الجلاء الثالث لليهود عن المدينة ( بني قريظة )
Pengusiran Ketiga Kaum Yahudi dari Madinah (Bani Qurayzhah)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pengusiran Ketiga Kaum Yahudi dari Madinah (Bani Qurayzhah) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
الغدر ونقض العهود والمواثيق خلق مشين ، نشأ عليه اليهود ، فلا يستطيعون فراقه ، فهم كما وصفهم الله عز وجل:
Pengkhianatan dan pembatalan janji serta kesepakatan adalah akhlak yang tercela yang menjadi tabiat kaum Yahudi, sehingga mereka tidak bisa lepas darinya. Mereka sebagaimana yang disifatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:
{ أَوَ كُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُم ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ } [البقرة : 100]
“Patutkah (mereka ingkar kepada janji), setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar mereka tidak beriman.” [Al-Baqarah : 100]
ومن كانت هذه حاله يصعب التعامل معه ، وبالتالي لا بد من استئصاله والتخلص منه بالقتل أو النفي ، حتى يبقى المجتمع نظيفاً آمناً . وبنو قريظة صنف من اليهود كغيرهم ممن نقضوا العهود ، وخانوا المسلمين في أصعب الظروف ، وتآمروا مع الأحزاب ضدهم غير مكترثين بما اتفقوا عليه مع المسلمين .
Siapa pun yang keadaannya demikian, maka sulit untuk menjalin muamalah dengannya. Oleh karena itu, mereka harus dibasmi dan disingkirkan baik dengan hukuman mati maupun pengusiran, agar masyarakat tetap bersih dan aman. Bani Qurayzhah adalah kelompok Yahudi yang sama seperti kaum mereka lainnya; mereka melanggar perjanjian, mengkhianati kaum Muslimin dalam kondisi yang paling sulit, dan bersekongkol dengan pasukan Aliansi (al Ahzaab) melawan Muslimin tanpa mempedulikan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya.
فبعد انتهاء غزوة الأحزاب ورجوع الرسول صلى الله عليه وسلم إلى المدينة ، وفي نفس اليوم يأتيه الأمر من جبريل بالسير إلى بني قريظة ، وهو معهم في موكب من الملائكة لزلزلة حصونهم وقذف الرعب في قلوبهم ، فنادى النبي في أصحابه:
Maka setelah berakhirnya Ghazwah al Ahzaab dan kembalinya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, pada hari yang sama datanglah perintah dari Jibriil untuk berjalan menuju Bani Qurayzhah. Jibriil bersama mereka dalam iringan para malaikat untuk mengguncang benteng-benteng mereka dan menebarkan rasa takut ke dalam hati mereka. Maka Nabi berseru kepada para shohabatnya:
( لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ )
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Qurayzhah.” (HR. Al-Bukhaariy)
وأعطى الرسول الراية لعلي بن أبي طالب وقدمه على الجيش ، واستخلف على المدينة ابن أم مكتوم وخرج الرسول مع المهاجرين والأنصار ، وتحرك الجيش الإسلامي وقد بلغ ثلاثة آلاف ، والخيل ثلاثين فرساً ، وفرضوا الحصار على بني قريظة في حصونهم . وقد جرت أحداث هذه الغزوة في السنة الخامسة من الهجرة .
Rasulullah menyerahkan panji kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib dan menempatkannya di depan pasukan, serta menunjuk Ibnu Umm Maktuum sebagai wakil di Madinah. Rasulullah keluar bersama kaum Muhaajiriin dan Anshaar. Pasukan Islam bergerak dengan kekuatan mencapai tiga ribu personel dan tiga puluh ekor kuda, lalu mereka mengepung Bani Qurayzhah di benteng-benteng mereka. Peristiwa ghazwah ini terjadi pada tahun kelima Hijriyah.
واشتد الحصار عليهم ، ونصحهم رئيسهم كعب بن أسد بأمور منها الإسلام فلم يقبلوا منه ، ثم بعثوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يريدون أبا لبابة رضي الله عنه يستشيرونه ، وقد كان حليفاً لهم ، فنصحهم بالنزول على حكم الرسول . فاستسلموا وأذعنوا وقبلوا بحكم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأمر باعتقال الرجال ، وجمع النساء والذراري .
Pengepungan semakin ketat menyelimuti mereka. Pemimpin mereka, Ka’b bin Asad, memberikan beberapa saran termasuk masuk Islam, namun mereka menolaknya. Kemudian mereka mengirim utusan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menginginkan Abu Lubaabah radhiyallaahu ‘anhu untuk mereka mintai masukan, karena ia adalah sekutu mereka. Abu Lubaabah menasihati mereka untuk tunduk pada keputusan Rasul. Maka mereka pun menyerah dan tunduk serta menerima hukum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memerintahkan untuk menahan kaum laki-laki serta mengumpulkan kaum wanita dan anak-anak.
ولما طالبت الأوس بالإحسان إليهم ، حكّم فيهم رجلاً منهم وهو سعد بن معاذ الذي أصدر حكمه بأن يقتل الرجال ، وتسبى النساء ، وتقسم الأموال ، فقال الرسول صلى الله عليه وسلم:
Tatkala kaum Aws menuntut agar dilakukan kebaikan kepada mereka (Bani Qurayzhah), beliau menyerahkan keputusan kepada salah seorang dari mereka, yakni Sa’d bin Mu’adz. Sa’d mengeluarkan hukumannya bahwa kaum laki-laki dibunuh, kaum wanita ditawan, dan harta benda dibagikan. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ اللهِ )
“Sungguh engkau telah memutuskan hukum terhadap mereka dengan hukum Allah.” (Muttafaqun ‘alayhi)
وأمر رسول الله فحبست النساء ، وحفرت الخنادق للرجال الذين ضُربت أعناقهم ، وقد بلغوا من الستمائة إلى السبعمائة ، وقتل من النساء واحدة لقتلها رجلاً من المسلمين ، ولم يقتل من المسلمين غيره . وأسلم من اليهود نفرٌ قبل النزول ، فحقنوا دمائهم وأموالهم وذراريهم . وقسم الرسول أموال بني قريظة بعد إخراج الخمس .
Rasulullah memerintahkan agar kaum wanita ditahan, dan digalilah parit-parit untuk kaum laki-laki yang kemudian dipenggal lehernya. Jumlah mereka mencapai enam ratus hingga tujuh ratus orang. Dari kalangan wanita, dibunuh satu orang karena ia telah membunuh seorang laki-laki Muslim, dan tidak ada Muslim lain yang terbunuh selain dia. Beberapa orang Yahudi masuk Islam sebelum penyerahan diri, sehingga darah, harta, dan keturunan mereka terlindungi. Rasulullah membagikan harta Bani Qurayzhah setelah mengeluarkan bagian seperlima (al Khums).
وبذلك تم الجلاء الثالث لليهود ، ولكنه يختلف عن سابقيه ، فقد تم جلاؤهم هذه المرة إلى الخنادق استئصالاً للغدر وأهله ، وإبعاداً للخيانة وأصحابها ، وهكذا تكون نهاية الظالمين الخائنين .
Dengan demikian, tuntaslah pengusiran ketiga kaum Yahudi, namun kali ini berbeda dari sebelumnya. Pengusiran mereka kali ini adalah menuju parit-parit (kematian) sebagai bentuk pembersihan terhadap pengkhianatan dan pelakunya, serta menjauhkan keculasan dan para pemiliknya. Demikianlah akhir bagi orang-orang yang zhalim lagi khianat.
ومما يستفاد من هذه الغزوة سرعة استجابة أصحاب النبي لأمره بالخروج إلى بني قريظة . إضافة إلى عدم المعاتبة عند الاختلاف إذا كان النص يحتمل أكثر من معنى ؛ حيث إن بعض الصحابة صلى العصر في الطريق ، لأنه فهم من أمر النبي صلى الله عليه وسلم رغبته في المبادرة لا حقيقة إيقاع صلاة العصر في بني قريظة ، بينما صلى بعض الصحابة العصر في بني قريظة تمسكاً بظاهر النص ، ولم يعنف النبي صلى الله عليه وسلم هؤلاء ولا هؤلاء.
Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari ghazwah ini adalah cepatnya respon para shohabat Nabi terhadap perintah beliau untuk keluar menuju Bani Qurayzhah. Selain itu, tidak adanya celaan ketika terjadi perbedaan pendapat jika sebuah teks (nash) mengandung lebih dari satu pemaknaan; di mana sebagian shohabat shalat ‘Ashar di perjalanan karena memahami perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai anjuran untuk bersegera, bukan perintah harfiah untuk shalat di sana. Sementara sebagian shohabat lainnya shalat ‘Ashar di perkampungan Bani Qurayzhah karena berpegang pada zhahir teks. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalahkan kelompok ini maupun kelompok itu.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply