إنما التوبة على الله
Sesungguhnya Taubat Itu Hanya di Sisi Allah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Sesungguhnya Taubat Itu Hanya di Sisi Allah ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an
في القرآن الكريم نقرأ في موضوع التوبة آيات عدة، من ذلك قوله تعالى:
Di dalam al Qur’an al Kariim kita membaca beberapa ayat mengenai tema taubat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:
{إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ} [النساء: 17]
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” [an Nisaa: 17]
ومنها قوله سبحانه:
Dan di antaranya firman-Nya Subhaanahu:
{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا} [الزمر: 53]
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’” [az Zumar: 53]
ومنها قوله عز من قائل:
Dan di antaranya firman-Nya ‘Izza min Qaa-il:
{وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ} [الشورى: 25]
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” [asy Syuura: 25]
وقوله جلَّ علاه:
Serta firman-Nya Jalla ‘Alaahu:
{أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ} [التوبة: 104]
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” [at Taubah: 104]
قال أهل العلم: واتفقت الأمة على أن التوبة فرض على المؤمنين، لقوله تعالى: {وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} (النور:31).
Para ahli ilmu berkata: Umat telah bersepakat bahwa taubat adalah fardhu bagi orang-orang beriman, berdasarkan firman Allah Ta’ala: {Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung} (an Nuur: 31).
وأمر التوبة في الإسلام أمر عظيم، فهي نعمة جليلة أنعم الله بها على عباده، إذ منحهم فرصة لمراجعة الحساب، وتدارك ما فات، والأوبة إلى ما فيه نجاتهم من المهلكات. والآيات التي صدرنا بها مقالنا – وموضوعها التوبة – هي وجهتنا في هذا المقال، فنقول: في قوله تعالى: {إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ} تأكيد ووعد من الله تعالى بقبول التوبة من عباده، الذين أسرفوا على أنفسهم بالذنوب والمعاصي، كبيرها وصغيرها، حتى جُعلت كالحق على الله سبحانه، ولا شيء عليه واجب إلا ما أوجبه جل وعلا على نفسه.
Perkara taubat dalam Islam adalah perkara yang agung. Ia merupakan nikmat yang mulia yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia memberi mereka kesempatan untuk meninjau kembali hisab mereka, memperbaiki apa yang telah berlalu, dan kembali kepada apa yang menjadi keselamatan mereka dari hal-hal yang membinasakan. Ayat-ayat yang kami jadikan pembuka artikel ini —yang bertema taubat— adalah arah pembahasan kita dalam artikel ini. Kami katakan: Pada firman Allah Ta’ala: {Sesungguhnya taubat di sisi Allah} terdapat penegasan dan janji dari Allah Ta’ala untuk menerima taubat dari hamba-hamba-Nya yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri dengan dosa dan kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, hingga hal itu dijadikan seolah-olah sebagai hak atas Allah Subhaanahu, padahal tidak ada sesuatu pun yang wajib atas-Nya melainkan apa yang Dia Jalla wa ‘Alaa wajibkan atas diri-Nya sendiri.
ثم إن الجهالة الواردة في الآية {يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ} تطلق على سوء المعاملة، وعلى الإقدام على العمل دون رويِّة؛ يقال: أتاه بجهالة، بمعنى أنه فَعَلَ فِعْل الجهال به، لا أنه كان جاهلاً؛ بدليل أنه لو عمل أحد معصية وهو غير عالم بأنها معصية لم يكن آثمًا، ولا يجب عليه إلا أن يتعلم ذلك ويتجنبه.
Kemudian sesungguhnya kata al jahaalah yang disebutkan dalam ayat {mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan} digunakan untuk menyebut perilaku yang buruk, serta melakukan suatu perbuatan tanpa pertimbangan yang matang. Dikatakan: “Ia mendatanginya dengan jahaalah“, artinya ia melakukan perbuatan orang-orang bodoh, bukan berarti ia benar-benar tidak tahu (jahil); buktinya adalah seandainya seseorang melakukan maksiat sementara ia tidak tahu bahwa itu adalah maksiat, maka ia tidaklah berdosa, dan tidak ada kewajiban baginya kecuali mempelajari hal tersebut dan menjauhinya.
وعن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: {إنما التوبة على الله للذين يعملون السوء بجهالة} قال: من عمل السوء فهو جاهل، من جهالته عمل السوء. ومعنى قوله تعالى: {مِنْ قَرِيبٍ} أن يبادر المذنب والعاصي إلى التوبة بعد فعل المعصية، من غير أن يتمادى في غيه ومعصيته؛ وهو بمعنى قوله صلى الله عليه وسلم:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa, ia berkata tentang {Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan}: “Barangsiapa melakukan kejahatan maka ia adalah orang bodoh (jahil), karena kebodohannyalah ia melakukan kejahatan tersebut.” Dan makna firman-Nya Ta’ala: {dengan segera} (min qariib) adalah orang yang berdosa dan bermaksiat tersebut bersegera untuk bertaubat setelah melakukan maksiat, tanpa terus-menerus dalam kesesatan dan kemaksiatannya. Hal ini semakna dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
(وأتبع السيئة الحسنة تمحها)
“Dan ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya ia akan menghapusnya.” (HR. at Tirmidziy)
أما قوله عز شأنه في الآية التالية: {وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ} (النساء:18) فهو تنبيه منه سبحانه على نفي قبول نوع من التوبة، وهي التي تكون عند حضور الموت واليأس من الحياة {حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ} (النساء:18) إذ المطلوب من العبد حال توبته أن يقرن العمل بالقول، ولا يكفيه في ذلك أن يقول ما لا يفعل، أو يفعل ما لا يقول؛ فإعلان التوبة ليس مجرد كلمات تقال، وألفاظ تردد فحسب، بل لا بد أن يصدق ذلك عمل وفعل، وإلا لم تكن توبة نصوحًا، فإذا وقع اليأس من الحياة ذهبت فائدة التوبة، إذ لم يبق معها مجال للعمل.
Adapun firman-Nya ‘Izza Sya’nuhu pada ayat berikutnya: {Dan tidaklah taubat itu diterima bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan} (an Nisaa: 18), merupakan peringatan dari Allah Subhaanahu atas penafian diterimanya sejenis taubat, yaitu yang dilakukan saat kematian datang dan telah putus asa dari kehidupan {hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’} (an Nisaa: 18). Sebab yang dituntut dari seorang hamba saat bertaubat adalah menyertakan amal dengan perkataan, dan tidak cukup baginya hanya mengatakan apa yang tidak ia kerjakan, atau mengerjakan apa yang tidak ia katakan. Pernyataan taubat bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan dan lafaz yang diulang-ulang saja, melainkan harus dibuktikan dengan amal dan perbuatan. Jika tidak, maka itu bukanlah taubat nashuuha. Apabila rasa putus asa terhadap kehidupan telah terjadi (karena sakratul maut), maka hilanglah manfaat taubat, karena tidak ada lagi ruang untuk beramal.
وقد وردت أحاديث عدة تؤكد هذا المعنى وتوضحه، من ذلك ما جاء عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال:
Telah datang beberapa hadits yang menguatkan dan menjelaskan makna ini, di antaranya apa yang datang dari ‘Abdullaah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhumaa: Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(إن الله تبارك وتعالى يقبل توبة العبد ما لم يغرغر)
“Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (ghargarah).” (HR. Ahmad dan at Tirmidziy)
وإذا كانت التوبة في آية النساء الأولى {إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ} عامة لكل من عمل ذنبًا، فإن الآية الثانية {حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ} قد خصصت هذا العموم حال حضور الموت وعند النزاع، إذ لا تجدي التوبة حينئذ. على أن ما قد يشكل في هذا السياق ما جاء في سورة النساء نفسها، وهو قوله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ} (النساء:48) فظاهر الآية أن الله سبحانه يغفر الذنوب جميعًا إلا الشرك فإنه لا يغفره، وهذا الإطلاق في الآية مقيد في حال مات العبد وهو مشرك بالله، فإن مغفرة الله لا تناله من قريب ولا من بعيد، لكن إن تاب العبد من إشراكه قبل موته، فإن الله يقبل التوبة من عباده ويعفو عن السيئات.
Apabila taubat dalam ayat pertama surah an Nisaa {Sesungguhnya taubat di sisi Allah} bersifat umum bagi siapa saja yang melakukan dosa, maka ayat kedua {hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’} telah mengkhususkan keumuman tersebut pada saat hadirnya kematian dan saat sakratul maut, karena taubat tidak lagi berguna saat itu. Adapun hal yang mungkin terasa sulit dalam konteks ini adalah apa yang datang dalam surah an Nisaa juga, yaitu firman Allah Ta’ala: {Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya} (an Nisaa: 48). Zahir ayat ini menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu mengampuni seluruh dosa kecuali syirk. Namun kemutlakan dalam ayat ini dibatasi pada kondisi jika seorang hamba mati dalam keadaan musyrik kepada Allah, maka ampunan Allah tidak akan mengenainya sama sekali. Tetapi jika hamba tersebut bertaubat dari kesyirikannya sebelum wafatnya, maka Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.
قال ابن كثير رحمه الله: أخبر تعالى أنه لا يغفر أن يشرك به؛ أي لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به، ويغفر ما دون ذلك، أي من الذنوب لمن يشاء، أي من عباده. وقد وردت أحاديث متعلقة بهذه الآية الكريمة، من ذلك ما رواه الإمام أحمد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال:
Ibnu Katsiir rahimahullaah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirk; artinya Dia tidak mengampuni hamba yang menemui-Nya dalam keadaan musyrik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Telah datang pula hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Imaam Ahmad dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
(إن الله يقول: يا عبدي ما عبدتني ورجوتني، فإني غافر لك على ما كان منك، يا عبدي إنك إن لقيتني بقُراب الأرض خطيئة ما لم تشرك بي، لقيتك بقرابها مغفرة)
“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, selama engkau menyembah-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu atas apa yang ada padamu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya jika engkau menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi selama engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. Ahmad)
ولهذا كان الإيمان أشرف أنواع التوبة. وبعد: فقد أجمع المسلمون كلهم، على أن التوبة من الكفر، والإقرار بالإيمان، تستوجب المغفرة من الله؛ وأن الموت على الكفر مطلقًا لا يُغفر بلا شك، وأجمعوا كذلك على أن المذنب إذا تاب يغفر ذنبه، إذا استجمع شروط التوبة المقبولة؛ أما إذا مات المذنب على ذنبه – غير الشرك بالله – من غير أن يتب، فآية النساء وغيرها من الأدلة، تدل على أن أمره متروك لمشيئة الله سبحانه، إن شاء عفى عنه برحمته وعفوه، وإن شاء عذبه بعدله وقسطه.
Oleh karena itu, imaan merupakan jenis taubat yang paling mulia. Sebagai penutup: Seluruh kaum Muslimin telah bersepakat bahwa taubat dari kufr dan pengikraran imaan akan mendatangkan ampunan dari Allah; dan bahwasanya mati di atas kufr secara mutlak tidak akan diampuni tanpa keraguan sedikit pun. Mereka juga bersepakat bahwa pelaku dosa jika bertaubat maka dosanya diampuni, apabila telah memenuhi syarat-syarat taubat yang diterima. Adapun jika pelaku dosa tersebut mati di atas dosanya —selain syirk kepada Allah— tanpa sempat bertaubat, maka ayat surah an Nisaa dan dalil-dalil lainnya menunjukkan bahwa urusannya diserahkan kepada kehendak Allah Subhaanahu; jika Dia berkehendak maka Dia memaafkannya dengan rahmat dan ampunan-Nya, dan jika Dia berkehendak maka Dia mengazabnya dengan keadilan-Nya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply