من ثمار وفوائد معرفة أسماء الله الحسنى
Di Antara Buah dan Manfaat Mengenal Asma’ul Husna
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Di Antara Buah dan Manfaat Mengenal Asma’ul Husna ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
إن لله تسعة وتسعين اسماً فما هي؟ وما فوائد تعلم هذه الأسماء؟
Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, apa sajakah itu? Dan apa manfaat mempelajari nama-nama tersebut?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فقد سبق الكلام على قول النبي صلى الله عليه وسلم:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du: Telah berlalu pembahasan mengenai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu; barangsiapa yang menjaganya (ihsho) maka ia masuk surga.” (Muttafaqun ‘Alaih)
ورواه الترمذي وزاد تعيين الأسماء الحسنى، وذلك في الفتوى الأخرى هنا.
Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dengan tambahan rincian nama-nama tersebut, hal itu ada dalam fatwa lainnya di sini.
أما فوائد تعلم هذه الأسماء الحسنى فهي كثيرة جليلة.. فمنها: المعرفة بالله سبحانه، فإن العلم بمعاني أسمائه عز وجل وصفاته العُلا يحقق العلم الصحيح بفاطر الأرض والسماوات.
Adapun manfaat mempelajari Asma’ul Husna ini sangat banyak dan agung. Di antaranya: Ma’rifatullah (Mengenal Allah) Subhanahu wa Ta‘ala. Sesungguhnya ilmu tentang makna nama-nama-Nya ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya yang tinggi akan mewujudkan pengetahuan yang benar tentang Sang Pencipta bumi dan langit.
قال قوام السنة الأصفهاني (٥٣٥): قال بعض العلماء: أول فرض فرضه الله على خلقه معرفته، فإذا عرفه الناس عبدوه، قال الله تعالى:
Qawwam as-Sunnah al-Ashfahani (535 H) berkata: “Sebagian ulama berkata: Kewajiban pertama yang Allah wajibkan atas makhluk-Nya adalah mengenal-Nya (ma‘rifatuhu). Jika manusia telah mengenal-Nya, maka mereka akan menyembah-Nya.” Allah Ta‘ala berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ [محمد: ١٩]
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) melainkan Allah.” [Muhammad: 19]
فينبغي للمسلمين أن يعرفوا أسماء الله وتفسيرها فيعظموا الله حق عظمته، ولو أراد رجل أن يعامل رجلاً طلب أن يعرف اسمه وكنيته، واسم أبيه واسم جده، وسأل عن صغير أمره وكبيره، فالله خلقنا ورزقنا، ونحن نرجو رحمته ونخاف من سخطه أولى أن نعرف أسماءه وتفسيرها.
“Maka seyogianya bagi kaum muslimin untuk mengetahui nama-nama Allah beserta tafsirnya sehingga mereka mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan. Jika seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain, ia tentu ingin mengetahui nama, gelar, nama ayah, dan kakeknya, serta bertanya tentang urusan kecil maupun besarnya. Maka Allah yang telah menciptakan dan memberi rezeki kepada kita, sementara kita mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan kemurkaan-Nya, jauh lebih utama untuk kita ketahui nama-nama-Nya dan tafsirnya.”
ويقول ابن القيم رحمه الله: لا يستقر للعبد قدم في المعرفة بل ولا الإيمان حتى يؤمن بصفات الرب جل جلاله ويعرفها معرفة تخرجه عن حد الجهل بربه، فالإيمان بالصفات وتعرفها هو أساس الإسلام، وقاعدة الإيمان، وثمرة شجرة الإحسان.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Tidak akan kokoh kaki seorang hamba dalam kemakrifatan, bahkan dalam keimanan, hingga ia beriman kepada sifat-sifat Rabb Jalla Jalaluhu dan mengenalnya dengan pengetahuan yang mengeluarkannya dari batas kebodohan terhadap Tuhannya. Maka beriman kepada sifat-sifat tersebut dan mengetahuinya adalah asas Islam, kaidah iman, dan buah dari pohon ihsan.”
ومنها: أن معرفة الله بأسمائه وصفاته وسيلة إلى معاملته بثمراتها من الخوف والرجاء والتوكل وسائر العبادات القلبية، قال العز بن عبد السلام -رحمه الله-: فهم معاني أسماء الله تعالى وسيلة إلى معاملته بثمراتها من الخوف والرجاء والمهابة والمحبة والتوكل.. وغير ذلك من ثمرات معرفة تلك الصفات.
Di antaranya pula: Bahwa mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya adalah sarana untuk berinteraksi dengan-Nya melalui buah-buahnya berupa rasa takut (khauf), harap (raja’), tawakkal, dan seluruh ibadah hati lainnya. ‘Izz bin ‘Abdus Salam rahimahullah berkata: “Memahami makna nama-nama Allah Ta‘ala adalah sarana untuk berinteraksi dengan-Nya melalui buah-buahnya berupa rasa takut, harap, kewibawaan (mahabah), kecintaan (mahabbah), dan tawakkal… serta buah-buah lainnya dari mengenal sifat-sifat tersebut.”
ويقول أيضاً: ذكر الله بأوصاف الجمال موجب للرحمة وبأوصاف الكمال موجب للمهابة، وبالتوحد بالأفعال موجب للتوكل، وبسعة الرحمة موجب للرجاء، وبشدة النعمة موجب للخوف، والتفرد بالإنعام موجب للشكر.
Beliau juga berkata: “Mengingat Allah dengan sifat-sifat keindahan (jamal) mendatangkan rahmat, dengan sifat kesempurnaan (kamal) mendatangkan kewibawaan, dengan keesaan dalam perbuatan mendatangkan tawakkal, dengan luasnya rahmat mendatangkan raja’, dengan besarnya nikmat mendatangkan khauf, dan dengan ketunggalan dalam memberi nikmat mendatangkan syukur.”
ولذلك قال سبحانه:
Oleh karena itu Allah Subhanahu berfirman:
اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا [الأحزاب: ٤١]
“Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” [Al-Ahzab: 41]
ومنها: العمل بها، نقل الحافظ ابن حجر في فتح الباري عن ابن بطال قوله: طريق العمل بها: أن الذي يسوغ الاقتداء به فيها كالرحيم والكريم فإن الله يحب أن يرى حالها على عبده، فليعرف العبد نفسه على أن يصح له الاتصاف بها.
Di antaranya pula: Mengamalkannya. Al-Hafiz Ibnu Hajar menukil dalam Fathul Bari dari Ibnu Baththal perkataannya: “Cara mengamalkannya adalah: Nama-nama yang diperbolehkan untuk diteladani seperti Ar-Rahim (Maha Penyayang) dan Al-Karim (Maha Mulia), sesungguhnya Allah senang melihat sifat tersebut pada hamba-Nya, maka hendaknya seorang hamba melatih dirinya agar layak menyandang sifat tersebut.”
وما كان يختص بالله كالجبار والعظيم فيجب على العبد الإقرار بها والخضوع لها، وعدم التحلي بصفة منها، وما كان فيه معنى الوعد: نقف منه عند الطمع والرغبة، وما كان فيه معنى الوعيد: نقف منه عند الخشية والرهبة.
“Adapun yang khusus bagi Allah seperti Al-Jabbar (Maha Perkasa) dan Al-’Azhim (Maha Agung), maka wajib bagi hamba untuk mengakuinya dan tunduk padanya, serta tidak mencoba menghiasi diri dengan sifat tersebut. Nama yang mengandung janji (wa‘du) maka kita menyikapinya dengan penuh harap dan keinginan kuat, sedangkan yang mengandung ancaman (wa‘id) maka kita menyikapinya dengan rasa takut dan cemas.”
ومنها: تحقيق التوحيد والبراءة من الشرك، فهناك تلازم وثيق بين إثبات الأسماء والصفات لله وتوحيد الله، فكلما حقق العبد أسماء الله وصفاته علماً وعملاً كان أعظم وأكمل توحيداً.
Di antaranya pula: Mewujudkan tauhid dan berlepas diri dari syirik. Terdapat kaitan yang sangat erat antara penetapan nama dan sifat bagi Allah dengan tauhid kepada Allah. Semakin seorang hamba mewujudkan nama dan sifat Allah baik secara ilmu maupun amal, maka semakin agung dan sempurna pula tauhid-nya.
وفي المقابل: فإن هناك تلازماً وطيداً بين إنكار الأسماء أو الصفات وبين الشرك، يقول ابن القيم في تقرير هذا التلازم: كل شرك في العالم فأصله التعطيل، فإنه لولا تعطيل كلامه -سبحانه- أو بعضه وظن السوء به ما أشرك به.
Sebaliknya, terdapat kaitan yang kuat antara pengingkaran terhadap nama atau sifat Allah dengan kesyirikan. Ibnu al-Qayyim berkata dalam menetapkan kaitan ini: “Setiap kesyirikan di alam semesta ini asalnya adalah ta’thil (pengabaian/penolakan sifat). Seandainya bukan karena penolakan terhadap kalam-Nya —Subhanahu— atau sebagiannya, serta berprasangka buruk kepada-Nya, niscaya Ia tidak akan dipersekutukan.”
كما قال إمام الحنفاء لقومه: أَإِفْكاً آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ * فما ظنكم برب العالمين. أي فما ظنكم به أن يجازيكم، وقد عبدتم معه غيره؟ وما الذي ظننتم به حتى جعلتم معه شركاء؟ أظننتم أنه محتاج إلى الشركاء والأعوان؟ أم ظننتم أنه يخفى عليه شيء من أحوال عباده حتى يحتاج إلى شركاء تعرفه بهم كالملوك؟ أم هو قاسٍ فيحتاج إلى شفعاء يستعطفونه على عباده؟…
Sebagaimana perkataan Imam kaum hunafa (Ibrahim) kepada kaumnya: “Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan bohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” Yakni apa prasangka kalian tentang bagaimana Dia akan membalas kalian sementara kalian menyembah selain-Nya? Prasangka apa yang kalian miliki sehingga menjadikan sekutu bagi-Nya? Apakah kalian menyangka Dia butuh kepada sekutu dan pembantu? Ataukah menyangka ada sesuatu dari keadaan hamba-Nya yang tersembunyi bagi-Nya sehingga butuh sekutu untuk memberitahu-Nya sebagaimana para raja? Ataukah Dia itu keras sehingga butuh para pemberi syafaat untuk melunakkan-Nya bagi para hamba-Nya?…
والمقصود أن التعطيل مبدأ الشرك وأساسه، فلا تجد معطلاً إلا وشركه على حسب تعطيله فمستقل ومستكثر.
“Maksudnya adalah bahwa ta’thil merupakan awal dan asas kesyirikan. Tidaklah engkau dapati orang yang menolak sifat (mu’aththil) melainkan kesyirikannya sebanding dengan penolakannya; ada yang sedikit dan ada yang banyak.”
ومنها: الصبر على المكروهات والمصائب النازلة بالعبد، فهو سبحانه حكيم عليم، حكم عدل، ولا يظلم أحداً فمن عرف رباًّ كذلك صبر على قضائه وقدره.
Di antaranya pula: Sabar menghadapi hal-hal yang tidak disukai dan musibah yang menimpa hamba. Dia Subhanahu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Hakim yang Maha Adil, dan tidak menzalimi siapa pun. Barangsiapa yang mengenal Rabb seperti itu, niscaya ia akan bersabar atas ketetapan (qodho) dan takdir-Nya.
يقول ابن القيم: من صحت له معرفة ربه والفقه في أسمائه وصفاته علم يقيناً أن المكروهات التي تصيبه والمحن الذي تنزل به فيها ضروب من المصالح والمنافع التي لا يحصيها علمه ولا فكرته، بل مصلحة العبد في ما كره أعظم منها في ما يحب.
Ibnu al-Qayyim berkata: “Barangsiapa yang memiliki kemakrifatan yang benar tentang Tuhannya serta pemahaman (fiqh) dalam nama dan sifat-Nya, ia akan tahu dengan yakin bahwa hal-hal yang tidak disukainya yang menimpanya serta ujian yang turun padanya mengandung berbagai macam kemaslahatan dan manfaat yang tidak terhitung oleh ilmu maupun pemikirannya. Bahkan kemaslahatan hamba pada apa yang ia benci lebih besar daripada apa yang ia sukai.”
ومنها: حسن الظن بالله والثقة به تعالى، فمعرفة أنه قادر حكيم، فعال لما يريد، يوجب ذلك.
Di antaranya pula: Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah dan percaya kepada-Nya Ta‘ala. Mengenal bahwa Dia Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, akan mewajibkan hal tersebut.
يقول ابن القيم: وأكثر الناس يظنون بالله ظن السوء فيما يختص بهم، وفي ما يفعله بغيرهم، ولا يسلم من ذلك إلا من عرف الله وأسماءه وصفاته، وعرف موجب حكمته وحمده.. ولو فتشت لرأيت عنده تعتباً على القَدَر وملامة له.. وأنه كان ينبغي أن يكون كذا وكذا.
Ibnu al-Qayyim berkata: “Kebanyakan manusia berprasangka buruk kepada Allah dalam hal-hal yang khusus bagi mereka maupun apa yang dilakukan-Nya pada orang lain. Tidak ada yang selamat dari hal itu kecuali orang yang mengenal Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal tuntutan hikmah dan pujian bagi-Nya. Jika engkau menyelidiki, niscaya engkau dapati pada dirinya ada keberatan terhadap takdir dan cercaan padanya… serta anggapan bahwa seharusnya begini dan begitu.”
ومنها: حسن الخلق وسلامة السلوك والسلامة من الآفات كالعجب والكبر والحسد… إلخ.
Di antaranya pula: Akhlak yang baik, perilaku yang selamat, serta keselamatan dari penyakit hati seperti ujub (bangga diri), sombong (kibr), dengki (hasad), dan lain-lain.
فالمبتدعة الذي يزعمون أن العبد يخلق فعل نفسه، فالخير هو الذي أوجده وفعله، والجنة ثمن عمله يورثهم ذلك غروراً وعجباً، ولو عرف ربه بصفات الكمال ونعوت الجلال وأنه المنعم المتفضل وما بالعباد من نعمة فمنه وحده لا شريك له، ومن تلك النعم التوفيق للعمل الصالح، بالشكر والتواضع ولم يعجب بعمله.
Ahli bid’ah yang mengklaim bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri, sehingga kebaikan adalah apa yang ia adakan dan lakukan, dan surga adalah harga dari amalnya; hal itu akan mewariskan ketertipuan dan rasa ujub. Seandainya ia mengenal Tuhannya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, serta bahwa Dialah Sang Pemberi Nikmat yang Maha Utama, dan tidak ada satu pun nikmat pada hamba melainkan datang dari-Nya semata tidak ada sekutu bagi-Nya —termasuk nikmat taufik untuk amal saleh— niscaya ia akan menyikapinya dengan syukur dan tawadhu‘, serta tidak merasa ujub dengan amalnya.
وكذلك لو عرف ربه بأسمائه وصفاته لم يتكبر ولم يحسد أحداً على ما آتاه الله، لأن الحسد في الحقيقة مضادة لله في حكمته.
Demikian pula jika ia mengenal Tuhannya melalui nama dan sifat-Nya, niscaya ia tidak akan sombong dan tidak akan mendengki siapa pun atas apa yang Allah berikan kepadanya. Karena hasad pada hakikatnya adalah menentang Allah dalam hikmah-Nya.
ومنها: لهج العبد بدعاء ربه، فالدعاء من آكد العبادات وأعظمها فالدعاء هو العبادة، كما أخبر المصطفى صلى الله عليه وسلم وهو لا ينفك عن إثبات وفِـقْـه أسماء الله تعالى وصفاته.
Di antaranya pula: Lidah hamba senantiasa basah dengan doa kepada Tuhannya. Doa termasuk ibadah yang paling ditekankan dan paling agung, karena doa adalah ibadah sebagaimana dikabarkan oleh Nabi pilihan (al-Mushthofa) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak terlepas dari penetapan dan pemahaman (fiqh) terhadap nama-nama Allah Ta‘ala dan sifat-sifat-Nya.
ويشير ابن عقيل -رضي الله عنه- إلى ذلك بقوله: قد ندب الله تعالى إلى الدعاء وفي ذلك معان: أحدها: الوجود، فإن من ليس بموجود لا يدعى. الثاني: الغنى، فإن الفقير لا يدعى. الثالث: السمع، فإن الأصم لا يدعى. الرابع: الكرم، فإن البخيل لا يدعى. السادس: القدرة، فإن العاجز لا يدعى.
Ibnu ‘Aqil radhiyallahu ‘anhu mengisyaratkan hal tersebut dengan perkataannya: “Sungguh Allah Ta‘ala telah menganjurkan untuk berdoa, dan di dalamnya terdapat makna-makna: Pertama: Eksistensi (Wujud), karena yang tidak ada tidaklah dipanggil. Kedua: Kekayaan (Ghina), karena yang faqir tidaklah diminta. Ketiga: Pendengaran (Sam‘u), karena yang tuli tidaklah dipanggil. Keempat: Kedermawanan (Karam), karena yang kikir tidaklah diminta. Keenam: Kemampuan (Qudroh), karena yang lemah tidaklah dipanggil.”
وبالجملة ففوائد تعلم أسماء الله الحسنى وصفاته العُلا كثيرة جداً، وفي ما ذكرناه تنبيه على ذلك، وإلا فإن الأمر يحتاج إلى مجلد.
Singkatnya, manfaat mempelajari Asma’ul Husna dan Sifat-sifat-Nya yang tinggi sangatlah banyak. Apa yang kami sebutkan ini hanyalah peringatan akan hal tersebut, karena sesungguhnya perkara ini membutuhkan berjilid-jilid buku untuk menjelaskannya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply