Penciptaan Manusia untuk Ujian



خلق الإنسان للابتلاء

Penciptaan Manusia untuk Ujian

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Penciptaan Manusia untuk Ujian ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah

السؤال:

Pertanyaan:

إن الله يعلم مصير كل إنسان قبل أن يخلقه، هل هو من أهل الجنة أم من أهل النار. فلماذا خلق الله الإنسان إذن؟

Sesungguhnya Allah mengetahui nasib setiap manusia sebelum Dia menciptakannya, apakah ia termasuk penghuni surga atau penghuni neraka. Lalu mengapa Allah menciptakan manusia kalau begitu?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فهذه الحياة هي دار ابتلاء حيث يبتلي الله عباده بإرسال الرسل وإنزال الكتب، فمن صدق بالرسل وعمل بما في الكتب كان من أهل الجنة ومن أهل السعادة ومن كذب كان من أهل الشقاء وأهل النار.

Kehidupan ini adalah negeri ujian (dar ibtila’) di mana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-kitab. Barangsiapa yang membenarkan para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam Kitab-kitab tersebut, maka ia termasuk penghuni surga dan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang mendustakannya, maka ia termasuk orang-orang yang celaka dan penghuni neraka.

وقد سئل النبي صلى الله عليه وسلم عما يعمله الناس أهو أمر قد قضي وفرغ منه أم أمر مستأنف، فقال بل أمر قد قضي وفرغ منه، فقالوا: ففيم العمل يا رسول الله؟ فقال:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan manusia, apakah hal itu merupakan perkara yang telah ditetapkan dan selesai, ataukah perkara yang baru dimulai? Beliau menjawab: “Bahkan itu adalah perkara yang telah ditetapkan dan selesai.” Mereka bertanya: “Lalu untuk apa beramal wahai Rasulullah?” Beliau bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Bekerjalah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.”

وقد قال الله تعالى:

Dan Allah Ta’ala telah berfirman:

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ ۝ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ۝ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ۝ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ [الليل: ٤-١٠]

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” [Al-Layl: 4-10]

فعلى كل أحد أن يعمل ويبحث عن مواطن الهداية ويدعو الله أن يرزقه الثبات على الدين، وأن يعلم أن الله تعالى قد خلق الخلق وهو يعلم أرزاقهم وآجالهم وماهم عاملون.

Maka wajib bagi setiap orang untuk beramal dan mencari jalan-jalan hidayah serta berdoa kepada Allah agar mengaruniakan keteguhan (tsabat) di atas agama. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan makhluk sementara Dia mengetahui rezeki mereka, ajal mereka, dan apa yang mereka kerjakan.

ونحن نرى أكثر الناس يستشكلون أمر السعادة والشقاوة، ولايستشكلون أمر الرزق ونحوه، وهي من باب واحد من جهة خفائها عن الخلق وأن علم الله قد سبق فيها.

Kita melihat kebanyakan manusia mempersoalkan masalah kebahagiaan dan kesengsaraan (takdir akhirat), namun tidak mempersoalkan masalah rezeki dan sejenisnya, padahal keduanya berasal dari pintu yang sama dalam hal ketersembunyiannya dari makhluk dan bahwasanya ilmu Allah telah mendahuluinya.

وأما الاحتجاج بكونه سبحانه يعلم مصير كل فرد من مخلوقاته فهذا أمر طبيعي للإله القادر العليم. وكيف يكون رباً للأشياء وهو لا يعلم مصيرها ولا ما تؤول إليه.

Adapun berargumen dengan kenyataan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala mengetahui nasib setiap individu dari makhluk-Nya, maka ini adalah hal yang wajar bagi Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui. Bagaimana mungkin Dia menjadi Tuhan bagi segala sesuatu sedangkan Dia tidak mengetahui nasibnya dan tidak pula apa yang akan terjadi padanya?

فالإله الذي يجهل مستقبل مخلوقاته ولا يدري هل سيعصونه أم سيطيعونه، ولا يدري من الذي سيعذب منهم ولا من سيرحم، لا يستحق أن يكون إلها، لعدم إحاطة علمه بما خلق.

Maka tuhan yang tidak mengetahui masa depan makhluknya dan tidak tahu apakah mereka akan bermaksiat kepada-Nya atau menaati-Nya, serta tidak tahu siapa yang akan diazab di antara mereka dan siapa yang akan dirahmati, tidak berhak menjadi Tuhan karena tidak meliputi ilmu-Nya terhadap apa yang Dia ciptakan.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ [الملك: ١٤]

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” [Al-Mulk: 14]

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [الأنبياء: ٢٣]

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan merekalah yang akan ditanyai.” [Al-Anbiya: 23]

وقد أخبرنا سبحانه أنه خلق الجن والإنس لعبادته وطاعته، فقال: (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) [الذاريات: ٥٦]. وفي إيجاد الإنس والجن، وابتلائهم بالتكاليف، ثم مجازاتهم على أعمالهم ظهور لآثار أسماء الله الحسنى وصفاته العلى.

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan taat kepada-Nya, maka Dia berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Adh-Dhariyat: 56]. Dalam penciptaan manusia dan jin, serta pemberian ujian kepada mereka dengan beban syari’at (takalif), kemudian pembalasan atas amal perbuatan mereka, terdapat penampakan pengaruh dari Asma’ul Husna Allah dan sifat-sifat-Nya yang luhur (Sifatul ‘Ula).

فهو الخالق الرازق المحيي المميت، وهو الرحمن الرحيم، والحكيم العليم، وهو ناصر المؤمنين ومخزي الكافرين، وهو الديان الذي يحاسب عباده ويجازيهم على أعمالهم، وهو المنتقم الجبار، الذي ينتقم لأوليائه من أعدائه، وهو الموصوف بكمال العدل والإحسان جل وعلا.

Dialah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Penolong orang-orang beriman dan Yang Menghinakan orang-orang kafir. Dialah Ad-Dayyan yang menghisab hamba-hamba-Nya dan membalas amal mereka, Dialah Yang Maha Pendendam (kepada pelaku kezaliman) lagi Maha Perkasa, yang membalaskan bagi para wali-Nya dari musuh-musuh-Nya, dan Dialah Yang disifati dengan kesempurnaan keadilan (‘adl) dan ihsan, Jalla wa ‘Ala.

ثم إن هذا لون من الأسئلة لا ينبغي للمؤمن التشاغل به، فالمتشاغل بذلك لا يأمن أن يتساقط إيمانه شيئاً فشيئاً، والواجب أن نثق بحكمة الله وعدله، وأنه لا يعذب أحداً بغير ذنب استحقه وأنه يعفو عن كثير.

Kemudian, sesungguhnya jenis pertanyaan seperti ini tidak seyogianya bagi seorang mukmin untuk menyibukkan diri dengannya. Orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut tidak terjamin imannya tidak akan gugur sedikit demi sedikit. Kewajiban kita adalah percaya pada hikmah Allah dan keadilan-Nya, dan bahwa Dia tidak mengazab siapa pun tanpa dosa yang layak ia terima, serta bahwa Dia memaafkan banyak kesalahan.

وقاعدة ذلك التسليم لأمر الله، مابلغته عقولنا وما قصرت عن فهمه، وأن العجز والقصور والخلل فينا لافي حكمة الله تعالى.

Kaidah dalam hal tersebut adalah berserah diri (taslim) terhadap perintah Allah, baik yang dapat dijangkau oleh akal kita maupun yang tidak sanggup dipahami, dan bahwasanya kelemahan serta kekurangan itu ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.