ألفاظ (الاستدلال) في القرآن (الجزء 2 والأخير)
Lafazh-lafazh (al-Istidlal) dalam Al-Quran (Bagian 2 – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Lafazh-lafazh (al-Istidlal) dalam Al-Quran ini masuk dalam Kategori Bahasa Al-Quran
الدليل
Al-Daliil
دَلَّه على الشيء يَدُلُّه دَلاًّ ودَلالةً فانْدَلَّ: سَدَّده إِليه، ودَلَلْته فانْدَلَّ؛ والدَّليل: الدَّال، وما يُستدل به، وقد دَلَّه على الطريق يَدُلُّه دَلالة ودِلالة ودُلولة؛ والدَّليل والدِّلِّيلي: الذي يَدُلُّك؛ والاسم الدِّلالة والدَّلالة، بالكسر والفتح؛ وقوله تعالى:
Dallahu ‘alas syai-i yadulluhu dallan wa dalaalatan maka indalla: ia menunjukinya kepada hal tersebut. Dallaltuhu maka indalla. Dan al daliil adalah al daal (pemberi petunjuk), dan apa yang digunakan sebagai landasan argumen (maa yustadallu bihi). Ia telah menunjukinya jalan, yadulluhu dalaalatan wa dilaalatan wa duluulatan. Al daliil dan al dilliiliy adalah orang yang menunjukimu. Isimnya adalah al dilaalah dan al dalaalah (dengan kasrah dan fathah). Allah Ta‘aala berfirman:
{ثم جعلنا الشمس عليه دليلا} [الفرقان:45]
“kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk (daliilaa) atas bayang-bayang itu.” [al Furqaan: 45]
ومعنى كون الشمس دليلاً: أن الناس يستدلون بالشمس وبأحوالها في مسيرها على أحوال الظل، من كونه ثابتًا في مكان، زائلا عن آخر، ومتسعًا في موضع، ومتقلصًا في غيره؛ فيبنون حاجتهم إلى الظل واستغناءهم عنه على وفق ذلك.
Makna matahari sebagai daliil (petunjuk) adalah: bahwa manusia mengambil petunjuk melalui matahari dan kondisi perjalanannya atas kondisi bayang-bayang; baik saat ia tetap di satu tempat, sirna dari tempat lain, meluas di suatu posisi, maupun menyusut di posisi lainnya. Maka mereka membangun kebutuhan mereka akan bayang-bayang atau ketidaktergantungan mereka padanya berdasarkan hal tersebut.
فجُعل امتداد الظل لاختلاف مقاديره، كامتداد الطريق وما فيه من علامات وإرشادات، وجُعلت الشمس – من حيث كانت سببًا في ظهور مقادير الظل – كالهادي في الطريق؛ فكما أن الهادي يخبر السائر أين ينزل من الطريق، فكذلك الشمس – بتسببها في مقادير امتداد الظل – تعرِّف المستدل بالظل بأوقات أعماله ليشرع فيها.
Maka memanjangnya bayang-bayang karena perbedaan ukurannya dijadikan seperti bentangan jalan beserta tanda-tanda dan petunjuk yang ada di dalamnya. Dan matahari—sejauh ia menjadi sebab munculnya ukuran bayang-bayang—dijadikan seperti pemberi petunjuk (al haadiy) di jalan. Sebagaimana pemberi petunjuk mengabarkan kepada musafir di mana ia harus turun di jalan, maka demikian pula matahari—dengan perannya dalam ukuran panjangnya bayang-bayang—memberitahu orang yang mencari petunjuk melalui bayang-bayang tentang waktu-waktu pekerjaannya untuk ia mulai melakukannya.
السلطان
As-Sulthaan
قال الفراء: السلطان عند العرب الحجة، يذكر ويؤنث، فمن ذكَّر السلطان ذهب به إِلى معنى الرجل، ومن أَنثه ذهب به إِلى معنى الحجة؛ وقال الزجاج في قوله تعالى:
Al Farraa-’ berkata: As Sulthaan menurut bangsa Arab adalah al hujjah. Ia dapat berbentuk mudzakkar (laki-laki) maupun muannats (perempuan). Barangsiapa yang me-mudzakkar-kan as sulthaan maka ia merujuk pada makna laki-laki, dan barangsiapa yang me-muannats-kannya maka ia merujuk pada makna al hujjah. Az Zajjaaj berkata mengenai firman Allah Ta‘aala:
{ولقد أرسلنا موسى بآياتنا وسلطان مبين} [هود:96]
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan bukti yang nyata (sulthaanin mubiin).” [Huud: 96]
أَي: وحُجَّة بَيِّنة؛ والسُّلطان: الحاكم، إِنما سمي سُلْطانًا لأَنه حجةُ اللَّهِ في أَرضه، أو هكذا ينبغي أن يكون؛ وقوله تعالى:
Artinya: dan hujjah yang jelas. Dan as sulthaan bermakna penguasa (al haakim); ia dinamakan sulthaan hanyalah karena ia adalah hujjah Allah di bumi-Nya, atau setidaknya begitulah seharusnya. Allah Ta‘aala berfirman:
{هلك عني سلطانيه} [الحاقة:29]
“Telah hilang kekuasaanku (sulthaaniyah) dariku.” [al Haaqqah: 29]
معناه: ذهبت عني حجتُي. وبهذا يتبين أن هذه الالفاظ الخمسة تفيد معنى مشتركًا بينها، وهو إقامة الدليل والحجة، قصد إظهار الحق والحقيقة.
Maknanya: telah pergi dariku hujjah-ku. Dengan ini menjadi jelas bahwa kelima lafazh ini memberikan makna yang berserikat di antara mereka, yaitu penegakan dalil dan hujjah, dengan tujuan menampakkan kebenaran dan hakikat.
وقد فرق بعض أهل العلم بين هذه الألفاظ، فقالوا: اسم (الدليل) يقع على كل ما يعرف به المدلول، واعتبروا أن (الدليل) ما كان مركبًا من الظنيات، و(البرهان) ما كان مركبًا من القطعيات، و(الحجة) مستعملة في جميع ما ذُكر، وكل (سلطان) في القرآن فهو (حجة).
Sebagian ahli ilmu telah membedakan antara lafazh-lafazh ini; mereka berkata: nama al daliil berlaku atas segala hal yang dengannya sesuatu yang dituju (al madluul) dapat diketahui. Mereka menganggap bahwa al daliil adalah apa yang tersusun dari hal-hal yang bersifat asumtif (azh zhanniyyat), sedangkan al burhaan adalah apa yang tersusun dari hal-hal yang bersifat pasti (al qath’iyyat). Sementara al hujjah digunakan untuk mencakup semua yang disebutkan, dan setiap as sulthaan di dalam Al-Quran adalah hujjah.
على أننا لا نعدم فروقًا أُخر بين هذه الألفاظ، يُرجع في معرفتها إلى أهل التخصص في هذا المجال.
Di samping itu, kita tidak menafikan adanya perbedaan-perbedaan lain di antara lafazh-lafazh ini, yang mana untuk mengetahuinya dapat merujuk kepada para ahli spesialis di bidang ini.
والله أعلم.
Wallahu a‘lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply