Hikmah dari Ibadah yang Tidak Terjangkau Maknanya oleh Akal



الحكمة من العبادات غيرِ معقولة المعنى

Hikmah dari Ibadah yang Tidak Terjangkau Maknanya oleh Akal

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hikmah dari Ibadah yang Tidak Terjangkau Maknanya oleh Akal ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

لماذا عدد ركعات الظهر 4 و ليس 3 مثل المغرب إلى بقية الصلوات؟

Mengapa jumlah raka‘at Zhuhur 4 dan tidak 3 seperti Maghrib hingga sholat-sholat lainnya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:

فإن عدد الصلوات، واختلاف أعداد ركعاتها من صلاة لأخرى، وعدد الجمار التي تُرمى في أيام النحر، وغير ذلك، هو من الأمور التعبدية غير معقولة المعنى بالنسبة للعباد.

Sesungguhnya jumlah sholat, perbedaan jumlah raka‘at-nya dari satu sholat ke sholat lainnya, jumlah jamarat yang dilempar pada hari-hari nahr, dan selain itu, termasuk perkara ta‘abbudi yang tidak terjangkau maknanya oleh akal (tidak rasional secara lahiriah) bagi para hamba.

ولعل الحكمة في هذا النوع من التكليف هو الابتلاء والاختبار لمطلق التسليم لأمر الله تعالى، الذي هو من لوازم الإسلام، وليعلم أن هذا النوع من التكليف ليس هو الغالب في شريعة الإسلام، بل إن الكثير من الأحكام الشرعية معقول المعنى، سواء ظهر أنه معقول بالشرع كالصلاة، فقد قال تعالى في بيان حكمتها:

Barangkali hikmah dalam jenis beban syariat (taklif) semacam ini adalah sebagai ibtila’ (cobaan) dan ujian bagi kemutlakan penyerahan diri (taslim) terhadap perintah Allah Ta‘ala, yang merupakan bagian dari konsekuensi Islam. Dan hendaknya diketahui bahwa jenis beban syariat semacam ini bukanlah yang mendominasi dalam syari‘at Islam. Bahkan, banyak dari hukum-hukum syariat yang maknanya dapat dinalar oleh akal, baik itu tampak secara syara‘ seperti sholat, di mana Allah Ta‘ala berfirman dalam menjelaskan hikmah-nya:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ [العنكبوت: ٤٥]

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabut: 45]

وكذلك الطواف ورمي الجمار، لما روى أحمد عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Demikian pula thawaf dan melempar jamarat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْكَعْبَةِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Sesungguhnya dijadikan thawaf di Ka’bah dan antara Shofa dan Marwah adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad)

أو ظهرت باستنباط العلماء لها، كقولهم في حكمة الإفطار في السفر إنها دفع المشقة، وبفهم القاعدة التي ذكرناها، يُزَال من الفهم كل ما يشوش على عقيدة المسلم من هذا الباب.

Atau hal itu tampak melalui istinbath (penggalian hukum) para ulama terhadapnya, seperti perkataan mereka mengenai hikmah berbuka saat safar adalah untuk menghilangkan masyaqqah (kesulitan). Dengan memahami kaidah yang telah kami sebutkan ini, maka akan hilang dari pemahaman segala sesuatu yang mengganggu ‘aqidah seorang muslim dalam bab ini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.