حكم الاستمناء لغلبة الشهوة
Hukum Istimna’ (Masturbasi) Karena Syahwat yang Memuncak
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Istimna’ (Masturbasi) Karena Syahwat yang Memuncak ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Keluarga
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم العادة السرية لأنني سمعت أن فيها خلافا وليس فيها نص واضح -والله أعلم- فسمعت أن ابن عمر وابن عباس قالا بجوازها وأن ابن تيمية قال إنها جائزة للتنفيس عن النفس لكي لا يقع في الحرام -والله أعلم- فهو يصف حالنا تماما في ظل المثيرات الكثيرة فيكاد الشخص أن ينفجر إن لم يخرج تلك الطاقة وعدم مقدرتة على الزواج؟
Apa hukum kebiasaan rahasia (istimna’)? Karena saya mendengar ada khilaf di dalamnya dan tidak ada nash yang jelas —Wallahu a‘lam. Saya mendengar bahwa Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas berpendapat bolehnya hal tersebut, dan Ibnu Taimiyah berkata itu boleh untuk melepaskan beban jiwa agar tidak terjerumus ke dalam keharaman —Wallahu a‘lam. Hal ini sangat menggambarkan kondisi kami saat ini di tengah banyaknya godaan, di mana seseorang hampir meledak jika tidak mengeluarkan energi tersebut sementara ia tidak mampu untuk menikah.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن مما لا شك فيه أن التغلب على الغريزة ليس أمراً سهلاً، ولا سيما عند الشباب؛ ولذلك أرشد النبي صلى الله عليه وسلم من لم يستطع الزواج إلى الصوم، وقال: إنه له وجاء.
Sesungguhnya tidak diragukan lagi bahwa mengendalikan insting biologis bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi para pemuda. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing siapa saja yang tidak mampu menikah untuk berpuasa, dan beliau bersabda bahwa puasa itu adalah perisai (wijā’) baginya.
وعلى المسلم أن يتقي الله تعالى ويحفظ فرجه كما أمره الله تعالى، فإن استطاع الزواج فليتزوج وجوباً إذا خاف على نفسه الوقوع في المحرمات، فإن لم يستطع فليتبع ما أرشد إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وليدع ما سوى ذلك.
Wajib bagi seorang muslim untuk bertakwa kepada Allah Ta‘ala dan menjaga kemaluannya sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta‘ala. Jika ia mampu menikah, maka ia wajib menikah apabila ia khawatir dirinya terjerumus ke dalam perkara yang haram. Namun jika tidak mampu, maka hendaklah ia mengikuti apa yang dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan hal selain itu.
ولا عبرة بما قيل من إباحة العادة السرية، فإنها محرمة عند جمهور العلماء لأن الله سبحانه وتعالى أمر المؤمنين بحفظ فروجهم عما عدا أزواجهم وما أحله لهم من ملك اليمين، وما سوى ذلك فهو اعتداء.
Tidak dianggap pendapat yang menyatakan bolehnya kebiasaan rahasia (istimna’), karena hal tersebut haram menurut mayoritas (jumhur) ‘ulama. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan kaum mukmin untuk menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka (budak). Maka selain dari itu adalah bentuk melampaui batas.
قال الشافعي رحمه الله تعالى في الأم: قال الله عز وجل: (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ) قرأ إلى (الْعَادُونَ).
Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta‘ala berkata dalam al-Umm: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ [المؤمنون: ٥-٧]
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Mu’minun: 5-7]
قال الشافعي: فكان بيناً في ذكر حفظهم لفروجهم إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم تحريم ما سوى الأزواج وما ملكت الأيمان، وبين أن الأزواج وملك اليمين من الأدميات دون البهائم، ثم أكدها، فقال عز وجل: فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. فلا يحل العمل بالذكر إلا في الزوجة أو في ملك اليمين، ولا يحل الاستمناء. انتهى.
Asy-Syafi’i berkata: “Maka menjadi jelas dalam penyebutan perintah menjaga kemaluan kecuali terhadap istri atau budak mereka akan keharaman selain istri dan budak. Beliau juga menjelaskan bahwa istri dan budak itu adalah dari jenis manusia dan bukan hewan. Kemudian Allah mempertegasnya dengan firman-Nya: ‘Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.’ Maka tidak halal menggunakan kemaluan (dzakar) kecuali pada istri atau budak, dan tidak halal melakukan istimna’.” Selesai kutipan.
وقال ابن العربي في أحكام القرآن بعد أن ذكر القول الضعيف القائل بجواز الاستمناء عند الحاجة قال: وعامة العلماء على تحريمه، وهو الحق الذي لا ينبغي أن يدان الله إلا به.
Ibnu al-‘Arabi berkata dalam Ahkam al-Quran setelah menyebutkan pendapat yang lemah yang membolehkan istimna’ saat dibutuhkan: “Dan umumnya ‘ulama berpendapat atas keharamannya, dan itulah kebenaran yang tidak sepantasnya ber-‘ibadah kepada Allah kecuali dengannya.”
وقال بعض العلماء: إنه كالفاعل بنفسه، وهي معصية أحدثها الشيطان وأجراها بين الناس حتى صارت قيلة، ويا ليتها لم تقل، ولو قام الدليل على جوازها لكان ذو المروءة يعرض عنها لدناءتها. انتهى.
“Sebagian ‘ulama berkata: Sesungguhnya ia seperti orang yang melakukan (kemaksiatan) pada dirinya sendiri, dan ia adalah kemaksiatan yang diada-adakan oleh setan dan disebarkannya di tengah manusia hingga menjadi suatu pendapat yang diucapkan. Aduhai kiranya pendapat itu tidak pernah diucapkan. Seandainya pun ada dalil yang membolehkannya, niscaya orang yang memiliki kewibawaan (muru’ah) akan berpaling darinya karena kerendahan perbuatan tersebut.” Selesai kutipan.
وقال شيخ الإسلام ابن تيمية: أما الاستمناء باليد فهو حرام عند جمهور العلماء، وهو أصح القولين في مذهب أحمد، وكذلك يعزر من فعله، وفي القول الآخر هو مكروه غير محرم، وأكثرهم لا يبيحونه لخوف العنت ولا غيره.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun istimna’ dengan tangan maka ia haram menurut mayoritas (jumhur) ‘ulama, dan itulah pendapat yang paling shohih dari dua pendapat dalam madzhab Ahmad. Demikian pula pelakunya diberikan hukuman ta‘zir. Dalam pendapat yang lain hukumnya makruh dan bukan haram, namun kebanyakan mereka tidak membolehkannya baik karena takut akan kesulitan (‘anat) maupun sebab lainnya.”
ونقل عن طائفة من الصحابة والتابعين أنهم رخصوا فيه للضرورة: مثل أن يخشى الزنا فلا يعصم منه إلا به، ومثل أن يخاف إن لم يفعله أن يمرض، وهذا قول أحمد وغيره، وأما بدون الضرورة فما علمت أحداً رخص فيه. انتهى.
“Dan dinukil dari sekelompok (tho-ifah) shohabah dan tabi‘in bahwasanya mereka memberikan keringanan (rukhshoh) dalam hal itu karena dharuroh: misalnya seseorang khawatir terjerumus zina dan tidak ada yang melindunginya darinya kecuali hal itu, atau ia khawatir jika tidak melakukannya ia akan jatuh sakit. Ini adalah pendapat Ahmad dan selainnya. Adapun tanpa adanya dharuroh, maka aku tidak mengetahui seorang pun yang memberikan keringanan padanya.” Selesai kutipan.
وقد سبق المزيد من ذكر الأدلة على منع الاستمناء في الفتاوى الأخرى هنا.
Telah berlalu penjelasan lebih lanjut mengenai penyebutan dalil-dalil pelarangan istimna’ dalam fatwa lainnya di sini.
- Hukum Masturbasi dan Cara Menghentikannya
- Masturbasi: Hukum, Dampak Psikologis, dan Fisiknya
- Cara-cara yang Memberi Petunjuk untuk Menjauhi Kebiasaan Rahasia (Masturbasi)
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply