أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم
Mengapa Kalian Memerintahkan Kebajikan kepada Orang Lain Sementara Melupakan Diri Sendiri?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Mengapa Kalian Memerintahkan Kebajikan kepada Orang Lain Sementara Melupakan Diri Sendiri? ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an
قال سبحانه:
Allah Subhaanahu berfirman:
{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسُونَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ} [البقرة: 44]
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” [al Baqarah: 44]
وردت هذه الآية في سياق تذكير بني إسرائيل بنعم الله عليهم، وبيان ما كان من أمرهم؛ والغرض من الآية – والله أعلم – بيان حال اليهود، ومن كان على شاكلتهم، وسار على سَنَنِهم، على كمال خسارهم، ومبلغ سوء حالهم، الذي وصلوا إليه؛ إذ صاروا يقومون بالوعظ والتعليم، كما يقوم الصانع بصناعته، والتاجر بتجارته، والعامل بعمله، لا يقصدون إلا إيفاء وظائفهم الدينية حقها، ليستحقوا بذلك ما يُعَوَّضون عليه من مراتب ورواتب؛ فهم لا ينظرون إلى حال أنفسهم تجاه تلك الأوامر التي يأمرون بها الناس.
Ayat ini disebutkan dalam konteks mengingatkan Banu Israil akan nikmat-nikmat Allah atas mereka, serta penjelasan mengenai keadaan mereka. Tujuan dari ayat ini —Wallahu a’lam— adalah menjelaskan kondisi kaum Yahudi, serta siapa saja yang serupa dengan mereka dan mengikuti jalan mereka, dalam hal kerugian yang sempurna dan puncak buruknya keadaan yang mereka capai. Hal itu karena mereka melakukan aktivitas memberi nasihat dan mengajar sebagaimana seorang perajin melakukan pekerjaannya, pedagang dengan perdagangannya, atau pekerja dengan pekerjaannya; mereka tidak bermaksud kecuali sekadar menunaikan tugas keagamaan agar layak mendapatkan kompensasi berupa kedudukan atau gaji, tanpa memperhatikan kondisi diri mereka sendiri terhadap perintah-perintah yang mereka serukan kepada orang lain.
والمراد بـ {الناس} في الآية، العامة من أمة اليهود؛ والمعنى: كيف تأمرون أتباعكم وعامتكم بالبر وتنسون أنفسكم؟ ففيه تنديد بحال أحبارهم، أو تعريض بأنهم يعلمون أن ما جاء به رسول الإسلام هو الحق، فهم يأمرون أتباعهم بالمواعظ، ولا يطلبون نجاة أنفسهم. قال ابن عباس رضي الله عنهما في معنى الآية: أتنهون الناس عن الكفر بما عندكم من النبوة، والعهدة من التوراة، وتتركون أنفسكم، وأنتم تكفرون بما فيها من عهدي إليكم في تصديق رسولي، وتنقضون ميثاقي، وتجحدون ما تعلمون من كتابي.
Yang dimaksud dengan {manusia} dalam ayat ini adalah masyarakat umum dari kalangan umat Yahudi. Maknanya adalah: Bagaimana mungkin kalian memerintahkan pengikut dan orang awam kalian untuk melakukan kebajikan (al birr) sementara kalian melupakan diri kalian sendiri? Di dalamnya terdapat kecaman terhadap kondisi para pemuka agama (al ahbaar) mereka, atau sindiran bahwa mereka sebenarnya mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Rasul Islam adalah kebenaran; mereka memerintahkan pengikutnya dengan berbagai nasihat, namun tidak mengupayakan keselamatan bagi diri mereka sendiri. Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa berkata mengenai makna ayat ini: “Apakah kalian melarang manusia dari kekafiran terhadap kenabian dan janji yang ada di sisi kalian dalam Taurat, namun kalian membiarkan diri kalian sendiri sementara kalian kafir terhadap janji-Ku di dalamnya untuk membenarkan Rasul-Ku, kalian merusak perjanjian-Ku, dan mengingkari apa yang kalian ketahui dari kitab-Ku?”
و{البر} بكسر الباء: الخير في الأعمال في أمور الدنيا وأمور الآخرة؛ ومن المأثور قولهم: البر ثلاثة، بر في عبادة الله، وبر في مراعاة الأقارب، وبر في معاملة الأجانب.
Kata al Birr (dengan kasrah pada huruf ba) bermakna: kebaikan dalam amal perbuatan, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Di antara atsar yang masyhur disebutkan bahwa: “Kebajikan itu ada tiga; kebajikan dalam ibadah kepada Allah, kebajikan dalam menjaga hubungan dengan kerabat, dan kebajikan dalam bermuamalah dengan orang lain.”
ثم إن التوبيخ في الآية بسبب ترك فعل البر، لا بسبب الأمر بالبر؛ ولهذا ذم الله تعالى في كتابه قومًا كانوا يأمرون بأعمال البر، ولا يعملون بها، ووبَّخهم به توبيخًا يتلى إلى يوم الناس هذا؛ إذ إن الأمر بالمعروف واجب على العالِم، والأولى بالعالِم أن يفعله مع من أمرهم به، ولا يتخلف عنهم، كما قال شعيب عليه السلام لقومه:
Kemudian, sesungguhnya celaan dalam ayat ini adalah disebabkan karena meninggalkan perbuatan kebajikan tersebut, bukan karena memerintahkan kebajikan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mencela dalam kitab-Nya suatu kaum yang memerintahkan amal-amal kebajikan namun mereka sendiri tidak mengamalkannya, dan Dia mencela mereka dengan celaan yang terus dibaca hingga hari ini. Hal itu karena amru bil ma’ruf adalah kewajiban bagi seorang alim, namun yang lebih utama bagi alim tersebut adalah melakukannya bersama orang-orang yang ia perintahkan, dan tidak menyelisihi mereka, sebagaimana perkataan Syu’aib ‘alaihis salaam kepada kaumnya:
{وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ} [هود: 88]
“Aku tidak bermaksud menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang kamu darinya.” [Hud: 88]
فكلٌّ من الأمر بالمعروف وفعله واجب، لا يسقط أحدهما بترك الآخر، على أصح قولي العلماء من السلف والخلف. و(النسيان) في قوله جلَّ وعلا: {وَتَنْسُونَ أَنْفُسَكُمْ} هو الترك، أي: تتركون أنفسكم بإلزامها ما أمرتم به غيركم؛ والنسيان (بكسر النون) يكون بمعنى الترك، وهو المراد هنا، ومثله قوله تعالى: {نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ} (التوبة:67) وقوله أيضًا: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ} (الأنعام:44) وما أشبه ذلك من الآيات؛ ويكون خلاف الذكر والحفظ.
Maka masing-masing dari memerintahkan kebaikan dan melakukannya adalah wajib, tidak gugur salah satunya dengan meninggalkan yang lain, menurut pendapat yang paling benar dari para ulama salaf maupun khalaf. Adapun “lupa” dalam firman-Nya Jalla wa ‘Alaa: {sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri} bermakna meninggalkan (at tark), artinya: kalian membiarkan diri kalian sendiri tanpa mewajibkannya melakukan apa yang kalian perintahkan kepada orang lain. Kata al nisyaan (lupa) bisa bermakna meninggalkan, dan itulah yang dimaksud di sini, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: {Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka} (at Taubah: 67) dan firman-Nya juga: {Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka} (al An’am: 44) serta ayat-ayat yang serupa; dan terkadang bermakna lawan dari ingat (adz dzikr) atau hapalan.
وقوله سبحانه: {أَفَلَا تَعْقِلُونَ} استفهام عن انتفاء تعقُّلهم، وهو استفهام على سبيل الإنكار والتوبيخ، نزلوا منـزلة من انتفى تعقله، فأنكر عليهم ذلك، إذ إن من يستمر به التغفل عن نفسه، وإهمال التفكر في صلاحها، مع مصاحبة شيئين يذكِّرانه، قارب أن يكون منفيًا عنه التعقل، وكون هذا الأمر أمرًا قبيحًا لا يشك فيه عاقل.
Dan firman-Nya Subhaanahu: {Tidakkah kamu mengerti?} merupakan pertanyaan (istifham) mengenai ketiadaan penggunaan akal mereka. Ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran dan celaan; mereka diposisikan pada kedudukan orang yang hilang akalnya, lalu hal itu diingkari atas mereka. Sebab, barangsiapa yang terus-menerus lalai terhadap dirinya sendiri dan mengabaikan pemikiran untuk memperbaikinya padahal ada dua hal (ilmu dan kitab) yang mengingatkannya, maka ia hampir saja dianggap tidak berakal. Perkara ini adalah sesuatu yang buruk yang tidak diragukan lagi oleh orang yang berakal.
والمقصود الأهم من هذا الخطاب القرآني تنبيه المؤمنين عامة، والدعاة منهم خاصة، على ضرورة التوافق والالتزام بين القول والعمل، لا أن يكون قولهم في واد وفعلهم في واد آخر؛ فإن خير العلم ما صدَّقه العمل، والاقتداء بالأفعال أبلغ من الإقتداء بالأقوال؛ وإن مَن أَمَرَ بخير فليكن أشد الناس فيه مسارعة؛ وفي الحديث الصحيح أنه صلى الله عليه وسلم:
Tujuan terpenting dari khithab al Qur’ani ini adalah mengingatkan kaum mukminin secara umum, dan para dai khususnya, akan pentingnya kesesuaian dan komitmen antara perkataan dan perbuatan, jangan sampai perkataan mereka berada di suatu lembah sementara perbuatan mereka di lembah yang lain. Sesungguhnya sebaik-baik ilmu adalah yang dibenarkan oleh amal, dan mencontoh perbuatan itu lebih berbekas daripada mencontoh perkataan. Barangsiapa yang memerintahkan kebaikan, maka hendaklah ia menjadi orang yang paling bersegera melakukannya. Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
(كان خلقه القرآن)
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
أي: إن سلوكه صلى الله عليه وأفعاله كانت على وَفْقِ ما جاء به القرآن وأمر به؛ إذ إن العمل ثمرة العلم، ولا خير بعلم من غير عمل. وأخيرًا: نختم حديثنا حول هذه الآية، بقول إبراهيم النخعي: إني لأكره القصص لثلاث آيات، قوله تعالى: {أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ} وقوله: {لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ} (الصف:2) وقوله: {وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ} (هود:88) نسأل الله أن يجعلنا من الذين يفعلون ما يؤمرون.
Artinya: Sesungguhnya perilaku dan perbuatan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa sesuai dengan apa yang dibawa dan diperintahkan oleh al Qur’an; karena amal adalah buah dari ilmu, dan tidak ada kebaikan dalam ilmu tanpa pengamalan. Akhirnya, kita tutup pembahasan ayat ini dengan perkataan Ibrahim an Nakha’iy: “Sesungguhnya aku membenci aktivitas berkisah (memberi nasihat) karena tiga ayat; firman-Nya Ta’ala: {Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan}, firman-Nya: {Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?} (as Shaff: 2), dan firman-Nya: {Aku tidak bermaksud menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang kamu darinya} (Hud: 88).” Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan.
{وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ} [هود: 88]
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.” [Hud: 88]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply