Sholat adalah Cahaya bagi Orang Beriman dan Ketenangan



الصلاة نور المؤمنين وراحة الخاشعين

Sholat adalah Cahaya bagi Orang Beriman dan Ketenangan bagi Orang yang Khusyu‘

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Sholat adalah Cahaya bagi Orang Beriman dan Ketenangan bagi Orang yang Khusyu‘ ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

رجل عمره 32 سنة يصلي أحيانا ثم يقطع الصلاة مدعيا أنه إذا رجع إلى الصلاة تقع له مشاكل وإن لم يصل يكون مرتاحا من المشاكل، هذا الابن متزوج لتوه وهواه الجلوس في المقاهي ومرافقة المراهقين.

Seorang laki-laki berusia 32 tahun terkadang mengerjakan sholat kemudian memutus sholat-nya dengan klaim bahwa jika ia kembali mengerjakan sholat, muncul berbagai masalah baginya, dan jika ia tidak sholat, ia merasa tenang dari masalah-masalah tersebut. Anak ini baru saja menikah, namun kegemarannya adalah duduk-duduk di kafe dan bergaul dengan para remaja.

هو موظف في الشركة و يحصل على أجرة كافية؛ تكفيه لزواجه، وكراء مسكنه، والعيش بكرامة، لكن لا يهتم بذلك يريد فقط أن يبقى على حاله، والخلاصة: أنه سيطرت عليه نفسه وسلوكه وهواه، أنا أخاف عليه أن يضيع مستقبله في الدنيا والآخرة، سؤالي: هل الصلاة تخلق المشاكل للمصلي؟

Ia bekerja di sebuah perusahaan dan mendapatkan upah yang cukup; mencukupi untuk nafkah pernikahannya, sewa tempat tinggalnya, dan hidup dengan terhormat, namun ia tidak peduli dengan hal tersebut. Ia hanya ingin tetap pada kondisinya sekarang. Ringkasnya: jiwa, perilaku, dan hawa nafsunya telah menguasai dirinya. Saya khawatir masa depannya akan hancur di dunia dan akhirat. Pertanyaan saya: Apakah sholat menciptakan masalah bagi orang yang mengerjakannya?

الإجابــة:

Jawaban :

خلاصة الفتوى: يجب على الرجل المذكور أن يخاف مقت الله وعقابه ويتوب إليه ويلتزم بأداء الصلوات في وقتها ويقوم بقضاء ما فات عليه منها ويبتعد عن رفاق السوء ومن لا يدله على الخير، كما ننصحه باتخاذ زوجة تكون له سكنا وعونا على طاعة الله تعالى؛ بل إن الزواج قد يصير واجبا في حقه إذا كان يخشى الوقوع في المحرمات.

Ringkasan Fatwa: Wajib bagi laki-laki tersebut untuk takut akan kemurkaan Allah dan siksa-Nya, bertaubat kepada-Nya, berkomitmen melaksanakan sholat pada waktunya, meng-qodho sholat yang telah terlewat, serta menjauh dari teman-teman yang buruk dan orang-orang yang tidak membimbingnya kepada kebaikan. Kami juga menasihatinya agar menjadikan istrinya sebagai tempat ketenangan dan penolong dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala; bahkan pernikahan tersebut bisa menjadi wajib baginya jika ia khawatir terjerumus ke dalam kemaksiatan.

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:

فإن الصلاة فريضة على كل مسلم مكلف فلا يجوز تركها ولا التهاون بها ولا تأخيرها عن وقتها في غير حالات الجمع، وقد اتفق العلماء على كفر تاركها جحودا لوجوبها، واختلفوا في تاركها المقر بوجوبها فمنهم من يرى أنه فاسق مرتكب لكبيرة وهو مذهب الجمهور، ومنهم من يرى أنه كافر والعياذ بالله تعالى على تفصيل في ذلك.

Sesungguhnya sholat adalah sebuah kewajiban (fardhu) atas setiap muslim yang mukallaf, maka tidak diperbolehkan meninggalkannya, meremehkannya, maupun mengakhirkannya dari waktunya selain dalam kondisi jama‘. Para ulama telah sepakat atas kekafiran orang yang meninggalkan sholat karena mengingkari kewajibannya. Mereka berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkannya namun tetap mengakui kewajibannya; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia adalah fasiq pelaku dosa besar—dan ini adalah mazhab mayoritas ulama—serta di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia kafir—kita berlindung kepada Allah Ta‘ala—dengan rincian dalam masalah tersebut.

ومن يدعي أن أداء الصلاة يسبب له المشاكل فقد ادعى خلاف الحقائق، ولا يقبل قوله في ذلك ولا يعذر به لأنه عذر واه، فالصلاة عماد الدين وقرة عين المصطفى صلى الله عليه وسلم، وهي الصلة بين العبد وربه، وهي نور المؤمنين وراحة الخاشعين، فكيف تكون سببا للقلاقل والمشاكل، أو يكون تاركها مرتاحا؟

Barangsiapa yang mengklaim bahwa mengerjakan sholat menyebabkan masalah baginya, maka sungguh ia telah mengklaim sesuatu yang menyalahi fakta. Perkataannya tersebut tidak diterima dan tidak bisa dijadikan alasan karena itu adalah alasan yang lemah. Sebab sholat adalah tiang agama dan penyejuk hati Al-Mushthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah penghubung antara hamba dengan Rabb-nya, cahaya bagi kaum mukmin, dan ketenangan bagi orang-orang yang khusyu‘. Maka bagaimana mungkin ia menjadi sebab kegelisahan dan masalah, atau bagaimana mungkin orang yang meninggalkannya bisa merasa tenang?

هيهات هيهات كيف يرتاح من ابتعد عن الله وفرط في أهم ما فرض الله بعد توحيده؟! كيف يرتاح مسلم تمر عليه أوقات الصلاة ولا يحرك ساكنا لا يتطهر ولا يصلي؟!

Mustahil, mustahil! Bagaimana bisa merasa tenang orang yang menjauh dari Allah dan melalaikan kewajiban terpenting yang Allah wajibkan setelah tauhid?! Bagaimana bisa tenang seorang muslim yang waktu-waktu sholat melewatinya namun ia tidak bergeming sedikit pun, tidak bersuci dan tidak mengerjakan sholat?!

لذا فإن على هذا الرجل أن يخاف مقت الله وعقابه ويتوب إليه توبة صادقة مصحوبة بالندم والعزم على عدم العود، ويلتزم بأداء الصلوات في وقتها، ويقوم بقضاء ما فات عليه منها، ويبتعد عن رفاق السوء ومن لا يدله على خير.

Oleh karena itu, wajib bagi laki-laki ini untuk takut akan kemurkaan Allah dan siksa-Nya, bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang jujur diiringi penyesalan dan tekad untuk tidak mengulangi, berkomitmen mengerjakan sholat pada waktunya, meng-qodho sholat yang telah terlewat, serta menjauh dari teman-teman yang buruk dan orang yang tidak membimbingnya kepada kebaikan.

وليعلم أن حل المشاكل التي تعتريه يكمن في العودة إلى الله تعالى وامتثال أوامره والابتعاد عن معاصيه، فلا سعادة ولا طمأنينة للعبد إلا في الإيمان والعمل الصالح، قال الله تعالى:

Hendaknya ia mengetahui bahwa solusi dari masalah-masalah yang menimpanya terletak pada kembali kepada Allah Ta‘ala, mematuhi perintah-perintah-Nya, dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya. Tidak ada kebahagiaan maupun ketenangan bagi seorang hamba melainkan dalam iman dan amal saleh. Allah Ta‘ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [النحل: ٩٧]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [طه: ١٢٤]

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thaha: 124]

وما يصيب الشخص من ضيق وكرب وتفاقم المشاكل ونحو ذلك فبسبب ذنوبه ومعاصيه، قال الله تعالى:

Dan apa yang menimpa seseorang berupa kesempitan, kesusahan, dan bertambahnya masalah serta yang semisalnya, adalah disebabkan oleh dosa-dosa dan kemaksiatannya. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ [الشورى: ٣٠]

“And apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy-Syura: 30]

والنصوص في هذا كثيرة. ثم إن عليه أن يشكر نعم الله ويحمده حيث هيأ له وظيفة وراتبا يكفي لحاجته ومسكنه وهو ما لا يتوفر للكثير من أمثاله.

Nash-nash dalam masalah ini sangat banyak. Kemudian hendaknya ia mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan memuji-Nya karena telah memudahkan baginya pekerjaan dan gaji yang mencukupi kebutuhannya serta tempat tinggal, yang mana hal itu tidak tersedia bagi banyak orang yang sepertinya.

وعليه أن يتخذ زوجة تكون له سكنا وعونا على طاعة الله تعالى، بل إن الزواج يصير واجبا في حقه إذا كان يخشى الوقوع في المحرمات، وليحذر من أن يضيع عمره وماله في اتباع الهوى والجلوس في المقاهي ومرافقة السفهاء وغير ذلك مما لا يعود إلا بالضرر في الدنيا والآخرة.

Wajib baginya untuk menjadikan istrinya sebagai tempat ketenangan dan penolong dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala. Bahkan pernikahan itu menjadi wajib baginya jika ia khawatir terjerumus ke dalam kemaksiatan. Hendaklah ia waspada dari menyia-nyiakan umur dan hartanya dalam mengikuti hawa nafsu, duduk-duduk di kafe, berteman dengan orang-orang bodoh, dan selain itu dari hal-hal yang tidak mendatangkan kecuali kerugian di dunia dan akhirat.

وللفائدة يرجى الاطلاع على الفتاوى الأخرى هنا، 

Untuk faedah tambahan silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.