Jangan Campuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan



ولا تلبسوا الحق بالباطل

Jangan Campuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Jangan Campuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

قال تعالى:

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [البقرة: 42]

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” [al Baqarah: 42]

الآية وردت في سياق خطاب بني إسرائيل، وهي عطف على قوله تعالى: {يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ} (البقرة:40) وجاءت الآية انتقالاً من غرض التحذير من الضلال، في قوله تعالى: {وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ} (البقرة: 41) إلى غرض التحذير من الإضلال، في قوله تعالى: {وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ}.

Ayat ini disebutkan dalam konteks seruan kepada Banu Israil, dan merupakan ‘athaf (penyambung) terhadap firman Allah Ta’ala: {Wahai Banu Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu} (al Baqarah: 40). Ayat ini datang sebagai peralihan dari tujuan memperingatkan agar tidak terjerat dalam kesesatan (dhalaal) pada firman-Nya Ta’ala: {dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya} (al Baqarah: 41), menuju tujuan memperingatkan agar tidak menyesatkan orang lain (idhlaal) pada firman-Nya Ta’ala: {Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran}.

واللَّبس في اللغة، بفتح اللام: الخلط؛ وهو من الفعل (لَبَسَ) بفتح الباء؛ يقال: لَبَست عليه الأمر ألبسه: إذا خلطت حقه بباطله، وواضحه بمشكله، ومنه قوله تعالى: {وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ} (الأنعام: 9) ويقال: في الأمر لُبسة، بضم اللام، أي: اشتباه. واللِّبس، بكسر اللام، من الفعل ( لَبِسَ ) بكسر الباء: هو لبس الثوب ونحوه.

Kata al Labs secara bahasa dengan fathah pada huruf lam bermakna al khalth (pencampuran). Ia berasal dari kata kerja labasa (dengan fathah pada huruf ba). Dikatakan: labastu ‘alaihil amra albisuhu apabila engkau mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilannya, atau antara kejelasan dan kerumitannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala: {dan niscaya Kami biarkan mereka tetap ragu dalam keragu-raguan mereka} (al An’am: 9). Dikatakan juga: fil amri lubsah (dengan dhammah pada huruf lam) yang berarti kesamaran (isytibaah). Adapun al Libs (dengan kasrah pada huruf lam) berasal dari kata kerja labisa (dengan kasrah pada huruf ba) yang bermakna memakai pakaian dan sejenisnya.

والحق: الأمر الثابت؛ من حَقَّ، إذا ثبت ووجب، وهو ما تعترف به سائر النفوس، بقطع النظر عن شهواتها. والباطل: ضد الحق، وهو الأمر الزائل الضائع؛ يقال: بطل بُطلا وبطلانًا، إذا ذهب ضياعًا وخسرًا، وذهب ماله بُطلاً، أي: هدرًا.

al Haqq adalah perkara yang tetap (ats tsaabit); berasal dari kata haqqa apabila sesuatu itu tetap dan wajib, yaitu apa yang diakui oleh segenap jiwa tanpa memandang hawa nafsunya. Sedangkan al Baathil adalah lawan kata dari al Haqq, yaitu perkara yang akan lenyap dan sia-sia. Dikatakan: bathala butlan apabila sesuatu itu pergi dalam kesia-siaan dan kerugian, serta hartanya lenyap secara butlan yakni sia-sia (hadran).

قال ابن عباس رضي الله عنهما: قوله: {وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ} أي: لا تخلطوا الصدق بالكذب؛ وعن أبي العالية قال: {وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ} لا تخلطوا الحق بالباطل، وأدوا النصيحة لعباد الله في أمر محمد صلى الله عليه وسلم.

Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa berkata mengenai firman-Nya: {Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan} yaitu: janganlah kalian mencampuradukkan kejujuran (al shidq) dengan kedustaan (al kadzib). Dari Abu al ‘Aaliyah, beliau berkata mengenai {Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan}: janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan berikanlah nasihat kepada hamba-hamba Allah dalam perkara Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

فتأويل الآية إذًا: ولا تخلطوا على الناس – أيها الأحبار من أهل الكتاب – في أمر محمد صلى الله عليه وسلم، وما جاء به من عند ربه، وتزعموا أنه مبعوث إلى بعض أجناس الأمم دون بعض، أو تنافقوا في أمره، وقد علمتم أنه مبعوث إلى الناس كافة، بما فيهم أنتم، فتخلطوا بذلك الصدق بالكذب، والحق بالباطل، وتكتموا ما تجدونه في كتابكم من نعته وصفته، وتعرفون أن من عهدي الذي أخذت عليكم في كتابكم الإيمان به وبما جاء به والتصديق به؛ فالمراد إذًا: النهي عن كتم حجج الله، التي أوجب عليهم تبليغها، وأَخَذَ عليهم بيانها.

Maka tafsir ayat ini adalah: Janganlah kalian membuat orang lain bingung —wahai para pemuka agama (al ahbaar) dari kalangan Ahlul Kitab— dalam perkara Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dibawanya dari sisi Tuhannya, dengan mengklaim bahwa beliau hanya diutus kepada sebagian bangsa manusia dan bukan bangsa yang lain, atau kalian bersikap nifak dalam urusannya, padahal kalian telah mengetahui bahwa beliau diutus kepada seluruh manusia termasuk kalian. Dengan begitu kalian telah mencampuradukkan kejujuran dengan kedustaan, kebenaran dengan kebatilan, serta kalian menyembunyikan apa yang kalian dapati di dalam kitab kalian mengenai ciri-ciri dan sifat-sifat beliau. Kalian mengetahui bahwa di antara janji-Ku yang telah Aku ambil atas kalian di dalam kitab kalian adalah beriman kepadanya, kepada apa yang dibawanya, serta membenarkannya. Maka maksudnya adalah larangan menyembunyikan hujah-hujah Allah yang telah diwajibkan kepada mereka untuk disampaikan dan diperintahkan untuk dijelaskan.

وعلى هذا، فلَبْسُ الحق بالباطل ترويج الباطل وإظهاره في صورة الحق، وهذا اللَّبْس هو المبتدأ في التضليل، وإليه الانتهاء في الإضلال؛ فإن أكثر أنواع الضلال الذي أدخل في الإسلام هو من قبيل لبس الحق بالباطل، وفي بعض تاريخ الإسلام خير شاهد على ذلك.

Atas dasar ini, mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan berarti mempromosikan kebatilan dan menampilkannya dalam rupa kebenaran. Pencampuran ini merupakan titik awal dalam penyesatan (tadhliil) dan merupakan tujuan akhir dalam menyesatkan (idhlaal). Sesungguhnya sebagian besar jenis kesesatan yang dimasukkan ke dalam Islam adalah termasuk dalam kategori mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan dalam sebagian sejarah Islam terdapat saksi terbaik akan hal tersebut.

وقوله تعالى: {وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ} عطف على قوله سبحانه: {وَلَا تَلْبِسُوا} والمعنى: النهي عن الخلط بين الحق والباطل مقرونًا بكتمان الحق؛ ولك أيضًا أن تجعله منصوبًا بأن المضمرة بعد الواو، والتقدير (وأن تكتموا الحق) والمعنى عليه: لا تخلطوا الحق بالباطل، حال كونكم كاتمين للحق؛ وعلى كلا التوجيهين فالمقصود من الخطاب القرآني النهي عن الخلط بين الحق والباطل، إذ لكل واحد منهما مجاله ووجهته، فلا مجال للقصد إليهما، ولا مجال للخلط بينهما، ولم يبق إلا الفصام بينهما؛ والنهي أيضًا عن كتمان الحق، لما فيه من التضليل والتحريف وطمس الحقيقة التي جاء الإسلام بها للناس كافة.

Firman-Nya Ta’ala: {dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran} merupakan ‘athaf terhadap firman-Nya Subhaanahu: {Dan janganlah kamu campuradukkan}. Maknanya adalah larangan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan yang dibarengi dengan penyembunyian kebenaran. Engkau juga bisa menjadikannya berkedudukan manshub karena adanya An yang tersembunyi setelah huruf Waw, dengan estimasi (wa an taktumul haqq). Maknanya menjadi: Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dalam keadaan kalian menyembunyikan kebenaran. Berdasarkan kedua tinjauan ini, maksud dari seruan al Qur’ani adalah larangan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, karena masing-masing memiliki ranah dan arahnya sendiri, tidak ada celah untuk menuju keduanya sekaligus, tidak ada celah untuk mencampurnya, dan yang tersisa hanyalah pemisahan di antara keduanya. Larangan ini juga mencakup penyembunyian kebenaran karena hal tersebut mengandung penyesatan, penyimpangan (tahriif), dan penghapusan hakikat yang dibawa oleh Islam bagi seluruh manusia.

وتفاديًا لما وقع فيه اليهود من الخلط والكتمان، قال أهل العلم: إن التأويل – الذي هو صرف اللفظ عن ظاهره – لآيات القرآن الكريم لا يصح إلا إذا دلَّ عليه دليل قوي، أما إذا وقع التأويل لما يُظن أو يُتوهم أنه دليل فهو تأويل باطل، لا يُعرَّج إليه، ولا يصح التعويل عليه؛ إذ هو في حقيقته نوع من التحريف والتضليل، ناهيك عما إذا وقع التأويل من غير دليل أصلاً، فهو آكد في الحرمة، وأوجب للمنع، إذ هو من باب اللعب والهزء بآيات القرآن، ولا يخفى ما فيه.

Guna menghindari apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi berupa pencampuran dan penyembunyian, para ahli ilmu berkata: Sesungguhnya Ta’wiil —yaitu memalingkan lafaz dari makna zahirnya— terhadap ayat-ayat al Qur’an al Kariim tidaklah sah kecuali jika terdapat dalil yang kuat yang menunjukkannya. Adapun jika Ta’wiil dilakukan berdasarkan sesuatu yang hanya disangka atau diduga sebagai dalil, maka ia adalah Ta’wiil yang batil, tidak boleh digubris, dan tidak sah dijadikan sandaran; karena pada hakikatnya ia merupakan bentuk penyimpangan dan penyesatan. Apalagi jika Ta’wiil dilakukan tanpa adanya dalil sama sekali, maka keharamannya lebih kuat dan lebih wajib untuk dilarang, karena hal tersebut termasuk dalam kategori mempermainkan dan mengolok-olok ayat-ayat al Qur’an, dan tidak tersembunyi lagi apa yang ada di dalamnya.

فمن أمثلة التأويل بدليل – وهو التأويل المشروع – قوله تعالى:

Di antara contoh Ta’wiil dengan dalil —yakni Ta’wiil yang disyariatkan— adalah firman-Nya Ta’ala:

{أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ} [النحل: 1]

“Telah datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat.” [al Nahl: 1]

ففسر العلماء الفعل (أتى) وهو فعل ماض، يدل على وقوع الأمر وحدوثه، فسروه بـ ( سيأتي ) واستدلوا لذلك بما جاء في سياق الآية نفسها، وهو قوله سبحانه بعدُ: {فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ} فالنهي عن طلب استعجال الأمر بعدُ، دليل على عدم وقوع ما أُخبر عنه قبلُ.

Maka para ulama menafsirkan kata kerja ataa yang merupakan kata kerja bentuk lampau (fi’il maadhi) yang menunjukkan telah terjadinya dan munculnya suatu perkara, mereka menafsirkannya dengan makna “akan datang” (saya’tii). Mereka berdalil dengan apa yang datang dalam konteks ayat itu sendiri, yaitu firman-Nya Subhaanahu setelahnya: {maka janganlah kamu meminta agar dipercepat}. Larangan untuk meminta percepatan perkara tersebut merupakan dalil atas belum terjadinya apa yang dikabarkan sebelumnya.

ومن أمثلة التأويل بغير دليل – وهو التأويل المذموم – ما ادعاه بعضهم، من جواز نكاح الرجل تسع نسوة، مستدلاً على ذلك، بقوله تعالى:

Di antara contoh Ta’wiil tanpa dalil —yakni Ta’wiil yang tercela— adalah apa yang diklaim oleh sebagian orang tentang bolehnya seorang laki-laki menikahi sembilan wanita, dengan berdalil pada firman-Nya Ta’ala:

{فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ} [النساء: 3]

“maka nikahilah perempuan-perempuan yang kamu sukai: dua, tiga atau empat.” [an Nisa: 3]

وهذا لا دليل عليه من نص أو وضع لكلام العرب، بل هو أمر ساقط، لا تقوم له قائمة تدل عليه.

Hal ini tidak memiliki dalil baik dari nash maupun kaidah bahasa Arab, bahkan ia adalah perkara yang gugur dan tidak memiliki dasar yang menunjukkannya.

وقوله تعالى: {وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} جملة حالية، فيه دليل على أن كفرهم كان كفر عناد لا كفر جهل، وذلك أغلظ للذنب وأوجب للعقوبة؛ ثم إن التقييد بالعلم في الآية، لا يفيد جواز اللَّبْس والكتمان مع الجهل؛ لأن الجاهل مطالب بالتعلم، ومنهي عن البقاء على جهله، إذ الواجب على الإنسان أن لا يُقْدِم على شيء حتى يعلم بحكمه، خاصة إذا كان ذاك الشيء من أمور الدين، فإن التكلم فيها والتصدي لها إنما أذن الله به لمن كان أهلاً ومؤهلاً لذلك، أما الجاهل فليس له من الأمر شيء، وليس له من سبيل إلى ذلك.

Firman-Nya Ta’ala: {sedangkan kamu mengetahuinya} merupakan jumlah haaliyyah (kalimat keterangan keadaan), yang di dalamnya terdapat dalil bahwa kekafiran mereka adalah kekafiran karena pembangkangan (‘inaad) bukan karena kebodohan (jahl). Hal itu menjadikan dosanya lebih berat dan hukumannya lebih pasti. Kemudian, pembatasan dengan “mengetahui” dalam ayat ini tidak berarti bolehnya mencampuradukkan dan menyembunyikan kebenaran jika dilakukan karena bodoh; karena orang yang bodoh dituntut untuk belajar dan dilarang untuk tetap dalam kebodohannya. Sebab, kewajiban bagi manusia adalah tidak melangkah pada sesuatu sampai ia mengetahui hukumnya, terutama jika perkara tersebut menyangkut urusan agama. Sesungguhnya berbicara dan menangani urusan agama hanyalah diizinkan oleh Allah bagi mereka yang memiliki keahlian dan kualifikasi untuk itu. Adapun orang yang bodoh, maka ia tidak memiliki hak sedikit pun dalam urusan tersebut dan tidak ada jalan baginya untuk itu.

والأمر المهم الذي ينبغي التنبيه عليه في ختام الحديث عن هذه الآية، أن الخطاب القرآني وإن كان متوجهًا في لفظه ونصه إلى بني إسرائيل، بيد أنه في فحواه ومقصده خطاب عام يشمل الناس كافة، والمؤمنين منهم على وجه أخص، فهم أولى بالنهي عن خلط الحق بالباطل، وهم أجدر بإظهار الحق، وعدم كتمانه.

Perkara penting yang perlu diingatkan kembali sebagai penutup pembahasan ayat ini adalah bahwa seruan al Qur’ani meskipun ditujukan secara lafaz dan nash kepada Banu Israil, namun secara isi dan tujuannya merupakan seruan umum yang mencakup seluruh manusia, dan bagi kaum mukminin secara lebih khusus. Merekalah yang lebih utama untuk dilarang dari mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan merekalah yang lebih layak untuk menampakkan kebenaran serta tidak menyembunyikannya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.