Kami Tidak Memintamu Rezeki, Kamilah yang Memberimu Rezeki



لا نسألك رزقًا نحن نرزقك

Kami Tidak Memintamu Rezeki, Kamilah yang Memberimu Rezeki

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kami Tidak Memintamu Rezeki, Kamilah yang Memberimu Rezeki ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

خطاب القرآن خطاب صدق وعدل، وإخباره إخبار حق وفصل، إذ هو الجد ليس بالهزل:

Khithab (seruan) al Qur’an adalah seruan kejujuran dan keadilan, serta beritanya adalah berita kebenaran dan ketetapan yang pasti, karena ia adalah kesungguhan dan bukan senda gurau:

{لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ} [فصلت: 42]

“(Yang) tidak datang kepadanya (al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” [Fushshilat: 42]

{وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} [النساء: 82]

“Kalau kiranya al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [an Nisaa: 82]

وحديثنا – في مقالنا هذا – يدور حول آية مفتاحية من آيات الكتاب الكريم، وهي قوله جلَّ وعلا:

Pembahasan kita dalam artikel ini berkisar pada ayat kunci dari ayat-ayat Al-Kitab yang mulia, yaitu firman-Nya Jalla wa ‘Alaa:

{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى} [طه: 132]

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalaah dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [Thaha: 132]

والآية وإن جاءت خطابًا لرسول الله صلى الله عليه وسلم، إلا إنها خطاب لأمته من بعده؛ تأمر الأهل خاصة، وولاة الأمور عامة، بأمر مَنْ كان تحت ولايتهم وعهدهم بالصلاة، إقامة لها ومحافظة عليها. الشريعة طافحة بالأدلة الحاثة على الصلاة إقامة وحفظًا، إذ هي عمود الدين ودعامته، فبإقامتها إقامة الدين، وبالإعراض عنها فلا قائمة له.

Ayat ini meskipun datang sebagai seruan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun ia juga merupakan seruan bagi umatnya setelah beliau; memerintahkan keluarga secara khusus, dan para pemimpin (wali) secara umum, untuk memerintahkan siapa saja yang berada di bawah perwalian dan tanggung jawab mereka untuk melaksanakan shalaah, menegakkannya, dan menjaganya. Syari’ah melimpah dengan dalil-dalil yang menganjurkan penegakan dan penjagaan shalaah, karena ia adalah tiang agama dan penyangganya; dengan menegakkannya berarti menegakkan agama, dan dengan berpaling darinya maka agama tidak akan tegak.

غير أن الأمر المهم في الآية توجيه الخطاب إلى أولياء الأمور بتعهد أبناءهم ومن كان تحت رعايتهم، بإقامة الصلاة والمحافظة عليها، تهيئة لهم إليها، وتعويدًا عليها، وفي الحديث الصحيح:

Namun perkara yang penting dalam ayat ini adalah pengarahan khithab kepada para wali agar memperhatikan anak-anak mereka dan siapa saja yang berada di bawah asuhan mereka untuk mendirikan shalaah dan menjaganya, sebagai bentuk pembiasaan bagi mereka. Dalam hadits shahiih disebutkan:

(مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر)

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalaah ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena (meninggalkan)nya ketika mereka berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawuud)

روي أن عمر رضي الله عنه كان إذا استيقظ من الليل أيقظ أهله، وقرأ قوله تعالى: {وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا}.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu apabila bangun di malam hari, beliau membangunkan keluarganya dan membaca firman Allah Ta’ala: {Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalaah dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya}.

ولما كانت النفوس ميَّالة إلى طلب الراحة، ومتثاقلة عن أداء ما كُلِّفت به، جاء الأمر الإلهي بالاصطبار على تحمل أداء الصلاة {وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا} والضمير يعود إلى الصلاة، والمعنى: تزود بالصبر للقيام بما كُلِّفت به؛ من أداء للصلاة، وأمرٍ لأهلك بها، ولا تتثاقل عما كُلِّفت به؛ والاصطبار فيه معنى الانحباس لأمر مهم، وذي شأن، ومستمر.

Dikarenakan jiwa cenderung mencari kenyamanan dan merasa berat dalam menunaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka datanglah perintah Ilahi untuk melakukan istishbaar (bersabar dengan sungguh-sungguh) dalam memikul beban pelaksanaan shalaah: {dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya}. Dhamir (kata ganti) di sini merujuk kepada shalaah, dan maknanya adalah: Berbekallah dengan kesabaran untuk melaksanakan apa yang ditugaskan kepadamu, baik dalam menunaikan shalaah maupun memerintahkan keluargamu untuk melakukannya, dan janganlah merasa berat. Kata istishbaar mengandung makna menahan diri demi perkara yang penting, mulia, dan berkesinambungan.

وحيث إن الخطاب القرآني قد يُتبادر منه أن طلب العبادة والتوجه إليها يكون عائقًا أو مانعًا من تحصيل الرزق، أبان الخطاب أن أمر الرزق موكول إلى رب العباد ومدبر الأرزاق، فقال: {لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ} أي: لا نسألك أن ترزق نفسك وإياهم، وتشتغل عن الصلاة بسبب الرزق، بل نحن نتكفل برزقك وإياهم، وقريب من هذا المعنى قوله تعالى:

Mengingat bahwa khithab al Qur’ani mungkin dipahami sekilas bahwa tuntutan ibadah dapat menjadi penghalang dalam meraih rezeki, maka khithab tersebut menjelaskan bahwa urusan rezeki diserahkan kepada Rabb para hamba dan Pengatur segala rezeki. Dia berfirman: {Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu}; artinya: Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki pada dirimu sendiri maupun mereka, sehingga engkau sibuk meninggalkan shalaah karena alasan rezeki, melainkan Kamilah yang menjamin rezekimu dan rezeki mereka. Senada dengan makna ini adalah firman Allah Ta’ala:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ} [الذاريات: 56-58]

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” [adz Dzaariyaat: 56-58]

وإياك – أخي الكريم – أن تفهم من هذا الخطاب القرآني التقاعد عن طلب الرزق، وترك الأسباب، طلبًا لتحصيل أسباب الحياة؛ فليس ذلك بمراد وهو فهم قاصر لهذه الآية؛ ويكفيك في هذا المقام قوله تعالى:

Dan janganlah engkau —wahai saudaraku yang mulia— memahami dari seruan al Qur’an ini untuk berhenti mencari rezeki atau meninggalkan sebab-sebab dalam meraih kebutuhan hidup; karena hal tersebut bukanlah maksudnya dan merupakan pemahaman yang dangkal terhadap ayat ini. Cukuplah bagimu dalam hal ini firman Allah Ta’ala:

{هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ} [الملك: 15]

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” [al Mulk: 15]

والآيات المقررة لهذا المعنى ليست قليلة، فلا يلتبس الأمر عليك؛ فالمحظور إنما الانشغال بأسباب الرزق عن عبادة الله سبحانه، وخاصة الصلاة، إذ هي أكثر العبادات تكررًا في حياة المسلم، فإذا قام الإنسان بالأسباب المتاحة فقد حصل المطلوب، أما إن انشغل بالأسباب، وشُغل بتحصيل الرزق، وترك أو قصَّر فيما كُلِّفه من واجبات فقد وقع فيما هو محظور وممنوع.

Ayat-ayat yang menetapkan makna ini tidaklah sedikit, maka janganlah perkara ini membuatmu bingung. Yang dilarang hanyalah kesibukan mencari rezeki yang melalaikan dari ibadah kepada Allah Subhaanahu, khususnya shalaah, karena ia adalah ibadah yang paling sering berulang dalam kehidupan seorang Muslim. Apabila seseorang telah mengusahakan sebab-sebab yang ada, maka tuntutan telah terpenuhi. Namun, jika ia terlalu sibuk dengan sebab-sebab dan pengejaran rezeki hingga meninggalkan atau melalaikan kewajiban yang ditugaskan kepadanya, maka ia telah terjatuh ke dalam hal yang dilarang.

وإذ تقرر هذا، كان معنى الآية: إذا أقمت الصلاة – في نفسك وأهلك – وعملت بأسباب الرزق الميسرة دون تكلف، أتاك الرزق من حيث لا تحتسب، كما قال تعالى:

Setelah hal ini ditetapkan, maka makna ayat tersebut adalah: Jika engkau mendirikan shalaah —pada dirimu dan keluargamu— serta mengusahakan sebab-sebab rezeki yang dimudahkan tanpa berlebih-lebihan, maka rezeki akan mendatangimu dari arah yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2-3]

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [at Thalaaq: 2-3]

على هذا، فلا عذر اليوم لمن قصَّر في إقام الصلاة في نفسه وأهله، بدعوى طلب الرزق، وتعدد مطالب الحياة، بحيث تجد أحدهم يلهث صباح مساء لتأمين مطالب الحياة، غافلاً أو متغافلا عن شؤون أبنائه، ثم تكون النتيجة لا أرضًا قطع ولا ظهرًا أبقى، ولات ساعة مندم. وينفع في هذا المقام، أن نذكر بما رواه أبو هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقول الله تعالى:

Maka dari itu, tidak ada udzur hari ini bagi siapa pun yang lalai mendirikan shalaah pada dirinya dan keluarganya dengan alasan mencari rezeki atau banyaknya tuntutan hidup, di mana engkau mendapati salah satu dari mereka terengah-engah pagi dan malam demi mengamankan tuntutan hidup, seraya lalai dari urusan anak-anaknya. Hasilnya, ia tidak mendapatkan apa yang dikejar dan justru kehilangan apa yang seharusnya dijaga. Sangatlah bermanfaat dalam kedudukan ini untuk kita sebutkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman:

(يا ابن آدم تفرَّغ لعبادتي أملأ صدرك غنى، وأسدُّ فقرك، وإن لم تفعل، ملأت صدرك شغلاً، ولم أسدَّ فقرك)

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan menutupi kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.” (HR. at Tirmidziy dan Ibnu Maajah)

وبما رواه ابن مسعود رضي الله عنه، قال: سمعت نبيكم صلى الله عليه وسلم، يقول:

Dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi kalian shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(من جعل الهموم همًا واحداً، همَّ المعاد، كفاه الله هم دنياه، ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبالِ الله في أي أوديتها هلك)

“Barangsiapa menjadikan segala kegundahannya menjadi satu kegundahan saja, yaitu kegundahan akan akhirat, maka Allah akan mencukupkan kegundahan dunianya. Dan barangsiapa yang kegundahannya bercabang-cabang dalam urusan dunia, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana ia akan binasa.” (HR. Ibnu Maajah)

وبما روي أيضًا عن زيد بن ثابت رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، يقول:

Serta apa yang diriwayatkan juga dari Zaid bin Tsaabit radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(من كانت الدنيا همَّه فرَّق الله عليه أمره، وجعل فقره بين عينيه، ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له، ومن كانت الآخرة نيته، جمع له أمره، وجعل غناه في قلبه، وأتته الدنيا وهي راغمة)

“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran berada di depan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menghimpun urusannya, menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.” (HR. at Tirmidziy dan Ahmad)

نخلص من قراءة هذه الآية الكريمة، أن أمر الأهل بأداء العبادات الشرعية عمومًا، والصلاة خصوصًا، ومتابعتهم على أدائها، واجب أساس من واجبات الأبوين، والأب على وجه الأخص؛ وأن هذا الواجب يحتاج إلى صبر ومصابرة ومتابعة وحكمة أيضًا، ينبغي أن يتحلى بها كل من الأبوين؛ ودلت الآية الكريمة أيضًا على أنه لا ينبغي للوالدين أن يقصرا في هذا الواجب بحجة تأمين الرزق لأبنائهم، فإن هذا أمر قد تكفل الله به، لكن مع الأخذ بالأسباب، والسعي في طلبها، والقيام بكل واجب وفق أهميته، ومكانته في سلم الواجبات الشرعية.

Kita menyimpulkan dari pembacaan ayat yang mulia ini bahwa memerintahkan keluarga untuk menunaikan ibadah-ibadah syari’at secara umum, dan shalaah secara khusus, serta memantau pelaksanaannya, merupakan kewajiban pokok dari kewajiban orang tua, khususnya bagi ayah. Kewajiban ini membutuhkan kesabaran, kegigihan, pemantauan, serta hikmah yang harus dimiliki oleh orang tua. Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa tidak sepatutnya orang tua melalaikan kewajiban ini dengan dalil mengamankan rezeki bagi anak-anak mereka, karena hal ini adalah perkara yang telah Allah jamin, namun tetap dengan mengambil sebab-sebab, berusaha mencarinya, dan menunaikan setiap kewajiban sesuai dengan tingkat kepentingan dan kedudukannya dalam tangga kewajiban syari’at.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.