هل الشعور بالضيق عند أداء العبادة يعد بغضا لما أنزل الله
Apakah Merasa Sesak Saat Menunaikan Ibadah Terhitung Membenci Apa yang Diturunkan Allah?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apakah Merasa Sesak Saat Menunaikan Ibadah Terhitung Membenci Apa yang Diturunkan Allah? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
شيخي الكريم: هل إذا وجد إنسان شيئا من الضيق في صدره تجاه عمل أمر ما في الشريعة، لكنه يعمل ذلك العمل، وفي نفس الوقت يحبه ومقتنع به. هل يعتبر ذلك بغضا لما أنزل الله سبحانه وتعالى ـ والعياذ بالله؟ وإذا تحول ذلك الضيق إلى مثلا تأوه أو تحسر أو شيء نحو ذلك مع العلم أن ذلك إذا وقع فإنه يقع رغما عني أي يسبقني لساني دون انتقاص لذلك العمل، فهل في ذلك مخالفة شرعية؟.
Syaikh yang mulia: Jika seseorang mendapati rasa sesak di dadanya terhadap pengerjaan suatu perkara dalam syari‘at, namun ia tetap melakukan amal tersebut, dan pada saat yang sama ia mencintai serta meyakininya. Apakah hal itu terhitung sebagai membenci apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala —wal ‘iyadzu billah—? Dan jika rasa sesak itu berubah menjadi misalnya rintihan (ta’awwuh) atau keluhan (tahassur) atau semisalnya, dengan catatan bahwa jika hal itu terjadi maka ia terjadi di luar kendali saya —yakni lidah saya mendahului saya— tanpa bermaksud merendahkan amal tersebut, maka apakah di dalamnya terdapat pelanggaran syar‘i?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فاعلم أن استثقال بعض العبادات والشعور بالضيق عند فعلها ومصابرة النفس عليها قد يعتري أهل الإيمان ولا يعد هذا نفاقا.
Ketahuilah bahwa merasa berat terhadap sebagian ‘ibadah dan merasakan sesak saat mengerjakannya serta upaya menyabarkan diri atasnya terkadang menimpa ahli iman, dan hal ini tidaklah terhitung sebagai nifaq (kemunafikan).
والمؤمن مكلف بأن يظل في جهاد لنفسه حتى يزول عنه هذا الاستثقال، فيؤدي الحق سماحة لا كظما، وطواعية لا كرها، ويحصل له انشراح الصدر بالعبادة والأنس بها.
Seorang mukmin dituntut untuk senantiasa berada dalam jihad melawan nafsunya hingga rasa berat ini hilang darinya, sehingga ia menunaikan hak (kewajiban) dengan kelapangan hati bukan dengan menahan sesak, serta dengan sukarela bukan dengan paksaan, hingga ia mendapatkan kelapangan dada dengan ‘ibadah dan rasa nyaman dengannya.
والذي يؤدي العبادة طيبة بها نفسه أعظم أجرا من الذي يؤديها ضيقا بها صدره، وإن كان الثاني لا يخلو عن ثواب.
Dan orang yang menunaikan ‘ibadah dengan jiwa yang tenang lebih besar pahalanya daripada orang yang menunaikannya dengan dada yang sesak, meskipun yang kedua pun tidak luput dari pahala (tsawab).
ويرجى له بالمجاهدة ودوام مصابرة النفس حصول المأمول من وجدان لذة الطاعة وحلاوة العبادة.
Diharapkan baginya melalui mujahadah dan konsistensi dalam menyabarkan diri untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan berupa menemukan kelezatan ketaatan dan manisnya ‘ibadah.
وقد بينا هذا المعنى في الفتوى الأخرى هنا، فانظرها وما أحيل عليه فيها للأهمية.
Sungguh kami telah menjelaskan makna ini dalam fatwa lainnya di sini; maka lihatlah hal tersebut dan apa yang dirujuk di dalamnya karena pentingnya masalah ini.
على أنه لا يفوتنا أن نحذرك من الاسترسال مع الوساوس والانسياق وراءها فإن ذلك يفضي إلى شر عظيم ويفتح على المرء بابا عريضا من أبواب الفساد.
Di samping itu, tidak lupa kami memperingatkan Anda agar tidak hanyut dalam waswas dan terbawa olehnya, karena hal itu akan membawa kepada keburukan yang besar dan membuka pintu kerusakan yang luas bagi seseorang.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply