أداء العبادة باستثقال وضجر ينقص من الأجر
Menunaikan Ibadah dengan Rasa Berat dan Bosan Mengurangi Pahala
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Menunaikan Ibadah dengan Rasa Berat dan Bosan Mengurangi Pahala ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
توسوس لي نفسي التململ من رمضان والصيام والقيام ، هل هذا يُبطِل الأجر ؟ بمعنى قد أقول يا ما أطول رمضان، ليته ينتهي حتى نرتاح قليلاً. هل هذا حرام ويبطل الأجر؟ أم يكفي ترك هذه الوساوس والحمد لله؟
Jiwa saya membisikkan (waswas) rasa jemu terhadap Ramadhan, puasa, dan qiyam. Apakah ini membatalkan pahala? Maksudnya, terkadang saya berkata: “Aduhai betapa lamanya Ramadhan, andai saja ia segera berakhir agar kita bisa beristirahat sejenak.” Apakah ini haram dan membatalkan pahala? Ataukah cukup dengan meninggalkan waswas ini dan mengucap Alhamdulillah?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فأداء العبادة بطيب نفس وانشراح صدر مما يستوجب به صاحبه كمال الأجر، والتململ والتضجر من العبادة ينافي ما ذكرناه.
Menunaikan ‘ibadah dengan jiwa yang baik dan dada yang lapang termasuk hal yang mengharuskan pelakunya mendapatkan kesempurnaan pahala. Rasa jemu dan bosan terhadap ‘ibadah menafikan hal yang kami sebutkan tadi.
فيفوت العبد على نفسه من الأجر بقدر ما حصل له من ضيق الصدر بالعبادة وعدم الإقبال عليها، ولهذا عد العلماء من معنى الاحتساب أن يؤدي الصيام والقيام غير مستثقل لهما ولا متبرم بهما.
Maka seorang hamba kehilangan pahalanya sesuai dengan kadar kesempitan dada yang ia rasakan terhadap ‘ibadah tersebut serta kurangnya ketertarikan padanya. Oleh karena itu, para ulama memasukkan ke dalam makna ihtisab tindakan menunaikan puasa dan qiyam tanpa merasa berat terhadap keduanya serta tidak merasa jengkel dengannya.
قال الحافظ في الفتح: والمراد بالإيمان الاعتقاد بحق فرضية صومه، وبالاحتساب طلب الثواب من الله تعالى.
Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath: “Dan yang dimaksud dengan iman adalah meyakini hak kewajiban puasanya, dan dengan ihtisab adalah mencari pahala dari Allah Ta‘ala.”
وقال الخطابي: احتسابا أي عزيمة، وهو أن يصومه على معنى الرغبة في ثوابه طيبة نفسه بذلك غير مستثقل لصيامه ولا مستطيل لأيامه. انتهى.
Al-Khaththabi berkata: “ihtisaban yakni sebuah ketetapan hati (‘azimah), yaitu ia berpuasa atas dasar keinginan pada pahala-Nya dengan jiwa yang baik akan hal itu, tanpa merasa berat terhadap puasanya dan tidak menganggap lama hari-harinya.” Selesai kutipan.
وأما مجرد الوساوس التي يلقيها الشيطان في القلب، فإنها لا تضر العبد إذا كان يؤدي العبادة والأصل عنده أنه طيب النفس منشرح الصدر، فإن الوساوس لا يكاد يخلو عنها أحد.
Adapun sekadar waswas yang dilemparkan syaitan ke dalam hati, maka hal itu tidak membahayakan hamba jika ia tetap menunaikan ‘ibadah dan pada asalnya ia memiliki jiwa yang baik serta dada yang lapang. Sesungguhnya hampir tidak ada seorang pun yang luput dari waswas.
لكن على العبد أن يجاهد هذه الوساوس، ويسعى في صرفها لئلا تقوى وتستحكم، وما دام مدافعا لها باذلا وسعه في تحقيق الصوم والقيام إيمانا واحتسابا فإن الله تعالى لا يضيع أجره ولا يذهب ثوابه.
Namun wajib bagi hamba untuk memerangi waswas ini dan berusaha memalingkannya agar tidak semakin kuat dan menguasai. Selama ia berupaya menolaknya dan mencurahkan kemampuannya dalam mewujudkan puasa dan qiyam secara iman dan ihtisab, maka sesungguhnya Allah Ta‘ala tidak akan menyia-nyiakan pahalanya dan tidak akan menghilangkan balasannya.
وليعلم أن هذا الالتذاذ بالطاعة والأنس بها والرغبة فيها وعدم استثقالها لا يحصل إلا بالمجاهدة.
Hendaklah diketahui bahwa merasakan kelezatan dalam ketaatan, ketenangan dengannya, keinginan padanya, serta tidak merasa berat terhadapnya tidaklah tercapai kecuali dengan mujahadah.
فمتى صدقت المجاهدة من العبد وفقه الله لأن يؤدي الحق سماحة لا كظما وطواعية لا كرها، فيكون التذاذه بالطاعة وفرحه بها أعظم فرح والتذاذ.
Kapan pun mujahadah seorang hamba itu jujur (sungguh-sungguh), maka Allah akan memberinya taufik untuk menunaikan hak ketaatan dengan kelapangan hati (samahah) bukan dengan menahan sesak (kadhman), serta dengan sukarela (thaw‘iyyah) bukan dengan paksaan. Maka dengan demikian, kelezatan dan kegembiraannya dalam ketaatan akan menjadi kegembiraan dan kelezatan yang paling agung.
وقد بسطنا القول في هذه المسألة في الفتوى الأخرى هنا، فلتراجع للأهمية.
Kami telah menguraikan penjelasan dalam masalah ini pada fatwa lainnya di sini; maka silakan merujuk padanya karena pentingnya masalah tersebut.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply