حكم تفويت الصلاة لمن لم يسمع الأذان
Hukum Melewatkan Sholat bagi Orang yang Tidak Mendengar Adzan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Melewatkan Sholat bagi Orang yang Tidak Mendengar Adzan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم تفويت صلاة الفجر إذا لم تسمع الأذان؟
Apa hukum melewatkan sholat fajr jika tidak mendengar adzan?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإذا كان المقصود بتفويت صلاة الفجر تفويتها حتى يخرج وقتها بالمرة، أي حتى تطلع الشمس. فالواجب أن يعلم كل مسلم أن تعمد إخراج الصلاة عن وقتها إثمٌ عظيم وذنبٌ جسيم.
Jika yang dimaksud dengan melewatkan sholat fajr adalah melewatkannya hingga keluar waktunya sama sekali, yaitu hingga matahari terbit, maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui bahwa sengaja mengeluarkan sholat dari waktunya adalah dosa yang besar dan kesalahan yang sangat berat.
أعظم من الزنا والسرقة وشرب الخمر وقتل النفس بإجماع المسلمين كما نقله ابن القيم في أول كتاب الصلاة.
Bahkan lebih besar daripada zina, mencuri (sirqoh), meminum khamar (syurbul khomr), dan membunuh jiwa berdasarkan ijma‘ kaum muslimin sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Qoyyim di awal kitab ash-Sholah.
وأما النوم مع الأخذ بأسباب الاستيقاظ فهو عذرٌ مُسقطٌ للمؤاخذة، فإن وقت الصلاة في حق النائم حين يستيقظ.
Adapun tidur disertai dengan upaya mengambil sebab-sebab untuk bangun, maka hal itu adalah ‘udzur yang menggugurkan tuntutan dosa, karena sesungguhnya waktu sholat bagi orang yang tidur adalah ketika ia terbangun.
وينبغي للنائم أن يأخذ بالأسباب التي تُعينه على القيام للصلاة من ضبط منبهٍ أو نحوه، أو توكيل من يوقظه للصلاة كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم حين أمر بلالاً أن يرقب لهم الليل.
Seyogianya bagi orang yang tidur untuk mengambil sebab-sebab yang membantunya bangun untuk sholat, seperti memasang alarm atau semacamnya, atau mewakilkan seseorang untuk membangunkannya sholat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau memerintahkan Bilal untuk menjaga waktu malam bagi mereka.
ولا خلاف في مشروعية الأخذِ بأسباب الاستيقاظ للصلاة، وإن وقع الخلاف في وجوب ذلك. فنص كثيرٌ من العلماء على عدمِ الوجوب، لأن الصلاة لا تجب إلا بدخول الوقت فهو غير مُخاطبٍ بها قبل دخول الوقت.
Tidak ada perbedaan pendapat mengenai disyariatkannya mengambil sebab-sebab untuk bangun sholat, meskipun terjadi perbedaan pendapat mengenai kewajiban hal tersebut. Banyak ulama menegaskan tentang tidak wajibnya hal itu, karena sholat tidaklah wajib kecuali dengan masuknya waktu, sehingga seseorang tidaklah menjadi objek khithab (perintah) sebelum masuknya waktu.
وما لا يتم الوجوب إلا به فليس بواجب، كما لا يجب تحصيل نصاب الزكاة، ولا تحصيل الاستطاعة للحج.
Dan apa yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya maka ia tidaklah wajib, sebagaimana tidak wajibnya mengusahakan nishab zakat atau mengusahakan kemampuan untuk haji.
وذهب جماعة من أهل العلم إلى وجوب الأخذ بأسباب الاستيقاظ، وأن النائم إذا قصر في ذلك لحقه الإثم وتعرض للوعيد، قال العلامة العثيمين رحمه الله:
Namun sekelompok ahli ilmu berpendapat tentang wajibnya mengambil sebab-sebab untuk bangun, dan bahwa orang yang tidur jika ia lalai dalam hal itu maka ia menanggung dosa dan terancam dengan ancaman (wa‘id). Al-‘Allamah al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
ثم إن النائم الذي رفع عنه القلم هو الذي ليس عنده من يوقظه أو يتمكن من إيجاد شيء يستيقظ به، أما شخص عنده من يوقظه أو يتمكن من إيجاد شيء يستيقظ به كالساعة وغيرها ولم يفعل فإنه ليس بمعذور. انتهى.
“Kemudian sesungguhnya orang tidur yang diangkat pena (catatan amal) darinya adalah orang yang tidak memiliki seseorang yang bisa membangunkannya atau tidak mampu mengusahakan sesuatu untuk membangunkannya. Adapun seseorang yang memiliki orang yang bisa membangunkannya atau mampu mengusahakan sesuatu untuk membangunkannya seperti jam dan lainnya namun ia tidak melakukannya, maka ia tidaklah mendapatkan udzur.” Selesai kutipan.
وقال أيضاً: لا يجوز تأخير الصلاة عن وقتها إلا لعذر، والنوم قد لا يكون عذرا لكل واحد فإنه يتمكن من النوم مبكراً ليستيقظ وقت الصلاة.
Beliau juga berkata: “Tidak diperbolehkan mengakhirkan sholat dari waktunya kecuali karena ‘udzur. Dan tidur terkadang bukan merupakan ‘udzur bagi setiap orang, karena ia mampu untuk tidur lebih awal agar bisa bangun di waktu sholat.”
وكذا يوكل من يوقظه من أبويه أو أحد إخوته أو جيرانه، أو نحوهم ومع ذلك يهتم للصلاة ويشتغل قلبه بها حتى إذا قرب الوقت أحس به ولو كان نائما. انتهى.
“Demikian pula ia mewakilkan siapa yang bisa membangunkannya dari kedua orang tuanya atau salah satu saudaranya atau tetangganya, atau yang semisal mereka. Di samping itu ia harus menaruh perhatian pada sholat dan hatinya sibuk dengannya, sehingga jika waktu sudah dekat ia akan merasakannya meskipun ia sedang tidur.” Selesai kutipan.
وقال رحمه الله: الحكم أنه لا يجوز لأحد أن يتهاون في الصلاة حتى يخرج وقتها، وإذا كان الإنسان نائما فإنه بإمكانه أن يوكل من يوقظه حتى يصلي ولا بد من ذلك. انتهى.
Beliau rahimahullah berkata: “Hukumnya adalah tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk meremehkan sholat hingga keluar waktunya. Jika seseorang sedang tidur, maka sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk mewakilkan orang yang membangunkannya agar ia bisa sholat, dan hal itu harus dilakukan.” Selesai kutipan.
وقال: إذا كان بإمكانه أن ينام مبكراً ليستيقظ مبكراً، أو يجعل عنده ساعة تنبهه، أو يوصي من ينبهه فإن تأخيره الصلاة وعدم قيامه يعتبر تعمداً لتأخير الصلاة عن وقتها فلا تقبل منه. انتهى.
Beliau berkata: “Jika ia memungkinkan untuk tidur lebih awal agar bisa bangun lebih awal, atau menyediakan jam yang membangunkannya, atau berpesan kepada orang yang membangunkannya, maka tindakannya mengakhirkan sholat dan tidak bangun dianggap sebagai kesengajaan mengakhirkan sholat dari waktunya, sehingga (sholat tersebut) tidak diterima darinya.” Selesai kutipan.
ويدل لقوة هذا القول، قول النبي صلى الله عليه وسلم الثابت في الصحيح:
Dan yang menunjukkan kuatnya pendapat ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tsabit dalam ash-shohih:
فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَلَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
“Maka jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan atas suatu sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
فهو أمرٌ بالأخذ بالأسباب المؤدية إلى ألا يُغلب المكلف على الصلاة. والقول بوجوب الأخذ بأسباب الاستيقاظ قول وجيه، ودليله قوي.
Maka ini adalah perintah untuk mengambil sebab-sebab yang mengantarkan agar seorang mukallaf tidak dikalahkan (oleh tidur) atas sholat. Dan pendapat tentang wajibnya mengambil sebab-sebab bangun tidur adalah pendapat yang kuat alasannya (wajih) dan dalilnya pun kuat.
وعليه فزعمُ عدم سماع النداء مع التقصير في الأخذ بالأسباب موجبٌ للحوق الوعيد، نسأل الله العافية.
Oleh karena itu, klaim tidak mendengar panggilan (adzan) disertai dengan kelalaian dalam mengambil sebab-sebab mengakibatkan terkena ancaman (wa‘id), kita memohon keselamatan kepada Allah.
وأما إن كان المقصود بتفويت الصلاة تفويت الجماعة لأجل عدم سماع النداء، فإن الجماعة إنما تجبُ على من يسمع النداء، لقول النبي صلى الله عليه وسلم للأعمى:
Adapun jika yang dimaksud dengan melewatkan sholat adalah melewatkan jama‘ah dikarenakan tidak mendengar panggilan (adzan), maka sesungguhnya jama‘ah itu hanyalah wajib bagi orang yang mendengar adzan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang buta:
أَتَسْمَعُ النِّدَاءَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَجِبْ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً
“Apakah engkau mendengar panggilan (adzan)? Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Maka penuhilah, karena aku tidak mendapati adanya keringanan bagimu.” (HR. Muslim)
ومع هذا فالأولى لكل مسلم أن يحرص على فعل الصلاة في الجماعة ما أمكن، لما يترتب على فعلها من عظيم الأجر، وجزيل الثواب.
Meskipun demikian, yang lebih utama bagi setiap muslim adalah bersemangat dalam melaksanakan sholat secara berjamaah sebisa mungkin, dikarenakan besarnya pahala dan balasan yang melimpah yang dihasilkan dari melaksanakannya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply