القضية الأساس في الحوار الإيمان بالله ثم تلتمس الحِكَم
Masalah Pokok Dialog Iman Kepada Allah Kemudian Mencari Hikmah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Masalah Pokok Dialog Iman Kepada Allah dan Mencari Hikmah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم. بداية أعتذر عن الخوض في مثل هذا السؤال ولكني في حيرة من أمري وقد قرأت أجاباتكم المسبقة عن هذا السؤال عن أن الحكمة من الخلق هي عبادته سبحانه وتعالى وعن أننا خلقنا للاختبار ولكن مازال السؤال عندي ما هي الحكمة من خلق الإنسان إذا كان الله عز وجل مستغنياً عنا وعن عبادتنا فلماذا نتعرض لمثل هذا الاختبار أصلا وكان من الممكن عدم خلقنا وتعرضنا لهذا الاختبار أرجو أن يكون سؤالي واضحا كما أرجو أن أتلقى عنه إجابة واضحة لأنني كنت في بعثة بدولة أوروبية وسئلت هذا السؤال من زميل بوذي ولم أستطيع الإجابة عنه حتى الآن واعتذر مسبقا مرة أخرى.
Assalamu’alaikum. Sejak awal saya memohon maaf karena mendalami pertanyaan seperti ini, namun saya sedang dalam kebingungan. Saya telah membaca jawaban-jawaban Anda sebelumnya mengenai pertanyaan ini, bahwa hikmah dari penciptaan adalah untuk beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa kita diciptakan untuk ujian. Namun pertanyaan saya masih tetap sama: apa hikmah dari penciptaan manusia jika Allah ‘Azza wa Jalla tidak membutuhkan kita dan ibadah kita? Mengapa kita harus menjalani ujian ini sejak awal, padahal ada kemungkinan untuk tidak menciptakan kita dan tidak membiarkan kita menjalani ujian ini? Saya harap pertanyaan saya jelas, dan saya berharap menerima jawaban yang gamblang, karena saya sedang dalam tugas di sebuah negara Eropa dan ditanya pertanyaan ini oleh seorang rekan beragama Budha, dan saya belum bisa menjawabnya sampai sekarang. Sekali lagi saya memohon maaf sebelumnya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الإجابة على هذا السؤال تكون من جانبين: الجانب الأول: يتعلق بالسائل كواحد من المسلمين آمن بالله تعالى رباً عليماً حكيماً، فالواجب عليه أن يؤمن بأن الله عز وجل لا يفعل شيئاً إلا لحكمة قد نعلمها وقد نجهلها، ولا يتوقف إيماننا بذلك على معرفة هذه الحكمة، بل الواجب علينا هو التسليم.
Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan ini terbagi menjadi dua sisi: Sisi pertama: Berkaitan dengan penanya sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Maka wajib baginya untuk beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu kecuali karena ada hikmah yang terkadang kita ketahui dan terkadang tidak kita ketahui. Iman kita terhadap hal tersebut tidaklah bergantung pada pengetahuan kita akan hikmah itu, melainkan kewajiban kita adalah berserah diri (taslim).
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ [الأحزاب: ٣٦]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” [Al-Ahzab: 36]
وهذا لا يمنع من التماس الحكمة ليزداد القلب طمأنينة، ولا يجوز لك كمسلم الالتفات لمثل هذه الوساوس والشبهات، وقد كان المشركون في الجاهلية يجادلون المسلمين ويقولون: ما ذبح الله بسكين من ذهب -يعني الميتة- فهو حرام، وما تذبحون أنتم بسكين فهو حلال.
Hal ini tidak melarang seseorang untuk mencari hikmah agar hati semakin tenang (thuma’ninah). Namun, tidak diperbolehkan bagi Anda sebagai seorang muslim untuk berpaling kepada was-was dan syubuhat semacam ini. Dahulu kaum musyrikin di masa Jahiliyyah mendebat kaum muslimin dengan berkata: “Apa yang disembelih Allah dengan pisau emas (yakni bangkai) itu haram, sedangkan apa yang kalian sembelih dengan pisau kalian itu halal.” Maka turunlah ayat:
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام: ١٢١]
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” [Al-An’am: 121]
الجانب الثاني: يتعلق بهذا البوذي، فإن الحوار مع أمثال هؤلاء إنما يتم من خلال مناقشتهم عن القضية الأساسية، وهي قضية الإيمان بالله ورسله، لأن كل القضايا الأخرى إنما تنبني على هذا، والحوار معهم في جانب الحكمة قد لا يؤدي إلى نتيجة، لأن الحكمة قد تدرك وقد لا تدرك، ولو أدركت قد يفهمها وقد يقصر فهمه عنها.
Sisi kedua: Berkaitan dengan rekan Anda yang beragama Budha. Sesungguhnya dialog dengan orang-orang semacam mereka haruslah dilakukan dengan mendiskusikan masalah pokok (al-qadhiyyah al-asasiyyah), yaitu masalah iman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Karena semua masalah lainnya dibangun di atas dasar ini. Berdialog dengan mereka mengenai sisi hikmah terkadang tidak membuahkan hasil, karena hikmah adakalanya dapat dijangkau dan adakalanya tidak, dan jika pun dapat dijangkau, terkadang ia memahaminya namun terkadang pemahamannya tidak sampai kepadanya.
فيقال لهذا البوذي: هب أنك لم تدرك الحكمة من خلق الإنسان، فهل يعني هذا أن الكون وما فيه من إبداع وتنظيم وترتيب وجد صدفة، وخلق عبثاً؟ إن الإنسان بأدنى تأمل يدرك أن هذا الوجود لا بد له من موجد حكيم عليم قدير، فإذا أقر بهذا لم يكن له وجه في الاعتراض على حكمته من خلق الإنسان وابتلائه واختباره.
Maka dikatakan kepada rekan Budha tersebut: “Katakanlah engkau tidak menjangkau hikmah dari penciptaan manusia, apakah ini berarti alam semesta beserta segala keindahan, keteraturan, dan susunannya yang ada di dalamnya tercipta secara kebetulan dan diciptakan sia-sia?” Sesungguhnya manusia dengan perenungan yang paling sederhana pun akan menyadari bahwa keberadaan ini haruslah memiliki Pencipta Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha Kuasa. Jika ia telah mengakui hal ini, maka tidak ada alasan baginya untuk keberatan atas hikmah-Nya dalam menciptakan manusia serta memberi cobaan dan ujian kepadanya.
وقد سبق في الفتوى الأخرى هنا بيان أن من الحكم في ذلك ظهور آثار أسماء الله تعالى وصفاته،
Telah dijelaskan dalam fatwa lainnya di sini penjelasan bahwa di antara hikmah dalam hal tersebut adalah nampaknya pengaruh dari nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya.
كما سبق في الفتوى الأخرى هنا بيان فائدة العبادة وحكمتها، وأن تكليف الإنسان بها إكرام له، وإنعام عليه.
Sebagaimana juga telah dijelaskan dalam fatwa lainnya di sini penjelasan mengenai manfaat ibadah dan hikmahnya, serta bahwa pembebanan syariat (taklif) kepada manusia dengannya merupakan bentuk pemuliaan dan nikmat atasnya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply