أحداث خالدة في معركة ” القادسيـة ” (القسم الثاني والأخير)
Peristiwa-peristiwa Abadi dalam Perang “al Qadisiyyah” (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Peristiwa-peristiwa Abadi dalam Perang “al Qadisiyyah” (Bagian Kedua dan Terakhir) ini masuk dalam Kategori Tarikh Islam
هذا موقف ” ربعي بن عامر ” ـ رضي الله عنه ـ مع ” رستم ” ، فهل رأيت قوة وبيان ، وسرعة بديهة ، ووضوح حجة ، ورباطة جأش ، وثبات موقف كهذا ؟ إنه حدد غاية المسلم ، وهي ” إخراج العباد من عبادة العباد إلى عبادة رب العباد ” ، وحدد مصير المسلم ، وهو ” موعود الله بجنة الله ” .
Inilah sikap Rib’iy bin ‘Aamir radhiyallaahu ‘anhu di hadapan Rustum. Pernahkah engkau melihat kekuatan, penjelasan, kecepatan berpikir, kejelasan hujah, ketenangan jiwa, dan keteguhan sikap seperti ini? Sesungguhnya ia telah menetapkan tujuan seorang Muslim, yaitu: “mengeluarkan para hamba dari penyembahan terhadap sesama hamba menuju penyembahan kepada Tuhan para hamba,” serta menetapkan takdir akhir seorang Muslim, yaitu: “janji Allah berupa surga-Nya.”
وإن كل هذه الإغرءات من الحرير والذهب والنمارق والأرائك لم تهز شعرة منه ، ولم تستطع أن تشغله عمَّا أعده الله له في موعوده ، حيث له فيها :
Dan sesungguhnya segala kemewahan berupa sutra, emas, bantal-bantal hias, serta dipan-dipan indah ini sedikit pun tidak menggoyahkannya, dan tidak mampu menyibukkannya dari apa yang telah Allah siapkan baginya dalam janji-Nya, di mana di dalamnya terdapat:
( مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ )
“Apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”
2- ” رستم ” و ” المغيرة بن شعبة ” ـ رضي الله عنه ـ :
2- Rustum dan al Mughiirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu :
لما رأى ” رستم ” ما رأى من ” ربعي بن عامر ” ـ رضي الله عنه ـ أرسل إلى ” سعد ” ـ رضي الله عنه ـ يطلب رجلاً آخر ليرى هل هؤلاء القوم كلهم على وتيرة واحدة أم لا ؟ ، فأرسل له ” سعد ” ـ رضي الله عنه ـ ” المغيرة بن شعبة ” ـ رضي الله عنه ـ .
Tatkala Rustum melihat apa yang ia lihat dari Rib’iy bin ‘Aamir radhiyallaahu ‘anhu, ia mengirim utusan kepada Sa’d radhiyallaahu ‘anhu untuk meminta laki-laki lain guna melihat apakah kaum ini semuanya berada pada pola yang sama ataukah tidak? Maka Sa’d radhiyallaahu ‘anhu mengirimkan al Mughiirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu kepadanya.
لكن ” رستم ” غير من لهجته ، فأظهر حدته وأبدى غضبه وثورته ، فقال أول ما قال لـ ” المغيرة ” : ” إنما مثلكم في دخول أرضنا مثل الذباب رأى العسل فقال من يوصلني إليه وله درهمان ؟ ، فلما سقط عليه غرق فيه ، فجعل يطلب الخلاص ، فلم يجده ، فجعل يقول من يخلصني وله أربعة دراهم ؟ ” .
Akan tetapi Rustum mengubah gaya bicaranya; ia menampakkan kekerasan serta menunjukkan kemarahan dan gejolak jiwanya. Hal pertama yang ia katakan kepada al Mughiirah adalah: “Sesungguhnya perumpamaan kalian dalam memasuki negeri kami adalah seperti lalat yang melihat madu lalu berkata: ‘Siapa yang bisa menyampaikanku kepadanya maka baginya dua dirham?’ Namun tatkala lalat itu hinggap di atasnya, ia tenggelam di dalamnya. Ia pun mulai mencari jalan keluar namun tidak menemukannya, lalu ia mulai berkata: ‘Siapa yang bisa menyelamatkanku maka baginya empat dirham?'”
” ومثلكم كمثل ثعلب ضعيف دخل جحرًا في كرم ، فلما رآه صاحب الكرم ضعيفـًا رحمه فتركه ، فلما سمن أفسد شيئـًا كثيرًا ، فجاء بجيشه ، واستعان عليه بغلمانه ، فذهب ليخرجه فلم يستطع لسمنه ، فضربه حتى قتله ، فهكذا تخرجون من بلادنا ” .
“Dan perumpamaan kalian adalah seperti rubah (tsu’lab) lemah yang memasuki sebuah lubang di kebun anggur. Tatkala pemilik kebun melihatnya lemah, ia merasa iba lalu membiarkannya. Namun ketika rubah itu sudah gemuk, ia melakukan banyak kerusakan. Maka pemilik kebun datang bersama pasukannya dan meminta bantuan para pelayannya. Ia pergi untuk mengeluarkannya namun tidak sanggup karena gemuknya rubah itu, lalu ia memukulnya hingga membunuhnya. Demikianlah kalian akan keluar dari negeri kami.”
” وقد أعلم أن الذي حملكم على هذا معشر العرب الجَهدُ الذي قد أصابكم فارجعوا عنَّا عامكم هذا ، فإنَّكم قد شغلتمونا عن عِمارة بلادنا ، وعن عدوّنا ، ونحن نُوفِر لكم ركائبكم قمحـًا وتمرًا ، ونأمر لكم بكُسوة ، فارجعوا عنَّا عافاكم الله ! ” .
“Dan sungguh aku tahu bahwa yang mendorong kalian melakukan hal ini, wahai sekalian bangsa Arab, adalah kesulitan (al jahdu) yang menimpa kalian. Maka kembalilah dari kami pada tahun kalian ini, karena sesungguhnya kalian telah menyibukkan kami dari mengurus negeri kami dan dari musuh kami. Kami akan memenuhi kendaraan-kendaraan kalian dengan gandum dan kurma, serta memerintahkan pemberian pakaian bagi kalian. Maka kembalilah dari kami, semoga Allah memberikan kesehatan bagi kalian!”
فقال ” المغيرة بن شعبة ” ـ رضي الله عنه ـ : ” لا تذكُر لنا جهدًا إلاَّ وقد كنَّا في مثله أو أشدَّ منه ؛ أفضلُنا في أنفسنا عيشـًا الذي يقتل ابن عمه ، ويأخذ ماله فيأكله ، نأكل الميتة والدم والعظام ، فلم نزل كذلك حتَّى بعث الله فينا نبيـًا ـ صلى الله عليه وسلم ـ وأنزل عليه الكتاب ، فدعانا إلى الله وإلى ما بعثه به ” .
Maka al Mughiirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu menjawab: “Janganlah engkau menyebutkan kepada kami suatu kesulitan melainkan kami pernah berada dalam kondisi yang semisal atau bahkan lebih berat darinya. Orang yang paling baik kehidupannya di antara kami adalah yang membunuh anak pamannya lalu mengambil hartanya untuk dimakan. Kami memakan bangkai (al maitah), darah, dan tulang-belulang. Kami terus demikian hingga Allah mengutus di tengah kami seorang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menurunkan Al-Kitab kepadanya. Beliau mengajak kami kepada Allah dan kepada apa yang beliau diutus dengannya.”
” فصدّقه منا مصدّق ، وكذّبه منَّا آخر ، فقاتل مَن صدّقه من كذبه ، حتى دخلنا في دينه ؛ من بين مُوقن به ، وبين مقهور ، حتى استبان لنا أنه صادق ، وأنه رسول من عند الله ، فأمرنا أن نقاتل من خالفنا ” .
“Lalu di antara kami ada yang membenarkannya dan ada pula yang mendustakannya. Maka orang yang membenarkannya memerangi orang yang mendustakannya, hingga kami masuk ke dalam agamanya; di antara ada yang yakin kepadanya dan ada yang terpaksa, sampai menjadi jelas bagi kami bahwa beliau jujur dan bahwasanya beliau adalah Rasul dari sisi Allah. Maka beliau memerintahkan kami untuk memerangi orang yang menyelisihi kami.”
” وأخبرنا أن من قُتل منَّا على دينه فله الجنَّة ، ومن عاش ملك وظهر على من خالفه ، فنحن ندعوك إلى أن تؤمن بالله ورسوله ، وتدخل في ديننا ، فإن فعلت كانت لك بلادك ، لا يدخل عليك فيها إلا من أحببت ، وعليك الزكاة والخُمس ، وإن أبيت ذلك فالجزية ، وإن أبيت ذلك قاتلناك حتى يحكم الله بيننا وبينك ” .
“Dan beliau mengabarkan kepada kami bahwa barangsiapa yang terbunuh di antara kami demi agamanya maka baginya surga, dan barangsiapa yang hidup maka ia akan berkuasa dan menang atas orang yang menyelisihinya. Maka kami mengajakmu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta masuk ke dalam agama kami. Jika engkau melakukannya, maka negerimu tetap menjadi milikmu, tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang engkau sukai, dan engkau berkewajiban membayar zakaat dan al khums. Jika engkau menolaknya, maka bayarlah jizyah. Dan jika engkau menolak pula, maka kami akan memerangimu hingga Allah memutuskan perkara antara kami dan dirimu.”
قال له ” رستم ” : ” ما كنت أطنُّ أني أعيش حتى أسمع منكم هذا معشر العرب ، لا أمسي غدًا حتى أفرُغ منكم وأقتلكم كلّكم ” .
Rustum berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan hidup hingga mendengar hal ini dari kalian, wahai sekalian bangsa Arab. Aku tidak akan sampai pada sore hari besok hingga aku selesai dengan kalian dan membunuh kalian semua.”
أرأيت أخي الحبيب كيف كان رد ” المغيرة ” ـ رضي الله عنه ـ أمام هذه التهديدات ، وتلك الإغرءات ، لقد قابل تهديداته باستهزاء ، وإغراءته بإعراض ، ولم ينس أن يعرض على ” رستم ” دعوة الله ، فلما أصر ” رستم ” على عناده واستكباره ، وجهز جيشه وجنده ، كان جزاؤه القتل ، وكان ذلك على يد ” هلال بن عُلَّفـة التيمي ” .
Pernahkah engkau melihat wahai saudaraku tercinta, bagaimana jawaban al Mughiirah radhiyallaahu ‘anhu di hadapan ancaman-ancaman dan iming-iming tersebut? Ia menghadapi ancaman-ancaman itu dengan ejekan, dan menghadapi iming-imingnya dengan sikap berpaling. Ia tidak lupa untuk menawarkan dakwah Allah kepada Rustum. Namun tatkala Rustum bersikeras pada penentangan dan kesombongannya, serta menyiapkan pasukan dan tentaranya, maka balasannya adalah kematian, dan hal itu terjadi di tangan Hilaal bin ‘Ullafah at Taimiy.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply