Penelitian Pendapat Mengenai Hukum Meninggalkan Sholat



تحقيق المقال في حكم تارك الصلاة تكاسلا

Penelitian Pendapat Mengenai Hukum Meninggalkan Sholat Karena Malas

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Penelitian Pendapat Mengenai Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat Karena Malas ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

ذكرتم في الفتوى الأخرى هنا القول بعدم كفر تارك الصلاة تكاسلا، ومن ضمن الفتوى هذا الكلام، ولأن ذلك إجماع المسلمين، فإنا لا نعلم في عصر من الأعصار أحداً من تاركي الصلاة ترك تغسيله، والصلاة عليه، ودفنه في مقابر المسلمين، ولا منع ورثته ميراثه، ولا منع هو ميراث مورثه، ولا فُرِّق بين زوجين لترك الصلاة من أحدهما، مع كثرة تاركي الصلاة، ولو كان كافرا لثبتت هذه الأحكام كلها.

Anda telah menyebutkan dalam fatwa lainnya di sini pendapat tentang tidak kafirnya orang yang meninggalkan sholat karena malas (takasulan). Di antara isi fatwa tersebut adalah pernyataan: “Karena hal itu merupakan ijma‘ kaum muslimin, maka kami tidak mengetahui di zaman manapun ada orang yang meninggalkan sholat lalu ia tidak dimandikan, tidak disholatkan, tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, tidak pula ahli warisnya dilarang menerima warisannya, atau ia dilarang menerima warisan dari pewarisnya, dan tidak pula dipisahkan antara suami istri karena salah satunya meninggalkan sholat, meskipun banyak orang yang meninggalkan sholat. Seandainya ia seorang kafir, niscaya semua hukum ini akan ditetapkan.”

ولا نعلم بين المسلمين خلافا في أن تارك الصلاة يجب عليه قضاؤها، ولو كان مرتدا لم يجب عليه قضاء صلاة ولا صيام. وأما الأحاديث المتقدمة -الدالة على كفر تارك الصلاة- فهي على سبيل التغليظ، والتشبيه له بالكفار، لا على الحقيقة، كقوله عليه السلام:

“Dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara kaum muslimin bahwa orang yang meninggalkan sholat wajib baginya untuk meng-qodho-nya. Seandainya ia seorang murtad, niscaya tidak wajib baginya meng-qodho sholat maupun puasa. Adapun hadits-hadits terdahulu—yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan sholat—maka itu adalah dalam rangka taghlizh (peringatan keras) dan penyerupaan dengan orang-orang kafir, bukan secara hakiki, sebagaimana sabda beliau ‘alaihis salam:”

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.”

وقوله:

Dan sabda beliau:

كُفْرٌ بِاللَّهِ تَبَرُّؤٌ مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ

“Termasuk kekufuran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab meskipun samar.”

وقوله:

Dan sabda beliau:

مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali membawa sebutan itu.”

وقوله:

Dan sabda beliau:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi wanita haid atau mendatangi wanita pada duburnya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

قال: ومن قال: مطرنا بنوء الكواكب، فهو كافر بالله، مؤمن بالكواكب. وقوله: من حلف بغير الله فقد أشرك. وقوله: شارب الخمر كعابد وثن. وأشباه هذا مما أريد به التشديد في الوعيد، وهو أصوب القولين. انتهى. وكان هذا بإفتاء اللجنة العلمية بإشراف الدكتور الفقيه، ولكن في فتوى أخرى في الموقع الفتوى الأخرى هنا ذكرتم: وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: “من لم يصل فهو كافر”.

Beliau bersabda: “Dan barangsiapa yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’, maka ia telah kafir kepada Allah dan beriman kepada bintang-bintang.” Serta sabda beliau: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Dan sabda beliau: “Peminum khamar itu seperti penyembah berhala.” Dan yang semisal dengan ini yang dimaksudkan adalah penegasan dalam ancaman (wa’id), dan ini adalah pendapat yang paling benar dari dua pendapat. Selesai kutipan. Fatwa ini dikeluarkan oleh Komite Ilmiah di bawah pengawasan Doktor Ahli Fiqh. Namun, dalam fatwa lainnya di situs ini fatwa lainnya di sini Anda menyebutkan: Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa tidak mengerjakan sholat maka ia adalah kafir.”

ولا يخفى أن هذه العقوبة لمن ترك الصلاة بالكلية، فماهو القول الصحيح عندكم؟ كفر تاركها بالكلية أو كفر تارك بعضها ؟ وكأنني أراكم قلتم في الفتوى الأولى بعدم ردته ، وفي الفتوى الثانية أنه يقتل ردة!! جزاكم الله خيرا.

Tidak samar lagi bahwa hukuman ini adalah bagi orang yang meninggalkan sholat secara keseluruhan. Maka manakah pendapat yang benar menurut Anda? Apakah kafir orang yang meninggalkan secara keseluruhan ataukah kafir orang yang meninggalkan sebagiannya? Seolah-olah saya melihat Anda berpendapat dalam fatwa pertama tentang tidak adanya kemurtadannya, sedangkan dalam fatwa kedua ia dibunuh karena riddah (murtad)!! Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:

فإن العلماء مجمعون على أن من ترك الصلاة جحوداً وإنكاراً لها يعتبر كافرا خارجا عن الملة والعياذ بالله تعالى، أما من تركها مع إيمانه بها، واعتقاده بفرضيتها، ولكنه يتركها تكاسلاً، أو تشاغلاً عنها، فقد اختلف في حكمه فذهب أكثر العلماء إلى أنه فاسق مرتكب كبيرة.

Sesungguhnya para ulama telah bersepakat bahwa barangsiapa meninggalkan sholat karena menentang (juhudan) dan mengingkarinya, maka ia dianggap kafir yang keluar dari agama—kita berlindung kepada Allah Ta‘ala. Adapun orang yang meninggalkannya namun ia tetap beriman kepadanya dan meyakini kewajibannya, akan tetapi ia meninggalkannya karena malas (takasulan) atau sibuk, maka telah terjadi perbedaan pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama (al-jumhur) berpendapat bahwa ia adalah fasiq pelaku dosa besar.

ومن أدلة هذا القول ما ذكر في الفتوى الأولى المذكورة في السؤال، والفتوى الأخرى هنا، 

Di antara dalil dari pendapat ini adalah apa yang disebutkan dalam fatwa pertama yang tertulis dalam pertanyaan, serta fatwa lainnya di sini :

وأصحاب هذا القول لا يفرقون بين من ترك صلاة أو أكثر من حيث الحكم عليه حسب اطلاعنا، فهو عندهم فاسق وليس كافرا ما دام مقرا بوجوب الصلاة.

Para penganut pendapat ini tidak membedakan antara orang yang meninggalkan satu sholat atau lebih dari sisi hukum atasnya sepanjang sepengetahuan kami. Ia menurut mereka adalah fasiq dan bukan kafir selama ia mengakui kewajiban sholat.

ومن العلماء من يرى أن تارك الصلاة متعمدا يعتبر كافرا ولوكان مقرا بوجوبها أخذا بظاهر الأحاديث الصريحة في كفر تارك الصلاة، وإلى هذا القول ذهب الإمام أحمد ومن وافقه ولكن هل يعتبر كافرا بترك صلاة أو أكثر، اختلفت الروايات عن الإمام في ذلك.

Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dianggap kafir meskipun ia mengakui kewajibannya, dengan mengambil makna lahiriah dari hadits-hadits yang tegas mengenai kekafiran orang yang meninggalkan sholat. Kepada pendapat inilah Imam Ahmad dan orang-orang yang sepakat dengannya cenderung. Akan tetapi, apakah ia dianggap kafir dengan meninggalkan satu sholat atau lebih, riwayat-riwayat dari sang Imam dalam masalah ini berbeda-beda.

فقيل يقتل بترك صلاة واحدة إذا ضاق وقت التي بعدها ولم يصل، وقيل لا يقتل إلا إذا ترك ثلاثا وضاق وقت الرابعة. قال ابن قدامة في المغني بعد أن بسط الكلام في حكم تارك الصلاة وما اتفق عليه العلماء من ذلك وما اختلفوا فيه: إذا ثبت هذا فظاهر كلام الخرقي أنه يجب قتله بترك صلاة واحدة، وهي إحدى الروايتين عن أحمد ؛ لأنه تارك للصلاة ، فلزم قتله، كتارك ثلاث.

Dikatakan bahwa ia dibunuh karena meninggalkan satu sholat jika waktu sholat berikutnya telah sempit dan ia belum mengerjakannya. Dan dikatakan pula ia tidak dibunuh kecuali jika telah meninggalkan tiga sholat dan waktu sholat keempat telah sempit. Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni setelah memaparkan secara luas mengenai hukum orang yang meninggalkan sholat serta apa yang disepakati oleh ulama maupun yang mereka perselisihkan: “Jika hal ini telah ditetapkan, maka lahiriah dari perkataan Al-Khiroqi adalah wajib membunuhnya karena meninggalkan satu sholat, dan ini adalah salah satu dari dua riwayat dari Ahmad; karena ia adalah orang yang meninggalkan sholat, maka wajib membunuhnya sebagaimana orang yang meninggalkan tiga sholat.”

ولأن الأخبار تتناول تارك صلاة واحدة، لكن لا يثبت الوجوب حتى يضيق وقت التي بعدها؛ لأن الأولى لا يعلم تركها إلا بفوات وقتها، فتصير فائتة لا يجب القتل بفواتها، فإذا ضاق وقتها علم أنه يريد تركها، فوجب قتله. والثانية: لا يجب قتله حتى يترك ثلاث صلوات، ويضيق وقت الرابعة عن فعلها؛ لأنه قد يترك الصلاة والصلاتين لشبهة.

“Dan dikarenakan berita-berita (hadits) mencakup orang yang meninggalkan satu sholat, akan tetapi kewajiban (eksekusi) tidak ditetapkan hingga sempitnya waktu sholat berikutnya; sebab sholat pertama tidak diketahui meninggalkannya melainkan dengan terlewatnya waktunya, sehingga ia menjadi sholat yang terlewat (fa’itah) yang tidak diwajibkan hukuman mati karena sekadar terlewatnya. Namun jika waktu (berikutnya) sudah sempit, barulah diketahui bahwa ia memang ingin meninggalkannya, maka wajib membunuhnya. Pendapat kedua: Tidak wajib membunuhnya hingga ia meninggalkan tiga sholat dan waktu sholat keempat telah sempit untuk mengerjakannya; karena terkadang seseorang meninggalkan satu atau dua sholat karena adanya syubhat.”

فإذا تكرر ذلك ثلاثا تحقق أنه تارك لها رغبة عنها، ويعتبر أن يضيق وقت الرابعة عن فعلها ؛ لما ذكرنا. وقد صرح شيخ الإسلام ابن تيمية بأن من يترك الصلاة أحيانا ويصلي أحيانا داخل في الوعيد يعني أنه غير كافر، قال في الفتاوى الكبرى: لكن أكثر الناس يصلون تارة، ويتركونها تارة، فهؤلاء ليسوا يحافظون عليها ، وهؤلاء تحت الوعيد.

“Maka jika hal itu berulang sebanyak tiga kali, benarlah bahwa ia meninggalkannya karena benci kepadanya, dan dianggap (berhak dihukum) jika waktu sholat keempat telah sempit untuk mengerjakannya, sebagaimana yang kami sebutkan.” Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menegaskan bahwa barangsiapa meninggalkan sholat terkadang dan mengerjakannya terkadang, maka ia masuk dalam ancaman (wa‘id), artinya ia bukanlah seorang kafir. Beliau berkata dalam al-Fatawa al-Kubra: “Akan tetapi kebanyakan manusia sholat pada suatu waktu dan meninggalkannya pada waktu lain, maka mereka ini tidaklah menjaganya, dan mereka ini berada di bawah ancaman (wa‘id).”

وهم الذين جاء فيهم الحديث الذي في السنن حديث عبادة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:

Dan mereka adalah orang-orang yang dimaksud dalam hadits yang ada dalam as-Sunan, yaitu hadits ‘Ubadah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ كَانَ لَهُ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ

“Lima sholat yang Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya dalam sehari semalam. Barangsiapa yang menjaganya maka baginya ada janji di sisi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka tidak ada janji baginya di sisi Allah. Jika Allah berkehendak, Dia mengadzabnya, dan jika Allah berkehendak, Dia mengampuninya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

أما نحن فإننا في هذه الفتوى الخاصة بهذه المسألة نذكر الخلاف فيها غالبا مع بيان أدلة الفريقين وفي بعض الأحيان يلاحظ الميل إلى أحد القولين إما اعتبارا بحال السائل وإما لأسباب أخرى.

Adapun kami, sesungguhnya dalam fatwa khusus mengenai masalah ini kami menyebutkan perbedaan pendapat di dalamnya secara umum beserta penjelasan dalil-dalil kedua belah pihak. Terkadang terlihat kecenderungan pada salah satu dari dua pendapat, baik itu karena mempertimbangkan kondisi penanya maupun karena sebab-sebab lainnya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.