وإذ أخذ الله ميثاق الذين أُوتوا الكتاب (سلسلة 2 والأخيرة)
Dan (Ingatlah) Ketika Allah Mengambil Janji dari Orang-orang yang Diberi Al-Kitab (Seri 2 – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Dan (Ingatlah) Ketika Allah Mengambil Janji dari Orang-orang yang Diberi Al-Kitab ini masuk dalam Kategori Asbabun Nuzul
وقال محمد بن كعب: لا يحل للعالم أن يسكت على علمه، ولا للجاهل أن يسكت على جهله، قال الله تعالى: {وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب} وقال: {فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون} (الأنبياء:7).
Muhammad bin Ka‘b berkata: “Tidak halal bagi seorang alim untuk diam atas ilmunya, dan tidak pula bagi orang bodoh untuk diam atas kebodohannya.” Allah Ta‘aala berfirman: “{Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab}” dan berfirman:
{فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون} (الأنبياء:7)
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (Al-Anbiyaa’: 7)
وقال أبو هريرة رضي الله عنه: لولا ما أخذ الله على أهل الكتاب ما حدثتكم بشيء، ثم تلا هذه الآية.
Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Seandainya bukan karena janji yang diambil Allah atas Ahli Kitab, niscaya aku tidak akan menceritakan sesuatu pun kepada kalian,” kemudian beliau membaca ayat ini.
ورُوي عن علي رضي الله عنه أنه قال: ما أخذ الله على الجاهلين أن يتعلموا، حتى أخذ على العلماء أن يُعلِّموا.
Diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Allah tidak mengambil janji atas orang-orang bodoh untuk belajar, sampai Allah mengambil janji atas ulama untuk mengajar.”
وعن الحسن قال: لولا الميثاق الذي أخذه الله على أهل العلم، ما حدثتكم بكثير مما تسألون عنه.
Dari Al-Hasan berkata: “Seandainya bukan karena janji yang diambil Allah atas para pemilik ilmu, niscaya aku tidak menceritakan kepada kalian banyak hal dari apa yang kalian tanyakan.”
ثالثًا: وقال قوم: معنى الآية: وإذ أخذ الله ميثاق النبيين على قومهم؛ فعن سعيد بن جبير قال: قلت لـ ابن عباس رضي الله عنهما: إن أصحاب عبد الله يقرؤون: {وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب} {وإذ أخذ الله ميثاق النبيين} (آل عمران:81) قال: أخذ الله ميثاق النبيين على قومهم.
Ketiga: Sekelompok orang berkata bahwa makna ayat tersebut adalah: Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji para Nabi atas kaumnya. Dari Sa‘iid bin Jubair berkata: “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma: ‘Sesungguhnya para pengikut ‘Abdullaah membaca: {Dan ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi Al-Kitab} {Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi}’ (Ali ‘Imran: 81).” Beliau menjawab: “Allah mengambil janji para Nabi atas kaum mereka.”
وإلى أي الأقوال ذهبنا، فإن العبرة بعموم اللفظ، لا بخصوص السبب، كما هو مقرر عند أهل التفسير، فحكم الآية إذًا يشمل كل من يرتكب صنيع أهل الكتاب، ويفعل فِعْلَتهمْ من الكتمان والنبذ.
Ke pendapat mana pun kita merujuk, sesungguhnya pelajaran diambil dari keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab, sebagaimana yang telah ditetapkan di kalangan ahli tafsir. Maka hukum ayat ini mencakup setiap orang yang melakukan perbuatan Ahli Kitab, dan melakukan tindakan mereka berupa penyembunyian dan pengabaian ilmu.
ولا يخفى أن الأمم لا تحيى بالخبز وحده، بل هي بحاجة أيضًا إلى ما يحيي قلوبها، ويشرح صدورها، ويفتح أبصارها، ويُزيل الغشاوة عن بصائرها؛ وكل هذا لا يكون إلا بنشر العلم، وبثِّه بين الناس، ومن ثَمَّ العمل به.
Tidak tersembunyi lagi bahwa bangsa-bangsa tidak hidup dengan roti semata, melainkan mereka juga butuh kepada apa yang menghidupkan hati mereka, melapangkan dada mereka, membuka pandangan mereka, dan menghilangkan selaput dari mata hati mereka. Semua ini tidak akan terwujud kecuali dengan menyebarkan ilmu, menyiarkannya di tengah manusia, dan kemudian mengamalkannya.
أما إذا استأثر كل عالم بعلمه، فقد أصبح الجهل هو سيد الموقف، وأضحت الأثرة هي التي تتحكم في سلوك الناس وفِعالهم، وحينئذ يصبح الناس فوضى لا سراة لهم، ويتحقق فيهم قول الحق سبحانه:
Adapun jika setiap alim mementingkan dirinya sendiri dengan ilmunya, maka kebodohanlah yang akan menguasai keadaan, dan egoisme menjadi pengendali perilaku serta tindakan manusia. Pada saat itu, manusia menjadi kacau tanpa pemimpin bagi mereka, dan terpenuhilah pada mereka firman Allah Yang Mahabenar Subhaanahu:
{ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس} (الروم:41)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Ar-Rum: 41)
ومن هنا ندرك أهمية التحذير القرآني، والهدي النبوي من كتمان العلم، وحجبه على الناس، قال تعالى:
Dari sini kita menyadari pentingnya peringatan Al-Qur’an dan petunjuk Nabawi dari menyembunyikan ilmu dan menghalanginya dari manusia. Allah Ta‘aala berfirman:
{إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى من بعد ما بيَّنَّاه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون} (البقرة:159)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)
فعلى العلماء أن يبذلوا ما بأيديهم من العلم النافع، الدال على العمل الصالح، ولا يكتموا منه شيئًا، وإلا فقد حقَّ عليهم ما أخبر الله به؛ وبالمقابل فعلى الناس أن يسعوا في طلب العلم، ويحصنوا أنفسهم به، وفي عزوفهم عن ذلك هلاك لهم، وأي هلاك!!
Maka wajib bagi para ulama untuk mencurahkan ilmu bermanfaat yang ada pada mereka, yang menunjukkan kepada amal saleh, dan tidak menyembunyikan darinya sedikit pun; jika tidak, maka pasti berlaku atas mereka apa yang telah dikabarkan oleh Allah. Sebaliknya, wajib bagi manusia untuk berusaha dalam menuntut ilmu dan membentengi diri mereka dengannya, karena berpalingnya mereka dari hal itu merupakan kehancuran bagi mereka, dan alangkah besarnya kehancuran tersebut!!
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply