منافع الامتناع عن شهوة الجسد للصائم
Manfaat Menahan Syahwat Jasad bagi Orang yang Berpuasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Manfaat Menahan Syahwat Jasad bagi Orang yang Berpuasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
لماذا لا تجوز العلاقة الجنسية بين الرجل والمرأة في رمضان ؟
Mengapa tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan di siang hari pada bulan Ramadhan?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabat-nya. Amma ba’du:
فرمضان من مواسم الخيرات التي امتن الله بها على عباده ليقوى إيمانهم وتزداد تقواهم، وتتعمق صلتهم بربهم؛ فقد قال الله تعالى:
Maka Ramadhan termasuk di antara musim kebaikan yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya agar iman mereka semakin kuat, taqwa mereka bertambah, serta hubungan mereka dengan Tuhannya semakin mendalam. Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة: ١٨٣]
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183]
وفي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال الله عز وجل:
Dan dalam ash-shohihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya…” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
وهذا لفظ البخاري. وفي رواية له:
Dan ini adalah lafadz milik Al-Bukhari. Dalam riwayat lain miliknya disebutkan:
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
“Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya demi Aku.” (HR. Al-Bukhari)
ومعلوم أن هذا الترك للطعام والشراب والشهوة إنما هو في نهار رمضان، دون ليله، ليتحقق من وراء ذلك عدة فوائد جمة، لا يمكن تحقيقها إلا عن طريق الصيام.
Telah dimaklumi bahwa tindakan meninggalkan makanan, minuman, dan syahwat ini hanyalah terjadi pada siang hari di bulan Ramadhan, bukan pada malam harinya. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan berbagai manfaat besar yang tidak mungkin tercapai kecuali melalui jalan puasa.
فقد شرع الله الصيام لتهذيب نفس الصائم بكبحها عن شهواتها وفطامها عن مألوفاتها، ليُرَبي المسلم من خلال ذلك على قوة العزيمة ومضاء الإرادة، ويجعله متحكماً في شهوات نفسه وأهوائها.
Sungguh Allah telah mensyariatkan puasa untuk mendidik jiwa orang yang berpuasa dengan mengekang syahwat-nya serta menyapihnya dari hal-hal yang sudah menjadi kebiasaannya. Hal ini bertujuan agar seorang muslim terdidik untuk memiliki kekuatan tekad dan kemauan yang kuat, serta menjadikannya mampu mengendalikan syahwat jiwa dan hawa nafsunya.
متمكناً من السيطرة عليها والإمساك بزمامها، بحيث لا يكون مستسلماً لها، بل مستسلماً لأوامر ربه خاضعاً منقاداً لنواهيه، مؤثراً لمحابه -سبحانه- مقدما لها على رغبات الجسد وشهواته.
Ia menjadi mampu menguasai nafsunya dan memegang kendalinya, sehingga ia tidak menjadi budak yang menyerah kepada nafsunya. Sebaliknya, ia berserah diri kepada perintah-perintah Tuhannya, tunduk dan patuh kepada larangan-larangan-Nya, lebih mengutamakan apa yang dicintai oleh-Nya —Subhanahu— serta mendahulukannya di atas keinginan-keinginan jasad dan syahwat-nya.
والشهوة الجنسية من أعظم شهوات الجسد التي يطالب المسلم بالتحكم فيها، وهذا ما يحققه الصوم.
Dan syahwat seksual termasuk di antara syahwat jasad yang paling besar di mana seorang muslim dituntut untuk mengendalikannya, dan inilah yang diwujudkan oleh ibadah puasa.
يقول الإمام الرازي: إن الصوم يورث التقوى لما فيه من انكسار الشهوة وانقماع الهوى، فإنه يردع عن الأشر والبطر والفواحش، ويهون لذات الدنيا ودياستها.
Imam Ar-Razi berkata: “Sesungguhnya puasa membuahkan taqwa dikarenakan di dalamnya terdapat upaya mematahkan syahwat dan menundukkan hawa nafsu. Ia mencegah dari sikap angkuh, sombong, dan perbuatan keji, serta meremehkan kelezatan dunia dan kerendahannya.”
وذلك لأن الصوم يكسر شهوة البطن والفرج، فمن أكثر منه هان عليه هذان الأمران، وخفت عليه مؤونتهما، فكان ذلك رادعاً عن ارتكاب الفواحش والمحارم، وذلك جامع لأسباب التقوى.
“Hal itu karena puasa mematahkan syahwat perut dan kemaluan. Maka barangsiapa yang memperbanyak puasa, niscaya kedua perkara ini akan menjadi ringan baginya dan beban keduanya akan berkurang. Dengan demikian, puasa menjadi penghalang dari melakukan perbuatan keji dan hal-hal yang diharamkan, dan itu semua menghimpun sebab-sebab taqwa.”
وللفائدة انظر الفتوى الأخرى هنا.
Untuk tambahan manfaat silakan lihat fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply