Allah Melebihkan Sebagian Kalian atas Sebagian yang Lain dalam Rezeki



والله فضل بعضكم على بعض في الرزق

Allah Melebihkan Sebagian Kalian atas Sebagian yang Lain dalam Rezeki

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Allah Melebihkan Sebagian Kalian atas Sebagian yang Lain dalam Rezeki ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

أخبر سبحانه في هذه الآية، وفي غيرها من الآيات، عن سُنَّة أقام الله عليها الحياة، وفطرةٍ فطر الناس عليها؛ سُنَّة ماضية بمضاء الحياة، لا تتبدل ولا تتغير؛ إنها سُنَّة التفاضل والتفاوت في الرزق، وأسباب الحياة الأخرى المادية والمعنوية.

Allah Subhaanahu mengabarkan dalam ayat ini, dan dalam ayat-ayat lainnya, tentang sebuah sunnah yang Allah tetapkan atas kehidupan ini, serta fithrah yang Allah ciptakan pada manusia; sebuah sunnah yang terus berlaku seiring berjalannya kehidupan, tidak berganti dan tidak pula berubah. Itulah sunnah tafaadhul (keunggulan) dan perbedaan dalam rezeki, serta sebab-sebab kehidupan lainnya baik yang bersifat materi maupun maknawi.

وإذا كانت آيات أُخر قد أخبرت وأثبتت أن الرزق بيد الله سبحانه ومن الله، فإن هذه الآية قد جاءت لتقرر أمرًا آخر، إنه أمر التفاوت والتفاضل بين العباد، لأمر يريده الله، قد يكون ابتلاء واختبارًا، وقد يكون غير ذلك؛ فقد تجد أعقل الناس وأجودهم رأيًا وحكمة مقتَّرًا عليه في الرزق، وبالمقابل تجد أجهل الناس وأقلهم تدبيرًا موسعًا عليه في الرزق؛ وكلا الرجلين قد حصل له ما حصل قهرًا عليه، فالمقتَّر عليه لا يدري أسباب التقتير في رزقه، والموسَّع عليه لا يدري أسباب التيسير، ذلك لأن الأسباب كثيرة ومترابطة ومتوغِّلة في الخفاء، حتى يُظن أن أسباب الأمرين مفقودة وما هي كذلك، ولكنها غير محاط بها.

Apabila ayat-ayat lain telah mengabarkan dan menetapkan bahwa rezeki berada di tangan Allah Subhaanahu dan bersumber dari Allah, maka ayat ini datang untuk menetapkan perkara lain, yaitu perkara perbedaan dan kelebihan antara satu hamba dengan hamba lainnya, dikarenakan suatu urusan yang Allah kehendaki, yang bisa jadi merupakan cobaan dan ujian, atau mungkin yang lainnya. Engkau mungkin mendapati orang yang paling berakal, paling baik pendapatnya, dan paling bijak, justru disempitkan rezeki-nya. Sebaliknya, engkau mendapati orang yang paling bodoh dan paling buruk pengelolaannya, justru diluaskan rezeki-nya. Kedua orang tersebut mendapatkan apa yang mereka dapatkan sebagai suatu ketetapan atas mereka. Orang yang disempitkan tidak mengetahui sebab kesempitan rezeki-nya, dan orang yang diluaskan tidak mengetahui sebab kemudahannya. Hal itu dikarenakan sebab-sebabnya sangat banyak, saling berkaitan, dan tersembunyi jauh di dalam kegaiban, hingga disangka bahwa sebab dari kedua kondisi tersebut tidak ada, padahal tidaklah demikian, melainkan sebab-sebab tersebut tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia.

كتب عمر رضي الله عنه رسالة إلى أبي موسى الأشعري، يقول له فيها: واقنع برزقك من الدنيا، فإن الرحمن فضَّل بعض عباده على بعض في الرزق، بلاء يبتلي به كلاً، فيبتلي من بسط له، كيف شكره لله وأداؤه الحق الذي افترض عليه فيما رزقه وخوله.

‘Umar radhiyallaahu ‘anhu menulis sepucuk surat kepada Abu Muusa al Asy’ariy, beliau berkata di dalamnya: “Berpuaslah dengan rezeki-mu dari dunia, karena sesungguhnya ar Rahman telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain dalam rezeki, sebagai ujian yang Dia gunakan untuk menguji setiap orang. Dia menguji orang yang dilapangkan baginya, bagaimana ia syukur kepada Allah dan penunaian hak yang diwajibkan atasnya pada apa yang telah Allah rezeki-kan dan anugerahkan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim).

قال الشوكاني عند تفسير هذه الآية: “فجعلكم متفاوتين فيه – أي الرزق – فوسَّع على بعض عباده، حتى جعل له من الرزق ما يكفي ألوفًا مؤلَّفة من بني آدم، وضيَّقه على بعض عباده، حتى صار لا يجد القوت إلا بسؤال الناس والتكفف لهم، وذلك لحكمة بالغة تقصر عقول العباد عن تعقلها والاطلاع على حقيقة أسبابها؛ وكما جعل التفاوت بين عباده في المال، جعله بينهم في العقل والعلم والفهم، وقوة البدن وضعفه، والحسن والقبح، والصحة والسقم، وغير ذلك من الأحوال”.

asy Syaukaaniy berkata saat menafsirkan ayat ini: “Dia menjadikan kalian bertingkat-tingkat di dalamnya —yakni rezeki— maka Dia meluaskan bagi sebagian hamba-Nya, hingga menjadikannya memiliki rezeki yang cukup bagi ribuan manusia. Dan Dia menyempitkannya bagi sebagian hamba-Nya yang lain, hingga ia tidak mendapati makanan kecuali dengan meminta-minta kepada manusia. Hal itu dikarenakan hikmah yang sangat dalam, yang mana akal para hamba tidak mampu memahaminya dan menyingkap hakikat sebab-sebabnya. Sebagaimana Dia menjadikan perbedaan di antara hamba-hamba-Nya dalam harta, Dia juga menjadikannya dalam akal, ilmu, pemahaman, kekuatan dan kelemahan badan, ketampanan dan keburukan rupa, kesehatan dan sakit, serta kondisi lainnya.”

وعلى هذا فمعنى الآية: أن الله سبحانه – لا غيره – بيده رزق عباده، وإليه يرجع الأمر في تفضيل بعض العباد على بعض، ولا يسع العبد إلا الإقرار بذلك، والتسليم لما قدره الله لعباده، من غير أن يعني ذلك عدم السعي وطلب الرزق والأخذ بالأسباب، فهذا غير مراد من الآية ولا يُفهم منها، ناهيك عن أن هذا الفهم يصادم نصوصًا أُخر تدعوا العباد إلى طلب أسباب الرزق، وتحثهم على السعي في تحصيله، قال تعالى:

Berdasarkan hal ini, makna ayat tersebut adalah: Sesungguhnya Allah Subhaanahu —bukan yang lain— yang memegang rezeki hamba-hamba-Nya, dan kepada-Nyalah kembalinya segala urusan dalam melebihkan sebagian hamba atas sebagian yang lain. Tidak ada pilihan bagi hamba kecuali mengakuinya dan berserah diri pada apa yang Allah takdirkan bagi hamba-hamba-Nya, tanpa berarti hal itu menafikan usaha, mencari rezeki, dan mengambil sebab-sebabnya. Hal ini bukanlah yang dimaksud oleh ayat dan tidak dapat dipahami darinya, apalagi pemahaman (pasrah tanpa usaha) tersebut berbenturan dengan nash-nash lain yang menyeru para hamba untuk mencari sebab-sebab rezeki dan mendorong mereka untuk berusaha meraihnya. Allah Ta’ala berfirman:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ} [الجمعة: 10]

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” [al Jumu’ah: 10]

وفي الحديث:

Dan dalam hadits:

(اعملوا فكل ميسر لما خُلق له)

“Bekerjalah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)

والنصوص في هذا المعنى كثيرة. على أنه من المفيد هنا التنبيه إلى أن التفاضل الذي أقامه سبحانه بين عباده ليس محصورًا ولا مقصورًا على التفاضل المادي، من مال ومنافع فحسب، بل هو أشمل من ذلك وأعم، إذ يدخل فيه التفاضل في العلم والعقل، والقوة والضعف، وغير ذلك مما هو مشاهد في حياة الناس؛ وإذا كان الأمر كذلك، فإن الموقف الرشيد والسديد من هذه السُّنَّة الكونية القناعة بما قسم الله ورزق، مع الأخذ بالأسباب لتحصيل كل ما هو مطلوب ومباح شرعًا، فالأمر منظور إليه من طرفين، طرف الرضى والقبول والاستسلام لأمر الله وقضائه، وطرف العمل والسعي المطلوب شرعًا.

Dan nash-nash dalam makna ini sangatlah banyak. Namun, sangat berguna di sini untuk mengingatkan bahwa kelebihan yang Allah Subhaanahu tetapkan di antara hamba-Nya tidaklah terbatas dan tidak pula terhenti pada kelebihan materi berupa harta dan manfaat saja, melainkan lebih luas dan lebih umum dari itu, karena mencakup pula perbedaan dalam ilmu, akal, kekuatan, kelemahan, dan hal-hal lain yang disaksikan dalam kehidupan manusia. Jika keadaannya demikian, maka sikap yang bijak dan benar terhadap sunnah kauniyyah ini adalah qana’ah dengan apa yang Allah bagikan dan rezeki-kan, sembari mengambil sebab-sebab untuk meraih segala sesuatu yang dituntut dan dibolehkan secara syara’. Perkara ini dipandang dari dua sisi: sisi ridha, penerimaan, dan berserah diri pada perintah serta ketetapan Allah, dan sisi amal serta usaha yang dituntut secara syara’.

أما الاستسلام السلبي الذي يشل حركة الإنسان، ويدفع به إلى القعود والتراكن والخنوع، فليس هو الموقف الصحيح والرشيد، بل هو موقف قاصر وناظر إلى طرف واحد من أطراف المعادلة، غافل عن نظر آخر لا بد من اعتباره والسعي على وَفْقِه، فشتان بين الموقفين. ثم إن هذه الآية على صلة وارتباط بآية أخرى في سورة النساء، وهي قوله تعالى: {وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ} (النساء:32) وسبب نزول هذه الآية – فيما رويَ – أن أمَّ سلمة رضي الله عنها، قالت: يا رسول الله، تغزو الرجال ولا نغزو، وإنما لنا نصف الميراث! فنزلت: {وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ} رواه الترمذي.

Adapun sikap pasrah yang pasif, yang melumpuhkan pergerakan manusia dan mendorongnya untuk duduk diam, bermalas-malasan, serta tunduk pada keadaan, bukanlah sikap yang benar dan bijak. Melainkan itu adalah sikap yang dangkal dan hanya memandang satu sisi dari persamaan, seraya lalai dari pandangan lain yang harus dipertimbangkan dan dijadikan landasan usaha; sungguh jauh perbedaan antara kedua sikap tersebut. Kemudian sesungguhnya ayat ini memiliki kaitan dan hubungan dengan ayat lain dalam surah an Nisa, yaitu firman-Nya Ta’ala: {Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain} (an Nisa: 32). Sebab turunnya ayat ini —sebagaimana yang diriwayatkan— adalah bahwasanya Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anhaa berkata: “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki berperang sedang kami tidak berperang, dan kami pun hanya mendapatkan setengah bagian warisan!” Maka turunlah: {Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain}. (HR. at Tirmidziy).

قال ابن عباس في تفسير هذه الآية: نهى الله سبحانه أن يتمنى الرجل مال فلان وأهله، وأَمَر عباده المؤمنين أن يسألوه من فضله. وقال الطبري في معنى الآية: ولا تتمنوا – أيها الرجال والنساء – الذي فضل الله به بعضكم على بعض من منازل الفضل ودرجات الخير، وليرضَ أحدكم بما قسم الله له من نصيب، ولكن سلوا الله من فضله.

Ibnu ‘Abbaas berkata dalam tafsir ayat ini: “Allah Subhaanahu melarang seseorang mengharapkan harta si fulan dan keluarganya, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk meminta kepada-Nya dari karunia-Nya.” Sedangkan at Thabariy berkata mengenai makna ayat ini: “Janganlah kalian mengharapkan —wahai laki-laki dan perempuan— apa yang Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain berupa kedudukan keutamaan dan derajat kebaikan, dan hendaklah masing-masing kalian ridha dengan apa yang Allah bagikan baginya berupa bagian, namun mintalah kepada Allah dari karunia-Nya.”

واعلم – أيها القارئ الكريم – أنه بسبب جهل بعض الناس بهذه السُّنَّة الكونية، دخل عليهم من الحسد والبلاء ما لا يحيط به قول ولا وصف، ولو قَنَع الناس بهذه السُّنَّة واستحضروها في تعاملهم ومعاملاتهم لكان أمر الحياة أمرًا آخر؛ أمَا وقد أعرض البعض عن فطرة خالقهم، ولم يسلموا ويستسلموا لِمَا أقامهم عليه، فقد عاشوا معيشة ضنكًا، وخسروا الدنيا قبل الآخرة. نسأل الله الكريم أن يرزقنا القناعة والرشاد والسداد في الأمر كله.

Ketahuilah —wahai pembaca yang mulia— bahwa disebabkan kebodohan sebagian orang terhadap sunnah kauniyyah ini, masuklah kepada mereka rasa dengki (hasad) dan petaka yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Seandainya manusia merasa cukup (qana’ah) dengan sunnah ini dan menghadirkan kesadaran akannya dalam pergaulan serta muamalah mereka, niscaya urusan kehidupan akan menjadi lain. Adapun ketika sebagian orang berpaling dari fithrah Khaaliq mereka, tidak berserah diri pada apa yang telah Dia tetapkan bagi mereka, maka mereka pun menjalani kehidupan yang sempit dan merugi di dunia sebelum di akhirat. Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia agar mengaruniakan kepada kita qana’ah, petunjuk, dan ketetapan dalam segala urusan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.