Ibadah Kepada Allah Ta’ala: Tujuan dan Manfaatnya



عبادة الله تعالى…غايتها…وفوائدها

Ibadah Kepada Allah Ta’ala: Tujuan dan Manfaatnya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Ibadah Kepada Allah Ta’ala: Tujuan dan Manfaatnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah

السؤال:

Pertanyaan:

أعرف قول الله تعالى(وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ) صدق الله العظيم .. ولكن ما هي حكمة الخلق والعبادة للواحد القهار بمعنى أن الله تعالى سواء عبدناه أم لا لن يزيد هذا من سلطانه وجاهه وعظمته وبناء على ذلك الجنة والنار ( برجاء إذا رأيتم في سؤالي نوعا من الشطط أن تخبروني حتى لا أكون فريسة للشيطان.. ولكم الأجر عند الله)…..

Saya mengetahui firman Allah Ta’ala (Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku)… namun apa hikmah dari penciptaan dan ‘ibadah bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Dalam artian bahwa Allah Ta’ala, baik kita menyembah-Nya atau tidak, hal itu tidak akan menambah kekuasaan, kedudukan, maupun keagungan-Nya, dan atas dasar itu pula adanya surga dan neraka. (Saya berharap jika Anda melihat adanya penyimpangan dalam pertanyaan saya, mohon beritahu saya agar saya tidak menjadi mangsa setan.. dan bagi Anda pahala di sisi Allah).

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فحكمة خلق الإنسان وغايات حياته وسر وجوده يكمن الظاهر منها لنا في عبادة الله،قال تعالى:

Maka hikmah penciptaan manusia, tujuan hidupnya, dan rahasia keberadaannya yang nampak bagi kita terletak pada ‘ibadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذريات: ٥٦]

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Adz-Dzariyat: 56]

وشرف الإنسان بأن يوجد كاملاً في المعنى الذي أوجد لأجله، ودناءته بفقدان ذلك الفعل منه، فمن لا يصلح لخلافة الله تعالى ولا لعبادته ولا لعمارة أرضه فالبهيمة خير منه، ولذلك قال الله في ذم الذين فقدوا هذه الفضيلة:

Kemuliaan manusia adalah ketika ia ada secara sempurna dalam makna yang menjadi tujuan ia diciptakan, dan kerendahannya adalah dengan hilangnya perbuatan tersebut dari dirinya. Barangsiapa yang tidak layak untuk menjadi khalifah Allah Ta’ala, tidak layak untuk beribadah kepada-Nya, dan tidak pula untuk memakmurkan bumi-Nya, maka binatang ternak lebih baik darinya. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam mencela orang-orang yang kehilangan keutamaan ini:

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف: ١٧٩]

“Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al-A’raf: 179]

أمَّا لماذا نعبد الله وهو الغني عنا؟ وما الغاية من تكليفنا بهذه العبادة؟ هل يعود عليه نفع من عبادتنا له أم النفع يعود علينا؟ والجواب على هذا يتلخص في التالي:

Adapun mengapa kita menyembah Allah padahal Dia Maha Kaya (tidak butuh) dari kita? Apa tujuan pembebanan syari’at (taklif) ‘ibadah ini kepada kita? Apakah ada manfaat bagi-Nya dari ‘ibadah kita atau manfaat itu kembali kepada kita? Jawaban atas hal ini terangkum sebagai berikut:

١- العبادة حق لله هذا الخالق العظيم له علينا حق واجب هو عبادته والتسليم له والانقياد لأمره، وهو حق استحقه بمقتضى ربوبيته وألوهيته وكماله، ولو لم تأت الرسل من عنده آمرة بعبادته لاستحق أن يُعبد ويُعظم لذاته لا لشيء زائد.

1- ‘Ibadah adalah hak bagi Allah. Sang Pencipta Yang Agung ini memiliki hak wajib atas kita, yaitu menyembah-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan tunduk pada perintah-Nya. Ini adalah hak yang layak bagi-Nya berdasarkan tuntutan rububiyyah, uluhiyyah, dan kesempurnaan-Nya. Seandainya para Rasul tidak datang dari sisi-Nya untuk memerintahkan ‘ibadah kepada-Nya, Dia tetap berhak untuk disembah dan diagungkan karena Zat-Nya sendiri, bukan karena hal tambahan lainnya.

أليس من الواجب المستحق .. ثناء العباد على المنعم

Bukankah merupakan kewajiban yang semestinya .. pujian para hamba kepada Sang Pemberi Nikmat?

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ: قَالَ: حَقُّ اللَّهت عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba dan apa hak para hamba atas Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

٢- العبادة غاية في نفسها مطلوبة لذاتها، وما يترتب عليها من إصلاح النفس من أهدافها لا أنه غاية لها، ولهذا لو صلى وصام قاصداً صلاح نفسه وتربية ضميره دون الالتفات إلى حق الله عليه لم يبال الله به، ولا تنفعه عبادته تلك عنده.

2- ‘Ibadah adalah tujuan itu sendiri yang dicari karena zatnya. Adapun dampak berupa perbaikan jiwa yang dihasilkan darinya merupakan salah satu sasarannya, namun bukan tujuan utamanya. Oleh karena itu, jika seseorang melakukan shalat dan puasa dengan maksud hanya untuk memperbaiki jiwanya dan mendidik nuraninya tanpa memperhatikan hak Allah atas dirinya, maka Allah tidak akan mempedulikannya, dan ‘ibadah tersebut tidak akan bermanfaat baginya di sisi-Nya.

إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ ۝ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ [الليل: ٢٠-٢١]

“Tetapi (dia memberikannya) semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” [Al-Layl: 20-21]

٣- العبادة تنبيه دائم للإنسان إلى أنه روح قبل أن يكون مادة، وغذاؤها عبادة خالقها، ولهذا إذا خلا الإنسان من روحه وتحول إلى شخص لا يعرف إلا المادة، لكان السبع الضاري أرحم وأرق منه، فالسبع يقتل ليأكل، والإنسان الذي لا روح له يقتل للقتل ويتلذذ وهو يعبث بفريسته.

3- ‘Ibadah adalah pengingat terus-menerus bagi manusia bahwa ia adalah ruh sebelum menjadi materi (maddah). Nutrisinya adalah ‘ibadah kepada Penciptanya. Oleh karena itu, jika manusia hampa dari ruh-nya dan berubah menjadi sosok yang hanya mengenal materi, niscaya binatang buas yang galak pun akan lebih penyayang darinya. Binatang buas membunuh untuk makan, sedangkan manusia yang tidak memiliki (kesadaran) ruh membunuh demi pembunuhan itu sendiri dan merasa lezat saat mempermainkan mangsanya.

٤- العبادة تذكير للإنسان الفاني بالله ربه، ولو خلا الإنسان من العبادة لنسي ربه وخالقه ورازقه، ويظهر هذا المقصد في قول الله تعالى: (وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ لِذِكْرِي) [طه:١٤]، وفي الحديث: إنما فرضت الصلاة لإقامة ذكر الله.

4- ‘Ibadah adalah pengingat bagi manusia yang fana akan Allah Tuhannya. Seandainya manusia hampa dari ‘ibadah, niscaya ia akan melupakan Tuhannya, Penciptanya, dan Pemberi Rezekinya. Tujuan ini tampak dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” [Thaha: 14], dan dalam hadits: “Sesungguhnya shalat diwajibkan hanya untuk menegakkan dzikrullah.” (HR. Abu Dawud).

٥- العبادة تحرير الإنسان من عبادة غير الله، فإن الله تعالى قضى أن من ترك عبادته عبد غيره، هذا الغير قد يكون حجراً أو قمراً أو هوى أو حزباً أو فكراً أو كاهناً أو شهوة..

5- ‘Ibadah membebaskan manusia dari penyembahan kepada selain Allah. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa barangsiapa yang meninggalkan ‘ibadah kepada-Nya, niscaya ia akan menyembah selain-Nya. “Selain-Nya” ini bisa berupa batu, bulan, hawa nafsu, partai, pemikiran, dukun, atau syahwat.

٦- تحرير للإنسان من الخوف والجُبن والبخل والحرص والذِّل وكل الرذائل. وبالعبادة الشاملة يتحلى المسلم بكل الفضائل.

6- Pembebasan bagi manusia dari ketakutan, kepengecutan, kekikiran, ketamakan, kehinaan, dan segala sifat buruk. Dengan ‘ibadah yang menyeluruh, seorang muslim menghiasi dirinya dengan segala keutamaan.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ [العنكبوت: ٤٥]

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabut: 45]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.