النسخ… تعريفه …وأحكامه
An-Nasakh: Definisi dan Hukum-hukumnya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel An-Nasakh: Definisi dan Hukum-hukumnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah
السؤال:
Pertanyaan:
ما المقصود بالآيات المنسوخة وكيف نعلمها وما الفرق بينها وبين الآيات الأخرى وهل يجب على المسلم معرفة هذه الآيات؟
Apa yang dimaksud dengan ayat-ayat yang di-mansukh, bagaimana kita mengetahuinya, apa perbedaan antara ayat tersebut dengan ayat lainnya, dan apakah wajib bagi seorang muslim untuk mengetahui ayat-ayat ini?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالنسخ هو: رفع حكم شرعي بخطاب شرعي متراخ عنه. والآيات المنسوخة في القرآن الكريم تنقسم إلى ثلاثة أقسام:
Nasakh adalah mengangkat (menghapus) suatu hukum syar’i (syariat) dengan khithab syar’i (dalil syariat) yang datang kemudian darinya. Ayat-ayat yang di-mansukh (dihapus) dalam Al-Qur’anul Karim terbagi menjadi tiga bagian:
قسم رفع الله حكمه وأبقى تلاوته، كنسخ حكم آية الاعتداد من موت الزوج، إلى أربعة أشهر وعشر، بدلا من حول كامل، وذلك في قوله تعالى:
Bagian pertama: Allah mengangkat hukumnya namun tetap membiarkan tilawah-nya (bacaannya). Seperti penghapusan hukum ayat tentang masa ‘iddah karena wafatnya suami menjadi empat bulan sepuluh hari, sebagai ganti dari satu tahun penuh. Hal itu terdapat dalam firman Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ [البقرة: ٢٤٠]
“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah sampai setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” [Al-Baqarah: 240]
فنسخ الله حكمها بقوله تعالى:
Maka Allah menghapus hukumnya dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا [البقرة: ٢٣٤]
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah isteri-isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” [Al-Baqarah: 234]
وقسم رفع الله حكمه وتلاوته، كما روى مسلم في صحيحه عن عائشة رضي الله عنها قالت:
Bagian kedua: Allah mengangkat hukum dan juga tilawah-nya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ، عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ، ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ
“Dahulu termasuk apa yang diturunkan dalam Al-Qur’an adalah sepuluh kali persusuan yang diketahui dapat mengharamkan (pernikahan), kemudian di-nasakh menjadi lima kali persusuan yang diketahui…” (HR. Muslim)
وقسم رفع الله تلاوته وأبقى حكمه، كنسخ تلاوة آية الرجم للزانيين المحصنين مع بقاء حكمها، كما رواه مالك في الموطأ عن عمر رضي الله عنه.
Bagian ketiga: Allah mengangkat tilawah-nya namun tetap membiarkan hukumnya. Seperti penghapusan tilawah ayat rajm bagi pezina muhshan sementara hukumnya tetap berlaku. Sebagaimana diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.
فالقسم الأول والثاني نسخ في كل منهما الحكم، وجاء حكم بدلاً منه، وفي القسم الثالث نسخت التلاوة فقط وبقي الحكم كما هو، فكان المنسوخ تلاوتها والتعبد بها.
Maka pada bagian pertama dan kedua, hukumnya di-nasakh pada masing-masingnya dan datang hukum lain sebagai penggantinya. Sedangkan pada bagian ketiga, yang di-nasakh hanyalah tilawah-nya saja sementara hukumnya tetap seperti sedia kala, sehingga yang di-mansukh adalah bacaan dan nilai ta’abbud (ibadah) dengan membacanya.
والفرق بين الآيات المنسوخة وغير المنسوخة، أن المنسوخة لا يعمل بها بعد نزول الناسخ، هذا في القسمين الأولين، ولا تتلى للتعبد في القسم الثالث، أما غير المنسوخة فإنها يُعمل بها ويتعبد بتلاوتها على الأصل.
Perbedaan antara ayat yang di-mansukh dengan yang tidak di-mansukh adalah: bahwa ayat yang di-mansukh tidak lagi diamalkan setelah turunnya ayat nasikh (penghapus)—ini berlaku pada dua bagian pertama—dan tidak dibaca untuk ta’abbud pada bagian ketiga. Adapun ayat yang tidak di-mansukh, maka ia tetap diamalkan dan dibaca sebagai ibadah berdasarkan hukum asalnya.
ويمكنك أيها السائل أن تتعلم الآيات المنسوخة من الكتب التي ألفت في هذا الفن خصيصاً، ومنها: كتاب الناسخ والمنسوخ للنحاس، ولكل من ابن العربي المالكي وأبي داود السجستاني، وأبي القاسم بن سلام كتاب في نفس الموضوع ويحمل نفس الاسم.
Anda wahai penanya, dapat mempelajari ayat-ayat yang di-mansukh dari kitab-kitab yang disusun khusus dalam bidang ini, di antaranya: Kitab An-Nasikh wal Mansukh karya An-Nahhas, dan masing-masing dari Ibnu al-‘Arabi al-Maliki, Abu Dawud as-Sijistani, serta Abu al-Qasim bin Salam memiliki kitab dengan tema yang sama dan judul yang sama pula.
وكذلك عليك بمراجعة كتب التفسير بالمأثور كابن جرير الطبري، والدر المنثور للسيوطي، وتفسير ابن كثير.
Demikian juga hendaknya Anda merujuk pada kitab-kitab tafsir bil ma’tsur seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ad-Durr al-Mantsur karya As-Suyuthi, dan Tafsir Ibnu Katsir.
هذا، وليُعلم أن تعلم الناسخ والمنسوخ بأحكامه لا يجب على جميع المسلمين، ولكن يجب على من أراد منهم أن يتصدى لتعليم الناس وإفتائهم، لئلا يقع في إصدار الأحكام بناءً على أدلة منسوخة.
Demikianlah, hendaknya diketahui bahwa mempelajari an-nasikh dan al-mansukh beserta hukum-hukumnya tidaklah wajib bagi seluruh kaum muslimin. Namun hukumnya menjadi wajib bagi siapa saja di antara mereka yang ingin tampil mengajar orang lain dan memberikan fatwa, agar tidak terjerumus dalam mengeluarkan hukum berdasarkan dalil-dalil yang sudah di-nasakh.
وتعلم أحكام الناسخ والمنسوخ لا بد فيه من قراءة كتب أصول الفقه القديمة والحديثة.
Mempelajari hukum-hukum an-nasikh dan al-mansukh mengharuskan seseorang membaca kitab-kitab Ushul Fiqh klasik maupun kontemporer.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply