مقدمة حول التعارض في القرآن
Pengantar Mengenai Ta‘aarudh (Pertentangan) dalam Al Qur-aan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pengantar Mengenai Ta‘aarudh (Pertentangan) dalam Al Qur-aan ini masuk dalam Kategori Bahasa Al-Quran
يَعْرِضُ أحيانًا لقارئ كتاب الله الكريم بعض الآيات التي تدل بظاهرها على تعارض وعدم توافق مع آيات أُخر؛ فيشكل الأمر على القارئ لكتاب الله -وخاصة إذا كان زاده من علم التفسير يسيراً- وربما أورث ذلك شكًا في نفسه، فيقف حائرًا في ذلك، ومتسائلاً عن وجه التوفيق بين ما بدا له من تعارض.
Terkadang muncul bagi pembaca Kitabullaah yang mulia beberapa ayat yang secara lahiriah menunjukkan adanya pertentangan (ta‘aarudh) dan ketidaksesuaian dengan ayat-ayat lainnya. Hal ini menimbulkan kerumitan bagi pembaca Kitabullaah—terutama jika bekal ilmu tafsiir-nya sedikit—dan barangkali hal itu mewariskan keraguan dalam dirinya, sehingga ia berdiri kebingungan dalam masalah tersebut, dan bertanya-tanya tentang sisi penyelarasan di antara apa yang nampak baginya sebagai pertentangan.
والحادثة التالية تلقي مزيدًا dari الضوء على صورة هذه المشكلة.
Peristiwa berikut ini memberikan lebih banyak penjelasan mengenai gambaran masalah tersebut.
رويَ عن ابن عباس رضي الله عنهما -وأصل الحديث في البخاري – أن رجلاً جاءه، فقال: رأيت أشياء تختلف عليَّ من القرآن، فقال ابن عباس: ما هو؟ أشك؟ قال: ليس بشك، ولكنه اختلاف، قال: هات ما اختلف عليك من ذلك، قال: أسمع الله يقول:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma—dan asal hadits ini terdapat dalam al Bukhaariy—bahwa seorang laki-laki mendatanginya lalu berkata: “Aku melihat beberapa hal yang tampak berselisih bagiku di dalam Al Qur-aan.” Ibnu ‘Abbaas bertanya: “Apa itu? Apakah itu sebuah keraguan?” Ia menjawab: “Bukan keraguan, melainkan perselisihan (ikhtilaaf).” Ibnu ‘Abbaas berkata: “Sampaikanlah apa yang tampak berselisih bagimu itu.” Ia berkata: “Aku mendengar Allah berfirman:
{ثم لم تكن فتنتهم إلا أن قالوا والله ربنا ما كنا مشركين} [الأنعام:23]
“Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: ‘Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah’.” [Al-An‘aam: 23]
وقال:
Dan Dia berfirman:
{ولا يكتمون الله حديثاً} [النساء:42]
“…dan mereka tidak dapat menyembunyikan (kejadian apa pun) dari Allah.” [An-Nisaa’: 42]
فقد كتموا؛ وذكر له أشياء أخر اختلفت عليه؛ وقد أجاب ابن عباس رضي الله عن إشكالات السائل، ثم قال له: فما اختلف عليك من القرآن فهو يشبه ما ذكرتُ لك، وإن الله لم يُنَّزل شيئًا إلا وقد أصاب الذي أراد، ولكن أكثر الناس لا يعلمون.
Padahal (dalam ayat sebelumnya) mereka telah menyembunyikan. Dan laki-laki itu menyebutkan hal-hal lain yang tampak berselisih bagiku. Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhu menjawab kerumitan-kerumitan si penanya tersebut, kemudian berkata kepadanya: “Apa-apa yang tampak berselisih bagiku di dalam Al Qur-aan maka ia serupa dengan apa yang telah aku sebutkan kepadamu. Dan sesungguhnya Allah tidak menurunkan sesuatu pun melainkan benar-benar tepat pada apa yang Dia kehendaki, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
فقد يبدو -للوهلة الأولى- أن ثمة تعارضًا بين بعض آيات الكتاب الكريم، لكن إذا أمعنا النظر، وأعملنا البحث، بدا لنا وجه الحق في الأمر، وعلمنا أن آيات القرآن لا تعارض بينها البتة، وأن ما يبدو فيها من تعارض واختلاف، إنما هو تعارض واختلاف في أذهاننا فحسب، أما في حقيقة الأمر فليس هناك تعارض ولا اختلاف؛ إذ كيف يكون ذلك، ومصدر الكتاب واحد، وهو رب العالمين:
Maka mungkin tampak—pada pandangan pertama—bahwa ada pertentangan di antara beberapa ayat Al-Kitab yang mulia. Namun jika kita mencermati dan melakukan penelitian, akan nampak bagi kita sisi kebenaran dalam urusan tersebut, dan kita mengetahui bahwa ayat-ayat Al Qur-aan sama sekali tidak memiliki pertentangan di antaranya. Apa yang nampak di dalamnya berupa pertentangan (ta‘aarudh) dan perselisihan (ikhtilaaf) hanyalah pertentangan dan perselisihan di dalam benak kita saja, adapun pada hakikat perkaranya tidak ada pertentangan maupun perselisihan. Sebab bagaimana mungkin hal itu terjadi sedangkan sumber Al-Kitab ini adalah satu, yaitu Rabb semesta alam:
{ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافًا كثيراً} [النساء:82]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisaa’: 82]
والآية الكريمة تدل بمفهومها، أن القرآن الكريم ما دام من عند الله فليس من المعقول عقلاً، ولا من المقبول شرعًا أن يكون فيه اختلاف أو تعارض؛ إذ إن مثل هذا الأمر مما يقبح في كلام البشر، فكيف يليق بكلام رب البشر.
Ayat yang mulia ini menunjukkan melalui pemahamannya bahwa Al Qur-aan al Kariim selama ia berasal dari sisi Allah, maka tidaklah masuk akal secara rasio dan tidak dapat diterima secara syarii‘at jika di dalamnya terdapat perselisihan atau pertentangan. Karena perkara semacam ini termasuk hal yang buruk dalam ucapan manusia, maka bagaimana mungkin ia layak bagi ucapan Rabb-nya manusia.
وكشفًا لحقائق الأمور، وإزالة لما يُرى من تعارض واختلاف، فقد قام العلماء بوضع علم خاص، أدرجوه ضمن علوم القرآن، وأسموه علم (مشكل القرآن) على غرار ما فعل علماء الحديث، في التأليف في علم (مشكل الحديث) والغاية من هذا العلم إزالة ما يوهم التعارض والاختلاف بين آيات الكتاب العزيز.
Sebagai upaya mengungkap hakikat perkara dan menghilangkan apa yang terlihat berupa pertentangan dan perselisihan, para ulama telah menetapkan suatu ilmu khusus yang mereka masukkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu Al Qur-aan, dan mereka menamakannya ilmu Musykil al Qur-aan, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama hadits dalam penyusunan ilmu Musykil al Hadiits. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk menghilangkan apa yang memberikan kesan adanya pertentangan dan perselisihan di antara ayat-ayat Al-Kitab yang mulia.
وقد أُفردت لهذا العلم كتب عديدة، نذكر منها على سبيل المثال: كتاب (الفوائد في مشكل القرآن) لابن عبد السلام المتوفى (660هـ) وهو كتاب قيِّم في بابه؛ ومن الكتب المهمة في هذا الجانب أيضًا كتاب (دفع إيهام الاضطراب عن آيات الكتاب) للشيخ الشنقيطي (1393هـ) حيث جمع فيه جملة من الآيات الكريمة التي يفيد ظاهرها التعارض والاختلاف، ووفَّق بينها بما يزيل الإشكال؛ كذلك تعرَّض كثير من المفسرين لبعض مباحث هذا العلم، أثناء تفسيرهم لكتاب الله تعالى.
Telah disusun buku-buku khusus untuk ilmu ini, kami sebutkan di antaranya sebagai contoh: kitab al Fawaa-id fii Musykil al Qur-aan karya Ibnu ‘Abdis Salaam yang wafat tahun 660 H, yang merupakan kitab berharga di bidangnya. Di antara kitab penting dalam aspek ini juga adalah kitab Daf‘u Iuhaam al Idhthiraab ‘an Aayaat al Kitaab karya asy Syinqiithiy (1393 H), di mana beliau mengumpulkan di dalamnya sejumlah ayat mulia yang secara lahiriah memberikan kesan pertentangan dan perselisihan, lalu beliau menyelaraskan di antaranya dengan penjelasan yang menghilangkan kerumitan tersebut. Demikian pula banyak pakar tafsiir yang membahas sebagian kajian ilmu ini saat menafsirkan Kitabullaah Ta‘aala.
وانطلاقًاً من أهمية هذا العلم وغايته، فإننا في محور القرآن الكريم ستكون لنا وقفة مع بعض الآيات التي يفيد ظاهرها التعارض والاختلاف، نحاول فيها بيان أوجه التوفيق والجمع بينها، معتمدين في ذلك على أقوال أهل العلم في هذا الشأن؛ واللهَ نسأل الرشد والصواب في الأمر كله.
Berangkat dari pentingnya ilmu ini dan tujuannya, maka kami di dalam rubrik Al Qur-aan al Kariim akan mencermati beberapa ayat yang secara lahiriah memberikan kesan pertentangan dan perselisihan. Kami akan mencoba menjelaskan sisi penyelarasan dan penggabungan di antaranya dengan bersandar pada pendapat para ahli ilmu dalam urusan ini. Dan kepada Allah kami memohon petunjuk serta kebenaran dalam segala urusan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply