أينما يوجهه لا يأت بخير
Ke Mana Pun Dia Diarahkan, Dia Tidak Datang Membawa Kebaikan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Ke Mana Pun Dia Diarahkan, Dia Tidak Datang Membawa Kebaikan ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an
من الأساليب الفنية التي استعملها الخطاب القرآني لتوصيل خطابه وكشف معانيه، وإبراز مقاصده، أسلوب ضرب المثل، وهو أسلوب قرآني بارز وملحوظ في القرآن الكريم، ووقفتنا اليوم مع آية قرآنية سيقت مساق ضرب المثل لمن يعمل بطاعة الله، ويلتزم حدوده وشرعه، ومن يُعرض عن ذلك فلا يكترث بشرع، ولا يقيم وزنًا لدين.
Di antara metode artistik yang digunakan oleh khithab al Qur’ani untuk menyampaikan pesan, menyingkap makna, serta menonjolkan tujuannya adalah metode penyampaian perumpamaan (amtsal). Ini merupakan gaya bahasa al Qur’ani yang menonjol dan nyata di dalam al Qur’an al Kariim. Pembahasan kita hari ini adalah mengenai ayat al Qur’ani yang dibawakan dalam bentuk perumpamaan bagi orang yang beramal dalam ketaatan kepada Allah serta berkomitmen pada batasan dan syari’at-Nya, dibandingkan dengan orang yang berpaling dari hal itu, tidak mempedulikan syari’at, serta tidak memberikan nilai pada agama.
يقول جلا علاه في محكم تنزيله:
Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman dalam kitab-Nya yang kokoh:
{ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ على شيء وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ} [النحل: 75]
“Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” [an Nahl: 75]
والآية – كما هو ظاهر – مثَّلت لحالين، وإن شئت قل: أبرزت موقفين متباينين متعارضين؛ الأول: حال العبد الذي لا يملك من أمره شيئًا، بل هو في موقف المنفعل، والمتأثر، والمتلقي لما يلقى عليه من أوامر ونواهٍ؛ والثاني: حال الحر المالك لأمره، الفاعل وفق هدي ربه، والمؤثر فيمن حوله.
Ayat ini —sebagaimana yang nampak— memberikan perumpamaan bagi dua keadaan, atau jika engkau mau, engkau bisa katakan: menonjolkan dua posisi yang berbeda dan bertolak belakang. Pertama: kondisi seorang hamba sahaya yang tidak memiliki kekuasaan atas urusannya sedikit pun, melainkan ia berada pada posisi pasif, terpengaruh, dan sekadar penerima atas perintah dan larangan yang diberikan kepadanya. Kedua: kondisi orang merdeka yang memiliki kekuasaan atas urusannya, bertindak sesuai petunjuk Tuhannya, dan memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitarnya.
قال أهل التفسير في معنى الآية: هذا مثل ضربه الله للكافر والمؤمن، فالكافر رزقه الله مالاً فلم يقدم فيه خيرًا، ولم يعمل فيه بطاعة الله، بل أخذ ينفقه فيما لا يرضي الله سبحانه، ويستخدمه فيما لم يُشرع المال لأجله؛ والمؤمن الذي رزقه الله رزقًا حسنًا، فهو يعمل فيه بطاعة الله، ويؤدي به شكره، ويعرف حق الله فيه، فشتان بين الموقفين؛ موقف المعرض عما أمر الله به، والجاحد لما أنعم به عليه، وموقف المقبل على أمر ربه، والعارف لما أسبغ عليه من نعمه، فشتان ما هما {هل يستويان مثلا} ولكن أكثر الناس لا يعلمون، بل هم عن ذلك غافلون.
Para ahli tafsir berkata mengenai makna ayat ini: Ini adalah perumpamaan yang Allah buat untuk orang kafir dan mukmin. Orang kafir telah Allah beri rezeki berupa harta namun ia tidak mendahulukan kebaikan dengannya, tidak menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, melainkan ia membelanjakannya pada hal-hal yang tidak diridhai Allah Subhaanahu, dan menggunakannya untuk tujuan yang bukan menjadi alasan disyariatkannya harta tersebut. Sedangkan orang mukmin yang Allah beri rezeki yang baik, maka ia menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan syukur dengannya, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Maka betapa jauh perbedaan antara kedua posisi tersebut; posisi orang yang berpaling dari apa yang Allah perintahkan serta mengingkari nikmat yang telah diberikan kepadanya, dengan posisi orang yang menghadap pada perintah Tuhannya serta mengetahui nikmat yang telah dicurahkan kepadanya. Sungguh jauh perbedaan antara keduanya {adakah mereka itu sama perumpamaannya?} akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, bahkan mereka lalai akan hal tersebut.
ولا بأس أن تعلم، أن بعض المفسرين رأى أن المقصود في المثل المضروب في الآية، بيان الفرق بين خالق العباد ومدبر أمرهم، وبين الأصنام التي تعبد من دون الله، ولا تملك لنفسها نفعًا ولا ضرًا، فضلاً عن أن تملك ذلك لغيرها. وحاصل المعنى وفق هذا التفسير: أنه كما لا يستوي – عقلاً ولا عادة – عبد مملوك لا يقدر من أمره على شيء، ورجل حر قد رزقه الله رزقًا حسنًا فهو ينفق منه، كذلك لا يستوي الرب الخالق الرازق، والأصنام التي تعبد من الله، وهي لا تبصر ولا تسمع، ولا تضر ولا تنفع، ولا تخفض ولا ترفع.
Dan tidak mengapa bagi engkau untuk mengetahui bahwa sebagian mufasir berpendapat bahwa maksud dari perumpamaan yang disebutkan dalam ayat ini adalah penjelasan mengenai perbedaan antara Sang Pencipta hamba dan Pengatur urusan mereka, dengan berhala-berhala yang disembah selain Allah, yang tidak memiliki manfaat maupun mudarat bagi diri mereka sendiri, apalagi memilikinya untuk orang lain. Kesimpulan maknanya menurut tafsir ini adalah: Bahwa sebagaimana secara akal maupun kebiasaan tidaklah sama antara hamba sahaya yang tidak berdaya atas urusannya dengan orang merdeka yang Allah beri rezeki yang baik lalu ia menafkahkannya; demikian pula tidaklah sama antara Rabb Sang Pencipta lagi Maha Pemberi Rezeki dengan berhala-berhala yang disembah selain Allah, yang mana mereka tidak melihat, tidak mendengar, tidak mendatangkan mudarat maupun manfaat, serta tidak pula merendahkan maupun meninggikan.
ثم إن لهذه الآية ارتباط وثيق بالآية التي تليها مباشرة، وهي قوله تعالى:
Kemudian sesungguhnya ayat ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat yang tepat setelahnya, yaitu firman Allah Ta’ala:
{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ على شيء وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} [النحل: 76]
“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di atas jalan yang lurus?” [an Nahl: 76]
و( الكَلُّ) في الآية – بفتح الكاف – العالة على الناس، وفي الحديث:
Kata al kallu dalam ayat ini —dengan fathah pada huruf kaf— bermakna beban bagi orang lain. Dalam hadits disebutkan:
(من ترك كَلاً فإليَّ)
“Barangsiapa yang meninggalkan beban (tanggungan keluarga), maka kembalikanlah kepadaku.” (HR. al Bukhariy)
أي من ترك عيالاً فأنا كفيلهم، وأصل (الكَلِّ) الثقل. و(الأبكم) هو الكافر، شُبِّه بذلك لعجزه عن إدراك الحق، والانقياد له، وتعذر الفائدة منه في سائر أحواله. و(العدل) الحق والصواب الموافق للواقع؛ والذي {يأمر بالعدل} هو مثل للمؤمن الذي وُفِّق لإدراك الحق، وهُدي إليه، فعمل به، وجاهد لأجله، وعاش صابرًا ومصابرًا تحت لوائه.
Artinya: Barangsiapa yang meninggalkan keluarga, maka akulah penjamin mereka. Asal kata al kallu adalah beban yang berat. Sedangkan al abkam (bisu) adalah perumpamaan bagi orang kafir; diserupakan demikian karena ketidakmampuannya untuk memahami kebenaran, tunduk kepadanya, serta sulitnya mengambil manfaat darinya dalam segala keadaannya. Adapun al ‘adl (keadilan) adalah kebenaran yang sesuai dengan realitas; dan orang yang {menyuruh berbuat keadilan} adalah perumpamaan bagi orang mukmin yang diberi taufik untuk memahami kebenaran, diberi hidayah kepadanya, lalu mengamalkannya, berjihad demi kebenaran tersebut, serta hidup dengan sabar dan teguh di bawah panjinya.
على أننا نفهم من هذا المثل الثاني، المضروب للتفريق بين الكافر والمؤمن، ما هو أعم من ذلك وأشمل، وهو أن يكون مثالاً لبيان الفارق بين المؤمن العامل والمؤمن الخامل، والمؤمن الفاعل والمؤمن المنفعل، والمؤمن الإيجابي والمؤمن السلبي، والمؤمن المتفائل والمؤمن المتشائم، والمؤمن المؤثر والمؤمن المتأثر…إلى غير ذلك من الصفات الفارقة والفاصلة بين الموقفين؛ موقف مقدام غير هيَّاب، كل همه العمل بما يرضي الله، والسير على نهج خالقه، لا ينفتل إلى غير ذلك؛ وموقف متردد خوار لا يدري ما هو فاعل، ولا إلى أين هو يتجه؛ وشتان بين أن يكون المؤمن كَلاًّ، وبين أن يكون عدلاً، فالأول قاعد ينتظر من السماء أن تمطر عليه ذهبًا أو فضة، والثاني ساع في الأرض في مناكبها، آخذ بأسباب الرزق والعمل، متوكل على الله في أمره كله.
Sesungguhnya kita memahami dari perumpamaan kedua ini, yang dibuat untuk membedakan antara kafir dan mukmin, makna yang lebih umum dan luas. Yaitu menjadi contoh untuk menjelaskan perbedaan antara mukmin yang bekerja dengan mukmin yang pasif, mukmin yang aktif dengan mukmin yang reaktif, mukmin yang positif dengan mukmin yang negatif, mukmin yang optimis dengan mukmin yang pesimis, mukmin yang memberi pengaruh dengan mukmin yang terpengaruh, dan sifat-sifat lainnya yang memisahkan antara dua posisi tersebut. Posisi orang yang berani dan tidak gentar, yang seluruh fokusnya adalah beramal pada apa yang diridhai Allah serta berjalan di atas manhaj Penciptanya tanpa menoleh pada yang lain; dan posisi orang yang ragu-ragu lagi lemah, tidak tahu apa yang harus diperbuat, dan tidak tahu ke mana ia menuju. Sungguh jauh perbedaan antara mukmin yang menjadi beban (kallan) dengan mukmin yang menjadi penegak keadilan (‘adlan). Yang pertama hanya duduk menunggu langit menghujankan emas atau perak, sedangkan yang kedua berusaha di penjuru bumi, mengambil sebab-sebab rezeki dan amal, serta bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya.
فالعمل العمل عباد الله، والجد الجد أخي المؤمن، فاعرف دورك في هذه الحياة، وحدد وجهتك التي هي مقصدك، وتوكل على الله فهو حسبك، واستعن بالله ولا تعجز، إنه نعم المولى ونعم النصير.
Maka beramallah, beramallah wahai hamba-hamba Allah! Bersungguh-sungguhlah, bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku mukmin! Kenalilah peranmu dalam kehidupan ini, tentukanlah arah yang menjadi tujuanmu, bertawakallah kepada Allah karena Dia-lah pencukupmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah engkau merasa lemah. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply