الحكمة من فرض الصلاة في مواقيتها المعلومة
Hikmah Pensyariatan Shalat pada Waktu-waktu yang Telah Ditentukan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hikmah Pensyariatan Shalat pada Waktu-waktu yang Telah Ditentukan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
طرحت على نفسي سؤالا وهو : ما الحكمة من اختيار الله عز وجل أوقات الصلاة الحالية في هذا التوقيت بالذات ؟ وهذا السؤال حيرني لذا أستفسر منكم ؟ جزاكم الله خيرا عن هاته الحكمة.
Saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada diri saya sendiri, yaitu: Apa hikmah di balik pemilihan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap waktu-waktu shalat yang ada sekarang ini pada waktu-waktu tersebut secara khusus? Pertanyaan ini membingungkan saya, oleh karena itu saya meminta penjelasan dari Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda atas (penjelasan) hikmah ini.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن الله سبحانه وتعالى قد خلق عباده ليعبدوه.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya agar mereka menyembah-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات: ٥٦]
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Adz-Dzariyat: 56]
قال الحافظ ابن كثير في تفسيره لهذه الآية : أي إنما خلقتهم لآمرهم بعبادتي لا لاحتياجي إليهم ، وقد أمر عباده بإقامة الصلاة وبين النبي صلى الله عليه وسلم تحديد أوقاتها على ماهو معروف، فيجب على المسلم أن يمتثل أمر الله تعالى ويستسلم له ، فإن لله الحجة البالغة ، والحكمة العظيمة في شرعه وقدره.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya mengenai ayat ini: “Yaitu hanyalah Aku menciptakan mereka agar Aku memerintahkan mereka untuk ber-‘ibadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” Dan Dia telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mendirikan shalat, serta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan batasan waktu-waktunya sebagaimana yang telah diketahui. Maka wajib bagi seorang muslim untuk mematuhi perintah Allah Ta‘ala dan berserah diri (taslim) kepada-Nya. Karena sesungguhnya bagi Allah-lah hujjah yang sempurna, serta hikmah yang agung dalam syari‘at dan qadar-Nya.
والله سبحانه كما قال عن نفسه :
Allah Subhanahu wa Ta‘ala sebagaimana berfirman mengenai diri-Nya:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [الأنبياء: ٢٣]
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan merekalah yang akan ditanyai.” [Al-Anbiya: 23]
فإذا جاء أمر الله أو خبره فما على المؤمن إلا أن يقول : سمعنا وأطعنا وصدقنا، سواء علم الحكمة أو لم يعلمها . وقد سبق أن ذكرنا في الفتوى الأخرى هنا ، أن أكثر أهل العلم على أن تحديد الصلوات في الأوقات المعينة لها أمر تعبدي أي أمر أمرنا الله به ولم يظهر لنا علته ، ومنهم من علله ، فالرجاء مراجعتها .
Maka apabila telah datang perintah Allah atau berita dari-Nya, tidak ada kewajiban bagi seorang mukmin melainkan berucap: “Kami dengar, kami taat, dan kami benarkan,” baik ia mengetahui hikmah-nya maupun tidak mengetahuinya. Telah kami sebutkan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini bahwa mayoritas ahli ilmu berpendapat bahwa penentuan shalat pada waktu-waktu tertentu tersebut merupakan perkara ta‘abbudi—yaitu suatu perintah yang Allah perintahkan kepada kita sementara belum tampak bagi kita ‘illat-nya—namun, di antara ulama ada pula yang mencoba memberikan ‘illat padanya, maka silakan merujuknya kembali.
وقد ذكر ابن القيم في كتابه شفاء العليل في مسائل القضاء والقدر والحكمة والتعليل ، ما يفيد أن من الحكمة في الأمر بالصلاة وقتاً بعد وقت تذكير العبد بربه لئلا يطول عليه الأمد فينسى
Ibnu al-Qayyim telah menyebutkan dalam kitabnya, Syifa al-’Alil fi Masa’il al-Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta‘lil, poin-poin yang memberikan faedah bahwa di antara hikmah perintah shalat dari waktu ke waktu adalah untuk mengingatkan sang hamba kepada Rabb-nya, agar masa penantian tidak menjadi terlalu panjang sehingga ia melupakan-Nya.
فقال: ثم لما كان العبد خارج الصلاة مهملاً جوارحه قد أسامها في مراتع الشهوات والحظوظ أمر بالعبودية والإقبال بجميع جوارحه وحواسه وقواه لربه عزوجل واقفاً بين يديه مقبلاً بكله عليه معرضاً عمن سواه متنصلاً من إعراضه عنه وجنايته على حقه
Beliau berkata: “Kemudian, dikarenakan seorang hamba ketika berada di luar shalat seringkali melalaikan anggota tubuhnya—ia melepaskannya di padang-padang syahwat dan kepentingan pribadi—maka ia diperintahkan untuk ber-‘ubudiyyah dan menghadap dengan seluruh anggota tubuh, indra, dan kekuatannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, berdiri di hadapan-Nya, menghadap sepenuhnya kepada-Nya, serta berpaling dari selain-Nya, memohon ampun atas sikap berpalingnya dan pengkhianatannya terhadap hak-Nya.
ولما كان هذا طبعه ( ودأبه ) أمر أن يجدد هذا الركوع إليه والإقبال عليه وقتاً بعد وقت لئلا يطول عليه الأمد فينسى ربه وينقطع عنه بالكلية ، وكانت الصلاة من أعظم نعم الله عليه وأفضل هداياه التي ساقها إليه . انتهى بتصرف .
Dan dikarenakan hal ini merupakan tabiatnya (dan kebiasaannya), maka ia diperintahkan untuk memperbaharui ketundukan dan penghadapan diri ini dari waktu ke waktu, agar tidak berlalu waktu yang lama sehingga ia melupakan Rabb-nya dan terputus hubungan dengan-Nya secara total. Maka shalat merupakan salah satu nikmat Allah yang paling agung baginya dan hadiah terbaik yang Allah hantarkan kepadanya.” Selesai kutipan dengan ringkasan.
وللفائدة راجع الفتوى الأخرى هنا .
Untuk faedah tambahan silakan merujuk fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply