوق الزكوية، كسائر الديون، فهي مقدمة بعد مؤن تجهيز الميت.

Oleh karena itu, kami sampaikan kepada penanya: Adalah kewajiban negara untuk mengambil hak para fakir miskin dari orang ini secara paksa. Adapun mengenai apa yang harus dilakukan oleh para ahli waris terhadap harta yang belum ditunaikan zakatnya ini, maka mereka wajib mengeluarkan hak-hak zakat yang melekat pada harta tersebut sebagaimana utang-utang lainnya. Pelunasan zakat ini harus didahulukan setelah biaya pengurusan jenazah.

ثم بعد ذلك تخرج الوصية من ثلث الباقي إذا كانت ثمة وصية، ثم يقسم الباقي من المال على الورثة.

Kemudian setelah itu, wasiat dikeluarkan dari sepertiga harta yang tersisa jika memang ada wasiat, barulah sisa harta tersebut dibagikan kepada para ahli waris.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.