Perbedaan Antara Nasakh Tilawah dan Nasakh Hukum



الفرق بين نسخ التلاوة ونسخ الحكم

Perbedaan Antara Nasakh Tilawah dan Nasakh Hukum

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perbedaan Antara Nasakh Tilawah dan Nasakh Hukum ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah

السؤال:

Pertanyaan:

ما الفرق بين نسخ التلاوة ونسخ الآية؟ وكيف الاستدلال على ذلك من الكتاب والسنة؟ وجزاكم الله خيرا على ما تقدمون من فائدة للمسلمين.

Apa perbedaan antara nasakh tilawah dan nasakh ayat? Serta bagaimana pendalilannya dari Kitabullah dan Sunnah? Semoga Allah membalas kebaikan Anda atas manfaat yang Anda berikan bagi kaum muslimin.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فهذا السؤال مبحثه في أصول الفقه، وعلوم القرآن. يجوز نسخ تلاوة الآية دون حكمها، ونسخ حكمها دون تلاوتها، ونسخ الحكم والتلاوة معا.

Pertanyaan ini pembahasannya ada dalam bidang Ushul Fiqh dan ‘Ulumul Qur’an. Diperbolehkan adanya nasakh tilawah (bacaan) ayat tanpa nasakh hukumnya, nasakh hukumnya tanpa nasakh tilawah-nya, serta nasakh hukum dan tilawah secara bersamaan.

مثال نسخ التلاوة دون الحكم: آية الرجم: الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة نكالاً من الله والله عزيز حكيم. فقد نسخت تلاوة هذه الآية، ولكن حكمها باقٍ.

Contoh nasakh tilawah tanpa hukum adalah ayat rajm: “Laki-laki tua dan perempuan tua (yang sudah menikah) apabila keduanya berzina, maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Sungguh telah di-nasakh tilawah ayat ini, namun hukumnya tetap berlaku.

ومثال نسخ الحكم دون التلاوة: قوله تعالى:

Contoh nasakh hukum tanpa tilawah adalah firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ [البقرة: ٢٤٠]

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah sampai setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” [Al-Baqarah: 240]

فقد نسخ حكم هذه الآية، وبقيت تلاوتها. ومثال نسخ التلاوة والحكم: ما في صحيح مسلم عن عائشة -رضي الله عنها-:

Sungguh telah di-nasakh hukum ayat ini, namun tetap ada tilawah-nya. Sedangkan contoh nasakh tilawah dan hukum sekaligus adalah apa yang terdapat dalam Shahih Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ: عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ، ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dahulu termasuk apa yang diturunkan dalam Al-Qur’an adalah sepuluh kali persusuan yang diketahui dapat mengharamkan (pernikahan), kemudian di-nasakh menjadi lima kali persusuan yang diketahui…” (HR. Muslim)

فالقسم الأول من الآية: (عشر رضعات …) هذه منسوخة تلاوةً وحكماً عند الجميع، والقسم الثاني منها: (ثم نسخن بخمس…) نسخت عند الجمهور تلاوة وحكماً، وعند الشافعي ومن وافقه نسخت تلاوة لا حكماً.

Bagian pertama dari ayat tersebut: (sepuluh kali persusuan…) ini di-mansukh tilawah dan hukumnya menurut kesepakatan ulama. Adapun bagian kedua: (kemudian di-nasakh menjadi lima…) di-nasakh tilawah dan hukumnya menurut mayoritas ulama (jumhur), sedangkan menurut Syafi’i dan yang sependapat dengannya, ia di-nasakh tilawah-nya saja namun tidak hukumnya.

والله تعالي أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.