من الحكم في توقيت الصلاة
Di Antara Hikmah dalam Penentuan Waktu Shalat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Di Antara Hikmah dalam Penentuan Waktu Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي الحكمة الإلهية من “إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا”؟
Apakah hikmah Ilahi dari firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa: 103)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن الصلاة هي عقد الصلة بين العبد وربه، بما فيها من لذة المناجاة للخالق وإظهار العبودية له، وتفويض الأمر إليه، والتماس الأمن والسكينة والنجاة في رحابه، وهي طريق الفوز والفلاح وتكفير السيئات.
Sesungguhnya shalat adalah pengikat hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya, yang di dalamnya terdapat kelezatan munajat kepada Sang Pencipta, penampakan ‘ubudiyyah kepada-Nya, penyerahan segala urusan kepada-Nya, serta upaya mencari rasa aman, ketenangan, dan keselamatan di naungan-Nya. Ia adalah jalan menuju kemenangan, keberuntungan, dan penghapus dosa-dosa.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [المؤمنون: ١-٢]
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khosyi‘ dalam sembahyangnya.” [Al-Mu’minun: 1-2]
ومن الحكم في توقيتها: أنها تدرب المرء على حب النظام، والتزام التنظيم في الأعمال وشؤون الحياة واحترام الوقت وتقديره، وبها يتعود على حصر الذهن في المفيد النافع، وكمال الانقيad إلى الله، وغير ذلك.
Di antara hikmah dalam penentuan waktunya adalah: bahwa hal itu melatih seseorang untuk mencintai keteraturan, berkomitmen pada pengorganisasian amal dan urusan kehidupan, serta menghormati dan menghargai waktu. Dengannya, seseorang terbiasa memfokuskan pikiran pada hal-hal yang bermanfaat, serta mencapai kesempurnaan kepatuhan kepada Allah, dan lain sebagainya.
وأكثر أهل العلم على أن تحديد الصلوات في الأوقات المعينة لها أمر تعبدي -أي أمر أمرنا الله به ولم يظهر لنا علته- ومنهم من علله.
Mayoritas ahli ilmu berpendapat bahwa penentuan shalat pada waktu-waktu tertentu merupakan perkara ta‘abbudi—yaitu suatu perintah yang Allah perintahkan kepada kita tanpa memperlihatkan alasannya (‘illat) kepada kita—namun di antara mereka ada juga yang mencoba memberikan penjelasan alasannya.
قال البيجوري في حاشيته على شرح ابن قاسم الغزي: وأكثر العلماء على أن اختصاص الصلوات الخمس بأوقاتها تعبدي، وأبدى بعضهم له حكمة وهي تذكر الإنسان بها نشأته فكماله في البطن وتهيؤه للخروج منها كطلوع الفجر الذي هو مقدمة لطلوع الشمس، فوجب الصبح حينئذ تذكيراً لذلك.
Al-Baijuri berkata dalam Hasyiyah-nya atas Syarah Ibnu Qasim al-Ghazzi: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa pengkhususan shalat lima waktu dengan waktu-waktunya adalah ta‘abbudi. Namun sebagian mereka mengemukakan suatu hikmah, yaitu bahwa waktu-waktu tersebut mengingatkan manusia akan fase pertumbuhannya; sempurnanya janin di dalam perut dan persiapannya untuk keluar darinya adalah seperti terbitnya fajr yang merupakan pendahuluan bagi terbitnya matahari, maka diwajibkan Shubuh pada saat itu sebagai pengingat akan hal tersebut.”
وولادته كطلوع الشمس، ومنشؤه كارتفاعها، وشبابه كوقوفها عند الاستواء، وكهولته كميلها، فوجبت الظهر حينئذ تذكيراً لذلك، وشيخوخته كقربها للغروب، فوجبت العصر حينئذ تذكيراً لذلك، وموته كغروبها، فوجبت المغرب تذكيراً لذلك، وفناء جسمه كانمحاق أثر الشمس بمغيب الشفق الأحمر، فوجبت العشاء حينئذ تذكيراً لذلك.
“Dan kelahirannya bagaikan terbitnya matahari, masa pertumbuhannya seperti naiknya matahari, masa mudanya laksana posisi matahari di titik kulminasi (istiwa’), dan masa dewasanya seperti mulai miringnya matahari, maka diwajibkan Zhuhur pada saat itu sebagai pengingat akan hal tersebut. Masa tuanya laksana matahari yang mendekati ufuk barat, maka diwajibkan ‘Ashar pada saat itu sebagai pengingatnya. Kematiannya seperti terbenamnya matahari, maka diwajibkan Maghrib sebagai pengingatnya. Dan hancurnya jasad laksana hilangnya bekas cahaya matahari dengan terbenamnya mega merah (syafaq), maka diwajibkan ‘Isya pada saat itu sebagai pengingatnya.”
ولا شك أن ما أسلفناه أولاً أقرب إلى أن يكون حكمة مما ذكره البيجوري هنا.
Dan tidak diragukan lagi bahwa apa yang kami sebutkan di awal lebih dekat untuk menjadi hikmah daripada apa yang disebutkan oleh Al-Baijuri di sini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply