Dan (Ingatlah) Ketika Allah Mengambil Janji dari Orang-orang yang Diberi Al-Kitab (Bagian 1)



وإذ أخذ الله ميثاق الذين أُوتوا الكتاب

Dan (Ingatlah) Ketika Allah Mengambil Janji dari Orang-orang yang Diberi Al-Kitab (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dan (Ingatlah) Ketika Allah Mengambil Janji dari Orang-orang yang Diberi Al-Kitab ini masuk dalam Kategori Asbabun Nuzul

صح في الحديث الذي رواه الإمام أحمد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (من سئل عن علم فكتمه ألجم بلجام من نار يوم القيامة).

Telah sahih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikendalikan dengan kendali dari api neraka pada hari kiamat.”

والآية التي بين أيدينا اليوم نزلت في حق أهل الكتاب، تذم فعلهم، وفعل كل من كان على شاكلتهم، فنحن نقرأ قوله تعالى:

Ayat yang ada di hadapan kita hari ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab, yang mencela perbuatan mereka dan perbuatan setiap orang yang serupa dengan mereka. Kita membaca firman Allah Ta’ala:

{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيِّنُّنه للناس ولا تكتمونه فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمنًا قليلاً فبئس ما يشترون} (آل عمران:187).

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran: 187)

وقد اختلف المفسرون في حق من نزلت هذه الآية، على ثلاثة أقوال، ذكرها الطبري في ” تفسيره”:

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kepada siapa ayat ini diturunkan, dalam tiga pendapat yang disebutkan oleh Ath-Thabari dalam “Tafsir”-nya:

الأول: أنها نزلت في حق اليهود، وهم المقصدون فيها؛ فروي عن ابن عباس رضي الله عنهما، أنه قال:

Pertama: Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum Yahudi, dan merekalah yang dimaksud di dalamnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata:

{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه}

“{Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya’}”

إلى قوله:

sampai firman-Nya:

{عذاب أليم}

“{azab yang pedih}”

يعني: فنحاص وأشيع وأشباههما من الأحبار.

yang dimaksud adalah Fanhaash, Asyya’, dan yang serupa dengan mereka dari kalangan pendeta (ahbaar).

وعنه رضي الله عنه أيضًا قال: في التوراة والإنجيل: أن الإسلام دين الله الذي افترضه على عباده، وأن محمدًا رسول الله يجدونه مكتوبًا عندهم في التوراة والإنجيل، فينبذونه.

Dari beliau radhiyallaahu ‘anhu juga berkata: Di dalam Taurat dan Injil (terdapat keterangan): Bahwa Islam adalah agama Allah yang diwajibkan kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil, namun mereka melemparkannya.

وعن السدي قال:

Dari As-Suddi berkata:

{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه}

“{Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya’}”

قال: إن الله أخذ ميثاق اليهود ليبينه للناس، محمدًا صلى الله عليه وسلم، ولا يكتمونه

ia berkata: Sesungguhnya Allah mengambil janji dari kaum Yahudi agar mereka menjelaskannya kepada manusia, yaitu tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak menyembunyikannya

{فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمنا قليلاً}.

“{lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit}”.

وعلى هذا القول، فالآية -كما يقول ابن كثير- توبيخ من الله وتهديد لأهل الكتاب، الذين أخذ الله عليهم العهد على ألسنة الأنبياء، أن يؤمنوا بمحمد صلى الله عليه وسلم، وأن ينوِّهوا بذكره في الناس، ليكونوا على بينة من أمره، فإذا أرسله الله تابعوه. فكتموا ذلك، وتعوضوا عما وعِدوا عليه من الخير في الدنيا والآخرة، بالدون الطفيف، والحظ الدنيوي السخيف، فبئست الصفقة صفقتهم، وبئست البيعة بيعتهم.

Berdasarkan pendapat ini, maka ayat tersebut—sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir—merupakan teguran dari Allah dan ancaman bagi Ahli Kitab, yang mana Allah telah mengambil janji atas mereka melalui lisan para Nabi agar mereka beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menyebarluaskan penyebutan namanya di tengah manusia supaya mereka memiliki kejelasan tentang urusannya, sehingga jika Allah mengutusnya, mereka mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal tersebut, dan menukar apa yang dijanjikan kepada mereka berupa kebaikan di dunia dan akhirat dengan sesuatu yang rendah lagi sedikit, serta keberuntungan duniawi yang remeh. Maka alangkah buruknya transaksi mereka, dan alangkah buruknya jual beli mereka.

الثاني: أن المقصود في هذه الآية كل من أوتي علمًا بأمر الدين؛ روي عن قتادة أنه قال:

Kedua: Bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah setiap orang yang diberikan ilmu tentang perkara agama. Diriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata:

{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه فنبذوه وراء ظهورهم}

“{Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya’, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka}”

هذا ميثاق أخذه الله على أهل العلم، فمن علم شيئًا فلْيُعلِّمه، وإياكم وكتمان العلم، فإن كتمان العلم هلكة، ولا يتكلفن رجل ما لا علم له به، فيخرج من دين الله، فيكون من المتكلفين. وكان يقال: طوبى لعالم ناطق، وطوبى لمستمع واع. هذا رجل عَلِمَ علمًا فعلمه وبذله ودعا إليه، ورجل سمع خيرًا فحفظه ووعاه وانتفع به.

Ini adalah janji yang diambil Allah atas para pemilik ilmu. Maka siapa yang mengetahui sesuatu, hendaklah ia mengajarkannya, dan waspadalah kalian terhadap menyembunyikan ilmu, karena menyembunyikan ilmu adalah kehancuran. Janganlah seseorang memaksakan diri pada apa yang ia tidak miliki ilmunya, sehingga ia keluar dari agama Allah dan termasuk orang-orang yang memaksakan diri (al mutakallifiin). Dahulu dikatakan: “Beruntunglah bagi orang berilmu yang berbicara (menyampaikan), dan beruntunglah bagi pendengar yang menyimak.” Ini adalah seseorang yang mengetahui ilmu lalu ia mengajarkannya, mencurahkannya, dan menyeru kepadanya; serta seseorang yang mendengar kebaikan lalu ia menjaganya, memahaminya, dan mengambil manfaat darinya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.