حديث: (إنا أمة أمية) ليس دعوة للجهل وترك العلم
Hadits: “Kami Adalah Umat yang Ummi” Bukanlah Ajakan untuk Bodoh dan Meninggalkan Ilmu
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hadits: “Kami Adalah Umat yang Ummi” Bukanlah Ajakan untuk Bodoh dan Meninggalkan Ilmu ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits
السؤال:
Pertanyaan:
حديث: إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا ـ وفي رواية: نحن… أخذ البعض من هذا الحديث أننا أمة لا تشجع العلم ولا التعلم وتستأنس بالجهل، فما هو مفهوم الأمة الأمية؟ أزيلوا هذا اللبس والإشكال. وشكرا.
Hadits: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak berhitung (dengan hisab), bulan itu begini dan begini…” — dalam riwayat lain: “Kami…” — Sebagian orang mengambil kesimpulan dari hadits ini bahwa kita adalah umat yang tidak mendorong ilmu maupun belajar, dan justru merasa nyaman dengan kebodohan. Maka, apakah sebenarnya konsep umat yang ummi itu? Mohon hilangkan kerancuan dan persoalan ini. Terima kasih.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فقد أخرج البخاري ومسلم عن ابن عمر ـ رضي الله عنهما ـ عن النبي صلى الله عليه وسلم، أنه قال:
Sungguh Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا
“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak berhitung. Bulan itu begini dan begini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
يعني مرة تسعة وعشرين، ومرة ثلاثين. والمراد بهذا الحديث أن أمة النبي صلى الله عليه وسلم لا تحتاج في معرفة مواقيت عبادتها إلى الكتاب والحساب كما هو حال غيرها من الأمم.
Yakni terkadang dua puluh sembilan hari, dan terkadang tiga puluh hari. Maksud dari hadits ini adalah bahwa umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membutuhkan penulisan dan perhitungan (hisab astronomi yang rumit) dalam mengetahui waktu-waktu ‘ibadah mereka, sebagaimana keadaan umat-umat lainnya.
قال ابن الملقن: أي: لم نكلف في تعريف مواقيت صومنا ولا عبادتنا ما نحتاج فيه إلى معرفة حساب ولا كتاب، إنما ربطت عبادتنا بأعلام واضحة وأمور ظاهرة، يستوي في معرفة ذلك الحُسَّاب وغيرهم. اهـ.
Ibnu al-Mulaqqin berkata: “Yaitu: Kita tidak dibebani dalam mengenali waktu-waktu puasa maupun ‘ibadah kita dengan sesuatu yang mengharuskan pengetahuan akan hisab maupun tulisan. Sesungguhnya ‘ibadah kita dikaitkan dengan tanda-tanda yang jelas dan perkara-perkara yang nampak, yang mana orang yang ahli berhitung maupun selainnya sama-sama bisa mengetahuinya.” Selesai kutipan.
وقال ابن تيمية: كما في الصحيح عن ابن عمر ـ رضي الله تعالى عنهما ـ عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: إنا أمة أمية لا نحسب ولا نكتب الشهر هكذا وهكذا ـ فلم يقل إنا لا نقرأ كتابا ولا نحفظ، بل قال: لا نكتب ولا نحسب.
Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagaimana dalam Ash-Shohih dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu Ta‘ala anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak berhitung dan tidak menulis. Bulan itu begini dan begini’ — Beliau tidak mengatakan ‘sesungguhnya kami tidak membaca kitab atau tidak menghafal’, melainkan beliau berkata: ‘kami tidak menulis dan tidak berhitung’.”
فديننا لا يحتاج أن يكتب ويحسب كما عليه أهل الكتاب من أنهم يعلمون مواقيت صومهم وفطرهم بكتاب وحساب، ودينهم معلق بالكتب لو عدمت لم يعرفوا دينهم .اهـ.
“Maka agama kita tidak membutuhkan penulisan dan perhitungan (rumit) sebagaimana yang dialami oleh Ahlu al-Kitab, di mana mereka mengetahui waktu puasa dan berbuka mereka dengan kitab dan hisab, dan agama mereka bergantung pada kitab-kitab yang jika kitab itu hilang, mereka tidak akan mengenali agama mereka.” Selesai kutipan.
فليس في هذا الحديث نهي عن تعلم الكتاب والحساب أبدا، وننقل هاهنا كلاما مفيدا لابن تيمية في معرض تعليقه على هذا الحديث، فيه بيان مستفيض لمعنى الأمية، وأنها ليست بمعنى الجهل في كل حال، وليست مذمومة بإطلاق ـ كما يتوهم البعض.
Maka sama sekali tidak ada dalam hadits ini larangan untuk belajar menulis dan berhitung. Kami nukilkan di sini penjelasan yang bermanfaat dari Ibnu Taimiyah saat memberikan komentar terhadap hadits ini, yang di dalamnya terdapat penjelasan luas mengenai makna ummiyyah, bahwa ia tidak selalu bermakna kebodohan dalam setiap keadaan, dan tidak pula tercela secara mutlak —sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang.
وبين فيه أن الشرع لم يأت بالنهي عن تعلم الكتاب والحساب أو غيرها من العلوم النافعة، قال ابن تيمية: فقوله: إنا أمة أمية ـ ليس هو طلبا، فإنهم أميون قبل الشريعة، كما قال الله تعالى:
Beliau menjelaskan bahwa syari‘at tidak datang dengan larangan belajar menulis, berhitung, atau ilmu-ilmu bermanfaat lainnya. Ibnu Taimiyah berkata: “Maka sabda beliau: ‘Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi‘ — bukanlah sebuah tuntutan (untuk menjadi ummi), karena mereka memang sudah ummi sebelum adanya syari‘at, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:”
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ [الجمعة: ٢]
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka.” [Al-Jumu’ah: 2]
وقال: (وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ) [آل عمران: ٢٠] فإذا كانت هذه صفة ثابتة لهم قبل المبعث لم يكونوا مأمورين بابتدائها.
Dan Dia berfirman: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?'” [Ali ‘Imran: 20]. Maka jika ini adalah sifat yang sudah tetap bagi mereka sebelum masa pengutusan, mereka tidaklah diperintahkan untuk memulainya.
نعم قد يؤمرون بالبقاء على بعض أحكامها، فإنا سنبين أنهم لم يؤمروا أن يبقوا على ما كانوا عليه مطلقا.
Benar bahwa mereka mungkin diperintahkan untuk tetap pada sebagian hukumnya, namun kami akan menjelaskan bahwa mereka tidak diperintahkan untuk tetap pada keadaan asal mereka secara mutlak.
فإن قيل: فلم لا يجوز أن يكون هذا إخبارا محضا أنهم لا يفعلون ذلك وليس عليهم أن يفعلوه، إذ لهم طريق آخر غيره ولا يكون فيه دليل على أن الكتاب والحساب منهي عنه، بل على أنه ليس بواجب.
Jika dikatakan: Mengapa tidak boleh menganggap ini murni sebagai berita bahwa mereka tidak melakukan hal tersebut dan tidak ada kewajiban bagi mereka melakukannya, karena mereka memiliki jalan lain selain itu, sehingga tidak ada dalil di dalamnya bahwa menulis dan berhitung itu dilarang, melainkan menunjukkan bahwa hal itu tidak wajib.
فإن الأمية صفة نقص ليست صفة كمال، فصاحبها بأن يكون معذورا أولى من أن يكون ممدوحا.
Sebab ummiyyah adalah sifat kekurangan dan bukan sifat kesempurnaan, sehingga pelakunya lebih layak untuk diberikan uzur daripada dipuji.
قيل: لا يجوز هذا، لأن الأمة التي بعثه الله إليها فيهم من يقرأ ويكتب كثيرا كما كان في أصحابه، وفيهم من يحسب.
Maka dijawab: Hal ini tidak diperbolehkan, karena umat yang diutus Allah kepadanya terdapat banyak orang yang membaca dan menulis sebagaimana yang ada pada para shohabah-nya, dan di antara mereka ada pula yang ahli berhitung.
وقد بعث صلى الله عليه وسلم بالفرائض التي فيها من الحساب ما فيها وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه لما قدم عامله على الصدقة ـ ابن اللتبية ـ حاسبه.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus dengan hukum-hukum faro’idh yang di dalamnya terdapat ilmu hisab (perhitungan waris). Telah tsabit dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ketika petugas zakatnya—Ibnu al-Lutbiyyah—datang, beliau mengaudit (menghisab)-nya.
وكان له كتاب عدة كأبي بكر وعمر وعثمان وعلي وزيد ومعاوية يكتبون الوحي ويكتبون العهود ويكتبون كتبه إلى الناس إلى من بعثه الله إليه من ملوك الأرض ورؤوس الطوائف، وإلى عماله وولاته وسعاته وغير ذلك.
Beliau juga memiliki sejumlah penulis (sekretaris) seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zaid, dan Mu’awiyah yang menulis wahyu, menulis perjanjian-perjanjian, dan menulis surat-surat beliau kepada manusia, kepada siapa saja yang Allah utus beliau kepadanya dari kalangan raja-raja di bumi dan para pemimpin kelompok, serta kepada para pegawainya, gubernurnya, pemungut zakatnya, dan selainnya.
وقد قال الله تعالى في كتابه: (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ) في آيتين من كتابه، فأخبر أنه فعل ذلك ليعلم الحساب.
Sungguh Allah Ta‘ala telah berfirman dalam Kitab-Nya: “Agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” dalam dua ayat di Kitab-Nya, maka Dia mengabarkan bahwa Dia melakukan hal tersebut agar (manusia) mengetahui hisab.
لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ [الإسراء: ١٢]
“Agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” [Al-Isra: 12]
وإنما الأمي: هو في الأصل منسوب إلى الأمة التي هي جنس الأميين وهو من لم يتميز عن الجنس بالعلم المختص: من قراءة أو كتابة، كما يقال: عامي لمن كان من العامة غير متميز عنهم بما يختص به غيرهم من علوم.
Hanyalah ummi itu pada asalnya dinisbatkan kepada ummah yang merupakan jenis orang-orang yang ummi, yaitu orang yang tidak menonjol dari jenisnya dengan ilmu yang bersifat khusus: berupa membaca atau menulis. Sebagaimana dikatakan “orang awam” bagi siapa saja yang termasuk kalangan umum yang tidak menonjol dari mereka dengan apa yang menjadi kekhususan selain mereka dari berbagai ilmu.
وقد قيل: إنه نسبة إلى الأم: أي هو الباقي على ما عودته أمه من المعرفة والعلم ونحو ذلك.
Ada pula yang berpendapat: bahwa itu penisbatan kepada Ibu (Umm), yakni ia tetap pada apa yang dibiasakan ibunya berupa pengetahuan, ilmu, dan semacamnya.
ثم التميز الذي يخرج به عن الأمية العامة إلى الاختصاص: تارة يكون فضلا وكمالا في نفسه، كالمتميز عنهم بقراءة القرآن وفهم معانيه، وتارة يكون بما يتوصل به إلى الفضل والكمال: كالتميز عنهم بالكتابة وقراءة المكتوب.
Kemudian, keunggulan yang menjadikannya keluar dari ummiyyah umum menuju kekhususan: terkadang berupa keutamaan dan kesempurnaan pada dirinya sendiri, seperti orang yang unggul dari mereka dengan membaca Al-Quran dan memahami maknanya. Dan terkadang berupa sesuatu yang mengantarkan kepada keutamaan dan kesempurnaan: seperti unggul dari mereka dengan menulis dan membaca tulisan.
فيمدح في حق من استعمله في الكمال ويذم في حق من عطله أو استعمله في الشر، ومن استغنى عنه بما هو أنفع له كان أكمل وأفضل، وكان تركه في حقه مع حصول المقصود به أكمل وأفضل.
Maka hal itu dipuji bagi siapa saja yang menggunakannya dalam kesempurnaan, dan dicela bagi siapa saja yang menyia-nyiakannya atau menggunakannya dalam keburukan. Namun, barangsiapa yang merasa cukup darinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat baginya, maka ia lebih sempurna dan lebih utama. Dan meninggalkan hal tersebut bagi dirinya sementara maksud tujuannya telah tercapai adalah lebih sempurna dan lebih utama.
فإذا تبين أن التميز عن الأميين نوعان: فالأمة التي بعث فيها النبي صلى الله عليه وسلم أولا هم العرب وبواسطتهم حصلت الدعوة لسائر الأمم، لأنه إنما بعث بلسانهم فكانوا أميين عامة ليست فيهم مزية علم ولا كتاب ولا غيره مع كون فطرهم كانت مستعدة للعلم أكمل من استعداد سائر الأمم.
Jika telah jelas bahwa keunggulan dari orang-orang ummi itu ada dua jenis: Maka umat yang diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka pada awalnya adalah bangsa Arab, dan melalui perantara merekalah dakwah sampai kepada seluruh umat, karena beliau diutus dengan lisan mereka. Dahulu mereka adalah orang-orang ummi secara umum, tidak ada pada mereka keistimewaan ilmu, kitab, maupun selainnya, padahal fitrah mereka sangat siap menerima ilmu secara lebih sempurna daripada kesiapan umat-umat lainnya.
بمنزلة أرض الحرث القابلة للزرع، لكن ليس لها من يقوم عليها فلم يكن لهم كتاب يقرؤونه منزل من عند الله كما لأهل الكتاب ولا علوم قياسية مستنبطة كما للصابئة ونحوهم.
Ibarat tanah pertanian yang siap ditanami, namun tidak ada orang yang mengurusnya. Mereka tidak memiliki kitab yang mereka baca yang diturunkan dari sisi Allah sebagaimana Ahlu al-Kitab, tidak pula memiliki ilmu-ilmu kiasan yang digali sebagaimana bangsa Sabian dan semisalnya.
وكان الخط فيهم قليلا جدا وكان لهم من العلم ما ينال بالفطرة التي لا يخرج بها الإنسان عن الأموة العامة، كالعلم بالصانع سبحانه وتعظيم مكارم الأخلاق وعلم الأنواء، والأنساب والشعر، فاستحقوا اسم الأمية من كل وجه.
Tulisan di tengah mereka sangatlah sedikit, dan mereka memiliki ilmu yang diperoleh melalui fitrah yang tidak mengeluarkan manusia dari ke-ummi-an umum, seperti ilmu tentang Sang Pencipta Subhanahu wa Ta‘ala, pengagungan terhadap kemuliaan akhlak, ilmu tentang rasi bintang, nasab, dan syair. Maka mereka berhak menyandang nama ummiyyah dari segala sisi.
كما قال فيهم: (هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ) وقال تعالى: (وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ).
Sebagaimana difirmankan mengenai mereka: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka” dan Dia berfirman: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan.”
فجعل الأميين مقابلين لأهل الكتاب، فالكتابي غير الأمي، فلما بعث فيهم ووجب عليهم اتباع ما جاء به من الكتاب وتدبره وعقله والعمل به ـ وقد جعله تفصيلا لكل شيء وعلمهم نبيهم كل شيء حتى الخراءة ـ صاروا أهل كتاب وعلم.
Maka Allah menjadikan orang-orang ummi berhadapan dari Ahlu al-Kitab, maka orang yang memiliki kitab bukanlah orang ummi. Ketika beliau diutus di tengah mereka dan wajib bagi mereka mengikuti apa yang beliau bawa berupa Kitab, merenungkannya, memahaminya, dan mengamalkannya—dan sungguh beliau menjadikannya penjelasan rinci atas segala sesuatu serta Nabi mereka mengajarkan segala hal bahkan tentang tata cara buang hajat—maka mereka pun menjadi ahli kitab dan ilmu.
بل صاروا أعلم الخلق وأفضلهم في العلوم النافعة وزالت عنهم الأمية المذمومة الناقصة وهي عدم العلم والكتاب المنزل إلى أن علموا الكتاب والحكمة وأورثوا الكتاب.
Bahkan mereka menjadi makhluk yang paling berilmu dan paling utama dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat. Hilanglah dari mereka ummiyyah yang tercela dan ناقص (kurang), yaitu ketiadaan ilmu dan Kitab yang diturunkan, hingga mereka mengetahui Kitab dan Hikmah serta diwariskan Kitab tersebut.
فصارت هذه الأمية: منها ما هو محرم، ومنها ما هو مكروه، ومنها ما هو نقص وترك الأفضل.
Maka ummiyyah ini menjadi: ada yang haram, ada yang makruh, dan ada yang merupakan kekurangan atau meninggalkan yang lebih utama.
فمن لم يقرأ الفاتحة أو لم يقرأ شيئا من القرآن تسميه الفقهاء في باب الصلاة أميا، ويقابلونه بالقارئ فيقولون: لا يصح اقتداء القارئ بالأمي، ويجوز أن يأتم الأمي بالأمي، ونحو ذلك من المسائل.
Maka barangsiapa yang tidak membaca Al-Fatihah atau tidak membaca sedikit pun dari Al-Quran, maka para fuqoha dalam bab sholat menamakannya sebagai orang ummi. Mereka menjadikannya lawan dari qori’, maka mereka berkata: “Tidak sah bermakmumnya seorang qori’ kepada orang ummi, namun boleh orang ummi bermakmum kepada sesama orang ummi,” dan masalah-masalah serupa.
وغرضهم بالأمي هنا الذي لا يقرأ القراءة الواجبة، سواء كان يكتب أو لا يكتب، يحسب أو لا يحسب، فهذه الأمية منها ما هو ترك واجب يعاقب الرجل عليه، إذا قدر على التعلم فتركه.
Maksud mereka dengan ummi di sini adalah orang yang tidak bisa melakukan bacaan yang wajib, baik ia bisa menulis maupun tidak, ahli berhitung maupun tidak. Maka ummiyyah jenis ini ada yang berupa meninggalkan kewajiban yang mana seseorang mendapatkan hukuman karenanya jika ia mampu belajar namun meninggalkannya.
ومنها ما هو مذموم كالذي وصفه الله عز وجل عن أهل الكتاب حيث قال: (وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ).
Di antaranya ada yang tercela sebagaimana yang disifati Allah ‘Azza wa Jalla tentang Ahlu al-Kitab saat Dia berfirman: “Dan di antara mereka ada yang ummi, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”
فهذه صفة من لا يفقه كلام الله ويعمل به، وإنما يقتصر على مجرد تلاوته، كما قال الحسن البصري: نزل القرآن ليعمل به، فاتخذوا تلاوته عملا.
Maka ini adalah sifat orang yang tidak memahami kalam Allah dan tidak mengamalkannya, melainkan hanya mencukupkan diri pada sekadar membacanya saja. Sebagaimana dikatakan Hasan al-Bashri: “Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, namun manusia menjadikan membacanya sebagai amalan.”
فالأمي هنا قد يقرأ حروف القرآن أو غيرها ولا يفقه، بل يتكلم في العلم بظاهر من القول ظنا، فهذا أيضا أمي مذموم كما ذمه الله، لنقص علمه الواجب سواء كان فرض عين أم كفاية.
Maka orang ummi di sini terkadang bisa membaca huruf-huruf Al-Quran atau selainnya namun tidak paham, bahkan ia berbicara tentang ilmu dengan perkataan lahiriah berdasarkan sangkaan belaka; ini juga orang ummi yang tercela sebagaimana Allah mencelanya disebabkan kurangnya ilmu yang wajib baginya, baik itu fardhu ‘ain maupun kifayah.
ومنها ما هو خلاف الأفضل الأكمل، كالذي لا يقرأ من القرآن إلا بعضه ولا يفهم منه إلا ما يتعلق به، ولا يفهم من الشريعة إلا مقدار الواجب عليه، فهذا أيضا يقال له أمي وغيره ممن أوتي القرآن علما وعملا أفضل منه وأكمل.
Di antaranya ada yang menyelisihi yang lebih utama dan lebih sempurna, seperti orang yang tidak membaca Al-Quran melainkan sebagiannya saja, dan tidak paham darinya melainkan apa yang berkaitan dengannya saja, serta tidak paham syari‘at melainkan seukuran apa yang wajib baginya saja. Orang ini juga dikatakan sebagai orang ummi, dan selainnya dari kalangan yang diberikan Al-Quran secara ilmu dan amal adalah lebih utama dan lebih sempurna darinya.
فهذه الأمور المميزة للشخص من الأمور التي هي فضائل وكمال: فقدها إما فقد واجب عينا أو واجب على الكفاية، أو مستحب وهذه ـ أي: الأمور التي هي فضائل وكمال ـ يوصف الله بها وأنبياؤه مطلقا.
Perkara-perkara yang membedakan seseorang ini termasuk perkara-perkara yang merupakan keutamaan dan kesempurnaan: Ketiadaannya bisa berupa kehilangan kewajiban secara ‘ain atau wajib secara kifayah, atau mustahab. Perkara-perkara ini—yakni yang merupakan keutamaan dan kesempurnaan—disematkan sebagai sifat bagi Allah dan para Nabi-Nya secara mutlak.
فإن الله عليم حكيم جمع العلم والكلام النافع طلبا وخبرا وإرادة، وكذلك أنبياؤه ونبينا سيد العلماء والحكماء.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, yang menghimpun ilmu dan kalam yang bermanfaat baik secara tuntutan, berita, maupun kehendak. Demikian pula para Nabi-Nya, dan Nabi kita adalah pemimpin para ulama dan orang-orang bijak.
وأما الأمور المميزة التي هي وسائل وأسباب إلى الفضائل مع إمكان الاستغناء عنها بغيرها، فهذه مثل الكتاب ـ الذي هو الخط ـ والحساب.
Adapun perkara-perkara pembeda yang merupakan sarana dan sebab menuju keutamaan sementara memungkinkan untuk merasa cukup darinya dengan cara lain, maka ini seperti buku—yakni tulisan tangan—dan perhitungan (hisab).
فهذا إذا فقدها مع أن فضيلته في نفسه لا تتم بدونها وفقدها نَقَص، فإذا حصلها واستعان بها على كماله وفضله ـ كالذي يتعلم الخط فيقرأ به القرآن، وكتب العلم النافعة أو يكتب للناس ما ينتفعون به ـ كان هذا فضلا في حقه وكمالا.
Maka hal ini jika ia tidak memilikinya padahal keutamaannya pada dirinya sendiri tidak sempurna tanpanya, maka ketiadaannya adalah kekurangan. Namun jika ia memperolehnya dan meminta bantuan dengannya untuk kesempurnaan dan keutamaannya—seperti orang yang belajar tulisan lalu dengannya ia membaca Al-Quran, dan kitab-kitab ilmu yang bermanfaat, atau ia menuliskan bagi manusia apa yang bermanfaat bagi mereka—maka ini menjadi keutamaan baginya dan kesempurnaan.
وإن استعان به على تحصيل ما يضره أو يضر الناس ـ كالذي يقرأ بها كتب الضلالة ويكتب بها ما يضر الناس كالذي يزور خطوط الأمراء والقضاة والشهود ـ كان هذا ضررا في حقه وسيئة ومنقصة.
Namun jika ia menggunakannya untuk memperoleh apa yang membahayakan dirinya atau membahayakan manusia—seperti orang yang membaca dengannya kitab-kitab kesesatan dan menulis dengannya apa yang membahayakan manusia seperti orang yang memalsukan tulisan para amir, hakim, dan saksi—maka ini menjadi bahaya bagi dirinya, suatu keburukan, dan kekurangan.
وإن أمكن أن يستغنى عنها بالكلية بحيث ينال كمال العلوم من غيرها، وينال كمال التعليم بدونها: كان هذا أفضل له وأكمل، وهذه حال نبينا صلى الله عليه وسلم الذي قال الله فيه: (الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجْدُنَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ).
Dan jika memungkinkan bagi seseorang untuk merasa cukup darinya secara total sedemikian rupa hingga ia meraih kesempurnaan ilmu dari jalan lain, dan meraih kesempurnaan pengajaran tanpanya: maka ini adalah yang lebih utama dan lebih sempurna baginya. Inilah keadaan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana Allah berfirman mengenai beliau: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”
فإن أميته لم تكن من جهة فقد العلم والقراءة عن ظهر قلب، فإنه إمام الأئمة في هذا، وإنما كان من جهة أنه لا يكتب ولا يقرأ مكتوبا، كما قال الله فيه: (وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ).
Sesungguhnya ke-ummi-an beliau bukanlah dari sisi ketiadaan ilmu atau ketiadaan hafalan di luar kepala, karena sesungguhnya beliau adalah pemimpin para imam dalam hal ini. Hanyalah hal itu dari sisi beliau tidak menulis dan tidak membaca tulisan, sebagaimana Allah berfirman mengenai beliau: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu.”
وكان انتفاء الكتابة عنه مع حصول أكمل مقاصدها بالمنع من طريقها من أعظم فضائله وأكبر معجزاته، فإن الله علمه العلم بلا واسطة كتاب معجزة له.
Ketiadaan kemampuan menulis pada diri beliau—sementara beliau memperoleh tujuan-tujuannya yang paling sempurna dengan cara yang tertutup jalannya—merupakan salah satu keutamaan beliau yang paling agung dan mukjizat beliau yang paling besar. Sesungguhnya Allah mengajarkannya ilmu tanpa perantara kitab sebagai mukjizat baginya.
ولما كان قد دخل في الكتب من التحريف والتبديل، وعلّم هو صلى الله عليه وسلم أمته الكتاب والحكمة من غير حاجة منه إلى أن يكتب بيده…. إلى أن قال: وظهر بذلك أن الأمية المذكورة هنا صفة مدح وكمال من وجوه.
Terlebih ketika telah masuk ke dalam kitab-kitab sebelumnya bentuk penyimpangan dan perubahan, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya Al-Kitab dan Hikmah tanpa butuh untuk menulis dengan tangannya sendiri…. sampai beliau berkata: “Tampaklah dari hal tersebut bahwa ummiyyah yang disebutkan di sini merupakan sifat pujian dan kesempurnaan dari beberapa sisi.”
من جهة الاستغناء عن الكتاب والحساب بما هو أبين منه وأظهر وهو الهلال، ومن جهة أن الكتاب والحساب هنا يدخلهما غلط، ومن جهة أن فيهما تعبا كثيرا بلا فائدة فإن ذلك شغل عن المصالح، إذ هذا مقصود لغيره لا لنفسه. اهـ.
“Dari sisi tidak dibutuhkannya tulisan dan perhitungan karena adanya sesuatu yang lebih jelas dan nyata yaitu hilal, dari sisi bahwa tulisan dan perhitungan di sini bisa dimasuki kesalahan, dan dari sisi bahwa pada keduanya terdapat kelelahan yang banyak tanpa faedah karena hal itu menyibukkan dari berbagai kemaslahatan, sebab hal ini merupakan tujuan bagi selainnya dan bukan tujuan bagi dirinya sendiri.” Selesai kutipan.
وليُعلم أن العلوم الدنيوية النافعة التي تحتاجها الأمة قد بين جمع من العلماء أنها من فروض الكفايات التي يجب على الأمة بمجموعها القيام بها، كما سبق بيانه في الفتوى الأخرى هنا، وإحالاتها.
Dan hendaknya diketahui bahwa ilmu-ilmu duniawi yang bermanfaat yang dibutuhkan oleh umat telah dijelaskan oleh sejumlah ulama sebagai bagian dari fardhu kifayah yang wajib bagi umat secara kolektif untuk melaksanakannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini beserta rujukan-rujukannya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply