Dan Janganlah Kalian Menjadi Orang yang Pertama-tama Kafir Kepadanya



ولا تكونوا أول كافر به

Dan Janganlah Kalian Menjadi Orang yang Pertama-tama Kafir Kepadanya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dan Janganlah Kalian Menjadi Orang yang Pertama-tama Kafir Kepadanya ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran

في سياق تذكير القرآن بني إسرائيل بفضل الله وما أسبغه عليهم من نِعَم ظاهرة وباطنة، والذي بدأ الخطاب بقول الله تعالى:

Dalam konteks al Qur’an mengingatkan Banu Israil akan keutamaan Allah dan apa yang telah Dia limpahkan kepada mereka berupa nikmat-nikmat lahir maupun batin, yang mana khithab (seruan) ini dimulai dengan firman Allah Ta’ala:

{يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ} [البقرة: 40]

“Wahai Banu Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” [al Baqarah: 40]

إلى أن قال:

Hingga Dia berfirman:

{وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ} [البقرة: 41]

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya.” [al Baqarah: 41]

نتوقف مع هذه الآية الأخيرة، لنستشف ما تحمله من دلالات ومعان: الخطاب في الآية كما هو ظاهر لليهود من أهل الكتاب، وقوله تعالى: {بما أنزلت} المقصود بالمنَـزَّل هنا القرآن الكريم، أي: آمنوا بما جاء في القرآن من الأحكام والمبشرِّات بنبوة محمد صلى الله عليه وسلم، وظهور الإسلام على غيره من الأديان، كما جاء ذلك في كتبكم التوراة والإنجيل.

Kita berhenti sejenak pada ayat terakhir ini, untuk menyingkap apa yang dikandungnya dari indikasi dan makna-makna: Seruan dalam ayat ini sebagaimana yang nampak adalah ditujukan kepada kaum Yahudi dari kalangan Ahlul Kitab. Dan firman-Nya Ta’ala: {kepada apa yang telah Aku turunkan}, yang dimaksud dengan yang diturunkan di sini adalah al Qur’an al Kariim; artinya: berimanlah kepada apa yang datang di dalam al Qur’an berupa hukum-hukum dan kabar-kabar gembira tentang kenabian Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, serta kemenangan Islam di atas agama-agama lainnya, sebagaimana hal itu telah datang di dalam kitab-kitab kalian, at Tawrah dan al Injiil.

وقوله تعالى: {ولا تكونوا أول كافر به} عطف على قوله سبحانه: {وآمنوا بما أنزلت} وهو ارتقاء في الدعوة، واستجلاب للقلوب. وجاء الضمير في قوله تعالى: {ولا تكونوا} بصيغة الجمع، بينما جاء قوله: {كافر} بصيغة الإفراد، وحقه أن يكون جمعًا، ليناسب الضمير قبله؛ قالوا: إنما جاء به مفردًا، ولم يقل: ( كافرين ) حتى يطابق ما قبله؛ لأنه وصف لموصوف محذوف مفرد اللفظ، متعدد المعنى، تقديره: فريق، وعلى هذا فالمعنى: ولا تكونوا أول فريق يكفر بالقرآن وما جاء به.

Dan firman-Nya Ta’ala: {dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya} merupakan ‘athaf (penyambung) terhadap firman-Nya Subhaanahu: {dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan}, dan ini merupakan peningkatan dalam dakwah serta upaya untuk menarik hati. Dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya Ta’ala: {dan janganlah kalian (jamak)} datang dalam bentuk jamak, sementara firman-Nya: {kaafir (tunggal)} datang dalam bentuk mufrad (tunggal), padahal seharusnya ia berbentuk jamak agar sesuai dengan dhamir sebelumnya. Para ulama berkata: Sesungguhnya ia datang dalam bentuk tunggal agar sesuai dengan apa yang sebelumnya; karena ia merupakan sifat bagi maushuf yang dihilangkan yang lafaznya tunggal namun maknanya jamak, estimasinya adalah: fariq (kelompok). Atas dasar ini, maknanya adalah: Janganlah kalian menjadi kelompok pertama yang kafir terhadap al Qur’an dan apa yang dibawanya.

ثم إنه سبحانه قال: {أول كافر به} مع أنه قد سبقهم إلى الكفر به كفار قريش؛ ووجَّه المفسرون ذلك بأن المراد: أول كافر به من أهل الكتاب، لأنهم العارفون بما يجب للأنبياء، وما يلزم من التصديق بما جاؤوا به؛ وعلى هذا فالضمير في قوله: {بـه} عائد إلى النبي صلى الله عليه وسلم، أي: لا تكونوا أول كافر بهذا النبي صلى الله عليه وسلم، مع كونكم قد وجدتموه مكتوبًا عندكم في التوراة والإنجيل، مبشَّرًا به في الكتب المنـزلة عليكم.

Kemudian sesungguhnya Dia Subhaanahu berfirman: {orang yang pertama-tama kafir kepadanya}, padahal telah mendahului mereka dalam kekafiran kepadanya orang-orang kafir Quraisy. Para pakar tafsir menjelaskan hal itu bahwa yang dimaksud adalah: orang yang pertama-tama kafir kepadanya dari kalangan Ahlul Kitab, karena merekalah orang-orang yang mengetahui apa yang wajib bagi para nabi, dan apa yang diharuskan berupa pembenaran terhadap apa yang mereka bawa. Atas dasar ini, maka dhamir dalam firman-Nya: {kepadanya} merujuk kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; artinya: janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepada Nabi ini shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sementara kalian telah mendapatinya tertulis di sisi kalian dalam at Tawrah dan al Injiil, sebagai orang yang dikabarkan gembira kedatangannya dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada kalian.

على أنه يمكن إرجاع الضمير أيضًا إلى القرآن، وعليه يكون المعنى: لا تكونوا أول كافر بالقرآن، ومعلوم أن مما جاء في القرآن، إثبات نبوة محمد صلى الله عليه وسلم وصدق رسالته؛ واختار ابن جرير الطبري أن الضمير في قوله: {بـه} عائد على القرآن، الذي تقدم ذكره في قوله: {بما أنزلت} وكلا القولين صحيح، لأنهما متلازمان؛ إذ الإيمان بالقرآن يستلزم الإيمان برسالة محمد صلى الله عليه وسلم، والإيمان برسالة محمد صلى الله عليه وسلم، يستلزم الإيمان بالقرآن.

Meskipun dimungkinkan juga untuk mengembalikan dhamir tersebut kepada al Qur’an, dan atas dasar itu maknanya menjadi: Janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepada al Qur’an. Dan telah diketahui bahwa di antara apa yang datang dalam al Qur’an adalah penetapan kenabian Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran risalah-nya. Ibnu Jariir at Thabariy memilih bahwa dhamir dalam firman-Nya: {kepadanya} merujuk kepada al Qur’an, yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya: {kepada apa yang telah Aku turunkan}. Kedua pendapat ini benar, karena keduanya saling melazimkan; sebab iman kepada al Qur’an melazimkan iman kepada risalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan iman kepada risalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam melazimkan iman kepada al Qur’an.

يرشد لهذا المعنى قول الحسن والسدي والربيع بن أنس: من كفر بالقرآن فقد كفر بمحمد صلى الله عليه وسلم، ومن كفر بمحمد صلى الله عليه وسلم فقد كفر بالقرآن. وقال ابن عباس رضي الله عنهما: ولا تكونوا أول كافر به، وعندكم فيه من العلم ما ليس عند غيركم.

Hal ini ditunjukkan oleh perkataan al Hasan, as Suddiy, dan ar Rabii’ bin Anas: “Barangsiapa kafir kepada al Qur’an maka ia telah kafir kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa kafir kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah kafir kepada al Qur’an.” Dan Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa berkata: “Dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya, padahal di sisi kalian terdapat ilmu tentangnya yang tidak dimiliki oleh selain kalian.”

على أن التقيد في الآية بـ {أول} لا مفهوم له؛ إذ ليس المقصود من الآية النهي عن الكفر أولاً فحسب، بل المقصود النهي عن ذلك دائمًا وعلى كل حال، وخُصَّ الأول بالذكر لأن التقدم والسبق إليه أغلظ وأشنع، فكان الأول والأخر في الحكم سواء؛ فقوله جلَّ ثناؤه: {أول كافر به} يعني أول من كفر به من بني إسرائيل، لأنه قد تقدمهم من كفار قريش وغيرهم من العرب بشر كثير، لم يؤمنوا بما جاء القرآن به. وفي تقرير هذا المعنى يقول أبو العالية: ولا تكونوا أول من كفر بمحمد صلى الله عليه وسلم، يعني من جنسكم أهل الكتاب، بعد سماعكم بمبعثه.

Bahwasanya pembatasan dalam ayat dengan kata {pertama} tidak memiliki mafhuum; sebab maksud dari ayat ini bukan hanya larangan dari kekafiran di awal saja, melainkan maksudnya adalah larangan dari hal tersebut selamanya dan dalam setiap keadaan. Kata “pertama” dikhususkan penyebutannya karena melangkah maju dan mendahului dalam kekafiran itu lebih berat dan lebih buruk. Maka firman-Nya Jalla Tsanaa-uhu: {orang yang pertama-tama kafir kepadanya} berarti orang pertama yang kafir kepadanya dari kalangan Banu Israil, karena sesungguhnya telah mendahului mereka dari kalangan kafir Quraisy dan bangsa Arab lainnya manusia yang banyak. Dalam menetapkan makna ini, Abu al ‘Aaliyah berkata: “Dan janganlah kalian menjadi orang pertama yang kafir kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yakni dari jenis kalian sesama Ahlul Kitab, setelah kalian mendengar tentang pengutusannya.”

إذا عُلِمَ هذا، نقول: إن قوله تعالى: {ولا تكونوا أول كافر به} يحتمل وجوهًا من المعاني، إليك بيانها: الأول: أن النهي عن الكفر بالقرآن وما جاء به، هو تأكيد لطلب الإيمان به؛ إذ الإيمان والكفر نقيضان لا يجتمعان، إذا انتفى أحدهما ثبت الآخر، فكان النهي عن أن يكونوا أول الكافرين، يستلزم أن يكونوا أول المؤمنين، وعلى هذا فالمقصود من النهي توبيخهم على تأخرهم في اتباع دعوة الإسلام.

Jika hal ini telah diketahui, kami katakan: Sesungguhnya firman Allah Ta’ala: {dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya} mengandung beberapa segi makna: Pertama, bahwa larangan dari kufur terhadap al Qur’an adalah penegasan atas tuntutan iman kepadanya; karena iman dan kufur adalah dua hal yang bertolak belakang. Larangan bagi mereka untuk menjadi orang yang pertama kafir, melazimkan agar mereka menjadi orang-orang yang pertama beriman. Maksud dari larangan tersebut adalah mencela mereka atas keterlambatan mereka dalam mengikuti dakwah Islam.

الثاني: أن يكون المقصود التعريض بالمشركين، وبيان أنهم أشد كفرًا من اليهود، والمعنى على هذا: لا تكونوا أيها اليهود أشد كفرًا من المشركين الذين كانوا سابقين في الكفر بما جاء به محمد صلى الله عليه وسلم .

Kedua, bahwa yang dimaksud adalah sindiran terhadap kaum musyrikin, dan penjelasan bahwa mereka lebih parah kekafirannya daripada kaum Yahudi. Maknanya adalah: Janganlah kalian wahai kaum Yahudi menjadi lebih parah kekafirannya daripada kaum musyrikin yang telah mendahului dalam kekafiran terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

الثالث: أن يكون المراد من {أول} المبادرة والمسارعة إلى الإيمان، كقوله تعالى:

Ketiga, bahwa yang dimaksud dari {pertama} adalah bersegera dan bergegas menuju iman, seperti firman-Nya Ta’ala:

{قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ} [الزخرف: 81]

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula menyembah (anak itu).’” [az Zukhruf: 81]

أي: أول المسارعين والمبادرين للالتزام بشرع الله، ونبذ ما سواه من الشرائع البشرية والوضعية. الرابع: أن يكون {أول} كناية عن القدوة في الأمر، والمعنى عليه: لا تكونوا كافرين بهذا القرآن، فتكونوا قدوة لمن جاء بعدكم، وبئس القدوة تلك.

Yaitu: orang pertama yang bersegera untuk berkomitmen pada syari’at Allah. Keempat, bahwa {pertama} merupakan kiasan bagi keteladanan. Maknanya: Janganlah kalian menjadi orang-orang yang kafir kepada al Qur’an ini, sehingga kalian menjadi teladan (buruk) bagi orang-orang yang datang setelah kalian.

وكما ترى، فإن الآية تحتمل هذه المعاني كلها ولا تأباها؛ على أن الآية وإن كانت خطابًا لليهود في عهد الرسالة، بيد أنها تفيد خطاب الناس كافة، زمانًا ومكانًا؛ إذ هي دعوة للناس أجمعين للإيمان بهذا الدين، والتزام أحكامه أمرًا ونهيًا، وترك ما سواه من الأديان السماوية المنسوخة والمحرفة، ونبذ الشرائع الوضعية التي استحدثها الناس، فضلوا بها وأضلوا عن سواء السبيل.

Sebagaimana yang engkau lihat, ayat tersebut mengandung seluruh makna ini. Meskipun merupakan seruan bagi kaum Yahudi di masa risalah, namun ia memberikan faedah seruan bagi seluruh manusia; karena ia adalah dakwah bagi seluruh manusia untuk beriman kepada agama ini, berkomitmen pada hukumnya, meninggalkan selainnya dari agama samawi yang telah dihapus dan diubah, serta mencampakkan syari’at buatan manusia yang menyesatkan.

والله يرشدني وإياك إلى صواب القول، وحُسْن القصد.

Dan Allah-lah yang membimbingku dan engkau kepada ucapan yang benar dan niat yang baik.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.