ومن يتوكل على الله فهو حسبه
Dan Barangsiapa Bertawakal kepada Allah, Niscaya Allah akan Mencukupkannya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Dan Barangsiapa Bertawakal kepada Allah, Niscaya Allah akan Mencukupkannya ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an
في سورة الطلاق أو سورة النساء الصغرى – كما تسمى – وردت أربع آيات كريمة، ربطت بين الفعل والجزاء، ورتبت النتيجة على أسبابها ومقدماتها؛
Di dalam surah at Thalaaq atau surah an Nisaa ash Syughraa —sebagaimana ia dinamakan— terdapat empat ayat mulia yang menghubungkan antara amal dan balasan, serta menyusun akibat berdasarkan sebab-sebab dan pendahuluannya.
الآية الأولى، قوله تعالى:
Ayat pertama adalah firman Allah Ta’ala:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2-3]
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [at Thalaaq: 2-3]
والثانية، قوله سبحانه:
Kedua, firman-Nya Subhaanahu:
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} [الطلاق: 3]
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [at Thalaaq: 3]
والثالثة، قوله عز وجل:
Ketiga, firman-Nya ‘Izza wa Jalla:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا} [الطلاق: 4]
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [at Thalaaq: 4]
والرابعة، قوله تعالى:
Dan keempat, firman-Nya Ta’ala:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا} [الطلاق: 5]
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” [at Thalaaq: 5]
ولنا مع هذه الآيات بضع وقفات: الأولى: أن الجزاء في ثلاث من هذه الآيات رُتب على تقوى الله؛ وتقوى الله في معهود الشرع، فعل ما أمر الله به واجتناب ما نهى عنه، وهي رأس الأمر كله، وفي وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم لبعض صحابته، قوله عليه الصلاة والسلام:
Kita memiliki beberapa poin renungan terhadap ayat-ayat ini: Pertama: Bahwa balasan dalam tiga dari ayat-ayat ini disusun berdasarkan taqwa kepada Allah. Taqwa kepada Allah dalam istilah syari’at adalah melakukan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, dan ia adalah pangkal dari segala urusan. Dalam wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian sahabatnya, beliau ‘alaihis shalaatu was salaam bersabda:
(اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ)
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. Ahmad dan at Tirmidziy)
الثانية: جاء قوله تعالى: {وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} تكملة لأمر التقوى؛ فإذا كانت تقوى الله سبب لتفريج الكربات، ورفع الملمات، وكشف المهمات، فإن في توكل المسلم على ربه سبحانه، ويقينه أنه سبحانه يصرف عنه كل سوء وشر، ما يجعل له مخرجًا مما هو فيه، وييسر له من أسباب الرزق من حيث لا يدري؛ وأكد هذا المعنى ما جاء في الآية نفسها، وهو قوله تعالى:
Kedua: Datangnya firman Allah Ta’ala: {Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya} sebagai pelengkap bagi perkara taqwa. Jika taqwa kepada Allah menjadi sebab bagi kelapangan dari kesulitan (kurbat), hilangnya musibah, dan terselesaikannya urusan penting, maka dalam tawakkul seorang Muslim kepada Tuhannya Subhaanahu serta keyakinannya bahwa Dia-lah yang memalingkan segala keburukan dan kejahatan darinya, terdapat hal yang menjadikannya memiliki jalan keluar (makhrajan) dari apa yang ia hadapi, serta memudahkan baginya sebab-sebab rezeki dari arah yang tidak ia ketahui. Makna ini diperkuat oleh apa yang ada pada ayat itu sendiri, yaitu firman-Nya Ta’ala:
{إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ} [الطلاق: 3]
“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” [at Thalaaq: 3]
أي: لا تستبعدوا وقوع ما وعدكم الله حين ترون أسباب ذلك مفقودة، فإن الله إذا وعد وعدًا فقد أراده، وإذا أراد أمرًا يسر وهيأ أسبابه. وقد وردت عدة أحاديث تشد من أزر هذا المعنى؛ من ذلك ما رواه أبو ذر رضي الله عنه، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( إني لأعلم آية لو أخذ بها الناس لكفتهم، ثم تلا قوله تعالى:
Artinya: Janganlah kalian menganggap mustahil terjadinya apa yang Allah janjikan kepada kalian ketika kalian melihat sebab-sebabnya tidak ada, karena Allah apabila menjanjikan sesuatu maka Dia telah menghendakinya, dan jika Dia menghendaki suatu perkara maka Dia memudahkan dan menyiapkan sebab-sebabnya. Telah diriwayatkan beberapa hadiits yang memperkuat makna ini; di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah ayat yang sekiranya manusia mengambilnya (sebagai pegangan) niscaya ia akan mencukupkan mereka.” Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2-3]
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [at Thalaaq: 2-3]
فما زال يكررها ويعيدها ). ورواه الإمام أحمد في “مسنده” عن ثوبان رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dan beliau senantiasa mengulang-ulangnya. Imaam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Tsawbaan radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ)
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki disebabkan dosa yang dilakukannya, dan tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali du’a, serta tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” (HR. Ahmad)
الثالثة: أن الله سبحانه وعد عباده المتقين الواقفين عند حدوده، بأن يجعل لهم مخرجًا من الضائقات والكربات التي نزلت بهم؛ وقد شبَّه سبحانه ما هم فيه من الحرج بالمكان المغلق على المقيم فيه، وشبَّه ما يمنحهم الله به من اللطف وتيسير الأمور، بجعل منفذ في المكان المغلق، يتخلص منه المتضائق فيه. الرابعة: في قوله تعالى سبحانه: {مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} احتراس ودفْعٌ لما قد يُتوهم من أن طرق الرزق معطلة ومحجوبة، فأعْلَم سبحانه بهذا، أن الرزق لطف منه، وأنه أعلم كيف يهيئ له أسبابًا، غير مترتبة ولا متوقعة؛ فمعنى قوله تعالى: {مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} أي: من مكان لا يحتسب منه الرزق، أي لا يظن أنه يُرزق منه.
Ketiga: Bahwa Allah Subhaanahu menjanjikan hamba-hamba-Nya yang bertakwa yang berdiri di atas batasan-batasan-Nya, bahwa Dia akan menjadikan bagi mereka jalan keluar dari kesempitan (dhalaa-iqaat) dan kesulitan yang menimpa mereka. Allah Subhaanahu menyerupakan kesempitan yang mereka alami dengan tempat yang tertutup rapat bagi penghuninya, dan menyerupakan kelembutan serta kemudahan urusan yang Allah berikan dengan pembuatan pintu keluar pada tempat tertutup tersebut agar orang yang merasa sesak di dalamnya dapat keluar. Keempat: Pada firman Allah Subhaanahu: {dari arah yang tiada disangka-sangkanya} terdapat penjagaan dan penolakan terhadap apa yang mungkin disangkakan bahwa jalan-jalan rezeki telah terputus dan tertutup. Maka Allah Subhaanahu memberitahukan hal ini, bahwa rezeki adalah kelembutan dari-Nya, dan Dia-lah yang paling tahu bagaimana menyiapkan sebab-sebabnya yang tidak terduga dan tidak disangka. Makna firman-Nya Ta’ala: {dari arah yang tiada disangka-sangkanya} yaitu: dari tempat yang tidak ia perhitungkan rezeki tersebut akan datang, artinya ia tidak menyangka akan diberi rezeki dari sana.
الخامسة: تفيد الآيات المتقدمة، أن الممتثل لأمر الله والمتقي لما نهى الله عنه، يجعل الله له يسرًا فيما لحقه من عسر؛ واليسر انتفاء الصعوبة، أي: انتفاء المشاق والمكروهات؛ والمقصود من هذا تحقيق الوعد باليسر، فيما شأنه العسر. السادسة: في قوله تعالى: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا} أعيد التحريض هنا على التقوى مرة أخرى، ورتَّب عليه الوعد بما هو أعظم من الرزق، وتفريج الكربات، وتيسير الصعوبات، وذلك بتكفير السيئات، وتعظيم الأجر والثواب.
Kelima: Ayat-ayat terdahulu memberikan faedah bahwa orang yang patuh pada perintah Allah dan bertakwa terhadap apa yang dilarang Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan (yusr) dalam kesulitan (‘usr) yang menimpanya. Kemudahan adalah hilangnya kesulitan, yaitu hilangnya kepayahan dan hal-hal yang tidak disukai. Maksud dari hal ini adalah pemenuhan janji berupa kemudahan dalam perkara yang sulit. Keenam: Pada firman Allah Ta’ala: {Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya}, motivasi untuk bertakwa diulangi kembali di sini, dan diiringi dengan janji berupa sesuatu yang lebih agung daripada rezeki, kelapangan dari kesulitan, maupun kemudahan urusan; yaitu dengan penghapusan kesalahan-kesalahan serta pengagungan pahala dan ganjaran.
وبعد: فإن للتقوى أثرًا أي أثر في حياة المؤمن، فهي مفتاح كل خير، وهي طريق إلى سعادة العبد في الدنيا والآخرة، يكفيك في ذلك، قول الله عز وجل:
Sebagai penutup: Sesungguhnya taqwa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan orang beriman, karena ia adalah kunci setiap kebaikan, dan jalan menuju kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Cukuplah bagimu firman Allah ‘Izza wa Jalla:
{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ} [الأعراف: 96]
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” [al A’raaf: 96]
وكان من دعائه صلى الله عليه وسلم:
Dan di antara du’a beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah:
(اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى)
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, kesucian diri, dan kecukupan.” (HR. Muslim)
نسأل الله أن يجعلنا من الملتزمين بشرعه، ومن المتقين لأمره ونهيه. والله أعلم.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang berkomitmen pada syari’at-Nya, dan termasuk orang-orang yang bertakwa terhadap perintah dan larangan-Nya. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply