ترك الصلاة المفروضة عمدا حتى يخرج وقتها
Meninggalkan Shalat Wajib dengan Sengaja Hingga Keluar Waktunya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Meninggalkan Shalat Wajib dengan Sengaja Hingga Keluar Waktunya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
بعض الشباب يكونون في لهوهم ولعبهم بحيث يمر يوم دون أن يصلوا الصلاة في وقتها فيجمعوا صلاة اليوم عند صلاة العشاء فهل هم بهذا التصرف كفار خارجون من الملة أو أنهم عصاة فقط؟
Sebagian pemuda berada dalam kelalaian dan permainan mereka sedemikian rupa sehingga satu hari berlalu tanpa mereka melakukan sholat pada waktunya, lalu mereka menjamak sholat seharian tersebut pada waktu sholat ‘Isya. Apakah dengan tindakan ini mereka menjadi kafir yang keluar dari millah (agama), ataukah mereka hanya orang yang bermaksiat saja?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فلا شك في أن ما يفعله هؤلاء الشباب إثم شنيع ومنكر فظيع، وأنهم بذلك على خطر عظيم والعياذ بالله.
Maka tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan oleh para pemuda tersebut adalah dosa yang keji dan kemungkaran yang mengerikan, dan bahwa mereka dengan tindakan tersebut berada dalam bahaya yang besar, wal ‘iyadzu billah.
وقد نقل ابن القيم رحمه الله إجماع المسلمين على أن تارك الصلاة الواحدة حتى يخرج وقتها شر من الزاني والسارق وشارب الخمر وقاتل النفس.
Sungguh Ibnu al-Qayyim rahimahullah telah menukil konsensus (ijma‘) kaum muslimin bahwa orang yang meninggalkan satu sholat saja hingga keluar waktunya adalah lebih buruk daripada pezina, pencuri, peminum khamr, dan pembunuh jiwa.
وهذا نص كلامه رحمه الله في أول كتاب الصلاة: لا يختلف المسلمون أن ترك الصلاة المفروضة عمدا من أعظم الذنوب وأكبر الكبائر وأن إثمه عند الله أعظم من إثم قتل النفس وأخذ الأموال ومن إثم الزنا والسرقة وشرب الخمر وأنه متعرض لعقوبة الله وسخطه وخزيه في الدنيا والآخرة انتهى.
Inilah teks perkataan beliau rahimahullah di awal kitab Ash-Shalah: “Kaum muslimin tidak berselisih pendapat bahwa meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja termasuk dosa yang paling besar dan dosa besar yang paling utama, dan bahwa dosanya di sisi Allah lebih besar daripada dosa membunuh jiwa, merampas harta, serta lebih besar dari dosa zina, pencurian, dan meminum khamr; dan bahwasanya ia terancam hukuman Allah, kemurkaan-Nya, dan kehinaan dari-Nya di dunia maupun di akhirat.” Selesai kutipan.
فأي مسلم يرضى لنفسه بهذه المنزلة الردية، وقد نقل المحقق ابن القيم عن الإمام أحمد كلاما نفيسا ننقله عنه هنا للفائدة، قال رحمه الله:
Maka muslim manakah yang rida bagi dirinya berada pada kedudukan yang rendah ini? Sungguh Al-Muhaqqiq Ibnu al-Qayyim telah menukil perkataan yang sangat berharga dari Imam Ahmad yang kami kutipkan di sini untuk diambil manfaatnya, beliau rahimahullah berkata:
فكل مستخف بالصلاة مستهين بها فهو مستخف بالإسلام مستهين به وإنما حظهم من الإسلام على قدر حظهم من الصلاة ورغبتهم في الإسلام على قدر رغبتهم في الصلاة.
“Maka setiap orang yang meremehkan sholat dan menghinakannya, berarti ia telah meremehkan Islam dan menghinakannya. Sesungguhnya bagian mereka dalam Islam adalah sesuai dengan kadar bagian mereka dalam sholat, dan kecintaan mereka pada Islam adalah sesuai dengan kadar kecintaan mereka pada sholat.”
فاعرف نفسك يا عبدالله واحذر أن تلقى الله ولا قدر للإسلام عندك فإن قدر الإسلام في قلبك كقدر الصلاة في قلبك انتهى.
“Maka kenalilah dirimu wahai hamba Allah, dan berhati-hatilah jangan sampai engkau bertemu Allah dalam keadaan Islam tidak memiliki nilai di sisimu, karena sesungguhnya nilai Islam di dalam hatimu adalah seperti nilai sholat di dalam hatimu.” Selesai kutipan.
وبعد هذا البيان فإن كفر تارك الصلاة محل خلاف قوي بين أهل العلم، فأي مسلم يرضى لنفسه أن يكون انتسابه لهذا الدين العظيم مسألة خلافية بين العلماء.
Setelah penjelasan ini, sesungguhnya status kufur bagi orang yang meninggalkan sholat merupakan tempat perselisihan yang kuat di antara ahli ilmu. Maka muslim manakah yang rida bagi dirinya jika status penisbatannya kepada agama yang agung ini menjadi masalah yang diperselisihkan di antara para ulama?
فتارك الصلاة كسلا اختلف العلماء في كفره، طائفة من العلماء ترى كفره وأنه مخلد في النار مع فرعون وقارون وهامان وأبي جهل وأبي لهب.
Orang yang meninggalkan sholat karena malas diperselisihkan status kufur-nya oleh para ulama. Sekelompok ulama berpendapat ia telah kafir dan kekal di neraka bersama Fir‘aun, Qarun, Haman, Abu Jahl, dan Abu Lahab.
وطائفة تراه شرا من الزاني والسارق وشارب الخمر وقاتل النفس وإن لم تر كفره كفرا ناقلا عن الملة. وتفصيل هذا الخلاف قد بينه النووي في شرح مسلم وعبارته:
Dan sekelompok lainnya melihatnya lebih buruk daripada pezina, pencuri, peminum khamr, dan pembunuh jiwa, meskipun mereka tidak memandangnya kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Perincian perselisihan ini telah dijelaskan oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim dan redaksinya adalah:
وأما تارك الصلاة فإن كان منكرا لوجوبها فهو كافر بإجماع المسلمين خارج من ملة الإسلام إلا أن يكون قريب عهد بالإسلام ولم يخالط المسلمين مدة يبلغه فيها وجوب الصلاة عليه.
“Adapun orang yang meninggalkan sholat, jika ia mengingkari kewajibannya, maka ia adalah kafir berdasarkan ijma‘ kaum muslimin dan keluar dari agama Islam, kecuali jika ia baru saja masuk Islam dan belum berinteraksi dengan kaum muslimin dalam jangka waktu yang cukup untuk sampai kepadanya kabar tentang kewajiban sholat tersebut.”
وإن كان تركه تكاسلا مع اعتقاده وجوبها كما هو حال كثير من الناس فقد اختلف العلماء فيه فذهب مالك والشافعي رحمهما الله والجماهير من السلف والخلف إلى أنه لا يكفر بل يفسق ويستتاب فإن تاب وإلا قتلناه حدا كالزانى المحصن ولكنه يقتل بالسيف.
“Dan jika ia meninggalkannya karena malas padahal ia meyakini kewajibannya —sebagaimana kondisi banyak orang saat ini— maka para ulama berselisih padanya. Malik, Asy-Syafi‘i rahimahumullah, serta mayoritas ulama Salaf dan Khalaf berpendapat bahwa ia tidaklah kafir melainkan menjadi fasiq dan diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat (maka diterima), namun jika tidak, maka ia dihukum mati sebagai hadd seperti pezina muhshan, akan tetapi ia dihukum mati dengan pedang.”
وذهب جماعة من السلف إلى أنه يكفر وهو مروي عن علي بن أبى طالب كرم الله وجهه وهو إحدى الروايتين عن أحمد بن حنبل رحمه الله وبه قال عبد الله بن المبارك وإسحاق بن راهويه وهو وجه لبعض أصحاب الشافعى رضوان الله عليه.
“Dan sekelompok ulama Salaf berpendapat bahwa ia menjadi kafir, dan ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, dan ia merupakan salah satu dari dua riwayat dari Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pendapat ini juga dipegang oleh Abdullah bin al-Mubarak dan Ishaq bin Rahuyah, serta merupakan salah satu pendapat dari sebagian pengikut Asy-Syafi‘i ridhwanullahi ‘alaihi.”
وذهب أبو حنيفة وجماعة من أهل الكوفة والمزني صاحب الشافعي رحمهما الله إلى أنه لا يكفر ولا يقتل بل يعزر ويحبس حتى يصلي.
“Sedangkan Abu Hanifah beserta sekelompok ulama Kufah dan al-Muzani murid Asy-Syafi‘i rahimahumullah berpendapat bahwa ia tidak kafir dan tidak pula dibunuh, melainkan diberi sanksi (ta‘zir) dan dipenjara hingga ia mau mengerjakan sholat.”
واحتج من قال بكفره بظاهر الحديث الثانى المذكور وبالقياس على كلمة التوحيد:
Dan orang yang berpendapat akan kekafirannya berhujjah dengan makna lahiriyah dari hadits kedua yang disebutkan, serta dengan meng-qiyas-kannya pada kalimat tauhid:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)
واحتج من قال لا يقتل بحديث لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث وليس فيه الصلاة.
Dan orang yang berpendapat ia tidak dibunuh berhujjah dengan hadits: “Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali karena satu dari tiga perkara,” dan di dalamnya tidak disebutkan tentang sholat.
واحتج الجمهور على أنه لا يكفر بقوله تعالى:
Dan mayoritas ulama (jumhur) berhujjah bahwa ia tidak kafir dengan firman Allah Ta‘ala:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ [النساء: ٤٨]
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [An-Nisa: 48]
وبقوله صلى الله عليه وسلم من قال لا إله الا الله دخل الجنة، ومن مات وهو يعلم أن لا إله الا الله دخل الجنة.
Serta dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa mengucapkan La ilaha illallah niscaya masuk surga,” dan “Barangsiapa mati dalam keadaan ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah niscaya masuk surga.”
ولا يلقى الله تعالى عبد بهما غير شاك فيحجب عن الجنة، وحرم الله على النار من قال لا إله إلا الله وغير ذلك. انتهى.
“Dan tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa keduanya (syahadat) tanpa keraguan melainkan ia tidak akan terhalang dari surga,” dan “Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah,” dan selain itu. Selesai kutipan.
واختلف القائلون بكفره فمنهم من قال يكفر بمجرد الترك، ومنهم من قال يكفر إذا دعي إلى الصلاة ولم يصل، وهذا القول هو المعتمد عند الحنابلة. قال البهوتي في كشاف القناع:
Dan para ulama yang berpendapat akan kekafirannya pun berselisih; di antara mereka ada yang mengatakan ia kafir hanya dengan meninggalkannya saja, dan di antara mereka ada yang mengatakan ia kafir jika telah diajak (diperintahkan secara resmi oleh otoritas) untuk sholat namun tetap tidak mau. Pendapat inilah yang menjadi pegangan (mu‘tamad) di kalangan Mazhab Hambali. Al-Bahuti berkata dalam Kasysyaf al-Qina‘:
ولا قتل ولا تكفير قبل الدعاية بحال لاحتمال أن يكون تركها لشيء يظنه عذرا في تركها.
“Tidak ada hukuman mati dan tidak ada pengafiran sebelum adanya ajakan (perintah resmi) dalam kondisi apa pun, karena adanya kemungkinan ia meninggalkannya karena sesuatu yang ia anggap sebagai uzur.”
( قال الشيخ وتنبغي الإشاعة عنه بتركها حتى يصلي ولا ينبغي السلام عليه ولا إجابة دعوته انتهى ) لعله يرتدع بذلك ويرجع.انتهى.
“(Syaikh berkata: Seyogyanya disebarluaskan berita tentang dia yang meninggalkan sholat hingga ia mau mengerjakannya, dan tidak selayaknya memberi salam kepadanya atau memenuhi undangannya. Selesai kutipan.) Hal itu dilakukan agar ia merasa jera dan kembali (bertaubat).” Selesai kutipan.
ومنهم من قال يكفر بترك صلاة واحدة ومنهم من قال بل بترك صلاتين ومنهم من قال بل بترك ثلاث صلوات، ومنهم من قال بخمس صلوات.
Dan di antara mereka ada yang mengatakan ia kafir dengan meninggalkan satu sholat saja, ada yang berkata dengan meninggalkan dua sholat, ada yang berkata dengan meninggalkan tiga sholat, dan ada pula yang berkata dengan meninggalkan lima sholat.
ورجح الشيخ العثيمين أن من كان يصلي ويترك فإنه لا يكفر، وإنما يكفر من ترك الصلاة بالكلية.
Syaikh al-Utsaimin merajihkan (menguatkan pendapat) bahwa orang yang kadang sholat dan kadang meninggalkannya, maka ia tidak kafir. Sesungguhnya ia baru menjadi kafir jika meninggalkan sholat secara keseluruhan (total).
وعلى كل فتارك الصلاة من أفسق الفساق، والقول بأنه لم يخرج بتركه للصلاة من الملة هو قول الجمهور، وفي المسألة مناقشات طويلة يشق استقصاؤها.
Bagaimanapun juga, orang yang meninggalkan sholat termasuk orang yang paling fasiq. Pendapat yang menyatakan bahwa ia tidak keluar dari agama dengan tindakannya tersebut adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur). Dalam masalah ini terdapat diskusi panjang yang sulit untuk diuraikan seluruhnya.
وقد انتصر ابن قدامة للرواية الثانية عن أحمد والتي هي مذهب الشافعي ومالك وأبي حنيفة، ونحن ننقل طرفا من كلامه للفائدة. قال رحمه الله:
Sungguh Ibnu Qudamah telah membela riwayat kedua dari Ahmad yang merupakan mazhab Asy-Syafi‘i, Malik, dan Abu Hanifah, dan kami akan menukilkan sebagian perkataan beliau untuk diambil manfaatnya. Beliau rahimahullah berkata:
والرواية الثانية يقتل حدا مع الحكم بإسلامه كالزاني المحصن وهذا اختيار أبي عبد الله بن بطة وأنكر قول من قال: إنه يكفر.
“Dan riwayat kedua menyebutkan bahwa ia dihukum mati sebagai hadd dengan tetap dihukumi sebagai muslim, seperti pezina muhshan. Ini adalah pilihan Abu Abdullah bin Baththah, dan beliau mengingkari perkataan orang yang menyatakan bahwa pelakunya menjadi kafir.”
وذكر أن المذهب على هذا لم يجد في المذهب خلافا فيه وهذا قول أكثر الفقهاء وقول أبي حنيفة ومالك والشافعي.
Beliau menyebutkan bahwa inilah pendapat yang berlaku dalam mazhab dan beliau tidak mendapati perselisihan di dalamnya. Ini juga merupakan pendapat mayoritas fukaha dan pendapat Abu Hanifah, Malik, serta Asy-Syafi‘i.
روي عن حذيفة أنه قال: يأتي على الناس زمان لا يبقى معهم من الإسلام إلا قول: لا إله إلا الله فقيل له: وما ينفعهم ؟ قال: تنجيهم من النار لا أبا لك.
Diriwayatkan dari Hudzaifah bahwasanya beliau berkata: “Akan datang suatu zaman atas manusia di mana tidak tersisa pada mereka dari Islam kecuali ucapan: La ilaha illallah.” Maka dikatakan kepadanya: “Apa gunanya itu bagi mereka?” Beliau menjawab: “Itu akan menyelamatkan mereka dari neraka.”
وعن وائل قال: انتهيت إلى داري فوجدت شاة مذبوحة فقلت: من ذبحها ؟ قالوا: غلامك قلت: والله إن غلامي لا يصلي فقال النسوة: نحن علمناه فسمى فرجعت إلى ابن مسعود فسألته عن ذلك فأمرني بأكلها.
Dan dari Wa’il berkata: “Aku sampai ke rumahku dan mendapati seekor kambing telah disembelih, lalu aku bertanya: ‘Siapa yang menyembelihnya?’ Mereka menjawab: ‘Budakmu.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya budakku tidak melakukan sholat.’ Para wanita berkata: ‘Kami telah mengajarinya (cara menyembelih) lalu ia membaca basmalah.’ Maka aku kembali kepada Ibnu Mas‘ud dan menanyakan hal itu, lalu beliau memerintahkanku untuk memakannya.”
والدليل على هذا قول النبي صلى الله عليه و سلم: إن الله حرم النار على من قال: لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله.
Dalil atas hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah demi mencari wajah (keridhaan) Allah.”
وعن أبي ذر قال: أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال: ما من عبد قال: لا إله إلا الله ثم مات على ذلك إلا دخل الجنة.
Dan dari Abu Dzarr berkata: “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah kemudian ia mati di atas hal itu melainkan ia masuk surga’.”
وعن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يخرج من النار من قال لا إله إلا الله وكان في قلبه من الخير ما يزن برة. متفق على هذه الأحاديث كلها، ومثلها كثير.
Dan dari Anas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah sementara di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum.” Seluruh hadits-hadits ini adalah muttafaq ‘alaih (disepakati keshahihannya), dan yang semisalnya sangat banyak.
وعن عبادة بن الصامت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خمس صلوات كتبهن الله على العبد في اليوم والليلة فمن جاء بهن لم يضيع منهن شيئا استخفافا بحقهن كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة.
Dan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lima sholat telah Allah wajibkan atas hamba dalam sehari semalam. Barangsiapa yang melakukannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka ia memiliki janji di sisi Allah bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”
ومن لم يأت بهن فليس له عند الله عهد إن شاء عذبه وإن شاء أدخله الجنة. ولو كان كافرا لم يدخله في المشيئة.
“Dan barangsiapa yang tidak melakukannya, maka ia tidak memiliki janji di sisi Allah; jika Allah berkehendak Dia akan mengazabnya, dan jika Dia berkehendak Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” Seandainya ia seorang yang kafir, niscaya Allah tidak akan memasukkannya ke dalam cakupan kehendak-Nya (masyi’ah).
ولأن ذلك إجماع المسلمين فإننا لا نعلم في عصر من الأعصار أحدا من تاركي الصلاة ترك تغسيله والصلاة عليه ودفنه في مقابر المسلمين ولا منع ورثته ميراثه ولا منع هو ميراث مورثه ولا فرق بين زوجين لترك الصلاة مع أحدهما لكثرة تاركي الصلاة.
Dan juga karena hal tersebut merupakan ijma‘ kaum muslimin; sesungguhnya kita tidak mengetahui di zaman mana pun ada orang yang meninggalkan sholat namun tidak dimandikan jenazahnya, tidak disholati, tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, tidak pula dicegah ahli warisnya dari menerima warisannya, atau ia dicegah menerima warisan dari pewarisnya, serta tidak dipisahkan antara suami-istri karena salah satunya meninggalkan sholat, padahal jumlah orang yang meninggalkan sholat itu banyak.
ولو كان كافرا لثبتت هذه الأحكام كلها ولا نعلم بين المسلمين خلافا في أن تارك الصلاة يجب عليه قضاؤها ولو كان مرتدا لم يجب عليه قضاء صلاة ولا صيام.
“Seandainya ia seorang kafir, niscaya semua hukum (pengafiran) tersebut akan berlaku. Kita juga tidak mengetahui adanya perselisihan di antara kaum muslimin bahwa orang yang meninggalkan sholat wajib meng-qadha-nya. Seandainya ia seorang yang murtad, niscaya tidak wajib baginya meng-qadha sholat maupun puasa.”
وأما الأحاديث المتقدمة فهي على سبيل التغليظ والتشبيه له بالكفار لا على الحقيقة كقوله عليه السلام: [سباب المسلم فسوق وقتاله كفر] وقوله: [كفر بالله تبرؤ من نسب وإن دق] وقوله: [من قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما].
“Adapun hadits-hadits terdahulu (yang menyebutkan kata kafir), maka itu adalah dalam rangka peringatan keras (taghlizh) dan penyerupaan dengan kaum kafir, bukan dalam makna hakiki. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis salam: ‘Mencela muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran’, sabda beliau: ‘Merupakan kekufuran kepada Allah berlepas diri dari nasab walaupun samar’, dan sabda beliau: ‘Barangsiapa berkata kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh sebutan itu akan kembali kepada salah satunya’.”
وقوله: [من أتى حائضا أو امرأة في دبرها فقد كفر بما أنزل على محمد] قال: [ومن قال: مطرنا بنوء الكواكب فهو كافر بالله مؤمن بالكواكب] وقوله: [من حلف بغير الله فقد أشرك] وقوله: [شارب الخمر كعابد وثن].
Dan sabda beliau: “Barangsiapa mendatangi istri yang sedang haid atau mendatangi istri pada duburnya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad,” beliau bersabda: “Barangsiapa berkata: Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka ia telah kafir kepada Allah dan beriman kepada bintang,” sabda beliau: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka sungguh ia telah berbuat syirik,” dan sabda beliau: “Peminum khamr itu seperti penyembah berhala.”
وأشباه هذا مما أريد به التشديد في الوعيد وهو أصوب القولين. انتهى بتصرف.
Dan perkara-perkara yang serupa dengan ini, yang dimaksudkan adalah penekanan dalam ancaman (tasydid fil wa‘id). Inilah yang lebih tepat dari dua pendapat yang ada. Selesai kutipan dengan penyesuaian.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply