Tuntutan Islam adalah Berserah Diri Kepada Allah



مقتضى الإسلام التسليم لله في أوامره

Tuntutan Islam adalah Berserah Diri Kepada Allah dalam Perintah-Nya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tuntutan Islam adalah Berserah Diri Kepada Allah dalam Perintah-Nya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم اختلاف عدد الركعات في الصلوات الخمس؟

Apa hukum (alasan) perbedaan jumlah raka’at dalam shalat lima waktu?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالحكم في كون عدد الركعات في الصلاة بهذا العدد، وفي كون عدد أشواط الطواف سبعة، وعدد جلد الزاني البكر مائة، وغير ذلك، لا يمكن للعقل إدراكها، لأنها غير معقولة المعنى.

Maka ketetapan mengenai jumlah raka’at dalam shalat dengan angka tersebut, jumlah putaran thawaf sebanyak tujuh kali, jumlah cambukan bagi pezina yang belum menikah sebanyak seratus kali, dan hal lainnya yang serupa, tidak mungkin dapat dijangkau oleh akal manusia karena maknanya tidak dapat dirasionalkan (bersifat ta’abbudi).

وهذا النوع من التكليف فيه اختبار لتسليم العبد واستسلامه لما شرعه الله تعالى وأمره به، وراجع الفتاوى الأخرى هنا،

Jenis beban syari’at (taklif) ini mengandung ujian bagi ketundukan seorang hamba dan penyerahan dirinya terhadap apa yang telah Allah Ta’ala syari’atkan dan perintahkan. Silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini

ولمعرفة بعض الأحكام التي ظهرت حكمها للعلماء، راجع الفتاوى التالية: 

Untuk mengetahui sebagian hukum yang telah tampak hikmahnya bagi para ulama, silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini

وهناك أجوبة كثيرة تشبهها يمكنك الوصول إليها عن طريق البحث على الشبكة بكلمة (الحكمة) كما نوصيك بقراءة كتاب (شفاء العليل في القضاء والقدر والحكمة والتعليل) لابن القيم.

Terdapat banyak jawaban serupa yang dapat Anda akses melalui pencarian di jejaring internet dengan kata kunci “Al-Hikmah“. Kami juga merekomendasikan Anda untuk membaca kitab Syifa al-’Alil fi al-Qadha’ wa al-Qadar wa al-Hikmah wa at-Ta’lil karya Ibnu al-Qayyim.

وأخيراً نقول للسائل: هل سأل الصحابة نبينا صلى الله عليه وسلم هذا السؤال؟ والجواب: لا، لماذا؟ مع أنهم كانوا لا يتوانون عن السؤال عما ينفعهم ويقربهم إلى ربهم.

Terakhir, kami sampaikan kepada penanya: Apakah para shahabat pernah menanyakan pertanyaan ini kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Padahal mereka tidak pernah ragu untuk bertanya tentang hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mendekatkan diri mereka kepada Tuhan mereka.

والجواب: أنهم علموا أن السؤال عن مثل هذا ليس من العلم الذي طلب الله من عباده أن يتعلموه، فعلى المسلم إذاً أن يُسلم لله في حكمه، وأن لا يزيد على قوله:

Jawabannya adalah karena mereka mengetahui bahwa bertanya tentang hal semacam ini bukanlah bagian dari ilmu yang Allah minta kepada hamba-Nya untuk dipelajari. Maka wajib bagi seorang muslim untuk berserah diri kepada Allah dalam ketetapan-Nya, dan tidak menambah perkataannya selain ucapan:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ [البقرة: ٢٨٥]

“Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [Al-Baqarah: 285]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.