Dan Memintalah Pertolongan dengan Sabar dan Shalat



واستعينوا بالصبر والصلاة

Dan Memintalah Pertolongan dengan Sabar dan Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dan Memintalah Pertolongan dengan Sabar dan Shalat ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

بعد أن توجَّه الخطاب القرآني إلى بني إسرائيل – والعلماء منهم خاصة – بالترهيب والإنكار والتوبيخ على ما كان منهم؛ انتقل إلى أسلوب الترغيب والتحفيز، فجاء الأمر بالاستعانة بالصبـر، إذ به ملاك الهدى والسداد؛ وجاء الأمر بالاستعانة بالصلاة، إذ بها الفلاح والرشاد.

Setelah khithab al Qur’ani (seruan Al-Qur’an) diarahkan kepada Banu Israil —khususnya para ulama mereka— dengan nada peringatan, pengingkaran, dan celaan atas apa yang mereka perbuat; kini beralih kepada metode targhiib (memberi kabar gembira) dan motivasi. Maka datanglah perintah untuk memohon pertolongan dengan shabr (sabar), karena padanya terdapat kunci hidayah dan ketetapan; serta perintah untuk memohon pertolongan dengan shalaat, karena padanya terdapat keberuntungan dan bimbingan.

وبيان ذلك: أن مما يصد الناس عن اتباع الدين القويم إلفهم بأحوالهم القديمة، وضعف النفوس عن تحمل مفارقتها، فإذا تخلَّقوا بأخلاق الصبر سهل عليهم اتباع الحق، ومفارقة ما أَلْفَوْه من عادات جاهلية، وأعراف لا يقرها الشرع الحنيف.

Penjelasannya adalah: Bahwa di antara hal yang menghalangi manusia untuk mengikuti agama yang lurus adalah kebiasaan mereka terhadap kondisi lama mereka, serta lemahnya jiwa untuk menanggung perpisahan dengan kebiasaan tersebut. Apabila mereka berakhlak dengan akhlak sabar, maka akan mudah bagi mereka untuk mengikuti kebenaran dan meninggalkan apa yang telah mereka akrab dengannya berupa adat-adat jahiliyah serta norma-norma yang tidak diakui oleh syari’at yang lurus ini.

ومن هنا جاء الأمر لبني إسرائيل بالاستعانة بالصبر على الوفاء بما عاهدوا الله عليه في طاعته واتباع أمره، وترك ما يميلون إليه من الرياسة وحب الدنيا، ومن ثم التسليم لأمر الله، واتباع رسوله محمد صلى الله عليه وسلم.

Dari sinilah datang perintah kepada Banu Israil untuk memohon pertolongan dengan sabar dalam memenuhi apa yang telah mereka janjikan kepada Allah berupa ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya, serta meninggalkan apa yang mereka condong kepadanya berupa kepemimpinan dan cinta dunia, dan kemudian berserah diri kepada perintah Allah serta mengikuti Rasul-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

وحسبك بمزية الصبر أن الله جعلها سببًا من أسباب الفوز، قال تعالى:

Cukuplah bagimu keistimewaan sabar bahwa Allah menjadikannya sebagai salah satu sebab kemenangan, Allah Ta’ala berfirman:

{وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 1-3]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [al ‘Ashr: 1-3]

قال الغزالي رحمه الله: ذكر الله الصبر في القرآن في نيِّف وسبعين موضعًا، وأضاف أكثر الخيرات والدرجات إلى الصبر، وجعلها ثمرة له، قال سبحانه:

al Ghazaaliy rahimahullaah berkata: Allah menyebutkan sabar di dalam al Qur’an di lebih dari tujuh puluh tempat, dan Dia menyandarkan sebagian besar kebaikan dan derajat kepada sabar, serta menjadikannya sebagai buah darinya. Allah Subhaanahu berfirman:

{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا} [السجدة: 24]

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” [as Sajdah: 24]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta’ala berfirman:

{وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا} [الأعراف: 137]

“Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Banu Israil disebabkan kesabaran mereka.” [al A’raf: 137]

وقال أيضًا:

Dan Dia juga berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 153]

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [al Baqarah: 153]

والآيات كثيرة في هذا المعنى. وأنت – قارئي الكريم – إذا تأملت وأمعنت النظر، وجدت أن أصل التدين والإيمان راجع إلى الصبر؛ فإن فيه مخالفة النفس هواها ومألوفها في التصديق بما هو مغيب عن الحس الذي اعتادته، وفيه طاعة خالق لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار؛ فإذا صار الصبر خُلُقًا لصاحبه، هان عليه كل شيء لأجل الخضوع للحق والتسليم للبرهان. وبهذا يظهر وجه الأمر بالاستعانة على الإيمان وما يتفرع عنه بالصبر، فإنه خُلُق يفتح أبواب النفوس لقبول الحق والخضوع له.

Dan masih banyak ayat lainnya dalam makna ini. Dan engkau —wahai pembaca yang mulia— apabila merenung dan memperhatikan dengan seksama, niscaya engkau akan mendapati bahwa pokok keberagamaan dan imaan itu kembali kepada sabar. Karena di dalamnya terdapat upaya menyelisihi hawa nafsu dan kebiasaan dalam membenarkan apa yang gaib dari panca indera yang biasa dirasakan, dan di dalamnya terdapat ketaatan kepada Sang Khaaliq yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Apabila sabar telah menjadi akhlak bagi pemiliknya, maka segala sesuatu akan terasa ringan baginya demi tunduk kepada kebenaran dan berserah diri kepada bukti nyata (burhaan). Dengan demikian, nampaklah sisi perintah untuk memohon pertolongan atas keimanan dan apa yang bercabang darinya dengan sabar, karena ia adalah akhlak yang membuka pintu-pintu jiwa untuk menerima kebenaran dan tunduk kepadanya.

أما طلب الاستعانة بالصلاة، فهي فضلاً عن كونها شكرًا للمنعم وخضوعًا لأمره، فإن فيها صبراً من جهات عدة؛ إذ فيها مخالفة حال المرء المعتادة، ولزومه حالة في وقت معين، وفيها تجلية الأحزان وكشف الكربات؛ وقد صح في الحديث عنه صلى الله عليه وسلم أنه:

Adapun permintaan tolong dengan shalaat, maka selain ia merupakan bentuk syukur kepada Pemberi Nikmat dan ketundukan kepada perintah-Nya, di dalamnya juga terdapat kesabaran dari berbagai sisi; karena padanya terdapat upaya menyelisihi kondisi rutin seseorang, keharusannya menetap pada suatu keadaan di waktu tertentu, serta padanya terdapat penghilang kesedihan dan penyingkap kesulitan. Telah shahih dalam hadits dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau:

(كان إذا حَزَبه أمر صلى)

“Apabila ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera melakukan shalaat.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

أَي: إذا نزل به أمر مُهِمّ، أَو أَصابَه غمّ وهمٌّ واشتد عليه بادر إلى الصلاة؛ وقوله عليه الصلاة والسلام:

Artinya: Apabila turun kepada beliau urusan yang penting, atau beliau ditimpa kegalauan dan kegundahan serta terasa berat atasnya, beliau segera melaksanakan shalaat; dan sabda beliau ‘alaihis shalaatu was salaam:

(أرحنا بها يا بلال)

“Istirahatkanlah kami dengan shalaat wahai Bilal.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

وهذا أمر يلمسه من تحرَّاه وقصده من المصلين، ويكفيك في ذلك قوله تعالى:

Dan ini adalah perkara yang dirasakan oleh siapa saja yang mencarinya dan meniatkannya dari kalangan orang-orang yang shalaat, dan cukuplah bagimu firman Allah Ta’ala:

{إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ} [العنكبوت: 45]

“Sesungguhnya shalaat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [al ‘Ankabuut: 45]

ثم إن الآية التي بين يديك، نظير قوله تعالى مخاطبًا نبيه محمد صلى الله عليه وسلم وأمته من بعده:

Kemudian sesungguhnya ayat yang ada di hadapanmu ini semisal dengan firman Allah Ta’ala saat menyapa Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya setelah beliau:

{فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى} [طه: 130]

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” [Tha-Ha: 130]

فأَمَرَ سبحانه نبيه في نوائبه كافة بالفزع إلى الصبر والصلاة، إذ بهما العون والثبات وكشف الهموم والكربات. والضمير في قوله تعالى: {وإنها لكبيرة} راجع – على أرجح الأقوال – إلى جميع المأمورات والوصايا السابقة التي خوطب بها بني إسرائيل. والمراد (بالكبيرة) هنا الصعبة التي تشق على النفوس؛ وإطلاق (الكِبَرُ)على الأمر الصعب والشاق أمر معهود في كلام العرب؛ لأن المشقة من لوازم الأمر الكبير، قال تعالى:

Maka Allah Subhaanahu memerintahkan Nabi-Nya dalam segala musibahnya untuk kembali kepada sabar dan shalaat, karena pada keduanya terdapat pertolongan, keteguhan, serta penyingkap duka dan kesulitan. Dhamir dalam firman Allah Ta’ala: {Dan sesungguhnya ia benar-benar berat} kembali —menurut pendapat yang paling kuat— kepada seluruh perintah dan wasiat sebelumnya yang ditujukan kepada Banu Israil. Dan yang dimaksud dengan kabiirah di sini adalah sulit yang terasa berat bagi jiwa; dan penggunaan istilah kibar untuk perkara yang sulit dan berat adalah hal yang lumrah dalam bahasa Arab, karena kesulitan adalah konsekuensi dari perkara yang besar. Allah Ta’ala berfirman:

{وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ} [البقرة: 143]

“Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.” [al Baqarah: 143]

وقال سبحانه:

Dan Allah Subhaanahu berfirman:

{وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ} [الأنعام: 35]

“Dan jika perpalingan mereka itu terasa amat berat bagimu.” [al An’am: 35]

وقوله تعالى: {إلا على الخاشعين} الخاشع هنا هو من ذلل نفسه وضبط شهوتها بضوابط الشرع الحنيف، فتصبح النفس حينئذ مطاوعة لأمر الله، راغبة في أمره وراهبة من نهيه، وهذا الوصف في الآية يشبه ما جاء في قوله صلى الله عليه وسلم: (لقد سألت عن عظيم وإنه ليسير على من يسره الله عليه) والمعنى على ما تقدم: أن الاستعانة بالصبر والصلاة ليس بالأمر اليسير على الأنفس، بل هو خاص بالنفوس الخاضعة لطاعته سبحانه، والمصدقة بوعده، والخائفة من وعيده.

Dan firman-Nya Ta’ala: {kecuali bagi orang-orang yang khusyuk}. Orang yang khusyuk di sini adalah orang yang menghinakan dirinya (di hadapan Allah) dan mengendalikan syahwatnya dengan batasan-batasan syari’at yang lurus, sehingga jiwa tersebut menjadi patuh pada perintah Allah, gemar pada perintah-Nya dan takut pada larangan-Nya. Sifat dalam ayat ini menyerupai apa yang datang dalam sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh engkau telah bertanya tentang perkara yang agung, dan sesungguhnya ia adalah mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah atasnya.” Maknanya sebagaimana yang telah berlalu: Bahwa memohon pertolongan dengan sabar dan shalaat bukanlah perkara yang mudah bagi jiwa, melainkan ia khusus bagi jiwa-jiwa yang tunduk pada ketaatan kepada Allah Subhaanahu, membenarkan janji-Nya, dan takut akan ancaman-Nya.

على إن الآية وإن كانت خطابًا في سياق إنذار بني إسرائيل وتهديدهم، بيد أن خطابها ليس خاصًا بهم وحدهم فحسب، وإنما هي عامة لهم ولغيرهم، إذ العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب، كما يقول أهل العلم، يُنبئك بهذا قوله تعالى:

Bahwasanya ayat ini, meskipun merupakan seruan dalam konteks peringatan dan ancaman kepada Banu Israil, namun seruannya tidaklah khusus bagi mereka saja, melainkan bersifat umum bagi mereka dan selain mereka. Karena pelajaran itu diambil dari keumuman lafaz, bukan dari kekhususan sebab, sebagaimana perkataan para ulama. Hal ini ditunjukkan kepadamu oleh firman Allah Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 153]

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalaat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [al Baqarah: 153]

وعلى هذا فإننا اليوم – نحن المسلمين – أولى الناس بوعي هذا خطاب القرآني، والعمل به، خاصة بعد ما آل أمر الأمة إلى ما لا يخفى. نسأل الله التوفيق والعون والفرج والخاتمة بالحسنى.

Maka atas dasar ini, sesungguhnya kita hari ini —kita kaum Muslimin— adalah manusia yang paling utama untuk menyadari khithab al Qur’ani ini dan mengamalkannya, khususnya setelah urusan umat ini sampai pada kondisi yang tidak tersembunyi lagi. Kita memohon kepada Allah taufik, pertolongan, kelapangan, dan akhir yang baik (husnul khatimah).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.