لذة العبادة لا تحصل إلا بالمصابرة والتعب والمجاهدة
Kelezatan Ibadah Tidak Akan Diraih Kecuali dengan Kesabaran, Kelelahan, dan Perjuangan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kelezatan Ibadah Tidak Akan Diraih Kecuali dengan Kesabaran, Kelelahan, dan Perjuangan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل أحصل على أجر العبادات وإن كنت أستثقلها؟ مع العلم أنني مخلص فيها، وعلى ماذا يدل هذا؟.
Apakah saya tetap mendapatkan pahala ibadah meskipun saya merasa berat (astatstqiluha) dalam melakukannya? Perlu diketahui bahwa saya ikhlas di dalamnya. Lantas, apa maknanya (perasaan berat ini)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإنك بمجاهدتك نفسك على فعل الطاعات ـ وإن كانت نفسك تأبى وتستعصي عليك ـ مأجور ومثاب ـ بإذن الله ـ فإن الله تعالى لا يضيع أجر المحسنين.
Sesungguhnya Anda, dengan perjuangan Anda melawan hawa nafsu (mujahadatun nafsi) untuk melakukan ketaatan —meskipun jiwa Anda enggan dan sulit diatur— tetap mendapatkan pahala dan balasan (matsab) —dengan izin Allah— karena sesungguhnya Allah Ta‘ala tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
وعليك بالاستمرار في مجاهدة نفسك، فإنك إن مضيت في هذا الطريق صارت العبادة همتك وصرت تؤديها بطيب نفس وانشراح صدر.
Wajib bagi Anda untuk terus berjuang melawan nafsu Anda, karena jika Anda terus menempuh jalan ini, niscaya ibadah akan menjadi cita-cita utama Anda dan Anda akan menunaikannya dengan jiwa yang baik serta dada yang lapang.
والالتذاذ بالطاعة والأنس بها لا يحصل إلا بعد تحمل ألم المجاهدة وعناء قمع النفس التي تتأبى وتستعصي.
Merasakan kelezatan dalam ketaatan dan ketenangan dengannya tidaklah tercapai kecuali setelah menanggung rasa perihnya perjuangan (al-mujahadah) serta kelelahan dalam menundukkan nafsu yang enggan dan sulit diatur.
قال ابن القيم ـ رحمه الله: اجعل هذه المعاملة منك صادرة عن سماحة وطيبة نفس وانشراح صدر، لا عن كظم وضيق ومصابرة، فإن ذلك دليل على أن هذا ليس في خلقك وإنما هو تكلف يوشك أن يزول ويظهر حكم الخلق صريحا فتفتضح.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Jadikanlah perlakuan Anda ini muncul dari kelapangan, jiwa yang baik, dan dada yang terbuka; bukan dari rasa menahan sesak, kesempitan, dan paksaan sabar (mushabarah). Karena hal itu (yang dipaksakan) adalah bukti bahwa hal tersebut bukanlah karakter (asli) Anda, melainkan beban (takalluf) yang hampir sirna, dan hukum karakter asli Anda akan tampak nyata sehingga Anda akan terbongkar (kekurangannya).”
وليس المقصود إلا إصلاح الباطن والسر والقلب، وهذا الذي قاله الشيخ ـ يعني الهروي رحمه الله – لا يمكن إلا بعد العبور على جسر المصابرة والكظم فإذا تمكن منه أفضى به إلى هذه المنزلة ـ بعون الله. انتهى.
“Tujuan utamanya tidak lain adalah memperbaiki sisi batin, rahasia, dan hati. Dan apa yang dikatakan oleh Syaikh —maksudnya Al-Harawi rahimahullah— tidaklah mungkin tercapai kecuali setelah melewati ‘jembatan kesabaran dan menahan diri’. Jika ia telah menguasainya, maka hal itu akan mengantarkannya pada kedudukan ini —dengan pertolongan Allah.” Selesai kutipan.
وقال ـ أيضا عليه الرحمة: المحب يتلذذ بخدمة محبوبه وتصرفه في طاعته، وكلما كانت المحبة أقوى كانت لذة الطاعة والخدمة أكمل.
Beliau —juga semoga rahmat tercurah padanya— berkata: “Seorang pecinta merasakan kelezatan dalam melayani kekasihnya dan berupaya dalam ketaatan kepadanya. Semakin kuat kecintaan itu, maka kelezatan dalam ketaatan dan pelayanan pun semakin sempurna.”
فليزن العبد إيمانه ومحبته لله بهذا الميزان ولينظر هل هو ملتذ بخدمة محبوبه أو متكره لها يأتي بها على السآمة والملل والكراهة؟ فهذا محك إيمان العبد ومحبته لله.
“Maka hendaklah seorang hamba menimbang keimanan dan kecintaannya kepada Allah dengan timbangan ini, dan lihatlah apakah ia merasakan lezat dalam melayani Kekasihnya (Allah) ataukah merasa terpaksa, di mana ia menunaikannya dengan rasa bosan, jemu, dan benci? Inilah batu ujian keimanan seorang hamba dan kecintaannya kepada Allah.”
قال بعض السلف: إني أدخل في الصلاة فأحمل هم خروجي منها ويضيق صدري إذا فرغت أني خارج منها.
Sebagian ulama Salaf berkata: “Sesungguhnya aku masuk ke dalam sholat, lalu aku merasa risau akan waktu keluarku darinya, dan dadaku merasa sempit jika aku telah selesai karena aku akan keluar darinya.”
ولهذا، قال النبي صلى الله عليه وسلم:
Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” (HR. An-Nasa’i)
ومن كانت قرة عينه في شيء فإنه يود أن لا يفارقه ولا يخرج منه، فإن قرة عين العبد نعيمه وطيب حياته به.
Barangsiapa yang penyejuk matanya berada pada sesuatu, maka ia ingin agar tidak berpisah darinya dan tidak keluar darinya, karena penyejuk mata seorang hamba adalah kenikmatannya dan kebaikan hidupnya dengannya.
وقال بعض السلف: إني لأفرح بالليل حين يقبل، لما يلتذ به عيشي وتقر به عيني من مناجاة من أحب وخلوتي بخدمته والتذلل بين يديه، وأغتم للفجر إذا طلع، لما أشتغل به بالنهار عن ذلك.
Sebagian ulama Salaf berkata: “Sesungguhnya aku merasa gembira dengan malam hari ketika ia datang, karena dengannya hidupku terasa lezat dan mataku menjadi sejuk dengan bermunajat kepada Dzat yang aku cintai, menyendiri dalam melayani-Nya, serta menghinakan diri di hadapan-Nya. Dan aku merasa sedih dengan fajar jika ia terbit, karena aku akan disibukkan pada siang hari dari hal itu.”
فلا شيء ألذ للمحب من خدمة محبوبه وطاعته، وقال بعضهم: تعذبت بالصلاة عشرين سنة ثم تنعمت بها عشرين سنة.
Maka tidak ada sesuatu yang lebih lezat bagi seorang pecinta selain melayani Kekasihnya dan menaati-Nya. Sebagian dari mereka berkata: “Aku merasa tersiksa (berjuang keras) dalam sholat selama dua puluh tahun, kemudian aku merasakan kenikmatan dengannya selama dua puluh tahun.”
وهذه اللذة والتنعم بالخدمة إنما تحصل بالمصابرة والتعب أولا، فإذا صبر عليه وصدق في صبره أفضى به الى هذه اللذة.
Kelezatan dan kenikmatan dalam pelayanan ini hanyalah tercapai dengan kesabaran (mushabarah) dan kelelahan pada awalnya. Jika seseorang bersabar atasnya dan jujur dalam kesabarannya, maka hal itu akan mengantarkannya pada kelezatan ini.
قال أبو يزيد: سقت نفسي إلى الله وهي تبكي فما زلت أسوقها حتى انساقت إليه وهي تضحك.
Abu Yazid berkata: “Aku giring jiwaku kepada Allah dalam keadaan ia menangis, maka aku senantiasa menggiringnya hingga ia akhirnya terbawa kepada-Nya dalam keadaan tertawa.”
ولا يزال السالك عرضة للآفات والفتور والانتكاس حتى يصل إلى هذه الحالة، فحينئذ يصير نعيمه في سيره، ولذته في اجتهاده، وعذابه في فتوره ووقوفه.
Seorang pencari (salik) akan senantiasa menjadi sasaran rintangan, rasa futur (lemah semangat), dan kemerosotan (intikas) hingga ia mencapai kondisi ini. Pada saat itulah, kenikmatannya ada dalam perjalanannya, kelezatannya ada dalam kesungguhannya, dan siksanya ada dalam kelesuannya serta berhentinya langkahnya.
فترى أشد الأشياء عليه ضياع شيء من وقته ووقوفه عن سيره. انتهى. نسأل الله أن يوفقنا وإياك لما فيه رضاه.
Maka Anda akan melihat hal yang paling berat baginya adalah menyia-nyiakan sedikit pun waktunya dan berhentinya ia dari perjalanannya. Selesai kutipan. Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kami dan Anda menuju apa yang di dalamnya terdapat rida-Nya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply