ما هي الحكمة من أداء مناسك الحج؟
Apa Hikmah di Balik Pelaksanaan Manasik Haji?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apa Hikmah di Balik Pelaksanaan Manasik Haji ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Haji
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي الحكمة من أداء مناسك الحج، ولماذا تقوم بفعلها بهذا الشكل؟ وجزاكم الله خيراً.
Apa hikmah dari pelaksanaan manasik haji, dan mengapa kita melakukannya dengan tata cara seperti ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فيمكنك أن تعرف من تولى بناء الكعبة من الفتوى الأخرى هنا، والكعبة مبنية بالحجارة.
Anda dapat mengetahui siapa yang membangun Ka‘bah dari fatwa lainnya di sini
dan Ka‘bah itu dibangun dengan batu.
ففي صحيح البخاري عند ذكره لقصة بناء إبراهيم وإسماعيل عليهما الصلاة والسلام للكعبة : .. ثم لبث عنهم ما شاء الله، ثم جاء بعد ذلك وإسماعيل يبري نبلا تحت دوحة قريبة من زمزم، فلما رآه قام إليه فصنعا كما يَصْنَعُ الْوَلَدُ بِالْوَالِدِ وَالْوَالِدُ بِالْوَلَدِ، ثُمَّ قَالَ: يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ قَالَ: فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ، قَالَ: وَتُعِينُنِي؟ قَالَ: وَأُعِينُكَ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَهُنَا بَيْتًا وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا، قَالَ: فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ، فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ، فَقَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَهُمَا يَقُولَانِ: رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ..
“Dalam Shahih Al-Bukhari saat menyebutkan kisah pembangunan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimash shalatu was salam terhadap Ka’bah: …Kemudian Ibrahim tinggal jauh dari mereka selama beberapa waktu yang dikehendaki Allah. Lalu ia datang kembali setelah itu saat Isma’il sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon besar dekat Zamzam. Ketika melihatnya, Isma’il segera berdiri menyambutnya, dan keduanya saling melepas rindu sebagaimana layaknya anak kepada ayah dan ayah kepada anak. Kemudian Ibrahim berkata: ‘Wahai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku suatu urusan.’ Isma’il berkata: ‘Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu.’ Ibrahim bertanya: ‘Dan apakah engkau mau membantuku?’ Isma’il menjawab: ‘Aku akan membantumu.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di sini,’ seraya menunjuk ke sebuah bukit kecil yang lebih tinggi dari sekitarnya. Maka pada saat itulah keduanya meninggikan pondasi-pondasi Rumah tersebut; Isma’il membawakan batu-batu dan Ibrahim yang membangunnya, hingga ketika bangunan itu sudah tinggi, Isma’il membawakan batu ini (Maqam Ibrahim) lalu meletakkannya untuk Ibrahim. Ibrahim pun berdiri di atasnya sementara ia membangun dan Isma’il menyerahkan batu-batu kepadanya, dan keduanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (HR. Al-Bukhari)
وقصة بناء الكعبة مشهورة مفصلة في كتب السيرة والتاريخ، والفوائد والحكم التي يجنيها المسلم من أداء مناسك الحج كثيرة، منها: 1- إقامة ذكر الله تعالى عند مختلف المناسك. 2- حصول المنافع من مغفرة للذنوب ونحوها.
Kisah pembangunan Ka‘bah sudah masyhur dan terperinci dalam buku-buku siirah dan sejarah. Adapun manfaat serta hikmah yang didapatkan seorang muslim dari pelaksanaan manasik haji itu banyak, di antaranya: 1. Mendirikan dzikir kepada Allah Ta‘ala pada berbagai manasik. 2. Mendapatkan manfaat berupa ampunan dosa dan sebagainya.
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ [الحج: ٢٧-٢٨]
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” [Al-Hajj: 27-28]
قال القرطبي في تفسيره: منافع لهم: أي المناسك كعرفات والمشعر الحرام، وقيل المغفرة، وقيل التجارة، وقيل هو عموم أي ليحضروا منافع لهم، أي ما يرضي الله تعالى من أمر الدنيا والآخرة، قاله مجاهد وعطاء، واختاره ابن العربي، إلى أن قال: والمراد بذكر اسم الله ذكر التسمية عند الذبح والنحر، مثل قولك عند الذبح:
Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya: “Manfaat bagi mereka: yaitu manasik seperti ‘Arafat dan Masy‘aril Haram, ada pula yang berpendapat ampunan dosa, ada yang berpendapat perdagangan, dan ada yang berpendapat itu bersifat umum, yakni agar mereka menghadiri manfaat-manfaat bagi mereka, yaitu apa saja yang membuat Allah Ta‘ala rida baik dalam urusan dunia maupun akhirat.” Hal ini dikatakan oleh Mujahid dan ‘Atha’, serta dipilih oleh Ibnul ‘Arabi. Beliau melanjutkan: “Dan yang dimaksud dengan menyebut nama Allah adalah menyebut basmalah saat menyembelih hewan kurban (dzabh dan nahr), seperti ucapanmu saat menyembelih:”
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [الأنعام: ١٦٢]
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-An‘am: 162]
وراجع بقية فوائد الحج في الفتوى الأخرى هنا.
Dan silakan merujuk sisa manfaat haji lainnya dalam fatwa lainnya di sini.
ثم إن الله تعالى قد فرض علينا أداء الحج بهيأته ومناسكه المعروفة، فالواجب علينا الخضوع والتسليم لأمره تعالى، فالأصل في العبادة أنها تعبدية واجبة الامتثال بالرغم من عجز العقول البشرية عن إدراك الحكمة من فرضها على الصفة المأمور بها.
Kemudian sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mewajibkan atas kita pelaksanaan haji dengan bentuk dan manasik yang telah diketahui, maka wajib bagi kita untuk tunduk dan berserah diri pada perintah-Nya Ta‘ala. Karena hukum asal dalam ‘ibadah adalah bersifat ta‘abbudi (penghambaan semata) yang wajib dipatuhi meskipun akal manusia tidak mampu menjangkau hikmah dari diwajibkannya ‘ibadah tersebut sesuai dengan sifat yang diperintahkan.
والمسلم يلزمه التسليم لما يعجز عن إدراكه ليظهر صدق إيمانه وصحة استسلامه لله تعالى عبدا ضعيفاً عاجزا عن إدراك الجميع، وراجع المزيد من التفصيل في الفتوى الأخرى هنا.
Seorang muslim harus berserah diri terhadap apa yang ia tidak mampu jangkau agar tampak kejujuran imannya dan kebenaran penyerahan dirinya kepada Allah Ta‘ala sebagai hamba yang lemah dan tidak mampu menjangkau segala sesuatu. Dan silakan merujuk perincian lebih lanjut pada fatwa lainnya di sini :
- Syubhat Seputar Beberapa Manasik Haji
- Hikmah dalam Ibadah dan Syariat sesuai Sifat yang Diperintahkan
- Hikmah dari Ibadah yang Tidak Terjangkau Maknanya oleh Akal
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply