بيعة الرضوان (سلسلة 5)
Bay’atur Ridhwaan (Seri 5)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Bay’atur Ridhwaan ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
– على أن من الدلالات المهمة في هذه البيعة، والتي تدل على كل ما سبق وتدعمه، ما يستفاد من مواقف الصحابة رضوان الله عليهم من رسولهم صلى الله عليه وسلم، فيما ذكره أصحاب السِّير من أن عروة – وهو أحد أعضاء وفد قريش، الذين ذهبوا للمفاوضة والمصالحة – وكان قد رجع إلى أصحابه يصف لهم ما رأى، قال:
– Dan di antara dalil-dalil penting dalam baiat ini, yang menunjukkan dan mendukung seluruh hal di atas, adalah apa yang dapat dipetik dari sikap para shohabat ridhwanullaahu ‘alaihim terhadap Rasul mereka shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang disebutkan oleh para penulis kitab Sirah, bahwasanya ‘Urwah—salah seorang anggota delegasi Quraisy yang pergi untuk bernegosiasi dan berdamai—telah kembali kepada kaumnya untuk menggambarkan apa yang ia lihat, ia berkata:
أي قوم !! والله لقد وفدت على الملوك، على كسرى و قيصر والنجاشي ، والله ما رأيت ملكًا يعظمه أصحابه، ما يعظم أصحاب محمد محمدًا، والله إن تنخَّم نخامة، إلا وقعت في كف رجل منهم، فدلك بها وجهه وجلده، وإذا أمرهم ابتدروا أمره، وإذا توضأ كادوا يقتتلون على وضوئه، وإذا تكلم خفضوا أصواتهم عنده، وما يحدُّون إليه النظر تعظيما له.
“Wahai kaumku!! Demi Allah, aku telah mendatangi para raja, kepada Kisra, Qaisar, dan an Najaasyiy. Demi Allah, tidak pernah aku melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para pengikutnya, sebagaimana para shohabat Muhammad mengagungkan Muhammad. Demi Allah, tidaklah ia membuang dahak melainkan jatuh di telapak tangan salah seorang dari mereka, lalu ia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Apabila ia memerintahkan sesuatu, mereka segera melaksanakannya; apabila ia berwudhu, hampir saja mereka saling berkelahi memperebutkan sisa air wudhunya; apabila ia berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapannya, dan mereka tidak mempertajam pandangan kepadanya karena rasa hormat yang besar kepadanya.”
وفي فعل الصحابة هذا على ما وصف عروة ما يدل على أنه لا إيمان برسول الله صلى الله عليه وسلم دون محبة له، وأن هذه المحبة ليست معنى عقلانيًا مجردًا، وإنما هي أثر ملموس، وسلوك مشهود، يستحوذ على القلب، فيطبع صاحبه، بمثل الطابع الذي وصف به عروة بن مسعود أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم .
Tindakan para shohabat sebagaimana yang digambarkan oleh ‘Urwah ini, menunjukkan bahwa tidak ada iman kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai kecintaan kepada beliau. Kecintaan ini bukanlah sekadar makna rasional (‘aqlaniy) semata, melainkan ia adalah jejak yang dapat dirasakan dan perilaku yang dapat disaksikan. Kecintaan ini menguasai hati, lalu mencetak pemiliknya dengan cetakan yang persis seperti yang digambarkan oleh ‘Urwah bin Mas’uud tentang para shohabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
ومما يتصل بهذا الحدث، ويحمل من الدلالة ما يحمل، حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو في “الصحيحين” عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، قال: قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الحديبية:
Di antara hal yang berkaitan dengan peristiwa ini, dan membawa dalil yang sangat kuat, adalah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam ash Shahiihain (Bukhari dan Muslim) dari Jaabir bin ‘Abdullaah radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami pada hari Hudaibiyah:
( أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ )
“Kalian adalah penduduk bumi yang terbaik.”
قال جابر – وكان قد كفَّ بصره -: ولو كنت أبصر اليوم، لأريتكم مكان الشجرة .
Jaabir berkata—padahal saat itu matanya telah buta—: “Seandainya hari ini aku bisa melihat, niscaya aku akan tunjukkan kepada kalian letak pohon tersebut.”
وقد قُطعت هذه الشجرة ونسي مكانها، وكان في ذلك خير للمسلمين؛ إذ لو بقيت إلى اليوم، لشُدت إليها الرحال، ولضُربت عليها القباب، ولظن الناس فيها الظنونا، ولربما كانت قِبلة لبعض الجهال، ولكن الله { غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ } [يوسف: 21] .
Pohon tersebut pada akhirnya ditebang dan letaknya dilupakan. Di dalam hal tersebut terdapat kebaikan bagi kaum Muslimin. Sebab, jika ia tetap ada hingga hari ini, niscaya orang-orang akan melakukan perjalanan (syaaddur rihaal) ke sana, niscaya akan dibangun kubah-kubah di atasnya, niscaya manusia akan menaruh berbagai persangkaan terhadapnya, dan barangkali ia akan menjadi kiblat bagi sebagian orang-orang bodoh (juhhaal). Akan tetapi, Allah “Maha Kuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya” [Yusuf: 21].
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply