الحكمة في العبادات والتشريع على صفتها المأمور بها
Hikmah dalam Ibadah dan Syariat sesuai Sifat yang Diperintahkan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hikmah dalam Ibadah dan Syariat sesuai Sifat yang Diperintahkan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
ما الحكمة فى أن بعض الصلوات جهرية والبعض الآخر سرية؟
Apa hikmah di balik sebagian sholat dilakukan secara jahriyyah (suara keras) dan sebagian lainnya secara sirriyyah (suara pelan)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن الحكمة في اصطلاح الأصوليين هي المصلحة التي قصد الشارع من تشريع الحكم تحقيقها أو تكميلها، أو المفسدة التي قصد الشارع بتشريع الحكم دفعها أو تقليلها.
Sesungguhnya hikmah dalam istilah para ahli ushul adalah kemaslahatan yang dimaksudkan oleh Syari‘ (Pembuat Syariat) melalui penetapan hukum untuk diwujudkan atau disempurnakan, atau kerusakan (mafsadah) yang dimaksudkan oleh Syari‘ untuk ditolak atau dikurangi melalui penetapan hukum tersebut.
ولم يعرف في تمييز الحكم من كيفيات وصفات العبادات وجه معين غير العجز عن التعليل بطريق من الطرق المعتبرة، وإن ظهرت بعض هذه الحكم وعقلت عند التأمل. ولذلك قالوا: إن ما شرعه الله إن ظهرت لنا حكمته قلنا: إنه معقول المعنى، وإلا قلنا إنه تعبدي.
Tidak diketahui adanya cara tertentu dalam membedakan hukum terkait tata cara dan sifat ‘ibadah melainkan ketidakmampuan akal untuk memberikan alasan (ta‘lil) melalui jalan-jalan yang diakui, meskipun sebagian hikmah ini dapat tampak dan dinalar saat dilakukan perenungan. Oleh karena itu, para ulama berkata: “Sesungguhnya apa yang disyariatkan Allah, jika tampak bagi kita hikmah-nya maka kita katakan ia adalah ma‘qul al-ma‘na (rasional maknanya), jika tidak maka kita katakan ia adalah ta‘abbudi (murni penghambaan).”
واختلف الفقهاء هل يخلو حكم شرعي عن حكمة أم لا؟ فابن القيم سيراً على نهج شيخه شيخ الإسلام ابن تيمية رأى أنه ليس في الشريعة حكم واحد إلا وله معنى وحكمة، يعقله من يعقله، ويخفى على من خفي عليه.
Para fuqoha berbeda pendapat mengenai apakah ada hukum syara‘ yang kosong dari hikmah atau tidak. Ibnu al-Qayyim, mengikuti manhaj gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berpendapat bahwa tidak ada satu pun hukum dalam syari‘at melainkan ia memiliki makna dan hikmah; yang dapat dinalar oleh orang yang mampu menalarnya, dan tersembunyi bagi orang yang tersembunyi darinya.
ومن ذلك اختصاص الوضوء بالأعضاء المخصوصة، والصلاة بتلك الهيئة من رفع اليدين والقيام والركوع والسجود وكونها على بعض الهيئات دون بعض، واختصاص الصيام بالنهار دون الليل، واختصاص الحج بتلك الأعمال المعلومة… إلى أشباه ذلك مما لا تهتدي العقول إليه على وجه الجزم والإحاطة.
Di antaranya adalah pengkhususan wudhu pada anggota tubuh tertentu, sholat dengan tata cara seperti mengangkat tangan, berdiri, ruku‘, dan sujud dalam bentuk tertentu, pengkhususan puasa pada siang hari dan bukan malam hari, serta pengkhususan haji dengan amalan-amalan yang telah diketahui… dan hal-hal serupa yang tidak dapat dijangkau oleh akal secara pasti dan menyeluruh.
وبما أن الصلاة خصت بأفعال مخصوصة على هيئات مخصوصة إن خرجت عنها لم تكن عبادة، وأن الذكر في هيئة ما مطلوب، وفي هيئة أخرى غير مطلوب، وأن القراءة يسر بها في النهار ويجهر فيها بالليل… وأشباه ذلك، علمنا يقيناً تعين أن المقصود الشرعي الأول هو التعبد بذلك على صفته تلك، وأن غيره غير مقصود شرعاً.
Dikarenakan sholat dikhususkan dengan perbuatan dan tata cara tertentu yang jika keluar darinya maka tidak lagi dianggap sebagai ‘ibadah, serta dzikir dituntut dalam bentuk tertentu dan tidak dituntut dalam bentuk lainnya, dan bacaan dilakukan secara sirr di siang hari serta secara jahr di malam hari… dan hal-hal serupa, maka kita mengetahui secara yakin bahwa maksud syara‘ yang utama adalah ber-‘ibadah dengan sifat tersebut, dan selain itu tidak dimaksudkan secara syara‘.
ويجب أن نعلم أن التعبد بالأفعال من غير إدراك أوجه الحكمة منها على التفصيل، أن التعبد لله بذلك مقصود للشارع، فإن فيه زيادة الإيمان والتسليم، وقبول ما يعجز العقل عن إدراكه، لأنه جاء من عند الله.
Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa ber-‘ibadah dengan perbuatan tanpa memahami sisi hikmah-nya secara terperinci adalah maksud dari Syari‘. Sebab di dalamnya terdapat penambahan iman dan taslim (penyerahan diri), serta penerimaan terhadap apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal karena ia datang dari sisi Allah.
وقد ذكر السرخسي في المبسوط: أن المشركين كانوا يؤذون النبي صلى الله عليه وسلم ويسبون من أنزل ومن أنزل عليه، فأنزل الله تعالى:
As-Sarkhasi menyebutkan dalam al-Mabsuth: Bahwasanya kaum musyrikin dahulu sering menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencela Zat Yang menurunkan (Al-Quran) serta orang yang diturunkan kepadanya. Maka Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا [الإسراء: ١١٠]
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” [Al-Isra: 110]
فكان يخافت بعد ذلك في صلاة الظهر والعصر، لأنهم كانوا مستعدين للأذى في هذين الوقتين، ويجهر في صلاة المغرب، لأنهم كانوا مشغولين بالأكل، وفي صلاة الفجر والعشاء، لأنهم كانوا نياماً، ولهذا جهر في الجمعة والعيدين، لأنه أقامها في المدينة وما كان للكفار بها قوة أذى.
Maka setelah itu beliau melembutkan suara (sirr) dalam sholat Zhuhur dan ‘Ashar, karena mereka siap untuk menyakiti pada kedua waktu tersebut. Beliau mengeraskan suara (jahr) dalam sholat Maghrib karena mereka sedang sibuk makan, serta dalam sholat Fajr dan ‘Isya karena mereka sedang tidur. Oleh karena itu, beliau mengeraskan suara dalam sholat Jumat dan dua hari raya, karena beliau mendirikannya di Madinah di mana orang-orang kafir tidak memiliki kekuatan untuk menyakiti.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply