مقارنة الصلاة بالرياضة جهل فاضح
Membandingkan Sholat dengan Olahraga adalah Kebodohan yang Nyata
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Membandingkan Sholat dengan Olahraga adalah Kebodohan yang Nyata ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
ما الفرق بين الصلاة والرياضات؟
Apa perbedaan antara sholat dan olahraga?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فإن الصلاة فرض من الخالق جل جلاله، والرياضات شيء من وضع المخلوق، قال تعالى:
Sesungguhnya sholat adalah kewajiban (fardhu) dari Sang Pencipta Jalla Jalaluhu, sedangkan olahraga adalah sesuatu yang dibuat oleh makhluk. Allah Ta‘ala berfirman:
هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ [لقمان: ١١]
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahanmu selain Allah.” [Luqman: 11]
فالصلاة أمر رباني لا تستطيع العقول أن تأتي بمثله – مهما بلغت درجة ذكائها – ولا دخل للأنبياء في إيجادها، فهي أمر توقيفي، أمرنا أن نتعبد الله به.
Maka sholat adalah urusan Rabbani (ketuhanan) yang akal tidak akan mampu menghasilkan yang semisal dengannya —bagaimanapun tingkat kecerdasannya— dan para Nabi pun tidak memiliki andil dalam menciptakannya. Ia adalah perkara tawqifi (berdasarkan wahyu), yang kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengannya.
والصلاة صلة دائمة بين العبد وربه، وفيها يكون العبد بين يدي الله مناجياً بلغة المخاطب الحاضر (إياك).
Dan sholat adalah hubungan (shilah) yang permanen antara hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya hamba berdiri di hadapan Allah seraya bermunajat dengan bahasa lawan bicara yang hadir (Iyyaka – Hanya kepada-Mu).
ولذلك لا ينفك وجوبها عن الإنسان في حال من أحواله ما دام عقله عنده، ولأهميتها لم تفرض في الأرض مثل باقي الفروض، ولا نزل بأمرها ملك.
Oleh karena itu, kewajibannya tidak terlepas dari manusia dalam kondisi apa pun selama akalnya masih ada. Dikarenakan urgensinya, sholat tidak diwajibkan di bumi seperti kewajiban-kewajiban lainnya, dan perintahnya pun tidak diturunkan melalui malaikat.
بل استدعي لأجلها النبي صلى الله عليه وسلم فتخطى السموات السبع، حتى فرضت عليه الصلاة، وهي عمود الدين الذي لا يقوم إلا به.
Melainkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipanggil secara khusus karenanya hingga beliau melewati tujuh langit sampai sholat diwajibkan atas beliau. Ia adalah tiang agama yang agama tidak akan tegak tanpanya.
فقد روى الترمذي من حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه أنه قال: قال صلى الله عليه وسلم:
Sungguh At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ
“Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat.”
وهي العهد بين الله وبين عباده، روى ابن أبي شيبة وأحمد وأبو داود والترمذي وصححه، والنسائي وابن ماجه وابن حبان والحاكم وصححه من حديث بريدة رضي الله عنه أنه قال: قال صلى الله عليه وسلم:
Dan ia adalah perjanjian antara Allah dengan hamba-hamba-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim serta ia menshahihkannya dari hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian yang ada di antara kami dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.”
ولهذا كانت أول ما يُسال عنه العبد يوم القيامة، وعليها مدار صلاح أمره.
Oleh karena itu, sholat menjadi hal pertama yang akan ditanyakan kepada hamba pada hari kiamat, dan padanyalah berputar poros baiknya urusan hamba.
والصلاة ليست حركات جوفاء فتقارنها بالحركات الرياضية، إنما الصلاة حضور الإنسان كله: بجسده، وعقله، وقلبه، خاشعاً بين يدي ربه.
Dan sholat bukanlah gerakan-gerakan hampa sehingga Anda membandingkannya dengan gerakan-gerakan olahraga. Sesungguhnya sholat adalah kehadiran manusia seutuhnya: dengan jasadnya, akalnya, dan hatinya, dalam kondisi khusyuk di hadapan Tuhannya.
والحركات فيها تعبر عن خضوع الإنسان واستسلامه وذله لخالقه سبحانه، وما فيها من القيام، والركوع، والسجود لا يخرج عن هذا المعنى.
Gerakan-gerakan di dalamnya mengekspresikan ketundukan manusia, penyerahan dirinya, dan kerendahannya di hadapan Penciptanya Subhanahu. Apa yang ada di dalamnya berupa berdiri (qiyam), ruku, dan sujud tidaklah keluar dari makna ini.
وهي ذكر وتلاوة وثناء وتقديس باللسان لله عز وجل، وفيها يحيي العبد ربه بلسان العابد الخاشع المؤمن حين يقول: “التحيات لله..”.
Ia adalah dzikir, tilawah, pujian (tsana’), dan penyucian (taqdis) dengan lisan bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Di dalamnya hamba memberikan penghormatan kepada Tuhannya dengan lisan seorang ahli ibadah yang khusyuk lagi beriman ketika ia mengucapkan: “At-Tahiyyatulillah…” (Segala penghormatan milik Allah).
فكل التحيات لا تكون حقيقة إلا له سبحانه، وأداء المؤمن للصلاة ولاء منه لمولاه تعالى، وتركها ولاء للشيطان، قال تعالى:
Maka segala bentuk penghormatan tidaklah menjadi hakiki kecuali hanya milik-Nya Subhanahu. Pelaksanaan sholat oleh seorang mukmin merupakan bentuk loyalitas (wala’) darinya kepada Pelindungnya (Allah), sedangkan meninggalkannya adalah bentuk loyalitas kepada setan. Allah Ta‘ala berfirman:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [البقرة: ٢٥٧]
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah: 257]
وبأداء الصلاة – كما أمر الله – تنمحي الذنوب، فقد روى أحمد وابن ماجه من حديث عثمان رضي الله عنه أنه قال: قال صلى الله عليه وسلم:
Dan dengan melaksanakan sholat —sebagaimana yang diperintahkan Allah— dosa-dosa akan terhapus. Sungguh Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ تُذْهِبُ الذُّنُوبَ، كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَّرَنَ
“Sholat lima waktu melenyapkan dosa-dosa, sebagaimana air melenyapkan kotoran.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, juga diriwayatkan At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah)
والصلاة تنهى المسلم عن فعل المنكرات، قال تعالى:
Dan sholat mencegah seorang muslim dari melakukan kemungkaran. Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ [العنكبوت: ٤٥]
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabut: 45]
فهل بعد هذا كله – وغيره كثير جداً – يمكن أن تعقد مقارنة بين صلاة هي صلة وهداية، وحكمة وعبادة، وبين رياضات العبيد الجوفاء التي هي هوى ولهو ولعب؟!
Maka setelah semua ini —dan masih banyak lagi yang lainnya— mungkinkah dibuat perbandingan antara sholat yang merupakan sarana hubungan, hidayah, hikmah, dan ibadah, dengan olahraga para hamba yang hampa yang merupakan hawa nafsu, senda gurau, dan permainan?!
فما ينبغي للإنسان إذا كان مسلماً حقاً إلا أن يسلم لأمر خالقه – سبحانه – بقلبه وعقله، وينفذه بجوارحه ليفوز برضا الله وجنته، قال تعالى:
Maka tidak seyogianya bagi manusia jika ia benar-benar seorang muslim melainkan berserah diri pada perintah Penciptanya —Subhanahu— dengan hati dan akalnya, serta melaksanakannya dengan anggota tubuhnya agar beruntung mendapatkan ridha Allah dan surga-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [الكهف: ١١٠]
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Al-Kahfi: 110]
ومن تكبر واتبع هواه، واستحسن زبالة أفكار شيطانية ملحدة، لم ينل إلا سخط ربه وغضبه وعذابه خالداً مخلداً فيه، قال تعالى:
Dan barangsiapa yang sombong serta mengikuti hawa nafsunya, dan menganggap baik sampah pemikiran setan yang ateis, ia tidak akan mendapatkan kecuali kemurkaan Tuhannya, kemarahan-Nya, dan azab-Nya dengan kekal di dalamnya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ [طه: ١٢٤-١٢٦]
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan’.” [Thaha: 124-126]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply