حكم تارك الصلاة والصيام
Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat dan Puasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat dan Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
في حالة وجود شخص مسلم وموحد بالله عز وجل ومؤمن بكتبه ورسله وملائكته ومسلم بأنه الخالق الباري، ولكن لا يصلي ولا يصوم، فهل يثبت عند السؤال في عذاب القبر؟ جنبنا الله وإياكم، وجزاكم عنا خير الجزاء.
Dalam kondisi adanya seseorang yang muslim, men-tauhid-kan Allah ‘Azza wa Jalla, beriman kepada kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, serta berserah diri bahwa Dia adalah Sang Pencipta (al-Khaliq al-Bari), namun ia tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa; apakah ia akan tetap teguh (tsabit) saat ditanya di dalam siksa kubur? Semoga Allah menjauhkan kami dan Anda darinya, dan semoga Allah membalas Anda dengan sebaik-baik balasan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن الشخص المذكور إذا كان يترك الصلاة والصيام جحوداً لوجوبهما ومات على ذلك فإنه يعتبر كافراً بإجماع العلماء والعياذ بالله تعالى، ومن مات كافراً فإنه لا يثبت عند السؤال ولا يوفق بل يضله الله تعالى كما دل على ذلك الكتاب والسنة.
Sesungguhnya orang yang disebutkan tersebut, jika ia meninggalkan shalat dan puasa karena mengingkari (juhudan) kewajibannya dan mati dalam keadaan demikian, maka ia dianggap kafir berdasarkan ijma‘ ulama—kita berlindung kepada Allah Ta‘ala. Barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, maka ia tidak akan teguh (tsabit) saat ditanya (di alam kubur) dan tidak akan diberi taufik, melainkan Allah Ta‘ala akan menyesatkannya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan as-Sunnah.
أما إن كان يتركهما تكاسلاً فقد اختلف في كفره في مسألة الصلاة، والجمهور على أنه فاسق مرتكب لكبيرة من أعظم الكبائر، فإن مات على ذلك فهو في مشيئة الله إن شاء غفر له وثبته عند السؤال وإن شاء عاقبه وأضله عن إجابة سؤال الملكين.
Adapun jika ia meninggalkannya karena malas (takasulan), maka telah terjadi perbedaan pendapat mengenai kekafirannya dalam masalah shalat. Mayoritas ulama (al-jumhur) berpendapat bahwa ia adalah fasiq pelaku dosa besar dari sebesar-besarnya dosa besar. Jika ia mati dalam keadaan demikian, maka ia berada di bawah kehendak (masyi’ah) Allah; jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuninya dan meneguhkannya saat ditanya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan menyiksanya dan menyesatkannya dari menjawab pertanyaan dua malaikat.
فإن من عصاة المسلمين من يتلكأ عند السؤال فلا يوفق للإجابة الصحيحة فيضرب والعياذ بالله تعالى، وإليك التفصيل في حكم تارك الصلاة والصيام في كلام أهل العلم وفيما سنحيل عليه من الفتاوى السابقة.
Sebab, di antara pelaku maksiat dari kalangan kaum muslimin ada yang terbata-bata saat ditanya sehingga tidak diberi taufik untuk menjawab dengan benar, lalu ia dipukul—kita berlindung kepada Allah Ta‘ala. Berikut adalah rincian mengenai hukum orang yang meninggalkan shalat dan puasa dalam perkataan ahli ilmu dan pada apa yang akan kami rujuk dari fatwa-fatwa sebelumnya.
قال النووي في المجموع: فرع: في مذاهب العلماء فيمن ترك الصلاة تكاسلاً مع اعتقاده وجوبها فمذهبنا المشهور ما سبق أنه يقتل حداً ولا يكفر، وبه قال مالك والأكثرون من السلف والخلف.
An-Nawawi berkata dalam al-Majmu‘: “Cabang: Mengenai madzhab-madzhab ulama tentang orang yang meninggalkan shalat karena malas padahal ia meyakini kewajibannya; maka madzhab kami yang masyhur adalah apa yang telah lalu, yaitu ia dihukum bunuh sebagai hadd namun tidak kafir. Ini juga pendapat Malik dan mayoritas ulama salaf maupun khalaf.”
وقالت طائفة: يكفر ويجرى عليه أحكام المرتدين في كل شيء، وهو مروي عن علي بن أبي طالب وبه قال ابن المبارك وإسحاق بن راهويه وهو أصح الروايتين عن أحمد وبه قال منصور الفقيه من أصحابنا كما سبق.
“Sebagian kelompok berkata: Ia menjadi kafir dan berlaku padanya hukum-hukum orang murtad dalam segala hal. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan merupakan pendapat Ibnul Mubarak, Ishaq bin Rahuyah, serta merupakan riwayat yang paling shohih dari dua riwayat dari Ahmad. Ini juga pendapat Manshur al-Faqih dari kalangan kawan-kawan kami (Syafi’iyyah) sebagaimana telah lalu.”
وقال الثوري وأبو حنيفة وأصحابه وجماعة من أهل الكوفة والمزني لا يكفر ولا يقتل بل يعزر ويحبس حتى يصلي.. إلى أن قال: ولم يزل المسلمون يورثون تارك الصلاة ويورثون عنه، ولو كان كافراً لم يغفر له ولم يرث ولم يورث.
“Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan kawan-kawannya, serta sekelompok penduduk Kufah dan Al-Muzani berpendapat: Ia tidak kafir dan tidak pula dibunuh, melainkan diberi ta‘zir (hukuman edukatif) dan dipenjara sampai ia shalat… sampai beliau berkata: Kaum muslimin senantiasa memberikan warisan kepada orang yang meninggalkan shalat dan menerima warisan darinya. Seandainya ia seorang kafir, niscaya ia tidak diampuni, tidak mewarisi, dan tidak pula diwarisi.”
وبالنسبة لسؤال الكافر فقد قال الحافظ ابن حجر في الفتح بعد ذكر الخلاف في سؤال الكافر ونقل ما روى عبد الرزاق من طريق عبيد بن عمير أحد كبار التابعين قال: إنما يفتن رجلان مؤمن ومنافق وأما الكافر فلا يسأل عن محمد ولا يعرفه.
Berkenaan dengan pertanyaan kepada orang kafir, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Fath setelah menyebutkan perbedaan pendapat mengenai pertanyaan kepada orang kafir dan menukil apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq melalui jalur ‘Ubaid bin ‘Umair, salah seorang Tabi’in senior, ia berkata: “Hanyalah yang diuji (ditanya) itu ada dua laki-laki: orang mukmin dan orang munafiq. Adapun orang kafir, maka ia tidak ditanya tentang Muhammad dan ia tidak mengenalnya.”
قال: وهذا موقوف والأحاديث الناصة على أن الكافر يسأل مرفوعة مع كثرة طرقها الصحيحة فهي أولى بالقبول.
Beliau berkata: “Ini adalah riwayat mauquf. Sedangkan hadits-hadits yang secara tegas menyatakan bahwa orang kafir itu ditanya adalah riwayat marfu‘, di samping banyaknya jalur periwayatannya yang shohih, maka riwayat tersebut lebih utama untuk diterima.”
وقال القرطبي في كتاب التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة: ومن الناس يعتاص عليه أن يقول الكعبة قبلتي لقلة تحريه في صلاته أو فساد في وضوئه أو التفات في صلاته أو اختلال في ركوعه وسجوده.
Al-Qurthubi berkata dalam kitab at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah: “Dan di antara manusia ada yang merasa sulit untuk mengucapkan ‘Ka’bah adalah kiblatku’ disebabkan kurangnya ketelitian dalam shalat-nya, atau adanya kerusakan dalam wudhu-nya, atau sering menoleh dalam shalat-nya, atau adanya ketidaksempurnaan dalam ruku‘ dan sujudnya.”
وللفائدة في الموضوع يرجى الاطلاع على الفتوى الأخرى هنا،
Untuk faedah tambahan dalam tema ini silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply